Kamis, 25 April 2013

HAYATUN THAIYIBAH:Kehidupan Yang Baik



Menggapai Hidup Lebih Baik
HIDUP KASIH-SAYANG




 “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahal [16]: 97)


Hayatun Thayyibah atau kehidupan yang baik adalah dambaan seluruh manusia, tanpa seorang pun yang mengingkarinya. Maka, melalui ayat di atas Allah SWT ingin menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya tentang cara menggapai kehidupan yang baik, yaitu dengan melakukan amal saleh atau kebaikan berdasarkan iman kepada Allah SWT dan rasul-Nya.



Melalui ayat ini, Allah SWT juga ingin menyampaikan kepada kita bahwa perbuatan baik tidak hanya dibalas di akhirat; di dunia akan dibalas dengan pemberian penghidupan yang baik, di akhirat akan dibalas dengan kebaikan yang lebih baik dari kebaikan yang telah dikerjakannya yaitu surga. Dan, balasan tersebut tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. 



Apa itu Hayatun Thayyibah?



Lalu apa itu hayatun thayyibah (kehidupan yang baik)? Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an dan Asy-Syaukni dalam Fathul Qadir-nya, menyebutkan beberapa makna hayatun thayyibah, antara lain; Pertama, rezeki yang halal, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Said bin Jubair, ‘Atha dan Adh-Dhahhak dan jumhur ulama lainnya.



Kedua, qana’ah (kepuasan hati) sebagimana pendapat Al-Hasan al-Bashri, Zaid bin Wahab, dan Wahab bin Munabbih, termasuk pendapat Ali Bin Abu Thalib dan Ibnu Abbas ra.



Ketiga, petunjuk untuk melakukan ketaatan, guna menggapai ridha Allah SWT, ini menurut Adh-Dhahhak. Adh-Dhahhak Juga berkata, “Siapa yang melakukan amal saleh dalam keadaan beriman, baik ketika sedang susah maupun ketika mudah, niscaya kehidupannya baik, dan siapa yang berpaling dari mengingat Allah, tidak beriman, dan tidak melakukan amal saleh, maka hidupnya sempit, tanpa ada kebaikan di dalamnya.” 

Keempat, as-sa’adah (kebahagiaan, kedamaian dalam hidup), masih menurut Ibnu Abbas 



Kelima, Abu Bakr al Warraq berkata, hayatun thayyibah ialah manisnya ketaatan. Pendapat lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud hayatun thayyibah ialah kehidupan di dalam surga, karena tak ada kebahagiaan tanpa memasuki surga.  Dan, masih banyak lagi makna lainnya.



Itulah beberapa makna hayatun thayyibah sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir terkemuka. Kendati terdapat banyak pendapat, namun semua makna yang telah disebutkan mencakup makna dan hakikat kehidupan yang baik. Artinya, siapa yang diberikan hal-hal di atas, laki-laki maupun perempuan, maka dia pun akan merasakan kehidupan yang baik.  



Iman dan Amal Saleh



Iman dan amal saleh adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam hidup ini. Iman tanpa melakukan amal saleh adalah pengakuan yang sia-sia, dan amal saleh tanpa disertai iman hanyalah kerugian.



Allah SWT berfirman, ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr [103]: 1-3)



Dari Anas bin Malik ra., Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menzhalimi perbuatan baik seorang mukmin walau hanya satu kebaikan. Dia akan diberi kebaikan di dunia—atas kebaikan yang diperbuatnya, dan akan diberi pula pahala di akhirat kelak. Adapun orang kafir, dia akan diberi balasan di dunia atas perbuatan baiknya, namun di akhirat kelak dia tidak akan mendapatkan apa-apa atas kebaikannya itu.” (HR. Muslim) 



Dengan demikian, iman adalah  syarat sah dan diterimanya suatu amal perbuatan. Kebaikan apapun yang kita perbuat tanpa didasarkan pada iman tidak dapat disebut sebagai amal saleh. As-Sa’di mengatakan, “Iman adalah keyakinan mendalam yang mendorong seseorang untuk terus melakukan kebaikan, baik yang wajib maupun yang disunnahkan.” Dan, orang inilah yang akan mendapat penghidupan yang baik di dunia dan balasan terbaik di akhirat kelak. Wallahu A’lam Bishshawab.



Jakarta 23-12-2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman