Kamis, 23 Mei 2013

SEJARAH PUTERA-PUTERI NABI SAW



         Anak-Anak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam[1]
Beliau memiliki tiga anak laki-laki:
1.  Al-Qasim, dengannyalah beliau diberi kun-yah. Ia dilahirkan sebelum kenabian, dan meninggal saat berusia dua tahun.
2. `Abdullah, disebut juga ath-Thayyib dan ath-Tha­hir. Karena la dilahirkan setelah kenabian. Ada yang berpendapat, ath-Thayyib dan ath-Thahir bu­kanlah `Abdullah, tapi yang benar adalah pendapat yang pertama.
3.  Ibrahim. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun delapan hijrah, dan meninggal di sang pada tahun sepuluh, saat la berusia 17 bulan atau 18 bulan.
Beliau memiliki empat puteri:
1.  Zainab, yang dinikahi oleh Abu al-’Ash bin ar-Rabi’ bin ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdu Syams, yaitu anak bibinya. Ibunya bernama Halah binti Khuwailid.
2.  Fathimah, yang dinikahi oleh `Ali bin Abi Thalib.
3.  Ruqayyah dan Ummu Kultsum, yang keduanya di­nikahi oleh `Utsman bin `Affan. Ia menikahi Ruqayyah, kemudian Ummu Kultsum, dan keduanya wa­fat di sisinya. Karena itu, ia disebut Dzun Nurain (yang memiliki dua cahaya). Ruqayyah meninggal pada peristiwa Badar di bulan Ramadhan tahun dua hijriah. Sementara Ummu Kultsum meninggal pada bulan Sya’ban pada tahun Sembilan Hijrah.
Jadi, puteri beliau ada empat tanpa ada perbedaan pendapat, sedangkan putera beliau ada tiga menurut pendapat yang shahih.
Anak yang mula-mula dilahirkan untuk beliau adalah al-Qasim, kemudian Zainab, kemudian Ruqay­yah, kemudian Ummu Kultsum, kemudian Fathimah. Diriwayatkan bahwa Fathimah lebih tua usianya dari­pada Ummu Kultsum. Hal itu disebutkan oleh ‘Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm Abu Muhammad al-Hafizh. Kemudian dalam Islam terlahir `Abdullah di Makkah, kemudian Ibrahim di Madinah. Mereka semua terla­hir dari Khadijah, kecuali Ibrahim karena ia berasal dari Mariah al-Qibthiyyah. Mereka semua meninggal sebelum Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, kecuali Fathimah, karena ia masih hidup enam bulan sepeninggal Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, menurut pendapat yang paling shahih lagi paling masyhur.
Paman dan Bibi Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam
Yang pertama dari mereka adalah al-Harits, anak laki-laki ‘Abdul Muththalib yang tertua, dan dengan­nya ia diberi kun-yah. Kemudian Qutsam, az-Zubair, Hamzah, al-’Abbas, Abu Thalib, Abu Lahab, ‘Abdul Ka’bah, Hajl, Dhirar (dan al-Ghaidaq).[2]
Yang masuk Islam di antara mereka adalah Hamzah dan al-’Abbas. Hamzah adalah yang paling muda usia­nya di antara mereka karena ia (juga) saudara sepersu­suan Rasulullah. Kemudian al-’Abbas yang lebih dekat usianya darinya, dan dialah yang bertugas mem­beri minum dari air Zamzam setelah ayahnya, ‘Abdul Muththalib. Ia lebih tua usianya tiga tahun daripada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Bibinya ada enam: Shafiyyah, yang masuk Islam dan berhijrah. Ia adalah ibunda Ummu az-Zubair bin al­`Awwam. Ia meninggal di Madinah pada masa pemerin­tahan `Umar bin al-Khaththab. Ia adalah saudara perem­puan Hamzah seibu. Lalu ‘Atikah, konon, ia masuk Islam, dan dialah yang bermimpi melihat perang Badar. Kisahnya cukup masyhur.” Kemudian, Wabarah, Arwa, Umaimah, dan Ummu Hakim, yaitu al-Baidha’. [3]
Foot Note:
[1] Lihat Tasmiyyah Azwaajin Nabi wa Aulaadih, Abu ‘Ubaidah Ma’mar bin al-Mutsanna.
[2] ‘Abdul Ghani al-Maqdisi, dalam Mukhtashar as-Siirah (hal. 51), mengatakan, “Dinamakan dengan al-Ghaidaq karena ia adalah orang Quraisy yang paling dermawan dan paling ba­nyak makanannya.”
[3] Ringkasnya bahwa ‘Atikah mengutus seseorang kepada al-`Abbas bin ‘Abdul Muththalib untuk menyampaikan ke­padanya bahwa ia melihat mimpi yang menakutkan, yaitu bahwa seorang penunggang unta maju sambil berteriak-teriak kepada manusia di Abthah, “Pergilah ke tiga tempat kematian kalian.” Kemudian mereka mengikutinya ke masjid, kemudian untanya menampakkannya di depan Ka’bah, kemudian ia meneriaki  mereka seperti pada pertama kalinya, kemudian menampakkannya di atas bukit Abu Qubais. Kemudian ia melemparkan batu besar pada mereka, lalu batu itu tercerai berai, sehingga tidak ada satu rumah pun di Makkah melainkan kemasukan pecahan batu itu. Mimpi itu menjadi sebab keengganan musuh Allah, Abu Lahab, keluar menuju Badar. Lihat Siirah Ibnu Hisyam (I/607), dan Marwiyyat Ghazwah Badr (hal.128), karya Dr.al-’Ulaimi Bawazir.
Sumber: Buku “Ringkasan Kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”, Imam an Nawawi, Ta’liq & Takhrij: Khalid bin Abdurrahman bin Hamd Asy-Syayi, Pustaka Ibnu Umar, Cet.1
JAKARTA  23/5/2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman