Senin, 06 Mei 2013

TASAWUF 3








                PUNCAK TASAWUF ABAD KE 3 (3)

Puncak taswuf filsafat abad ketiga dan keempat Hijriyah ini terletak pada Hussain bin Mansur al-Hallaj (244-309 H) . Ia tokoh yang paling controversial didalam sejarah tasawuf dan akhirnya menemui ajalnya ditiang gantungan . Teori yang dikembangkan oleh al-Hallaj ialah al-Huluul , al-Haqiqat al-Muhammadiyah (Nur Muhammad) .

            Pada awal abad keenam Hijriyah tasawuf Filsafat muncul kembali setelah menghilang ditengah-ditengah masyarakat , seperti suhrawardi Maqtul (wafat 587H) mencetuskan teori Hikmah al-Isyraq (filsafat iluminasi) . Pokok dari teori tersebut ialah bahwa Allah SWT itu ialah Allah SWT adalah cahaya mutlak yang merupakan sumber segala cahaya .

            Pada abad keenam dan ketujuh Hijriyah tasawuf filsafat mengalami perkembangan yang sangat terkenal dengan munculnya Ibnu Arabi dengan teori tasawuf filsafatnya Wahdatul wujud, yakni teori yang memandang bahwa wujud mutlak dan ahkiki itu adalah Allah SWT, sedangkan wujud kaainat (alam) ini hanyalh wujud majaazi( kiasan) yang bergantung pada wujud Tuhan . Teori ini diuraikan dalam bukunya Fusuus al-Hakim dan al-Futuuhaat al-Makiyyah .

            Sufi-sufi lainnya yang mempunyai kemiripan seperti Ibnu Sab’in (614-669H) dengan karyanya Budd al-‘Aarif. Dia dipandang lebih tegas tinimbang Ibnu Arabi dalam menegasikan pluralitas maupun menekankan kesatuan. Karena itu alirannya dikenal sebagai paham kesatuan  mutlak .

            Disisi lain , bermunculan pemuka-pemuka tarekat (ada yang menyebut tasawuf amali) yang besar antara lain: Abdul Qadir al-Jailani (470-561H) di Bagdad, pendiri tarekat Kadiriyah; Ahamad bin Ali Abdul Abbas ar-Rifa’I (wafat 578H) di Irak, pendiri tarekat Rifa’iah; Abu an-Najib as-Suhrawardi (490-563 H) dan Syihabuddin Abu Hafs Umar bin Abdullah as-Suhrawardi ; Abu Hasan Ali asy-Syadzili (wafat 686H) di Tunisia , pendiri tarekat Syadziliyah; dan Syeih Ahmad al-Badawi (596-675H) di Mesir , pendiri tarekat Ahmadiah .

            Sesudah abad ketujuh Hijryah tidak ada lagi tokoh-tokoh besar yang membawa ide tersendiri dalam pengetahuan tasawuf . kebanyakan dari mereka hanya mengembangkan ide para pendahulunya. Misalnya, Abdul Karim bin Ibrahim al-Jilli (wafat 832H) dengan bukunya al-Insaan al-Kamil (manusia yang sempurna) . Ia hanya melacak kembali teori Wahdatul wujud . Pada masa ini datang pula Abdul Wahab asy-Sya’rani(898-973H), seorang sufi yang berpengetahuan luas tetapi tidak kritis dan buku-bukunya penuh takhyul serta ungkapan-ungkapan yang menonjolkan diri sendiri . Kemudian , datang pula Syeh Muhammad Isa Sindhi al-Burhanpuri al-Hindi (wafat 1030 H) dengan bukunya yang berjudul at-Tuhfat al-Mursalah (kiriman cinderamata ) yang mengembangkan teori Wahdatul wujud menjadi ajaran “martabat tujuh”.

Kehidupan para Ahl as-Suffah ?

            Selain Nabi Muhammad saw dan para sahabat beliau , sebagai rujukan para sufi dikenal pula para Ahl as-suffah. Mereka teguh dalam memegang akidah , dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantaranya ialah; Abu Hurairah, Abu zar al-Giffari, Slman al-Farisi, Mu’az bin Jabal , Imran bin Husin , Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdul bin Mas’ud , Abdullah bin Abbas, dan Huzaifah bin Yaman .

            Setelah periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabin . tokoh tabiin kelas pertama yang muncul di Madinah ialah Sa’id bin Musayyab (15-94H) . Pada dirinya terkumpul kealiman dalam bidang hadis dan fikih di samping juga dalam bidang ibadah kezuhudan, dan akhlak mulia .

            Dikota Basrah msyhur pula nama Hasan al-Basri (Madinah, 642-Basra,728H). Dia masyhur dengan kezuhudannya yang berlandaskan Khauf (takut kepada kemurkaan Allah) dan Rajaa’(mengharapkan rahmat Allah SWT) .

            Tokoh tabiin di kufah antara lain: Sufyan as-Sauri (97 -161H) Ia mendapat gelar amiir al-mukminin fi al-hadis dan termasuk mujtahid mutlak dan dalam bidang kerohanian ia termasyhur zuhud, wara’, banyak beribadah, dan sanggup menentang penguasa yang di pandangnya zalim .

            Pada akhir abad kedua Hijriyah peralihan dari zuhud ke tasawuf sudah mulai tampak . Pada masa ini juga muncul analisis-analisis tentang kesufian . Menurut at-Taftazani , mereka lebih layak dinamai zahid dari pada sufi . Di antara tokoh kerohanian pada akhir abad kedua hjriyah yang agak condong pada kajian tasawuf ialah Ibrahim bin Adham(wafat 161H) di khurasan. Ia adalah seorang putra raja di Baikh (Afganistan), tetapi tidak terpesona kemewahan dan kekuasaan duniawi . Ia berkata:”Siapa yang Cuma mengejar kemasyhuran , berarti ia tidak sungguh-sungguh menuju Allah”.

            Tokoh lain pada masa ini ialah Imam Fudail bin Iyad (wafat 187H) . Ia bersal dari Khurasan dan meninggal di Makkah . Pada mulanya ia seorang perampok , kemudian berubah menjadi seorang zahid yang taat. Dalam kajian-kajiannya, ia menekankan pembinaan batin dari pada amal lahir .

            Karena kezuhudan lebih tampak lagi pada Rabi’ah al-Adawiyah (95-185H), seorang anak keluarga miskin yang hidup sebagaihamba sahaya, kemudian menjalani hidup dalam kezuhudan . Hari-harinya di habiskan di atas tikat sejadah . Baginya yang mendorong demikian ialah rasa cinta (mahabah)-nya kepada Tuhan, sehingga tidak tersisa lagi waktu dan ruang hatinya selain untuk AllahSWT.



Sumber Islam Dalam Tasawuf ?

            Dari al-Qur’an dan as-Sunnah, risalah para sufi , pertama-tama mendasarkan pendapat-pendapat mereka tentang moral dan tingkah laku . Juga latihan-latihan rohaniah mereka, yang mereka susun demi terealisasinya tujuan-tujuan kehidupan mistis.

            Memang ada pendapat lain, seperti Raynold Alleyne Nicholson, sejarahwan dan ahli mistisme dalam Islam (sufisme; menurut ungkapan bahasa-bahasa Eropa) tidaklah murni berasal dari ajaran Islam, tetapi banyak mengambil dari para dufi agama lain? Bagi Harun Nasution , teori-teori yang mengatakan bahwa ajaran taswuf dipengaruhi oleh unsur saing sulit dibuktikan kebenarannya. Karena dalam ajaran Islam sendiri terdapat ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis yang menggambarkan dekatnya manusia dengan Tuhan . Di antaranya surat al-Baqarah ayat 186 yang artinya; Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku , maka (jawablah ), bahwasanya Aku adalah dekat . Aku mengbulkan permohonan orang yang mendo’a kepada-Ku .

            Tinjauan analisis terhadap tasawuf menunjukan bagaimana para sufi denganberbagai aliran yang dianutnya, memiliki sesuatu konsepsi tentang jalan (thriqah)menuju Allah. Dan jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniah, lalu secara bertahap menempuh pun berbagai fase, yang dikenal dengan tingkatan (maqam) dan keadaan(hal) yang berakhir dengan tingkatan (ma’rifat) Allah.  

            Semua tingkatan dan kaadaan para sufi , yang pada dasarnya merupakan objek tasawuf, berlandaskan al-Qur’an . seperti penggemblengan (mujahadah ) jiwa berdasar al-Qur’an surat al-Ankabut auat 69 yang artinya: dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan)Kami , benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yan berbuat baik .

            Selain berdasarkan al-Qur’an maupun sunnah Nabi , sangat banyak teladan kehidupan Nabi saw dan para sahabatnya, yang merupakan cikal bakal tasawuf Islam .

            Misalnya kehidupan Nabi sebelum menjadi Rasul , beliau  berhari-hari berkhalawat di Gua Hira, terutama di bulan Ramdhan, banyak berdzikir dan tafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada AllahSWT .kedekatan Nabi ketika melakukan mi’raj , pribadi beliau yang sederhana , zuhud dan tidak pernah terpesonaoleh kemewhan dunia’ ibadah beliau pernah salat malam dengan beberapa rakaat sehingga lutunya bergetar dan terdengar suara tangisnya, bahkan kakinya bengkak; banyak berdzikir sehari semalam tidak kurang dari 70 atau 100 kali ; beliau pernah lupa ketika khusuk bermunajat kepada Tuhan pada waktu ditanya istrinya, siapa engkau? Aisah menjawab :”Nabi bertanya kembali :”siapakah Aisah ?”dan seterusnya , akhirnya Aisah meninggalkannya; dalam diri Nabi saw terkumpul sifat –sifat terpuji yaitu rendah hati, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar , tidak angkuh , santun dan tidak mabuk pujian.

            Adapun kehidupan keempat sahabat Nabi Muhammad saw yang dijadikan panutan oleh para sufi sebagai berikut:

1.      Abu Bakar as-Shiddiq . pada mulanya ia adalah seorang saudagar Kuraysi yang kaya. Setelah masuk Islam, ia menjadi seorang yang sangat sederhan . Ketika menghadapi perang Tabuk , Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, siapakah yang bersedia memberikan seluruh harta bendanya di jalan Allah SWT. Abu Bakarlah yang pertama menjawab :”Saya ya Rasulullah .”Akhirnya beliau memberikan seluruh harta kekayaannya unutk jalan Allah melihat hal demikian, Nabi bertanya  kepadanya:”Apalagi yang tinggal untukmu wahai Abu Bakar ?”Ia menjawab :”cukup bagiku Allah dan Rasulnya.”

2.      Umar bin Khatab yang terkenal dengan jiwa dan kebersihan kalbunya, sehingga Rasulullah saw berkata :”Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar.”Ia terkenal dengan kezuhudan dan kesederhanaannya. Umar bin Khatab pernah berkata:”Apabila engkau lihat seseorang yang berilmu mencintai dunia, maka curigailah dia mengenai agamanya! Karena tiap orang yang mencintai sesuatu akan menyibukkan diri dengan apa yang dicintainya itu,”Diriwayatkan pada suatu ketika setelah ia menjabat sebagai khalifah, ia berpidato dengan memakai baju bertambal dua belas sobekan . Bahkan beliau menghabiskan malam untuk beribadah dan siang untuk umat .

3.      Usman bin Affan, seseorang yang zuhud padahal ia kaya raya, tawadhu’, banyak berdikir , banyak membaca ayat-ayat al-Qur’an dan memiliki akhlak yang terpuji . Diriwayatkan pula, beliau telah membeli telaga milik orang yahudi untuk kaum muslimin . Dalam keadaan membaca al-Qur’an surat al-Baqarah ayat137, beliau meninggal akibat tebasan pedang para pemberontak .

4.      Ali bin Abi Thalib yang tidak kurang pula keteladanannya dalam dunia tasawuf . Kezuhudan dan kerendahan hati beliau terlihat pada kehidupan yang sederhana . Ia tidak malu memakai pakaian bertambal, bahkan ia sendiri yang menambal pakaiannya yang robek . BERSAMBUNG

JAKARTA  2003


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman