Rabu, 05 Oktober 2016

RAGAMNYA HIDAYAH


*Soal dan Jawab*

*22.Seputar Hidayah*

{ ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺍﻟْﻤُﻬْﺘَﺪِﻱ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ }
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka
dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua
kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat) ” (QS al-A’raaf:178).
Dalam ayat lain, Dia Ta’ala juga berfirman:
{ ﻣَﻦ ﻳَﻬْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺍﻟْﻤُﻬْﺘَﺪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻠَﻦْ ﺗَﺠِﺪَ ﻟَﻪُ ﻭَﻟِﻴًّﺎ ﻣُﺮْﺷِﺪًﺍ }
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka
dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua
kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk
kepadanya” (QS alKahf:17).
Allah swt sudah memberi tahukan kepada umat manusia sebelum diciptakannya bahwa diantara manusia ada yang bersyukur dan kufur. Jalan menuju surga sudah tersurat di dalam alquran atau sebaliknya jalan menuku neraka tinggal manusianya yang memilihnya bebas dan tentu Allah swt yang memberi hidayah atau menyesatkannya.
Surga atau neraka keduanya makhluk Allah swt yang disediakan untuk umat manusia yang beriman dan yang kufur kepadaNya. Salah satu jalan menuju surga adalah iman dan amal shalih. Demikian juga neraka bagi mereka yang kufur kepada Tuhan dan jahat perbuatannya.
Hidayah hanya milik Allah swt yang dapat merubah hati manusia kafir bisa menjadi mukmin atau sebaliknya. Sedangkan para nabi dan Rasul hanya mengajak kebaikan,melarang kejahatan dan memberi petunjuk jalan kesurga atau neraka. Mereka tidak bisa merubah hati manusia yang kafir berubah menjadi mukmin atau sebaliknya. Mutlaq hidayah di tangan Tuhan yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana.
Untuk itu berusahalah dengan istiqamah menuntut ilmu dan mengamalkannya dengan ikhlas dan terus menerus berdoa kepada Allah swt terutama usai shalat fardhu atau shalat sunnah tahajud disamping kainnya.

*Makna, hakikat dan macam-macam hidayah*
Hidayah secara bahasa berarti ar-rasyaad (bimbingan) dan ad-dalaalah (dalil/petunjuk) .
Adapun secara syar’i, maka Imam Ibnul Qayyim
membagi hidayah yang dinisbatkan kepada Allah
Ta’ala menjadi empat macam:

*1. Hidayah yang bersifat umum* dan diberikan-Nya
kepada semua makhluk, sebagaimana yang tersebut
dalam firman-Nya:
{ ﻗَﺎﻝ َﺭَﺑُّﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺧَﻠْﻘَﻪُ ﺛُﻢَّ ﻫَﺪَﻯ }
“Musa berkata: “Rabb kami (Allah Ta’ala) ialah (Rabb)
yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk
kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk ” (QS
Thaahaa: 50).
Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah Ta’ala berikan
kepada semua makhluk dalam hal yang berhubungan
dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka
dalam urusan-urusan dunia, seperti melakukan hal-hal
yang bermanfaat dan menjauhi hal-hal yang
membinasakan untuk kelangsungan hidup di dunia
.
*2. Hidayah (yang berupa) penjelasan* dan keterangan
tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, serta
jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini tidak berarti melahirkan petunjuk Allah yang sempurna,
karena ini hanya merupakan sebab atau syarat, tapi
tidak mesti melahirkan (hidayah Allah Ta’ala yang
sempurna). Inilah makna firman Allah:
{ ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺛَﻤُﻮﺩُ ﻓَﻬَﺪَﻳْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻓَﺎﺳْﺘَﺤَﺒُّﻮﺍ ﺍﻟْﻌَﻤَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ }
“Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri
petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan
(kesesatan) daripada petunjuk ” (QS Fushshilat: 17).
Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mereka
(jalan kebenaran) tapi mereka tidak mau mengikuti petunjuk.
Hidayah inilah yang mampu dilakukan oleh manusia,
yaitu dengan berdakwah dan menyeru manusia ke
jalan Allah, serta menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan memperingatkan jalan yang salah, akan tetapi hidayah yang sempurna (yaitu taufik) hanya
ada di tangan Allah Ta’ala , meskipun tentu saja
hidayah ini merupakan sebab besar untuk membuka
hati manusia agar mau mengikuti petunjuk Allah Ta’ala dengan taufik-Nya.
Allah Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya:
{ ﻭَﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﺘَﻬْﺪِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻢٍ }
“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam) benar-benar memberi
petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan
yang lurus ” (QS asy-Syuuraa: 52)
.
*3. Hidayah taufik, ilham* (dalam hati manusia untuk
mengikuti jalan yang benar) dan kelapangan dada
untuk menerima kebenaran serta memilihnya. inilah
hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala . Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:
{ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳُﻀِﻞُّ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻳَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻓَﻼ ﺗَﺬْﻫَﺐْ ﻧَﻔْﺴُﻚَ
ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺣَﺴَﺮَﺍﺕٍ}
“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang
dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya ” (QS Faathir: 8)
.
*4. Puncak hidayah ini, yaitu hidayah kepada Surga* dan
Neraka ketika penghuninya digiring kepadanya.
Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan penghuni Surga:
{ ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻫَﺪَﺍﻧَﺎ ﻟِﻬَﺬَﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻟِﻨَﻬْﺘَﺪِﻱَ ﻟَﻮْﻻ ﺃَﻥْ
ﻫَﺪَﺍﻧَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻘَﺪْ ﺟَﺎﺀَﺕْ ﺭُﺳُﻞُ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ }
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami” (QS al-A’raaf: 43)
.
*Dari sisi lain, Imam Ibnu Rajab al-Hambali* membagi
hidayah menjadi dua:

*1. Hidayah yang bersifat mujmal* (garis besar/
global), yaitu hidayah kepada agama Islam dan
iman, yang ini dianugerahkan-Nya kepada setiap muslim.

*2. Hidayah yang bersifat rinci dan detail,* yaitu
hidayah untuk mengetahui perincian cabang-
cabang imam dan islam, serta pertolongan-Nya
untuk mengamalkan semua itu. Hidayah ini
sangat dibutuhkan oleh setiap mukmin di siang
dan malam” .
*Semoga kita tergolong orang orang beriman yang istiqamah menuntut ilmu dan mengamalkannya serta tetap berdoa kepadaNya... Aamiin.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman