Senin, 17 Oktober 2016

MENGINGAT KEMATIAN


121.Renungan Pagi !!!
*Sakaratul Maut*

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﻭَﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
ﻭَﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺤْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟْﻤَﻤَﺎﺕِ ﻭَﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺴِﻴﺢِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِ
‏( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ )
“Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung
kepada-Mu dari adzab kubur dan dari adzab
neraka, dan dari fitnah kehidupan serta fitnah
kematian, dan dari fitnah Dajjal”
(Riwayat Bukhari)
Substansi mengingat kematian bukan semata-
mata terhadap waktu dan proses kematian itu
sendiri, tapi juga pada apa yang menjadi
konsekuensi sesudahnya. Maka untuk
menyuburkan kualitas dzikrul maut (mengingat
maut), kita harus menempuh langkah-langkah
berikut ini:
1. Meningkatkan pemahaman tentang kehidupan
sesudah mati.
Aqidah Islam mengajarkan kita tentang
keimanan terhadap adanya kehidupan setelah
mati, seperti adanya siksa kubur, hari
kebangkitan, perhitungan amal, shirat, serta
balasan Surga atau Neraka.
2. Menjadikan dunia sebagai ladang menanam
kebajikan dan tempat persinggahan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW)
bersabda, “… jadilah di dunia seolah-olah
orang asing atau orang yang menumpang
lewat”. Ibnu Umar berkata: “Apabila engkau
berada pada sore hari maka jangan menunggu
pagi, dan apabila engkau berada pada pagi
hari maka janganlah menunggu waktu sore. Dan
jadikan masa sehatmu sebelum keadaan
sakitmu, dan keadaan hidupmu sebelum dating
kematianmu” (Riwayat Bukhori)
3. Menyadari bahwa kematian itu sangat dekat
Bukankah setiap saat kita menyaksikan
kematian itu datang silih berganti kepada setiap
orang? Kematian datang tanpa pemberitahuan,
menimpa siapa saja tanpa pandang bulu.
Menimpa yang miskin maupun yang kaya,
menimpa yang papa juga penguasa, menimpa
yang sakit dan juga yang sehat.
“Telah semakin dekat kepada manusia hari
menghisab segala amalan mereka, sedang
mereka berada dalam keadaan lalai (dengan
dunia), berpaling (dari akherat)”. (Al-Anbiya
[21]: 1)
4. Menjenguk orang sakit dan bertakziah
kepada yang ditimpa musibah.
Di antara amal yang dianjurkan dalam Islam
adalah menjenguk saudaranya yang sakit,
memberikan motivasi serta mendoakannya. Dari
Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW
bersabda: “Hak Muslim terhadap Muslim yang
lain itu ada lima, menjawab salam, menjenguk
yang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi
undangan, dan mendoakan yang bersin”.
(Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad)
5. Berziarah kubur
Kita disunnahkan untuk berziarah kubur. Dalam
satu riwayat diceritakan bahwa Rasulullah SAW
biasa berziarah ke makam Pahlawan Uhud dan
makam ahli Baqi’. Beliau mengucapkan salam
dan berdoa untuk mereka, dengan do’a berikut:
ﺍَﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺪِّﻳَﺎﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ , ﻭَ
ﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻧْﺸَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻜُﻢْ ﻻَﺣِﻘُﻮْﻥَ . ﻧَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻟَﻜُُﻢُ
ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَﺔَ.
“Semoga keselamatan bagimu, wahai penghuni
kampung (kubur) kaum Mukmin dan Muslim .
Sesungguhnya kami –insya-Allah- pasi
menyusulmu. Kami mohon afiyat kepada Allah
untuk diri diri kami dan juga untuk kalian
semua”. (Riwayat Muslim, Ahmad dan Ibnu
Majah)
6. Selalu berdoa agar diberi kematian yang
diridhai.
Banyak dzikir dan doa yang diajarkan
Rasulullah SAW, yang dapat menjadi sarana
bagi kita untuk mengingat kematian dan
kehidupan sesudahnya.
*Muhasabah diri......*
*Waktu berlalu begitu halus* menipu kita yang terlena, belum sempat berdzikir pagi tau-tau hari sudah menjelang siang, belum sempat bersedekah pagi, matahari sudah meninggi.😑
*Rencana* jam 9 mau shalat Dhuha, tiba-tiba adzan Dzuhur sudah terdengar, pinginnya setiap pagi membaca 1 juz Al-Qur'an, menambah hafalan satu hari satu ayat, tapi ya itu, "pengennya itu" 😶
*komitmen* tidak akan melewatkan malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 raka'at singkat, semua hanya rencana.😥
Akan terus beginikah nasib *hidup* menghabiskan umur ?, berhura-hura dengan usia ?
Lalu tiba-tiba masuklah *usia* di angka 30, sebentar kemudian 40, tak lama terasa menjadi 50, dan kemudian orang mulai memanggil kita dengan sebutan "Kek... Nek..." pertanda kita sudah tua.
Lalu sambil *menunggu ajal* tiba, sejenak mengintip catatan amal yang kita ingat pernah berbuat apa ... ???.
Astaghfirullah…  *ternyata tak seberapa, !!!* sedekah dan infaq cuma sekedarnya, mengajarkan ilmu tak pernah ada, silaturrahmi rusak semua.
Jika sudah demikian, apakah ruh ini tidak akan melolong, meraung, menjerit menahan kesakitan disaat harus berpisah dari tubuh pada waktu *sakaratul maut*...???.
Tambahkan usiaku ya Allah...!!! , aku *butuh waktu* untuk beramal dan berbekal sebelum Kau akhiri ajal.
Belum cukupkah *menyia-nyiakan* waktu selama 30, 40, 50 atau 60 tahun ?,
*Butuh berapa tahun* lagikah untuk mengulang pagi, siang sore dan malam hari, butuh berapa minggu, bulan, dan tahun lagi agar bisa mempersiapkan diri untuk siap mati.
Tanpa kita pernah merasa kehilangan waktu dan kesempatan untuk menghasilkan pahala di setiap detiknya, maka 1000 tahunpun *tidak akan pernah cukup* bagi orang orang yang terlena...
*Astaghfirullah.....*
Semoga bermanfaat... Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman