MENCARI Ilmu
“Apakah
sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya
hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran”. (QS.
39: 9)
Muqaddimah
Dalam
bahasa Arab al-Ilmu merupakan lawan
kata al-Jahlu
(tidak tahu/bodoh). Al-Ilmu dapat diartikan juga
sebagai mengenal sesuatu dalam keadaan aslinya dengan pasti.
Sedang menurut istilah, Ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu
syar‘i, yaitu ilmu tentang penjelasan-penjelasan dan petunjuk
yang Allah swt. turunkan kepada Rasul-Nya, baik
yang termaktub dalam Alquran maupun As-Sunnah.
![]() |
WAJIB MENUNTUT ILMU |
Ilmu
yang seringkali disebut dalam Alquran dan As-Sunnah, dan memperoleh pujian
adalah ilmu wahyu/ilmu agama. Namun sebenarnya ilmu agama sendiripun sangat
luas. Ilmu bermanfaat apabila dapat menambah ketaatan kepada Allah dan
Rasul-Nya, serta bermanfaat bagi alam semesta.
Hukum
dan Kewajiban Menuntut Ilmu
Menuntut
ilmu atau Thalabul
’Ilmi pada dasarnya adalah kewajiban setiap
manusia. Kewajiban ini juga menunjukkan pada hak yang sama bagi
lelaki maupun perempuan untuk mencari ilmu
sebanyak-banyaknya, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. Nabi
saw. bersabda:
“Mencari
ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR.
Ahamad dan Ibnu Majah).
“Barang
siapa yang beramal shaleh laki-laki dan perempuan, dan
mereka adalah orang yang beriman, baginya kehidupan yang baik."
(QS.3:27).
Dalil-dalil
tersebut menunjukkan bahwa kewajiban dan hak mempunyai ilmu (pengetahuan)
sebelum mengeluarkan ucapan dan melakukan perbuatan, tidak hanya pada diri
lelaki, tetapi juga perempuan. Allah swt. tidak membedakan jenis, suku, ras,
ataupun kedudukan sosial manusia, dalam memberikan
imbalan atas amal kebajikan yang diperbuat
hamba-Nya, termasuk menuntut ilmu.
Kewajiban
dan hak menuntut ilmu pada setiap muslim, mengarah pada hukum mencari ilmu yang
digolongkan menjadi dua macam. Pertama, menuntut ilmu hukumnya
Fardhu ’ain bagi setiap umat Islam. Hal ini apabila ilmu itu menjadi
prasyarat untuk mengetahui sebuah ibadah atau mu’amalah yang
akan dikerjakan. Dalam kondisi seperti ini, wajib bagi masing-masing muslim
mengetahui bagaimana cara ibadah kepada Allah swt. dan mu’amalahnya.
Hukum mencari ilmu yang kedua
Fardhu Kifayah. Ini merupakan hukum asal mencari
ilmu. Artinya apabila telah ada sebagian muslim yang mengerjakan,
maka bagi muslim lain mencari ilmu menjadi sunnah hukumnya.
Upaya
Meraih Ilmu
Seorang
muslim sangat dianjurkan untuk mencari ilmu ke manapun, tempat ilmu itu dapat
diraih. Satu riwayat mengatakan, “Carilah ilmu walau hingga ke negeri China”.
Riwayat ini sangat menghargai baik lelaki maupun perempuan yang bersemangat
menuntut ilmu, sekalipun hingga ke negeri nun jauh. Mereka akan terhitung
sebagai orang yang berjuang di jalan Allah swt.
Terlebih
dalam menuntut ilmu, sesungguhnya lelaki-perempuan tidak dibatasi oleh waktu.
Anggapan bahwa perempuan memiliki waktu terbatas, karena didesak kewajiban
berkeluarga dan mengasuh anak tidaklah benar. Sesungguhnya setiap lelaki dan
perempuan memiliki kesempatan sama untuk thalabul
’ilmi. Sabda Nabi saw., “Manusia harus mencari ilmu dari buaian sampai
ke liang lahat”. Inilah pemikiran yang tepat dan demokratis tentang
pendidikan seumur hidup bagi sesama. Jika
benar kita umatnya, marilah beri kesempatan serupa antara
lelaki dan perempuan untuk menjalankan kewajiban
menuntut ilmu hingga akhir hayat dikandung badan. Wallahu a’lam. (Hafidzoh)
Nabi
juga mengatakan, bahwa ilmu yang bermanfaat akan mendapat pahala dari Allah
SWT, dan pahalanya berlangsung terus-menerus selama masyarakat menerima manfaat
dari ilmunya..
“Apabila
anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu ilmu yang
bermanfaat….”(HR Muslim)
Kaidah
Menuntut Ilmu
Dalam
menuntut ilmu ada kaidah yang harus diperhatikan oleh
setiap muslim. Dr. Ibrahim bin ‘Amir
ar-Ruhaili menyebutkan, termasuk perkara yang
penting sebelum menuntut ilmu, ialah ikhlas (rela) karena Allah swt.
Sesungguhnya ikhlas memiliki pengaruh besar untuk meraih taufiq
(bimbingan) dalam segala hal. Setiap muslim yang mendapatkan taufiq,
baginya diberi kebaikan yang banyak dalam segala urusan
agama dan dunia.
Termasuk
ikhlas dalam belajar, adalah menuntut ilmu
untuk tafaqquh (memahami secara
mendalam), menghilangkan kebodohan diri sendiri. Setiap muslim berhak
bersungguh-sungguh mendalami suatu ilmu. Hasil pendalaman tersebut,
baik oleh lelaki atau perem- puan, dapat
mengembangkan khazanah ilmu pengetahuan dan pemikiran keagamaan.
Oleh karena itu sangatlah utama bagi lelaki
dan perempuan untuk berlomba-lomba ber-tafaqquh dalam ilmu yang membuahkan
amalan.
Hal lain
yang harus diperhatikan adalah isti’anah, memohon pertolongan
kepada Allah swt., tawakkal (berserah diri), dan
berdoa agar dikaruniakan ilmu yang shahih (benar) dan nafi‘
(bermanfaat). Firman Allah swt:
“Ya
Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS. 20: 114).
Dalam
sebuah hadis qudsi Allah berfirman:
"Wahai
hamba-hamba-Ku, kamu semua berpeluang tersesat kecuali
orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk ke- pada-Ku,
niscaya Aku akan memberi petunjuk kepadamu”. (HR.
Muslim)
Tampaknya
memohon hidayah Allah merupakan jalan meraih ilmu agama, dan
pengetahuan umum yang bermanfaat bagi kemaslahatan dunia.
Setiap muslim tidak akan memperoleh petunjuk kecuali yang
dikaruniai taufiq
oleh Allah swt., dan hal ini tergantung kepada upayanya masing-masing. Upaya
dalam menuntut dan mengamalkan ilmu, membawa mereka pada derajat kedudukan
sebagai manusia. Baik lelaki atau perempuan,
keduanya dikaruniai kedudukan sesuai dengan usahanya.
Sabar
Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh
Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang
yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar,
kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus
bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian,
mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain
sebagainya.
Semoga
Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak
akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum
dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari
orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh
darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan
kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul
wushul, hal. 12-13)
Sabar
Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh
Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus
bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia
melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah
niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya,
demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan
nenek moyang mereka.
Sehingga
gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan
fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di
zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang
sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita,
Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)
Keutamaan
Menuntut Ilmu
Dari
Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa
yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama
(Islam).” (HR Bukhari)
Hadits yang mulia ini menunjukkan agungnya kedudukan ilmu agama dan keutamaan yang besar bagi orang yang mempelajarinya, sehingga Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhush Shalihin , pada pembahasan “Keutamaan Ilmu” mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang pertama.
Imam
an-Nawawi berkata: “Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu (agama) dan keutamaan
mempelajarinya, serta anjuran untuk menuntut ilmu.”
Imam
Ibnu Hajar al-’Asqalaani berkata: “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang
jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia, dan
keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya.”
Mutiara
hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini adalah:
- Ilmu yang disebutkan keutamaannya dan dipuji oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah ilmu agama. [fatkhul Barri]
- Salah satu ciri utama orang yang akan mendapatkan taufik dan kebaikan dari Allah Ta’ala adalah dengan orang tersebut berusaha mempelajari dan memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam agama Islam.
- Orang yang tidak memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu agama akan terhalangi untuk mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala. [Fatkhul Barri]
- Yang dimaksud dengan pemahaman agama dalam hadits ini adalah ilmu/pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang mewariskan amalan shaleh, karena ilmu yang tidak dibarengi dengan amalan shaleh bukanlah merupakan ciri kebaikan.
- Memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar merupakan penuntun bagi manusia untuk mencapai derajat takwa kepada Allah Ta’ala. [HR Muslim]
- Pemahaman yang benar tentang agama Islam hanyalah bersumber dari Allah semata, oleh karena itu hendaknya seorang muslim disamping giat menuntut ilmu, selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dianugerahkan pemahaman yang benar dalam agama.
Perkembangan
Ilmu Dalam Islam
Pada
masa awal Islam dibangun badan2 pendidikan dan penelitian yang terpadu.
Observatorium pertama didirikan di Damaskus pada tahun 707 oleh Khalifah Amawi
Abdul Malik. Universitas Eropa 2 atau 3 abad kemudian seperti Universitas Paris
dan Univesitas Oxford semuanya didirikan menurut model Islam.
Para
ilmuwan Islam seperti Al Khawarizmi memperkenalkan “Angka Arab” (Arabic
Numeral) untuk menggantikan sistem bilangan Romawi yang kaku. Bayangkan
bagaimana ilmu Matematika atau Akunting bisa berkembang tanpa adanya sistem
“Angka Arab” yang diperkenalkan oleh ummat Islam ke Eropa.
Kita
mungkin bisa menuliskan angka 3 dengan mudah memakai angka Romawi, yaitu “III,”
tapi coba tulis angka 879.094.234.453.340 ke dalam angka Romawi. Bingungkan?
Jadi para ahli matematika dan akuntan haruslah berterimakasih pada orang-orang
Islam, he he he..:) Selain itu berkat Islam pulalah maka para ilmuwan sekarang
bisa menemukan komputer yang menggunakan binary digit (0 dan 1) sebagai basis
perhitungannya, kalau dengan angka Romawi (yang tak mengenal angka 0), tak
mungkin hal itu bisa terjadi.
Selain
itu Al Khawarizmi juga memperkenalkan ilmu Algorithm (yang diambil dari
namanya) dan juga Aljabar (Algebra).
Omar
Khayam menciptakan teori tentang angka2 “irrational” serta menulis suatu buku
sistematik tentang Mu’adalah (equation).
Di dalam
ilmu Astronomi ummat Islam juga maju. Al Batani menghitung enklinasi ekleptik:
23.35 derajad (pengukuran sekarang 23,27 derajad).
Dunia
juga mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang karyanya Al Qanun fit Thibbi
diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard de Cremone (meninggal tahun 1187),
yang sampai zaman Renaissance tetap jadi textbook di fakultas kedokteran Eropa.
Ar Razi
(Razes) adalah seorang jenius multidisiplin. Dia bukan hanya dokter, tapi juga
ahli fisika, filosof, ahli theologi, dan ahli syair. Eropa juga mengenal Ibnu
Rusyid (Averroes) yang ahli dalam filsafat.
Ikhtitam
Ummat
Islam harus kembali giat menuntut ilmu. Menurut Al Ghazali, sesungguhnya
menuntut ilmu itu ada yang fardu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim) ada juga yang
fardu kifayah (paling tidak ada segolongan ummat Islam yang mempelajarinya.
Ilmu
agama tentang mana yang wajib dan mana yang halal seperti cara shalat yang
benar itu adalah wajib bagi setiap muslim. Jangan sampai ada seorang ahli
Matematika, tapi cara shalat ataupun mengaji dia tidak tahu. Jadi ilmu agama
yang pokok agar setiap muslim bisa mengerjakan 5 rukun Islam dan menghayati 6
rukun Iman serta mengetahui kewajiban dan larangan Allah harus dipelajari oleh
setiap muslim. Untuk apa kita jadi ahli komputer, kalau kita akhirnya masuk
neraka karena tidak pernah mengetahui cara shalat?
Adapun
ilmu yang memberikan manfaat bagi ummat Islam seperti kedokteran yang mampu
menyelamatkan jiwa manusia, ataupun ilmu teknologi persenjataan seperti
pembuatan tank dan pesawat tempur agar ummat Islam bisa mempertahankan diri
dari serangan musuh adalah fardu kifayah. Paling tidak ada segolongan muslim
yang menguasainya.
Nabi
juga mengatakan, bahwa ilmu yang bermanfaat akan mendapat pahala dari Allah
SWT, dan pahalanya berlangsung terus-menerus selama masyarakat menerima manfaat
dari ilmunya..
“Apabila
anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu shodaqah
jariyah, ilmu yang bermanfaat,dan anak yang shalih.”(HR Muslim)
Jakarta 27/2/2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar