BERTASAWUF Dalam
Kehidupan
Muqaddimah
Segala puji bagi Allah , Tuhan seru sekalian alam .
Dialah sumber kehidupan makhluk berada , sumber cahaya langit dan bumi dan
penerang hati bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia . Shalawat serta
salam semoga senantasa tercurah kepada Nabi teladan ummat, Muhammad saw para
sahabat dan kepada pengikut-pengikut beliau yang taat dan siap meneruskan
perjuangannya sampai hari kemudian .
![]() |
MENGIKUTI SUNNAH |
Dalam Agama Kristen terdapat aliran
tasawuf khususnya bagi para pendeta . Di Yunani muncul aliran Ruwaqiyin . Di
Persia ada aliran yang bernama Mani’; dan dinegeri –negeri lainnya banyak
aliran ekstrim di bidang rohaniah .
Kemudian Islam datang dengan membawa
perimbangan yang paling baik diantara rohaniah dan jasmaniah serta penggunaan
akal .
Manusia sebagaimana digambaerkan
oleh agama, yaitu terdiri dari tiga unsure: roh , akal dan jasad .
Masing-masing dari tiga unsure itu diberi hak sesuai dengan kebutuhannya .
Ketika Nabi saw melihat salah satu sahabat berlebih-lebihan dalam satu sisi,
sahabat tersebut ditegur . Sebagaimana yang terjadi pada Abdullah bin Amr bin
Ash.
Ia berpuasa
terus menerus tidak pernah berbuka , sepanjang malam beribadat, tidak pernah
tidur , serta meninggalkan istri dan kewajibannya . Lalu Nabi saw menegurnya
dengansabdanya yang artinya: “Wahai Abdullah, sesengguhnya bagi dirimu ada
(untuk tidur) , bagi istrimu dan keluargamu ada hak (untuk bergaul) dan bagi
jasadmu ada hak .
Munculnya para sufi disaat ummat Isalm umumnya terpengaruh pada dunia
yang menipu pada pada diri mereka dan terbawa pada pola piker yang mendasar
semua masalah dengan pertimbangan logika .Hal itu terjadi setelah masuknya
Negara-negara lain di bawah kekuasaan mereka .
Banyak orang yang masuk Islam karena
pengaruh mereka , banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena
jasa mereka . Dan tidak sedikit mereka mewariskan pada dinia Islam , terutama
di bidang ma’rifat , akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam rohani .
Dalam kajian tasawuf dari abad
ketiga dan keempat Hijriyah terdapat dua aliran .Pertama kajian tasawuf yang
bersifat akhlak dan kedua bersifat filsafat . Siapa mereka dan mengapa? Ma’na
dan Ta’rif Tasawuf ?
Makna dan Ta’rif Tasawuf
Bila kata tasaawuf kita cari asal
mulanya , meka banyak sekali pendapat para ahli antara lain sebagai berikut :
1.
Tasawuf berasal dari kata saff
yang artinya barisan dakam salat berjama’ah . Alasannya, seorang sufi iman yang
kuat , jika yang bersih , dan selalu memilih saf terdepan dalam salat
berjama’ah .Disamping itu alasan mereka juga memandang bahwa seorang sufi akan
berada di baris pertama si depan Allah SWT .
2.
Taswuf berasal dari kata saufanah,
yaitu sejenis buah-buahan kecil berbulu yang banyak tumbuh di gurun pasir Arab
saudi. Pengambilan kata ini karena melihat orang-orang sufi banyak memakai
pakaian berbulu dan hidup dalam kegersangan fisik, tetapi subur batinnya .
3.
Tasawuf berasal dari kata suffah
yang artinya pelana yang dipergunakan oleh para sahabat Nabi saw yang miskin untuk bantal tidur
diatas bangku di samping Masjid Nabawi di Madinah .Versi lain diakatakan bahwa
suffah artinya suatu kamar di saping Masjid Nabawi yang disediakan untuk para
sahabat dari golongan muhajirin yang
miskin . Penghuni suffah disebut ahlussuffah .
4.
Tasawuf merujuk pada kata safwah
yang berarti sesuatu yang terpilih atau terbaik .Dikatakan demikian ,
karenaseorang sufi biasa memandang diri mereka sebagai orang pilihan atau orang
terbaik .
5.
Tasawuf merujuk pada kata safaa
atau safw yang artinya bersih atau suci . Maksudnya , kehidupan seorang sufi
lebih banyak diarahkan pada pensucian batin untuk mendekatkan diri kepada Allah
SWT Tuhan Yang Maha Suci , sebab Tuhan tidak bisa didekati kecuali oleh orang
suci .
6.
Tasawuf berasal dari bahasa
Yunani, yaitu , Theosophi (theo:Tuhan ;sophos: hikmat) , yang berarti hikmat
ketuhanan . Mereka merujuk kepada bahasa Yunani karena ajaran tasawuf banyak
membicarakan masalah ketuhanan.
7.
Tasawuf berasal dari kata suuf
yang artinya wol atau kain bulu kasar . Sebagai lambang kemiskinan dan
kesederhanaan .
Demikianlah
arti kata tasawuf menurut para ahli diatas , memang pengertian tersebut dapat
dijadikan standar bagi orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan
dengan hidup sederhana , suci lahir dan bathin, serta selalu mengedepankan
dalam masalah ketuhanan , dimana ingin menjadi hamba yang terdepan di sisi
Tuhan , seperti mengambil saf yang pertama ketikan salat berjama’ah. Meskipun
demikian, arti tasawuf yang banyak diterima adalah yang merujuk kepada suuf
yang berarti wol atau kain bulu kasar bukan halus seperti sekarang .
Bahkan
dikatakan , tashawwafa al-rajul, kalau memakai wol .Pada masa awal perkembangan
asketisisme , pakaian bulu domba adalah symbol para hamba Allah yang tulus dan
asketis . Para sufi sendiri banyak berpendapat
seperti ini, diantaranya al-Sarraj al-Thusi dalam karyanya, al-Luma . Pendapat
ini ditokohkan Ibn Khaldun dan lain-lainnya .
Banyak
ta’rif yang dikemukakan olrh para sufi tentang apa itu tasawuf ? di antaranya
sebagai berikut:
1.
Bisyr bin Haris bahwa sufi ialah
orang yang suci hatinya menghadap Allah
SWT.Mereka tulus ikhlas dalam beribadah kepada Tuhan , hatinya bersih
dari penyakit-penyakit hati seperti riya’ , iri hati, dendam buruk sangka,
sombong , ujub dll .
2.
Al-Junaid al-Bagdadi (289 H.),
tokoh sufi medern , mengatakan bahwa tasawuf ialah membersihkan hati dari sifat
yang basya riyah (kemanusiaan) , menjauhi hawa nafsu , memberikan tempat bagi
sifat kerohanian , berpegang pada ilmu kebenaran , mengamalkan sesuatu yang
lebih utama atas dasar keabadiannya , memberi nasihat pada umat, benar-benar
menepati janji terhadap Allah SWT, dan mengikuti syari’at Rasulullah saw .
3.
Abu Qasim Abdul Karim
al-Qusyairi mendevinisikan bahwa tasawuf
ialah menjabarkan ajaran-ajaran al-Qur’an dan sunnah, berjuang mengendalikan
nafsu , menjauhi perbuatan bid’ah, mengendalikan syahwat dan menghindari
sikap-sikap meringan-ringankan ibadah .
4.
Abu Yazid al-Bustami secara lebih
luas mengatakan bahwa arti tasawuf mencakup tiga aspek , yaitu Kha(melepaskan
diri dari perangi yang tercela) , ha (menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji
)dan jim (mendekatkan diri kepada Tuhan) . Yang dikenal istilah tersebut adalah
Takhalli, Tahalli dan Tajalli .
5.
Ibn Qayyim dalam Madarij
al-Salikin memaksudkan bahwa para pembahas ilmu ini telah sepakat atau
sependapat , bahwa tasawuf adalah moral .
Meskipun
devinisi diatas berbeda, namun ada satu asas yang tidak diperselishkan,
yaitu bahwa tasawuf itu adalah
moralitas-moralitas yang berdasarkan Islam . Dengan begitu ,jelas pada dasarnya
tasawuf berarti moral atau akhlak .
Dengan pengertian begini, maka tasawuf juga berarti semangat Islam , sebab
semua hukum islam berlandaskan moral .
Mengenai aspek moral, dalam
al-Qur’an terdapat banyak ayat yang mendorong pada keluhuran moral ini .
Misalnya, dorongan asketisme , kesabaran tawakal, ridha, hub, yakin , hidup
sederhana dansegala hal yang dianjurkan kepada setiap muslim sebagai kesempurnaan
iman . Al-Qur’an sendiri menyatakan, bahwa Rasulullah saw adalah suri –teladan
yang terbaik bagi orang-orang yang hendak menyempurnakan diri dengan keutamaan
tersebut dalam bentuk yang paling luhur . Bahkan aku diutus di alam dunia ini
untuk menyempurnakan moral manusia .
Dalam kenyataannya , moral Islam
adalah landasan syari’at Islam. Sehingga ketiadaan moral dalam hukum-hukum
syari’at , baik yang berkaitkan dengan hukum-hukum di dalam aqidah ataupun fiqih , akan membuat hukum tersebut menjadi
semacam bentuk tanpa jiwa atau wadah tanpa isi .
Nabi Muhammad saw pernah berdialog
dengan malaikat Jibril dan maksud tujuan kedatangannya untuk unutk mengajarkan
kepada para sahabatnya yang terkenal dengan trilogy , yaitu Iman, Islam dan
Ihsan . Ta’ari yang dikemukakan oleh para sufi ternyata sudah mencakup tiga
komponen tersebut, terutama ihsan .
Ihsan lebih menekankan segi kualitas
peribadatan dank arena itu mewakili aspek spiritual ataumistik yang tersirat
dalam sebuah hadist Nabi yang artinya: Engkau menyembah Allah seolah-olah
engkau melihat-Nya ; dan seandainya engkau tidak bisa melihat-Nya, niscaya Ia
melihatmu .
Dr.Musthofa Muhammad Asy-Syakh’ah
dalam kitabnya “Islamu Bi Laa Madzaahib” mengatakan , bahwa hakekat tasawuf
lebih sederhana dibandingkan ungkapan orang-orang yang tenggelam dalam dunia
tasawuf itu sendiri . Secara sederhana , menurut saya tasawuf adalah usaha
mencapai ketinggian kerohanian dengan
menyisihkan keduniawian . Dan ini semestinya disertai dengan bukti-bukti
nyata dalam bentuk pengalaman .
Perkembangan Tasawuf ?
Untuk menentukan kapan peralihan
waktu antara gerakan asketisme dan tasawuf dalam Islam sulit ditentukan .
Sekalipun demikian, kurang lebih pada
permulaan abad ketiga Hijriyah kita melihat adanya peralihan konkrit pada
askitisme Islam; dan para asketisme lebih dikenal dengansebutan sufi .
Sejak itulah muncul karya-karya
tentang tasawuf . Para penulis pertama dalam
bidang ini ialah al-Muhasibi(meninggal tahun 243 H) , al-Kharraz(meninggal
tahun277H) , AL-Hakim al-Tirmidzi (meninggal tahun 285 H) dan
al-Junaid(meninggal tahun 297H).Mereka itulah para sufi abad keriga Hikriyah .
Maka dapat dikatakan bahwa abad
ketiga Hijriyah adalah abad mula tersusunnya ilmu tasawuf dalam arti yang
luasss . selain itu , para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku .
Doktrin-doktrin dan tingkah-laku
sufi berkembang ditandai dengan moral yang karateristik , sehingga ditangan
mereka tasawuf pun berkembang menjadi ilmu moral keagamaan. Pembahasan-pembahasan
mereka tentang moral , akhirnya , mendorong mereka unutk semakin mengkaji
masalah serta hal-hal yang berkaitan dengan akhlak .
Dalam hal ini Ibn Khaldun telah
mengatakan sebagai berikut”Ketika ilmu-ilmu mulai ditulis dan dihimpun , dan
para fuquha mulai menulis tentang fiqih, ushul fiqih, kalam, tafsir, para tokoh
terekat ini (para sufi) pun mulai menulis masalah sikap tentang terekat mereka
. Diantara mereka terdapat yang menulis masalah sikap mengingkari dunia (wara’)
, serta itropeksi dalam mengambil atau melepaskan suatu tindakan , seperti
halnya yang dilakukan al-Qusyairi dengan risalah al-Qusyairiyah al-Ma’ari
.Sejak itulah ilmu tasawuf pun dalam agama ini menjadi suatu himpunan ilmu-ilmu
, dimana sebelumnya terikat hanya dipandang sebagai satuan ibadah semata .”
Pada abad ketiga Hijriyah munculah
jenis tasawuf lain, yang diwakili al-Hallaj , yang kemusian dihukum mati karena
menyatakan pendapatnya mengenai hulul (pada 309H). Tampaknya , tasawuf jenis
ini terpengaruh unsur-unsur di luar Islam .
Sementara itu, pada abad-abad ketiga
dan keekpat Hijriyah ada sejumlah tokoh tasawuf , seperti al-Junaid,
al-Sirri al-Saqathi , al-Kharraz , yang
mempunyai banyak murid dididkan mereka . Inilah cikal bakal bagi terbentuknya
tariqat-tariqat sufi dalam Islam, dimana sang murid menempuh pelajaran dasarnya
secara formal dalam suatu majlis . Dalam tariqat itulah mereka mempelajari tata tertib tasawuf baik ilmu ataupun
prakteknya .
Kemudian , pada abad kelima Hijriyah
munculah Imam al-Ghazali yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf yang berdasar
al-Qur’an dan as-Sunnah serta bertujuan asketisme , kehidupan sederhan ,
pelurusan jiwa , dan pembinaan moral .Pengetahuan tentang tasawuf dikajinya
dengan begitu mendalam, sementara disis lain ia melancarkan kritikan tajam
terhadap filosof , kaum Mu’tazilah , dan Batiniyah . Al-Ghazalilah yang
berhasil memancangkan prinsip-prinsip tasawuf yang moderat, yang seiring dengan
aliran Ahlu Sunnah Wal Jama’ah , dan bertentangan dengan jenis tasawuf
al-Hallaj dan Abu Yazid al-Bustami mengenai soal karakter manusia .
Sejak mulai abad keenam Hijriyah ,
sebagai akibat pengaruhkepribadian al-Ghazali yang begitu besar yang begitu besar, pengaruh taswuf sunni
semakin meluas dalam dunia Islam .Kadaan ini memberi peluang bagi munculnya para tokoh sufi yang
mengembangkan tariqat-tariqat dalam rangka mendidik nurid , mereka, semisal
Sayyid Ahmad al-Rifa’I 9meninggal pada tahun570 H) dan Sayyid al-Qadir
al-Jailani(meninggal pada tahun 651H ) . Tidak ayak lagi , keduanya terpengaruh
tasawuf al-Ghazali .
Sedangkan bermunculan para tokoh
sufi yang beraliran tasawuf sunni . pada saat yang sama yaitu pada abad keenam
Hijriyah juga bermunculan tokoh-yokoh sufi yang memadukan tasawuf mereka dengan
filsafat , dengan teori mereka yang bersifat setengah-setengah . Artinya ,
disebut murni bukan dan murni fisafat pun bukan . Di antara mereka yaitu
al-Syuhrawardi al-Maqtul ( meninggal pada tahun 549 H) , penyusun kitab hikmah
al-Isyraq , Syeih Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi (meninggal pada tahun- 638H) ,
penyair sufi Mesir ,’Umar ibn al-Faridh (meninggal pada tahun 632 H) , ‘abd
al-Haq ibn Sab’in al-Mursi (meninggal pada tahun 669 H) serta aliran-aliran
tokoh-tokoh yang sealiran dengannya . . . .
Jelas mereka banyak menimba berbagai sumber dan pendapat saling ,
seperti filsafat Yunani, dan khususnya Neo Plantonisme . Mereka ini banyak
teori mendalam mengenai soal jiwa, moral, pengetahuan , wujud , dan sangat
bernilai baik ditinjau dari segi tasawuf maupun filsafat , dan berdampak besar
atas para sufi mutakhir .
Tasawuf dari abad-keabad dalam
perkembangannya terutama pada masa-masa akhir , kurang lebih sejak abad
kedelapan Hijriyah sampai saat mengalami kemunduran , mengapa ? Para tokohnya hanya cenderung mengarah pada pemberian komentar dan ikthisar atas
karya-karya yang Islam, dan lebih menekankan perhatian berbagai bentuk ritus
dan formalisme , yang terkadang membuat mereka menyimpang dari subtansi
ajarannya sendiri .
Disini perlu dikemukakan pula ,
bagaimana tasawuf dalam fase-fase perkembangan tertentu telah terpengaruh
teori-teori filsafat dan juga mempergunakan sebagian termonologi serta sebagian
corak filsafat , namun dari segi pertumbuhan pertamanya tetap bercorak Islam .
Banyak para orientalis –yang menaruh perhatian terhadap tasawuf – yang keliru
merujukan tasawuf ini dengan sumber-sumber di luar Islam .
Sampai saat ini, tariqat-tariqat
yang menekankan pendidikan praktis masih bertahan . seperti tariqat Rifa’iyyah
, tariqat Qadariyah, tariqat Ahmadiyah( yang didirikan Syayid Ahmad al-Badawi),
tariqat al-Birhamiyah (didirikan Syeih Ibrahim al-Dasuqi) , dan beberapa
tariqat lainnya.
Selain itu perlu dikemukakan pula ,
bahwa sebagian sufi yang juga filosofi telah berusaha mendirikan berbagai
tariqat . Namun tariqat-tariqat yang mereka dirikan tidak terdapat lagi di
dunia Islam, Mengapa? Hal ini akibat keraguan-keraguan yang ditimbulkan mereka
sendiri, yang menyangkut aqidah para pendiriannya . Seperti tariqat
Akbariyahyang didirikan Ibn ‘Arabi yang bergelar Syeih Akbar, dan tariqat Sab’iyah
yang didirikan Ibn Sab’in al-Murai .
Tasawuf Sunni dan Filosofis ?
Ditnjau dari perkembangan fase
tasawuf dalam Islam, ada dua jenis tasawuf dalam mengembangkan dan mendidik
teori-teori mereka , yaitu tasawuf Sunni yang diwakili para tokoh sufi yang
disebut-disebut al-Qusyairi dalam kitabnya al-Risalah , khususnya para suif
dari abad ketiga dan keempat Hijriyah , Imam al-Ghazali dan para tariqat yang
mengikuti jejaknya .
Sedangkan tasawuf Filosofis yang
diwakili para tokoh sufi yang memadukan tasawuf mereka dengan filsafat ,
seperti Syeih Akbar Ibn ‘Arabi , Umar al-Faridh dan abad al-Haq Ibn Sab’in
al-Mursi . Yang paling keras mengecam mereka dari fuqaha akibat Ibnu
Taymiyah(meninggal pada tahun 728 H) .
Menurut telaah para pengkaji tasawuf
pada abad-abad ketiga dan keempat
Hijriyah, tasawuf pada masa itu adalah sebagai jalan mengenal Allah
(ma’rifat) setelah tadinya hanya sebagai jalan beribadah .
Aliran para sufi yang
pendapat-pendapatnya moderat, tasawufnya selalu merujuk pada al-Qur’an dan sunnah
. Atau dengan kata lain , tasawuf aliran itu selalu bertandakan timbangan
syariah .Sebagian sufinya adalah ulama terkenal dan taswufnya didominasi
cirri-ciri moral .
Tokoh-tokoh dari kelompok pertama
(tasawuf sunni) , misalnya Haris al-Muhasibi (Basra,
165 H-Baghdad,243
H).Ia banyak mengkaji dan mengajarkan disiplin diri (muhassabah) .
pembicaraannya yang lebih rinci dalam
karyanya ar-Ri’aayat li Huquuq Allah (menjaga hak Allah ) yang banyak
mempengaruhi al-Ghazali dalam menyusun karyanya Ihyaa ‘Uluumuddin (menghidupkan
Ilmu Agama) .
Tokoh lainnya, seperti Sirri
as-Saqati, Abu ar-Ruzbari , dan Abu Zaid al-Adami. Disamping itu terdapat pula
Abu Sa’id al-Khraz yang banyak menumpahkan kajiannya pada makam dan hal .Sahal
at-Tusturi yang terkenal dengan kekhus’annya dalam beribadah disiplin diri ,
dan al-Junaid al-Bagdadi (meninggal pada tahun289H) yang paling popular dan
mempunyai analisis yang dalam tauhid dan fana, baginya memperdalam pengenalan
kepada Allah SWT harus bersamaan dengan peningkatan amal dan disiplin diri, dia
juga mewariskan kepada murid-muridnya yang paling terkenal yaitu Abu Bakar
asy-Syibli .
Dalam lingkungan aliran
diatas(tasawuf sunni) muncul tiga orang penulis teori tasawuf buku-bukunya
masih dapat ditemukan dewasa ini yaitu:
1.
Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi
(wafat378H) , Ia seseorang penulis kitab besar dan fundamentalis dalam tasawuf
berjudul kitab Al-Luma’ .
2.
Abu Thlib al-Makki (wafat 386H)
membuktikan pula keabsahan dotrin dan praktik sufi di dalam karyanya, Quut
al-Quluub .
3.
Abu Bakar al-Kalabazi , penulis
buku kecil at-Ta’arruf Li Mazhab ahl-Tasawuf .
Selama
abad kelima Hijriyah aliran tasawuf sunni terus tumbuh dan berkembang ,
Bahkan cenderung
mengdakan pembaruan yakni dengan mengembalikannya kelandasan al-Qur’an dan
as-Sunnah .Al-Qusyairy (meninggal pada tahun 465H) dan al-Hawari dipandang
sebagai tokoh sufi paling menonjol pada abad ini, yang membawa tasawuf kearah
aliran sunni , dan metode keduanya dalam hal pembaharuan tersebut akan diikuti
al-Ghazali . dengan demikan , pada masa
abad kelima Hijriyah ini, tasawuf sunni berada dalam posisi yang menetukan ,
yang memungkinkannya tersebar luas di kalangan dunia Islam , dan membuat
fondasinya begitu dalam terpancang untuk jangka lama pada berbagai masyarakat
Islam .
Menurut Ibn Khlikan , al-Qusyairi
adalah seorang tokoh yang mampu “mengkompromikan syari’at dengan hakikat” .
Dalam tasawuf ,pilihan al-Ghazali
jatuh pada tasawuf sunni yang berdasarkan doktrin Ahlus Sunnah Wal Jama’ah .
dari faham tasawufnya menjauhkan semua kecendrungan gnostis yangmempengaruhi
para filosof islam, sekte Isma’iliyah dan aliran Syi’ah , Ikhwanus shafa dan
lainnya. Juga dia menjauhkan tasawufnya dari teori-teori ketuhanan menurut
Aristoteles, antara lain dari teori emanasi dan penyatuan . sehingga dapat
dikatakan bahwa tasawuf al-Ghazali benar-benar bercorak Islam .
Sedangkan dalam lingkungan aliran
tasawuf filosof is, seperti zunnun al-Misri (180-246 H) . Ia adalah seorang
sufi yang juga ahli kimia, mengetahui tulisan Mesir kuno dan akrab dengan
pengetahuan hermetis (kedap uadar) . Dalam tasawufia dikenal sebagai bapak
Teori Ma’rifat , yakni kemampuanhati sanubari
untuk melihat Tuhan . kemampuan itu sediri berasal dari Tuhan pula .
Tokoh isin yang berani dari kelompok
tasawuf filsafat adalah ungkapan Yazid al-Bustami (wafat260 H) yang secara
terus terang mengungkapkan as-sakr (mabuk ketuhanan) , fana dan baqa’
(peleburan diri untuk mencapai keabadian dalam diri Ilahi) , dan ittihad
(bersatu dengan Tuhan ).
Puncak taswuf filsafat abad ketiga
dan keempat Hijriyah ini terletak pada Hussain bin Mansur al-Hallaj (244-309 H)
. Ia tokoh yang paling controversial didalam sejarah tasawuf dan akhirnya
menemui ajalnya ditiang gantungan . Teori yang dikembangkan oleh al-Hallaj
ialah al-Huluul , al-Haqiqat al-Muhammadiyah (Nur Muhammad) .
Pada awal abad keenam Hijriyah
tasawuf Filsafat muncul kembali setelah menghilang ditengah-ditengah masyarakat
, seperti suhrawardi Maqtul (wafat 587H) mencetuskan teori Hikmah al-Isyraq
(filsafat iluminasi) . Pokok dari teori tersebut ialah bahwa Allah SWT itu
ialah Allah SWT adalah cahaya mutlak yang merupakan sumber segala cahaya .
Pada abad keenam dan ketujuh
Hijriyah tasawuf filsafat mengalami perkembangan yang sangat terkenal dengan
munculnya Ibnu Arabi dengan teori tasawuf filsafatnya Wahdatul wujud, yakni
teori yang memandang bahwa wujud mutlak dan ahkiki itu adalah Allah SWT,
sedangkan wujud kaainat (alam) ini hanyalh wujud majaazi( kiasan) yang
bergantung pada wujud Tuhan . Teori ini diuraikan dalam bukunya Fusuus al-Hakim
dan al-Futuuhaat al-Makiyyah .
Sufi-sufi lainnya yang mempunyai
kemiripan seperti Ibnu Sab’in (614-669H) dengan karyanya Budd al-‘Aarif. Dia
dipandang lebih tegas tinimbang Ibnu Arabi dalam menegasikan pluralitas maupun
menekankan kesatuan. Karena itu alirannya dikenal sebagai paham kesatuan mutlak .
Disisi lain , bermunculan
pemuka-pemuka tarekat (ada yang menyebut tasawuf amali) yang besar antara lain:
Abdul Qadir al-Jailani (470-561H) di Bagdad, pendiri tarekat Kadiriyah; Ahamad
bin Ali Abdul Abbas ar-Rifa’I (wafat 578H) di Irak, pendiri tarekat Rifa’iah;
Abu an-Najib as-Suhrawardi (490-563 H) dan Syihabuddin Abu Hafs Umar bin
Abdullah as-Suhrawardi ; Abu Hasan Ali asy-Syadzili (wafat 686H) di Tunisia ,
pendiri tarekat Syadziliyah; dan Syeih Ahmad al-Badawi (596-675H) di Mesir ,
pendiri tarekat Ahmadiah .
Sesudah abad ketujuh Hijryah tidak
ada lagi tokoh-tokoh besar yang membawa ide tersendiri dalam pengetahuan
tasawuf . kebanyakan dari mereka hanya mengembangkan ide para pendahulunya.
Misalnya, Abdul Karim bin Ibrahim al-Jilli (wafat 832H) dengan bukunya
al-Insaan al-Kamil (manusia yang sempurna) . Ia hanya melacak kembali teori
Wahdatul wujud . Pada masa ini datang pula Abdul Wahab asy-Sya’rani(898-973H),
seorang sufi yang berpengetahuan luas tetapi tidak kritis dan buku-bukunya
penuh takhyul serta ungkapan-ungkapan yang menonjolkan diri sendiri . Kemudian
, datang pula Syeh Muhammad Isa Sindhi al-Burhanpuri al-Hindi (wafat 1030 H)
dengan bukunya yang berjudul at-Tuhfat al-Mursalah (kiriman cinderamata ) yang
mengembangkan teori Wahdatul wujud menjadi ajaran “martabat tujuh”.
Kehidupan para
Ahl as-Suffah ?
Selain Nabi Muhammad saw dan para
sahabat beliau , sebagai rujukan para sufi dikenal pula para Ahl as-suffah.
Mereka teguh dalam memegang akidah , dan senantiasa mendekatkan diri kepada
Allah SWT. Diantaranya ialah; Abu Hurairah, Abu zar al-Giffari, Slman
al-Farisi, Mu’az bin Jabal , Imran bin Husin , Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdul
bin Mas’ud , Abdullah bin Abbas, dan Huzaifah bin Yaman .
Setelah periode sahabat berlalu,
muncul pula periode tabin . tokoh tabiin kelas pertama yang muncul di Madinah
ialah Sa’id bin Musayyab (15-94H) . Pada dirinya terkumpul kealiman dalam
bidang hadis dan fikih di samping juga dalam bidang ibadah kezuhudan, dan
akhlak mulia .
Dikota Basrah msyhur pula nama Hasan
al-Basri (Madinah, 642-Basra,728H). Dia masyhur dengan kezuhudannya yang
berlandaskan Khauf (takut kepada kemurkaan Allah) dan Rajaa’(mengharapkan
rahmat Allah SWT) .
Tokoh tabiin di kufah antara lain:
Sufyan as-Sauri (97 -161H) Ia mendapat gelar amiir al-mukminin fi al-hadis dan
termasuk mujtahid mutlak dan dalam bidang kerohanian ia termasyhur zuhud,
wara’, banyak beribadah, dan sanggup menentang penguasa yang di pandangnya
zalim .
Pada akhir abad kedua Hijriyah peralihan
dari zuhud ke tasawuf sudah mulai tampak . Pada masa ini juga muncul
analisis-analisis tentang kesufian . Menurut at-Taftazani , mereka lebih layak
dinamai zahid dari pada sufi . Di antara tokoh kerohanian pada akhir abad kedua
hjriyah yang agak condong pada kajian tasawuf ialah Ibrahim bin Adham(wafat
161H) di khurasan. Ia adalah seorang putra raja di Baikh (Afganistan), tetapi
tidak terpesona kemewahan dan kekuasaan duniawi . Ia berkata:”Siapa yang Cuma
mengejar kemasyhuran , berarti ia tidak sungguh-sungguh menuju Allah”.
Tokoh lain pada masa ini ialah Imam
Fudail bin Iyad (wafat 187H) . Ia bersal dari Khurasan dan meninggal di Makkah
. Pada mulanya ia seorang perampok , kemudian berubah menjadi seorang zahid
yang taat. Dalam kajian-kajiannya, ia menekankan pembinaan batin dari pada amal
lahir .
Karena kezuhudan lebih tampak lagi
pada Rabi’ah al-Adawiyah (95-185H), seorang anak keluarga miskin yang hidup
sebagaihamba sahaya, kemudian menjalani hidup dalam kezuhudan . Hari-harinya di
habiskan di atas tikat sejadah . Baginya yang mendorong demikian ialah rasa
cinta (mahabah)-nya kepada Tuhan, sehingga tidak tersisa lagi waktu dan ruang
hatinya selain untuk AllahSWT.
Sumber Islam Dalam Tasawuf ?
Dari al-Qur’an dan as-Sunnah,
risalah para sufi , pertama-tama mendasarkan pendapat-pendapat mereka tentang
moral dan tingkah laku . Juga latihan-latihan rohaniah mereka, yang mereka
susun demi terealisasinya tujuan-tujuan kehidupan mistis.
Memang ada pendapat lain, seperti
Raynold Alleyne Nicholson, sejarahwan dan ahli mistisme dalam Islam (sufisme;
menurut ungkapan bahasa-bahasa Eropa) tidaklah murni berasal dari ajaran Islam,
tetapi banyak mengambil dari para dufi agama lain? Bagi Harun Nasution ,
teori-teori yang mengatakan bahwa ajaran taswuf dipengaruhi oleh unsur saing
sulit dibuktikan kebenarannya. Karena dalam ajaran Islam sendiri terdapat
ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis yang menggambarkan dekatnya manusia dengan
Tuhan . Di antaranya surat
al-Baqarah ayat 186 yang artinya; Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu
tentang Aku , maka (jawablah ), bahwasanya Aku adalah dekat . Aku mengbulkan
permohonan orang yang mendo’a kepada-Ku .
Tinjauan analisis terhadap tasawuf
menunjukan bagaimana para sufi denganberbagai aliran yang dianutnya, memiliki sesuatu
konsepsi tentang jalan (thriqah)menuju Allah. Dan jalan ini dimulai dengan
latihan-latihan rohaniah, lalu secara bertahap menempuh pun berbagai fase, yang
dikenal dengan tingkatan (maqam) dan keadaan(hal) yang berakhir dengan
tingkatan (ma’rifat) Allah.
Semua tingkatan dan kaadaan para
sufi , yang pada dasarnya merupakan objek tasawuf, berlandaskan al-Qur’an .
seperti penggemblengan (mujahadah ) jiwa berdasar al-Qur’an surat al-Ankabut auat 69 yang artinya: dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan)Kami , benar-benar akan kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yan berbuat baik .
Selain berdasarkan al-Qur’an maupun
sunnah Nabi , sangat banyak teladan kehidupan Nabi saw dan para sahabatnya,
yang merupakan cikal bakal tasawuf Islam .
Misalnya kehidupan Nabi sebelum
menjadi Rasul , beliau berhari-hari
berkhalawat di Gua Hira, terutama di bulan Ramdhan, banyak berdzikir dan
tafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada AllahSWT .kedekatan Nabi ketika
melakukan mi’raj , pribadi beliau yang sederhana , zuhud dan tidak pernah
terpesonaoleh kemewhan dunia’ ibadah beliau pernah salat malam dengan beberapa
rakaat sehingga lutunya bergetar dan terdengar suara tangisnya, bahkan kakinya
bengkak; banyak berdzikir sehari semalam tidak kurang dari 70 atau 100 kali ;
beliau pernah lupa ketika khusuk bermunajat kepada Tuhan pada waktu ditanya
istrinya, siapa engkau? Aisah menjawab :”Nabi bertanya kembali :”siapakah Aisah
?”dan seterusnya , akhirnya Aisah meninggalkannya; dalam diri Nabi saw
terkumpul sifat –sifat terpuji yaitu rendah hati, lemah lembut, jujur, tidak
suka mencari-cari cacat orang lain, sabar , tidak angkuh , santun dan tidak
mabuk pujian.
Adapun kehidupan keempat sahabat
Nabi Muhammad saw yang dijadikan panutan oleh para sufi sebagai berikut:
1.
Abu Bakar as-Shiddiq . pada
mulanya ia adalah seorang saudagar Kuraysi yang kaya. Setelah masuk Islam, ia
menjadi seorang yang sangat sederhan . Ketika menghadapi perang Tabuk ,
Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, siapakah yang bersedia memberikan
seluruh harta bendanya di jalan Allah SWT. Abu Bakarlah yang pertama menjawab
:”Saya ya Rasulullah .”Akhirnya beliau memberikan seluruh harta kekayaannya
unutk jalan Allah melihat hal demikian, Nabi bertanya kepadanya:”Apalagi yang tinggal untukmu wahai
Abu Bakar ?”Ia menjawab :”cukup bagiku Allah dan Rasulnya.”
2.
Umar bin Khatab yang terkenal
dengan jiwa dan kebersihan kalbunya, sehingga Rasulullah saw berkata :”Allah
telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar.”Ia terkenal dengan
kezuhudan dan kesederhanaannya. Umar bin Khatab pernah berkata:”Apabila engkau
lihat seseorang yang berilmu mencintai dunia, maka curigailah dia mengenai
agamanya! Karena tiap orang yang mencintai sesuatu akan menyibukkan diri dengan
apa yang dicintainya itu,”Diriwayatkan pada suatu ketika setelah ia menjabat
sebagai khalifah, ia berpidato dengan memakai baju bertambal dua belas sobekan
. Bahkan beliau menghabiskan malam untuk beribadah dan siang untuk umat .
3.
Usman bin Affan, seseorang yang
zuhud padahal ia kaya raya, tawadhu’, banyak berdikir , banyak membaca
ayat-ayat al-Qur’an dan memiliki akhlak yang terpuji . Diriwayatkan pula,
beliau telah membeli telaga milik orang yahudi untuk kaum muslimin . Dalam keadaan
membaca al-Qur’an surat
al-Baqarah ayat137, beliau meninggal akibat tebasan pedang para pemberontak .
4.
Ali bin Abi Thalib yang tidak
kurang pula keteladanannya dalam dunia tasawuf . Kezuhudan dan kerendahan hati
beliau terlihat pada kehidupan yang sederhana . Ia tidak malu memakai pakaian
bertambal, bahkan ia sendiri yang menambal pakaiannya yang robek .
Nilai-nilai Taswuf Dalam Kehidupan Modern ?
Masyarakat modern dewasa ini sangat
menggandrungi ajaran-ajaran tasawuf atau spirituallitas, baik yang kaya maupun
yang miskin, terutama orang-orang yang ada diperkotaan . Apakah mereka itu
murni ingin meningkatkan kerohaniannya kepada Allah SWT ataukah tempat dari
abad-keabad , para sufi benar-benar ingin beribadah dan berhubungan dengan
Tuhan dengan sedekat-dekatnya, yang pada akhirnya ma’rifat kepada-Nya .
Tasawuf digali dari sumbernya al-Qur’an dan sunnah,
dan dari pengalaman keagamaan atau istik dari melaksanakan peribadatan kepada
Tuhan , telah dikembangkan lebih terperinci oleh para pendukungnya . Dalam
menggambarkan ucapan-ucapan para sufi sebagai nerikut:
1.
Taubat ?al-Junaid mengatakan
:”Taubat mempunyai tiga makna . pertama menyesali kesalahan; kedua berketetapan
hati untuk tidak kembali kepada apa yang terlarang ; dan ketiga membereskan
kelluhan orang terhadap dirinya. “
2.
Ikhlas? :menghentikan amal-amal
baik karena manusia adalah munafik , dan melaksanakannya karena manusia adalah
musrik. Ikhlas berarti Allah menyembuhkanmu dari penyakit ini.”
3.
Zuhud ? Abu Hafs mengtakan :”Tidak
ada zuhud kecuali dalam hal-hal yang halal .”
4.
Sabar ?al-Juraiyri menjelaskan
:”Sabar tidaklah membedakan keadaan bahagia atau menderita , disertai dengan
ketentraman dalam keduanya .”
5.
Syukur? Ruwaym
mengatakan:”Bersyukur adalah engkau menghabiskan seluruh kemampuannya.”
6.
Dzikir? Al-Hasan al-Bisri
mengajarkan :”Carilah kemanisan dalam tiga hal:shalat , dzikir kepada Allah ,
dan membaca al-Qur’an. Jika engkau tidak menemukan ke anisan di dalam ketiga
hal itu, maka ketahuilah bahwa pintu telah tertutup(bagimu).”
7.
Do’a ? seorang bertanya kepada
Ja’far ash-Shiddiq,”Apa sebenarnya kita berdo’a tetapi tidak pernah dikabulkan
?”Beliau menjawab,”Itu karena engkau berdo’a kepada Tuhan yang engkau tak punya
pengtahuan tentang-Nya.”
8.
Cinta (mahabbah) Abu Abdullah
al-Qasyairi:”Hakekatnya cinta berarti bahwa engkau memberikan engkau memberikan
segenap dirimu kepada Dia yang kau cintai hingga tak sesuatupun tinggal dari
dirimu untuk dirimu sendir.”
9.
Kerelaan(ridha)? Dzun Nun al-Misri
menjelaskan ,”Ada
tiga tanda kerelaan, tidak punya piihan sebrlum diputuskannya ketetapan(Allah),
tidak merasakan kepahitan setelah diputusnya ketetapan (Allah), dan merasakan
gairah cinta ditengah-tengahcobaan.”
10. Takut kepada Tuhan (taqwa) ? Abul Hasan al-Farisi menyatakan , “
Taqwa mempunyai aspek luar dan aspek dalam . Aspek luarnya adalah pelaksanaan
syari’at dan aspek dalamnya adalah niat dan mujahadah.”
11. Tawkal ?Sahl bin Abdullah mengatakan,” Ada tiga tanda orang yang bertawaqal kepada
Allah: dia tidak meminta-minta , tidak menolak sesuatu(pemberian), dan tidak
pula menahan sesuatu (yang akan diberikan).”
Ihtitam
Al-Hamdulillah, bila kita cermati
perkembangan taswuf Islam dari abad ke-3 Hijriyah adalah abad mula tersusunnya
ilmu tasawuf dalam arti yang luas , dan abad selanjutnya terdapat dua jenis
aliran, yaitu tasawuf sunni dan filosofis. Abu Hamid al-Ghazali yang
disebut-sebut sebagai wakil sufi sunni dan syeh Akbar Ibn ‘Arabi tokoh sufi
filosofis.
Tidak
dapat dipungkiri bahwa kemunculan tasawuf dalam Islam dalam abad awal
pertumbuhannya tetap bercorak Islam. Sedangkan perkembangan berikutnya tertentu
terpengaruh teori-teori filsafat, seperti al-huluul, al-Haqiqat al-Muhammadiyah
(Nur Muhammad), hikmat al-Isyra’ (Iluminasi), wahdatul wujud, Martabat tujuh
dll. Sungguhpun demikian ,cikal bakaltasawuf Islam sudah tumbuh benih-benihnya
dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya . Diantara beliau-beliau ada
yang kaya dan ada yang iskin, kekayaan
atau kemiskinan bagi mereka sama saja, yang terpenting siapa yang paling taqwa di sisi Tuhan ?
Dari merekalah, para tokoh sufi
senantiasa melanggengkan dzikrullah dalam segala tingkah laku, melalui lisan,
kalbu, amal dan prilaku kesehariannya. Tiada waktu kecuali memelihara dan
menjaga hablum minallah dan hablum minannas. Guna menghamba dan mengihklaskan
hidup ini semata-mata karunia Tuhan .
Dan pada akhirnya , banyak orang
yang masuk Islam karena pengaruh mereka dan banyak orang yang durhaka serta
lalim bertaubat . Mengapa? Tidak , moral satu-satunya jawabannya. Wallah A’lam
Abi Naufal
JAKARTA 2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar