Selasa, 19 Februari 2013

MAQAM-MAQAM Sufi




                        MAQAM SUFI Menurut Ibn Atha’illah

Mengenai maqām, Ibn Atha’illah membaginya tingkatan maqam sufi menjadi 9 tahapan;
 1. Maqam taubat
JALAN MENUJU ALLAH SWT
2. Maqam zuhud
3. Maqam shabar
4. Maqam syukur
5. Maqam khauf
6. Maqam raja’
7. Maqam ridha
8. Maqam tawakkal
9. Maqam mahabbah
Maqam Taubat
Taubat adalah maqam awal yang harus dilalui oleh seorang salik. Sebelummencapai maqam ini seorang salik tidak akan bisa mencapai maqam-maqamlainnya. Karena sebuah tujuan akhir tidak akan dapat dicapai tanpaadanya langkah awal yang benar.
Cara taubat sebagaimana pandangan Ibn Atha’illah adalah denganbertafakkur dan berkhalwat. sedang tafakkur itu sendiri adalahhendaknya seorang salik melakukan instropeksi terhadap semuaperbuatannya di siang hari. Jika dia mendapati perbuatannya tersebutberupa ketaatan kepada Allah, maka hendaknya dia bersyukur kepada-Nya.Dan sebaliknya jika dia mendapati amal perbuatannya berupa kemaksiatan,maka hendaknya dia segera beristighfar dan bertaubat kepada-Nya.
Untuk mencapai maqam taubat ini, seorang salik harus meyakini danmempercayai bahwa irodah (kehendak) Allah meliputi segala sesuatu yangada. Termasuk bentuk ketaatan salik, keadaan lupa kepada-Nya, dan nafsusyahwatnya, semua atas kehendak-Nya.
Sedangkan hal yang dapat membangkitkan maqam taubat ini adalah berbaiksangka (husn adz-dzon) kepada-Nya. Jika seorang salik terjerumus dalamsebuah perbuatan dosa, hendaknya ia tidak menganggap bahwa dosanya itusangatlah besar sehingga menyebabkan dirinya merasa putus asa untukbisa sampai kepada-Nya.
 Maqam Zuhud
Dalam pandangan Ibn ‘Aţā’illah, zuhd ada 2 macam; Zuhd ahir Jalīseperti zuhd dari perbuatan berlebih-lebihan dalam perkara alal,seperti: makanan, pakaian, dan hal lain yang tergolong dalam perhiasanduniawi. Dan Zuhd Bāţin Khafī seperti zuhd dari segala bentukkepemimpinan, cinta penampilan zahir, dan juga berbagai hal maknawiyang terkait dengan keduniaan”.
Hal yang dapat membangkitkan maqām zuhd adalah dengan merenung(ta’ammul). Jika seorang sālik benar-benar merenungkan dunia ini, makadia akan mendapati dunia hanya sebagai tempat bagi yang selain Allah,dia akan mendapatinya hanya berisikan kesedihan dan kekeruhan. Jikalausudah demikian, maka sālik akan zuhd terhadap dunia. Dia tidak akanterbuai dengan segala bentuk keindahan dunia yang menipu.
Maqām zuhd tidak dapat tercapai jika dalam hati sālik masih terdapatrasa cinta kepada dunia, dan rasa asud kepada manusia yang diberikenikmatan duniawi. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Ibn‘Aţā’illah: ”Cukuplah kebodohan bagimu jika engkau asud kepada merekayang diberi kenikmatan dunia. Namun, jika hatimu sibuk denganmemikirkan kenikmatan dunia yang diberikan kepada mereka, maka engkaulebih bodoh daripada mereka. Karena mereka hanya disibukkan dengankenikmatan yang mereka dapatkan, sedangkan engkau disibukkan dengan apayang tidak engkau dapatkan”.
Inti dari zuhd adalah keteguhan jiwa, yaitu tidak merasa bahagia dengankenikmatan dunia yang didapat, dan tidak bersedih dan putus asa ataskenikmatan dunia yang tidak didapat.
Seorang salik tidak dituntut menjadi orang yang faqir yang sama sekalitidak memiliki apa-apa. Karena ciri-ciri seorang zuhd ada dua; yaitusaat kenikmatan dunia tidak ada dan saat kenikmatan dunia itu ada. Inidimaksudkan bahwa jika kenikmatan dunia itu didapat oleh sālik, makadia akan menghargainya dengan bershukur dan memanfaatkan nikmattersebut hanya karena Allah. Sebaliknya, jika nikmat sirna daridirinya, maka dia merasa nyaman, tenang dan tidak sedih.
Maqam Sabar
 Ibn ‘Ata’illah membagi sabar menjadi 3 macam sabar terhadap perkaraharam, sabar terhadap kewajiban, dan sabar terhadap segala perencanaan(angan-angan) dan usaha.
Sabar terhadap perkara haram adalah sabar terhadap hak-hak manusia.Sedangkan sabar terhadap kewajiban adalah sabar terhadap kewajiban dankeharusan untuk menyembah kepada Allah. Segala sesuatu yang menjadikewajiban ibadah kepada Allah akan melahirkan bentuk sabar yang ketigayaitu sabar yang menuntut salik untuk meninggalkan segala bentukangan-angan kepada-Nya.
“Sabar atas keharaman adalah sabar atas hak-hak kemanusiaan. Dan sabaratas kewajiban adalah sabar atas kewajiban ibadah. Dan semua hal yangtermasuk dalam kewajiban ibadah kepada Allah mewajibkan pula atas salikuntuk meniadakan segala angan-angannya bersama Allah”.

Sabar bukanlah suatu maqam yang diperoleh melalui usaha salik sendiri.Namun, sabar adalah suatu anugerah yang diberikan Allah kepada salikdan orang-orang yang dipilih-Nya.
Maqam sabar itu dilandasi oleh keimanan yang sempurna terhadapkepastian dan ketentuan Allah, serta menanggalkan segala bentukperencanaan (angan-angan) dan usaha.
Maqam Syukur
Shukur dalam pandangan Ibn ‘Ata’illah terbagi menjadi 3 macam; pertamashukur dengan lisan, yaitu mengungkapkan secara lisan, menceritakannikmat yang didapat. Kedua, shukur dengan anggota tubuh, yaitu shukuryang diimplementasikan dalam bentuk ketaatan. Ketiga, shukur denganhati, yaitu dengan mengakui bahwa hanya Allah Sang Pemberi Nikmat,segala bentuk kenikmatan yang diperoleh dari manusia semata-matadari-Nya. Sebagaimana diungkapkan oleh Ibn ‘Ata’illah:
“Dalam shukur menurut Ibn ‘Ata’illah terdapat tiga bagian; shukur lisanyaitu memberitakan kenikmatan (pada orang lain), shukur badan adalahberamal dengan ketaatan kepada Allah, dan shukur hati adalah mengakuibahwa Allah semata Sang Pemberi nikmat. Dan segala bentuk kenikmatandari seseorang adalah semata-mata dari Allah.”
Ibn ‘Ata’illah juga menjelaskan bahwa bentuk shukur orang yang berilmuadalah dengan menjadikan ilmunya sebagai landasan untuk memberipetunjuk kepada manusia lainnya. Sedangkan bentuk shukur orang yangdiberi kenikmatan kekayaan adalah dengan menyalurkan hartanya kepadamereka yang membutuhkan. Bentuk shukur orang yang diberi kenikmatanberupa jabatan dan kekuasaan adalah dengan memberikan perlindungan dankesejahteraan terhadap orang-orang yang ada dalam kekuasaannya.
Lebih lanjut Ibn ‘Aţā’illah memaparkan bahwa shukur juga terbagimenjadi 2 bagian; shukur āhir dan shukur bāţin. Shukur āhir adalahmelaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkanshukur bāţin adalah mengakui dan meyakini bahwa segala bentukkenikmatan hanyalah dari Allah semata.
Manfaat dari shukur adalah menjadikan anugerah kenikmatan yang didapatmenjadi langgeng, dan semakin bertambah. Ibn ‘Ata’illah memaparkanbahwa jika seorang salik tidak menshukuri nikmat yang didapat, makabersiap-siaplah untuk menerima sirnanya kenikmatan tersebut. Dan jikadia menshukurinya, maka rasa shukurnya akan menjadi pengikat kenikmatantersebut. Allah berfirman: لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ (Jikakalian bershukur [atas nikmat-Ku) niscaya akan kutambah [kenikmatanitu]).1
Jika seorang salik tidak mengetahui sebuah nikmat yang diberikan Allahkepada-Nya, maka dia akan mengetahuinya ketika nikmat tersebut telahhilang. Hal inilah yang telah diperingatkan oleh Ibn ‘Ata’illah.
Lebih lanjut Ibn ‘Ata’illah menambahkan hendaknya seorang salik selalubershukur kepada Allah sehingga ketika Allah memberinya suatukenikmatan, maka dia tidak terlena dengan kenikmatan tersebut danmenjadikan-Nya lupa kepada Sang Pemberi Nikmat.
Meskipun pada dasarnya semua kenikmatan pada hakikatnya adalah dariAllah, shukur kepada makhluk juga menjadi kewajiban seorang salik. Diaharus bershukur terhadap apa yang telah diberikan orang lain kepadanya,karena hal ini adalah suatu tuntutan shari‘at, seraya mengakui danmeyakini dalam hati bahwa segala bentuk kenikmatan tersebut adalah dariAllah.
Pengejawantahan shukur tetap harus dilandasi dengan menanggalkan segalabentuk angan-angan dan keinginan. Akal adalah kenikmatan paling agungyang diberikan Allah kepada manusia. Karena akal inilah manusia menjadiberbeda dari sekalian makhluk. Namun, dengan kelebihan akal ini pulamanusia memiliki potensi untuk bermaksiat kepada Allah. Dengan akal inimanusia dapat berpikir, berangan-angan, dan berkehendak. Sehinggamanusia memiliki potensi untuk mengangan-angankan dan menginginkansuatu bentuk kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah. Hal inilah yangharus ditiadakan dalam pengejawantahan shukur.
Maqam khauf
Seorang salik dapat mencapai derajat maqam khauf apabila dia merasatakut atas sirnanya al dan maqamnya, karena dia tahu bahwa Allahmemiliki kepastian hukum dan kehendak yang tidak dapat dicegah. KetikaAllah berkehendak untuk mencabut suatu maqām dan hal yang ada pada dirisalik, seketika itu juga Allah akan mencabutnya.
“Bukti dari makna ini mengharuskan maqām khauf bagi seorang hambaterwujud, ketika dia memiliki ucapan yang baik dan perilaku yangterpuji maka dia tak akan terputus maqām khauf ini, serta dia tidakterpedaya dengan urusan duniawi, karena hukum kepastian dan kehendakAllah terwujud.”
Khauf seorang sālik bukanlah sekedar rasa takut semata. Khauf pastidiiringi dengan rajā’ (harapan) kepada Allah, karena khauf adalahpembangkit dari rajā’. Maqām khauf adalah maqām yang membangkitkanmaqām rajā’. Rajā’ tidak akan ada jika khauf tidak ada.
Ibn ‘Atā’illah menyatakan bahwa jika sālik ingin agar dibuka baginyapintu rajā’ maka hendaknya dia melihat apa yang diberikan Allahkepadanya berupa anugerah maqām, hal dan berbagai kenikmatan yang diaterima. Jika dia ingin agar terbuka baginya pintu khauf, maka hendaknyadia melihat apa yang dia berikan kepada-Nya berupa peribadatan danketaatan penuh pada-Nya. Sebagaimana diutarakan oleh Ibn ‘Atā’illah:
”Jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu rajā’, makalihatlah segala sesuatu yang diberikan Allah kepadamu. Dan jika engkauingin agar Allah membukakan bagimu pintu khauf, maka lihatlah apa yangtelah kau berikan kepada-Nya.”
Rajā’ bukan semata-mata berharap, rajā’ harus disertai denganperbuatan. Jika rajā’ hanya berupa harapan tanpa perbuatan, maka tidaklain itu hanyalah sebuah angan-angan atau impian belaka. Dengandemikian wajib bagi seorang sālik untuk menyertakan rajā’nya denganamal kepatuhan, dan peribadatan yang dapat mendekatkan dirinya kepadaAllah secara kontinu.
Jika rajā’ sudah ada dalam diri sālik, maka rajā’ ini akan semakinmenguatkan khauf yang ada pada dirinya. Karena suatu harapan, pastiakan disertai dengan rasa takut akan sesuatu, sehingga dapat dinyatakanbahwa khauf akan melahirkan rajā’, dan rajā’ akan menjadi penguat khauf.
Maqam Ridha dan Tawakkal
Ria dalam pandangan Ibn ‘Ata'illah adalah penerimaan secara totalterhadap ketentuan dan kepastian Allah. Hal ini didasarkan pada QS.al-Mā’idah ayat 119:
(Allah ria terhadap mereka, dan mereka ridha kepada Allah), dan juga sabda Rasulullah SAW.: 
(Orang yang merasakan [manisnya] iman adalah orang yang ridha kepada Allah).
Maqam ridha bukanlah maqam yang diperoleh atas usaha salik sendiri. Akan tetapi ridha adalah anugerah yang diberikan Allah.
Jika maqam ridha sudah ada dalam diri sālik, maka sudah pasti maqāmtawakkal juga akan terwujud. Oleh karena itu, ada hubungan yang eratantara maqām ridha dan maqām tawakkal. Orang yang ridha terhadapketentuan dan kepastian Allah, dia akan menjadikan Allah sebagaipenuntun dalam segala urusannya, dia akan berpegang teguh kepada-Nya,dan yakin bahwa Dia akan menentukan yang terbaik bagi dirinya.
Maqām tawakkal akan membangkitkan kepercayaan yang sempurna bahwasegala sesuatu ada dalam kekuasaan Allah. Sebagaimana termaktub dalamQS. Hūd ayat 123:
(…kepada-Nya lah segala urusan dikembalikan, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya).
Sebagaimana maqām-maqām lainnya, maqām ridha dan tawakkal tidak akanbenar jika tanpa menanggalkan angan-angan. Ibn ‘Aţā’illah menyatakanbahwa angan-angan itu bertentangan dengan tawakkal, karena barangsiapatelah berpasrah kepada Allah, dia akan menjadikan Allah sebagaipenuntunnya, dia akan berpegang teguh kepada-Nya atas segala urusannya,dan jika sudah demikian tiadalah bagi dirinya segala bentukangan-angan.

“Perencanaan (tadbīr) juga bertentangan dengan maqam tawakkal karenaseorang yang bertawakkal kepada Allah adalah orang yang menyerahkankendali dirinya kepada-Nya, dan berpegang teguh kepada-Nya atas segalaurusannya. Barangsiapa telah menetapi semua hal tersebut, maka tiadalagi perencanaan baginya, dan dia berpasrah terhadap perjalanan takdir.Peniadaan perencanaan (isqaţ tadbīr) juga terkait dengan maqām tawakkaldan ridha, hal ini jelas, karena seorang yang ridha maka cukup baginyaperencanaan Allah atasnya. Maka bagaimana mungkin dia menjadi perencanabersama Allah, sedangkan dia telah rela dengan perencanan-Nya. Apakahengkau tidak tahu bahwa cahaya ridha telah membasuh hati dengan curahanperencanan-Nya. Dengan demikian, orang yang ridha terhadap Allah telahdianugrahkan baginya cahaya ridha atas keputusan-Nya, maka tiada lagibaginya perencanaan bersama Allah…” 
Hikmah ridha kepada qadhā’ dan qadar, antara lain dapat menghilangkankeruwetan dan kesusahan. Musibah yang diperoleh seseorang, jikadihadapi/dengan pikiran yang lapang dan dengan bekerja yangsungguh-sungguh di sanalah seseorang akan mendapatkan jalan danpetunjuk yang lebih berguna, daripada dihadapi dengan meratapikesusahan-kesusahan itu, yang tidak ada berkesudahan.
Dasar ridha akan qadhā’ dan qadar, ialah firman Allah dalam al-Qur’an:
“Orang-orang (yang mu’min) jika mereka mendapat sesuatu bencanaberkatalah mereka “Bahwasanya kami ini kepunyaan Allah, dan kami(semua) pasti kembali lagi kepada-Nya.”
Jika seseorang ditimpa bencana hendaklah dia ridha, hatinya tidak bolehmendongkol. Ridha dengan qadhā’ ialah menerima segala kejadian yangmenimpa diri seseorang, dengan rasa senang hati dan lapang dada.
Meridhai qadhā’ dan qadar, karena ditimpa bencana atau menderitasesuatu, sangat disukai oleh agama. Tetapi sekali-kali tiada dibenarkanseseorang meridhai kekufuran dan kemaksiatan.
Ridha dengan taqdir Allah adalah suatu perangai yang terpuji dan muliaserta membiasakan jiwa menyerahkan diri atas keputusan Allah, jugadapat mendapatkan hiburan yang sempurna di kala menderita segalabencana. Dialah obat yang sangat mujarab untuk menolak penyakit gelapmata hati. Dengan ridha atas segala ketetapan Allah, hidup seseorangmenjadi tenteram dan tidak gelisah.
Seseorang wajib berkeyakinan, bahwa bencana yang menimpa seseorang,adakalanya juga merupakan cobaan bagi seorang hamba, untuk lebih sukamengoreksi segala amal perbuatan pada masa-masa yang lampau, agarseseorang dapat mengubah dan memperbaiki jejak langkah dan perbuatannyapada masa-masa yang akan datang.

Menyerah kepada qadhā’illah (keputusan takdir) Allah termasuk tidakboleh mengandai-andaikan, misalnya andaikan tadinya dia tidak ikutrombongan ini, barangkali dia tidak termasuk korban kecelakaan ini,sebagaimana firman Allah SWT.:
Hai orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir, yangberkata kepada saudara-saudara mereka tatkala mereka bepergian di bumi,atau sedang bertempur : Sekiranya bersama-sama kami, niscaya merekatidak akan mati, dan tidak akan terbunuh. Yang demikian karena Allahhendak jadikan yang tersebut itu duka cita di hati-hati mereka danAllah rnenghidupkan dan mematikan, dan Allah Maha melihat akan apa yangengkau kerjakan. 
Maqam Mahabbah 
Imam al-Ghazālī berpendapat bahwa maqām maabbah adalah maqām tertinggidari sekian maqām-maqām dalam tarekat. Dia menggambarkan bahwa maabbahadalah tujuan utama dari semua maqām.
Namun, Ibn ‘Aţā’illah memiliki pandangan yang berbeda tentang konsepmahabbah bahwa dalam mahabbah seorang sālik harus menanggalkan segalaangan-angannya. Dia berpendapat demikian karena alasan bahwa sālik yangtelah sampai pada mahabbah (cinta) bisa jadi dia masih mengharapkanbalasan atas cintanya kepada yang dicintainya. Dari sini tampak bahwarasa cinta sālik didasarkan atas kehendak dirinya untuk mendapatkanbalasan cinta sebagaimana cintanya. Karena pecinta sejati adalah orangyang rela mengorbankan segala yang ada pada dirinya demi yangdicintainya, dan tidak mengharapkan imbalan apapun dari yangdicintainya, yang dalam konteks ini adalah Allah SWT.
”...mahabbah (cinta) kepada Allah adalah tujuan luhur dari seluruhmaqām, titik puncak dari seluruh derajat. Tiada lagi maqām setelahmahabbah, karena mahabbah adalah hasil dari seluruh maqām, menjadiakibat dari seluruh maqām, seperti rindu, senang, ridha dan lainsebagainya. Dan tiadalah maqām sebelum mahabbah kecuali hanya menjadipermulaan dari seluruh permulaan maqām, seperti taubat, sabar, zuhd danlain sebagainya...” 
Untuk dapat mencapai hal tersebut diatas, maka seorang salikdisyaratkan terlebih dulu mengambil baiat (janji)pada seorang gurutarekat (Mursyid). Dimana tugas seorang guru Mursyid adalah membimbingdan mengarahkan agar seorang salik tidak terjerumus kedalam kesesatan.Baiat Tarekat merupakan pintu utama memasuki dunia tasawuf.
Istilah Tarekat berasal dari kata Ath-Thariq (jalan) menuju kepada
Hakikat atau dengan kata lain pengalaman Syari'at, yang disebut "Al-
Jaraa" atau "Al-Amal", sehingga Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy
mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:
1) Tarekat adalah pengamalan syari'at, melaksanakan beban ibadah
(dengan tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah
(ibadah), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah. 
2) Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan
sesuai dengan kesanggupannya; baik larangan dan perintah yang nyata,
maupun yang tidak (batin).
3) Tarekat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan
hal-hal mubah (yang sifatnya mengandung) fadhilat, menunaikan hal-hal
yang diwajibkan dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan
(pelaksanaan) di bawah bimbingan seorang Arif (Syekh) dari (Shufi)
yang mencita-citakan suatu tujuan.
Menurut L. Massignon, yang pernah mengadakan penelitian terhadap
kehidupan Tasawuf di beberapa negara Islam, menarik suatu kesimpulan
bahwa istilah Tarekat mempunyai dua macam pengertian. 
a) Tarekat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering
dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan Tasawuf, untuk
mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut "Al-Maqamaat"
dan "Al-Ahwaal".
b) Tarekat yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut
ajaran yang telah dibuat seorang Syekh yang menganut suatu aliran
Tarekat tertentu.
Maka dalam perkumpulan itulah seorang Syekh mengajarkan Ilmu Tasawuf
menurut aliran Tarekat yang dianutnya, lalu diamalkan bersama dengan
murid-muridnya. 
Dari pengertian diatas, maka Tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi;
yaitu amaliyah dan perkumpulan (organisasi). Sisi amaliyah merupakan
latihan kejiwaan (kerohanian); baik yang dilakukan oleh seorang,
maupun secara bersama-sama, dengan melalui aturan-aturan tertentu
untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut "Al-Maqaamaat"
dan "Al-Akhwaal", yakni kedudukan dan keadaan seorang salik dalam dunia
tasawuf
Maqam Hakikat
Istilah hakikat berasal dari kata Al-Haqq, yang berarti kebenaran.
Kalau dikatakan Ilmu Hakikat, berarti ilmu yang digunakan untuk
mencari suatu kebenaran. Kemudian beberapa ahli merumuskan
definisinya sebagai berikut:
a. Asy-Syekh Abu Bakar Al-Ma'ruf mengatkan :
"Hakikat adalah (suasana kejiwaan) seorang Saalik (Shufi) ketika ia
mencapai suatu tujuan ...sehingga ia dapat menyaksikan (tanda-tanda)
ketuhanan dengan mata hatinya".
b. Imam Al-Qasyairiy mengatakan:
"Hakikat adalah menyaksikan sesuatu yang telah ditentukan,
ditakdirkan, disembunyikan (dirahasiakan) dan yang telah dinyatakan
(oleh Allah kepada hamba-Nya".

Hakikat yang didapatkan oleh Shufi setelah lama menempuh Tarekat
dengan selalu menekuni Suluk, menjadikan dirinya yakin terhadap apa
yang dihadapinya. Karena itu, Ulama Shufi sering mengalami tiga macam
tingkatan keyakinan: 
1) "Ainul Yaqiin; yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh
pengamatan indera terhadap alam semesta, sehingga menimbulkan
keyakinan tentang kebenaran Allah sebagai penciptanya;
2) "Ilmul Yaqiin; yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh
analisis pemikiran ketika melihat kebesaran Allah pada alam semesta
ini.
3) "Haqqul Yaqqin; yaitu suatu keyakinan yang didominasi oleh hati
nurani Shufi tanpa melalui ciptaan-Nya, sehingga segala ucapan dan
tingkah lakunya mengandung nilai ibadah kepada Allah SWT. Maka
kebenaran Allah langsung disaksikan oleh hati, tanpa bisa diragukan
oleh keputusan akal".
Pengalaman batin yang sering dialami oleh Shufi, melukiskan bahwa
betapa erat kaitan antara hakikat dengan mari"fat, dimana hakikat itu
merupakan tujuan awal Tasawuf, sedangkan ma'rifat merupakan tujuan
akhirnya.
Maqam Marifat
Istilah Ma'rifat berasal dari kata "Al-Ma'rifah" yang berarti
mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan
pengamalan Tasawuf, maka istilah ma'rifat di sini berarti mengenal
Allah ketika Shufi mencapai maqam dalam Tasawuf.
Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama
Tasawuf; antara lain: 
a. Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf
yang mengatakan:
"Marifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud
yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya."
b. Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat
Abuth Thayyib As-Saamiriy yang mengatakan:
"Ma'rifat adalah hadirnya kebenaran Allah (pada Shufi)...dalam
keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi..."
c. Imam Al-Qusyairy mengemukakan pendapat Abdur Rahman bin Muhammad
bin Abdillah yang mengatakan: 
"Ma'rigfat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu
pengetahuan membuat ketenangan (dalam akal pikiran). Barangsiapa yang
meningkat ma'rifatnya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya)."
Tidak semua orang yang menuntut ajaran Tasawuf dapat sampai kepada
tingkatan ma'rifat. Karena itu, Shufi yang sudah mendapatkan
ma'rifat, memiliki tanda-tanda tertentu, sebagaimana keterangan Dzuun
Nuun Al-Mishriy yang mengatakan; ada beberapa tanda yang dimiliki
oleh Shufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma'rifat, antara lain:
a. Selalu memancar cahaya ma'rifat padanya dalam segala sikap dan
perilakunya. Karena itu, sikap wara' selalu ada pada dirinya. 
b. Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta
yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran
Tasawuf, belum tentu benar.
c. Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena
hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang Shufi tidak
membutuhkan kehidupan yang mewah, kecuali tingkatan kehidupan yang
hanya sekedar dapat menunjang kegiatan ibadahnya kepada Allah SWT.,
sehingga Asy-Syekh Muhammad bin Al-Fadhal mengatakan bahwa ma'rifat
yang dimiliki Shufi, cukup dapat memberikan kebahagiaan batin
padanya, karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhan-nya.
Begitu rapatnya posisi hamba dengan Tuhan-nya ketika mencapai
tingkat ma'rifat, maka ada beberapa Ulama yang melukiskannya sebagai
berikut:
a. Imam Rawiim mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan
ma'rifat, bagaikan ia berada di muka cermin; bila ia memandangnya,
pasti ia melihat Allah di dalamnya. Ia tidak akan melihat lagi
dirinya dalam cermin, karena ia sudah larut (hulul) dalam Tuhan-nya.
Maka tiada lain yang dilihatnya dalam cermin, kecuali hanya Allah SWT
saja. 
b. Al-Junaid Al-Bahdaadiy mengatakan, Shufi yang sudah mencapai
tingkatan ma'rifat, bagaikan sifat air dalam gelas, yang selalu
menyerupai warna gelasnya. Maksudnya, Shufi yang sudah larut (hulul)
dalam Tuhan-nya selalu menyerupai sifat-sifat dan kehendak-Nya. Lalu
dikatakannya lagi bahwa seorang Shufi, selalu merasa menyesal dan
tertimpa musibah bila suatu ketika ingatannya kepada Allah terputus
meskipun hanya sekejap mata saja.
c. Sahal bin Abdillah mengatakan, sebenarnya puncak ma'rifat itu
adalah keadaan yang diliputi rasa kekagumam dan keheranan ketika
Shufi bertatapan dengan Tuhan-nya, sehingga keadaan itu membawa
kepada kelupaan dirinya.
Keempat tahapan yang harus dilalui oleh Shufi ketika menekuni
ajaran Tasawuf, harus dilaluinya secara berurutan; mulai dari
Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma'rifat. Tidak mungkin dapat ditempuh
secara terbalik dan tidak pula secara terputus-putus.
Dengan cara menempuh tahapan Tasawuf yang berurutan ini,seorang hambatidak akan mengalami kegagalan dan tidak pula mengalamikesesatan.
Demikian ulasan singkat kami tentang maqam (kedudukan) dan hal(keadaan) dalam dunia tasawuf atau dunia para Wali Allah, semoga kitasemua dapat menempuh tahapan-tahapan dalam tasawuf.Wallah A’lam Bishawab
Jakarta 21-12-2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar