Kamis, 21 Februari 2013

MANUSIA Menurut Filsuf Muslim (2)





                                                     MANUSIA (2)

A. Uraian Filsuf Muslim
            Jiwa dan Badan diciptakan oleh Tuhan . Mungkin jiwa mempunyai sifat tersendiri dan badanpun demikian, sebab masing-masing dibikin dari sesuatu yang berbeda . Di halaman muka, bentuk dan bahan jiwa berbeda dengan jasmani sebagaimana pendapat para filsuf muslim . Agar lebih jelas bagaimana sebenarnya hubungan jiwa dan badan, ikutilah keterang-keterangan  di bawah ini :
            Ibnu Sina memebagi jiwa dalam tiga bagian , yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan, tumbuh dan berkembang biak ; jiwa binatang yang mempunyai daya gerak dan tangkap ; jiwa manusia yang mempunyai daya berfikir (yang berhubungan dengan badan) dan daya berpikir yang teoritis( yang berhubungan dengan hal-hal Abstrak) . Pada suatu saat jiwa manusia dapat seperti jiwa mahkluk lainya dan disaat lain dekat menyerupai malaikat tergantung jiwa mana yang mempengaruhi dirinya. Sebagaimana keterangan Ibnu Sina di bawah ini:
            Sifat seorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa tumbuh-tunbuhan , binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya . Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatan berkuasa pada dirinya., Maka orang itu dapat menyerupai binatang . Tetapi jiak jiwa manusia (al nafs al-natiqah/ rational soul) yang meempunyai pengaruh atas dirinya, maka oran itu dekat menyerupai malaikat dan dekat pada kesempurnaan .[1]  
            Pembagian jiwa dan daya di atas, bisa dijadikan tolok ukur perbuatan manusia itu menyerupai inatang atau tidak . mana yang berdaya teoritis dan jika dia mengembangkan potensi yang dimiliki , dilatih berpikir apa yang nampak , hal-hal yang Asbtrak, maka ia akan sanggup berpikir tentang hal-hal abstrak dan akan menerima limapahan ilmu pengetahuan dari Akal Aktif( al-‘aql al –fa’aal) .Sehingga tepatlah bial mendapat pujian dari Tuhan dengan sebutan sebaik-baik bentuk serta paling mulia di sisi-Nya.Sebaliknya ,,jika day yang dipunyai itu dekat dengan jiwa binatang . maka kedudukan manusia ini lebih hina dari pada binatang .
            Al-Kindi menerangkan hubungan jiwa dan badan sangat erat, tetapi bukan berarti perbuatan yang dilakukan badan itu perbuatan jiwa, sebab jiwa diciptakan tidak sama dengan kejadian badan . Dia membedakan jiwa dan badan demikian :
            Peraturan antara jiwa dan badan tidaklah dapat diartikan ama dengan persatuan anatara unsure-unsur dalam transmutasi dan tranformasi , melainkan sebagai suatu persatuan anatara perbuatan dan obyek perbuatan itu . Jiwa berbuat atas badan , dan inilah adalah ‘bentuk’ manusia yang hidup dalam artian bahwa jiwa itu berbuat atas badan dalam kemampuan nya khusus , tetapi tidaklah berarti dengan badan dalam
 zatnya .[2]
            Walau demikan , Al-Kindi berpendapat bahwa badan dan jiwa manusia itu ada kontak satu sama lain sebagaimana hubungan anatara subyek  dengan obyek , keduanya akan menciptakan suatu sikap atau perbuatan . Ibnu Sina dan Al-Kindi tidak membedakan antara jiwa dengan roh , sedangkan Al-Ghazali mengakui bahwa setiap makhluk hidup mempunyai ruh, bernyawa dan hanyalah manusia yang memiliki nafs, jiwa yang mempunyai daya berpkir . Kesimpulan bagi al-Ghazali , adalah manusia terdiri dari badan , ruh dan nafs. Diajuga sepakat bahwa ruh terbagi tiga , ruh tumbuh-tumbuhan , ruh binatang dan ruh manusia . Perhatikan pendapatya di bawah ini :
            Selanjutnya , Al-Ghazali (1050-1111) juga berpengaruh bahwa ruh terbagi tiga, ruh tumbuh-tumbuhan , ruh binatang , dan ruh manusia mempunyai ketiga macam ruh itu. Dalam ruh ini al-Ghazali memperbedakan antara ruh dan nafs . Ruh adalah terdapat da;am tumbuh-tumbuhan , binatang dan manusia. Sedangkan nafs khusus ada dalam manusia. . . . [3]
            Ibnu Sina , Al-Kindi dan Al Ghazali sepakat bahwa jiwa dan badan sangata erat hubungannya dalam melahrkan sesuatu hal yang kongkret , gembira dikala manusia mendapatkan rezeki atau susah ketika dia tertimpa kecelakaan dan mengeluh dikala jatuh sakit dll . Perbuatan atau perasaan di atas menunjukkan adanya keterkaitan badan dan jiwa .
B. Aliran Serbazat dan Serbaruh
            Pada dasarnya ,Aliran ini mengandung dari sis yang berbeda anatara pendapat yang satu dengan lainna . Tapi filsuf muslim di atas , sama-sama sepakat bahwa manusia itu terdiri dari unsure zat dan jiwa, hanya berbeda dalam mengartkan ruh/ jiwa dan nafs .
            Serbazat memandang eksistensi manusia itu tidak lain hanyalah terdiri dari unsur-unsur zat belaka duit dll. Karena kebutuhan-kebutuhan di atas termasuk unsure alam, maka wajarlah bila aliran sebazat  ini berpendapat demikian , Agar lebih jelasnya, perhatikan penjelasan di bawah ini :
            . . . Demikialah ala mini adalah zat. Dan manusia sebagai unsure alam, juga terdiri dari zat . Apa yang disebut dengan ruh atau jiwa, pikiran perasaan( tongapan, kemauan , kesadaran ingatan , khayalan , asosiasi, penghayatan dll) tidak laindari pada fungsi , aktivitas atau kerja badan manusia yang terdiri dari sel-sel (Zat) . . . . . . . . . . . . . . .. . . . .
Manusia sebagai makhluk yang materealis, bersifat zat satu-satunya yang diperlukannya adalah materi pula materi . Maka terbentuklah pandangan dan sikap hidup
materealisme .[4]
            Sebagaimana lawan kelompok di atas adalah golongan yang menamakan Serbaruh, mereka menganggap apa yang dapat dilihat ini hanyalah merupakan menefistasi ruh . Pendapat ini jelaslah bertentangan dengan pendapat aliaran Serabzat. Aliran Serbaruh berpendapat demikian :
            Hakekat segala yang ada , juga manusia , adalah ruh . Ruh itu non materi , karena itu tidak menempati ruang. Ia tidak berbentuk , tidak berupa . Tetapi degan kenyataan , yang kita sebut materi , . . . Ya , Zat itu adlah menefistasi ruh .[5]
            Dalam hal ini , filsuf muslim berada di tengah-tengah kedua keompok tersebut sebagaimana keterangan yang telah disebutkan , manusia adalah terdir dari zat dan ruh yang subtansinya tidak berganutng pada yang lain , akan tetapi sama-sama mrngatakan di dalam bukunya”Sistematika Filsafat “ Demikian :
            Manusia adalah perkaitan badan dan ruh . Masing-masing merupakan subtansi. Subtansi adalah unsure asal, sesuatu yang ada , yang adanya tidak bergantung pada subtansi lain . Ruh dan Zat adalah subtansi lain . Tetapi sebagai subtansi alam , dan alam itu  makhluk , adalah ia diciptakan juga . yang menciptakannya Khalik. [6]
           
            Atas dasar pandangan di atas , manusia terdiri dari zat dan ruh . jiwa membutuhkan petunjuk dari Yang Maha Baik dan Dan telah mengutus Rasul-Nya kepada manusia agar mereka terpenuhi jiwa mereka . Jasmani juga membutuhkan sesuatu yang dapat memuaskan kepadanya , hal-hal kongkrit , sebab ia termasuk materi . Dengan demikian , maka jelaslah bahwa hubungan jiwa dan badan sangat erat dalam menciptakan aktivitas , baik yang menyangkut kejasmanian maupun kerohanian .
C. Etika Manusia
            Pada halaman yang telah lewat , manusia beserta unsurnya betul-betul datang dari Tuhan . Bersyukur kepada-Nya adlah memenuhi kebutuhan jiwa dan ruhani hanya semata-mata ingin mendapatkan ridla Allah SWT , menjalankan kewajiban sebagai makhluk-Nya . Manusia yang mengadakan kontak langsung dengan Tuhannya memerlukan petunjuk dari-Nya atau utusan-Nya dan manusia perlu mencari standart tertentu dalam  bersikap kepada sesamanya. Bagaimana seharusnya berkontak dengan sesamanya , menyenangkan atau menyakitkan , ramah atau keras dll? Seharusnya bertindak atau tidak , mengapa demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini , kita harus membaca dan memperhatikan definisi etika, sebab yang menjawab sasaran bertindak atau tidak, adalah etika dengan obyeknya, manusia yang sengaja melakukan sesuatu yang baik atau buruk . Pengertian etika adalah sebagai berikut:
            Etika adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan tentang manusia . . . Jadi dengan demikian etika adalah teori tentang perbuatan manusia ditimbang menurut baik
buruknya .[7]
            Etika ialah teori tentang perilaku perbuatan manusia , dipandang dari nilai baik dan buruk , sejauh yang dapat ditentukan oleh akal .[8]
            Dari kedua definisi di atas, dapat sirangkum bahwa etika adlah sesuatu ukuran baik buruk seseorang dalam akan menjalankan aktivitas dengan sengaja dan dapat diterima oleh akal sehat . Untuk menentukan buruk baik sikap manusia, dibutuhkan referensi yang kuat , sebab nilai di dunia ini banyak sekali dan bersifat relative sesuai dengan subyektifitas masing-masing . pengikut Muhammad saw meyakini bahwa perbuatan itu dikatakan baik bila sesuai dengan perintah Agama dan sikap yang bertentangan dengan Allah SWT atau Rasul-Nya itu dinilai buruk .
            Boleh jadi , non muslim menganggap bahwa prilaku oleh umum , memuaskan , menyenangkan , dan lain-lain . Keharusan manusia bertindak atau tidak adalah garapan etika , sedang penilaian itu tidak ada sangkut pautnya dengan kebenaran atau kesalahan . Oleh karena itu , lapangan etika adalah berbuat atau tidak .
            Permasalahn sekarang adalah apakah rtika itu dapat mempengaruhi seseorang berbuat kebajikan . Mungkin cisa atau tidak , tinggal kesadaran yang bersangkutan . Boleh jadi etika dalam Islam dapat mendorong manusia berbuat baik dan menjauhi keburukan, sebab ukuran baik-buruk dalam Islam datang dari Allah SWT. Prof . Dr. Ahmad Amin dalam hal ini , yaitu bisakah etika mempengaruhi seseorang berbuat baik, berpendapat tidak bisa hanya mampu memberi petunjuk atau keterangan saja. Bisakah kita perhatikan pendapatnya dibawah ini:
            . . . bahwa etika itu tidak dapat menjadikan semua manusia baik; kedudukannya hanya sebagai kedudukan dokter . Dokter dapat menerangkan kepada si sakit akan bahayanya minuman keras dan buruk bekasnya terhadap akal dan tubuh, kemudian si sakit boleh memilih , meninggalkan agar sehat badannya atau terus minum, dan dokter tersebut tidak dapat menvegahnya.[9]
            Jawaban diatas, menggambarkan bahwa etika itu tidak mutlak mampu merubah manusia menjadi baik, akan tetapi hanya memberi motivasi belaka kepada seseorang dan tindak lanjutnya diserahkan manusia . gar etika itu dapat dikatakan bisa mendorong seseorang berbuat, maka harus diteliti obyek etika dan kelemahan atau kesemangatan manusia , diterangkan , lantas dituangkan menjadi rumus etika . Bagaimana perumusan para filsuf muslim dalam hal-hal di atas? Coba kita ikuti komentar mereka di bawah ini.
            Ibnu Bajjah menilai sikap seseorang yang sama-sama melakukan sesuatu itu tidak mesti mendapatkannulai yang sama pula , sebab kedua sikap tersebut ditinjau dari motivasi yang melakukannya. Boleh jadi, yang satu mendapatkan pujian baik dan yang lain memperoleh sebaliknya . Perbuatan yang didasari akal bagi Ibnu Bajjah itulah hakekat kemanusiaan yang tertinggi dan jika didasari dengan hawa nafsu maka menjadi tidak baik . Perbedaan nilai diatas terletak pada niat seseorang dalam melakukan sesuatu . Bisa kita renungkan ungkapan Ibnu Bajjah di bawah ini:
            Seseorang yang terantuk batu, kemudian ia luka-luka , lalu ia melemparkan batu itu, Kalau ia melemparkannya karena telah melukainya, maka ini adalah perbuatan hewani. . . Kalau melemparkannya agar batu itu tidak menggangu orang lain .  . . maka perbuatan itu adalah pekerjaan kemanusiaan .[10]
            Demikainlah pandangan filsuf d atas, lain dengan filsaft moral Miskawaih yang menyatakan demikian:
            . . . Akhirnya , Miskawaih menyatakan pendapat Aristoteles dalam Nichomachean dan penadapatnya sendiri bahwa “Adanya manusia bergantung kepada kehendak Tuhan , tetapi perbaikannya diserahkan kepada manusia sendiri dan bergantung kepada kemauan sendiri.[11]
            Ibnu Tufail punya corak tersendiri dalam rangka mencari konsep-konsep kesadaran yang jitu , ia tidak mempersoalkan tetang peniruan sikap sekalpun sama dengan binatang artinya daya hewani jiwa seseorang karena setiap sikap mengalami proses dan itu merupakan visi rahmat Tuhan , sedangkan akhirnya adalah menempuh esensi Tuhan, dan terakhir inilah kewajiban manusia. Kita ktib pendapatnya :
            Bukan kebagian duniawi, Melainkan penyatuan sepenuhnya dengan Tuhanlah yang merupakan summon bonum / kebaikan tertinggi etika . .  Manusia merupakan suatu perpaduan tubuh , jiwa hewani dan esensi non bendawi dan dengan demikian menggambarkan binatang , benda angkasa dan Tuhan . Karena itu pendakian jiwanya terletak pada pemuas ketiga aspek sifatnya, dengan cara meniru tindakan hewan , benda-benda angkasa , dan Tuhan .[12]  
            Untuk mengetahui perbuatan manusia itu baik atau jahat, makaharus dipahami dan diuji argument si penilai , apakah yang menjadi dallil itu datang dari pikiran manusia atau datang dari Tuhan . Menurut Tusi , bahwa kebaikan itu datang dari Tuhan dan segala sesuatu itu baik, hanya gerakan sesuatu itulah yang kadang-kadang menjadi tidak baik. Manusia pada dasarnya semua sama dan baik , karena diciptakan Tuhan , karena sebagian mereka bergerak yang berlebi-lebihan , maka berubahlah kesamaan mereka. Tusi dalam hal ini mengatakan:
 …yang baik dari tuhan, sedang yang buruk muncul sebagai kebetulan (lard) dalam perjalanan yang baik itu. Kebaikan, misalnya gandum yang di taburkan di atas tanah dan di siram…menghasilkan psnen yang melimpah…keburukan itu seperti busa yang muncul dia atas permukaan air…berasal dari getaran air, bukan dari air itu sendiri…oleh karena itu pada hakekatnya, gatif, bukan positif.24
 Bila manusia sadar sebagai mahluuk Tuhan, ia akan menerima ajaran-ajaran
Tuhan sekaligus menjalankannya. Pelangaran terhadap perintah-perintahnya merupakan suatu kesalahan besar bagi mereka yang tidak mengerti dengan kebaikan Tuhan. Keberadaan ala mini adalah kebaikan Tuhan dan manusia dipersilahkan untuk memelihara dan mengambil manfaat banyak yang luka parah bahkan mati, maka keburukan tersebut tidak dapat dialamatkan kepada alam, akan tetapi gerakannyalah yang harus di pikirkan mengapa terjadi bencana alam.
            Dari beberapa penjelasan di atas , dapat di simpulkan bahwa etika manusia itu tergantung pada keselarasan hubungan antara kewibawahan etika dan obyeknya. Etika dalam Islam bersumber pada Al-Qur’an atau al Hadits, sehingga tidak mustahil mampu merubah manusia menjadi baik. Filsuf muslim telah menjelaskan dan memberikan motivasi guna bersikap etis dengan pendekatan meniru, kemauan keras dan pendekatan berfikir bagi siapa saja yang ingin menjadi orang yang baik dan shalih. Oleh karena itu, etiskan manusia berusaha menyadarkan pribadinya sebagai makhluk Tuhan.
E. Hidup dan Mati
Kehidupan manusia adalah bermacam-macam, jadi pelayanan, pendidikan, penasihat umat, pemimpin rakyat dll. Perdiket ini pada dasarnya adalah menunjukan kehidupan mereka. Sebutan pelayan adalah diperuntukan siapa saja yang mengapdi kepada majikannya atau kepada Tuhan dan jika ia berhenti dari pekerjaannya, maka hilanglah sebutan tersebut. Tidak disangka-sangka, sopir bus jatuh ke dalam jurang yang curam. Seekor semut mengigit kulit si fulan, Karena ulahnya dibunulah semut itu. Mitsal-mitsal di atas menunjukan bahwa kehidupan itu memiliki aktifitas masing-masing dan jika aktifitas itu terhalang oleh sesuatu maka berhentilah kehidupannya.
            Jadi, manusia itu hidup jika ruh belum berpisah dari badannya. Kesatuan antara jasmani dan ruhani itulah yang menyebabkan adanya aktifitas seseorang. Bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an menjelaskan hakekat hidup atau mati dan bagaimana pula komentar para filsuf muslim terhadap kasus di atas?
a. Hakekat Hidup atau Mati di dalam Al-Qur’an
Umat Islam wajib beriman kepada seluruh  ayat-ayat Al-Qur’an, itu semua adalah firman Tuhan dan dianjurkan membaca serta memahaminya. Penjabaran rukun iman dan Islam adalah tujuan hidup umat Islam secara utuh. Rukun Iman menggambarkan kekokohan seorang muslim yang taat dan takwadzu’ kepada Agama Islam, karena membicarakan imateri dan materi, sedangkan rukun Islam mengisaratkan betapa kesabaran pengikut Muhammad saw, sebab dibicarakan tentang tata cara bagaimana berkomunikasih dengan Tuhan atau mahluk.
Islam sangat memikirkan kepada pemeluknya setelah mereka meninggalkan dunia ini, bahagia atau sengsara di akhirat nanti. Kebahagiaan atau kesengsaraan manusia sangat tergantung pada amalanya di dunia . Perintah Tuhan dan Utusan-Nya , peraturan yang baik dan bermanfaat , jika dilaksanakan dengan ikhlas , maka itulah amal yang akan memetik buahnya di akhirat. Begitu juga sebaliknya, bila dilanggar maka akan sengsara .
            Secara garis besarnya, tujuan hidup manusia adalah bagaimana memahami rasa syukur kepada Tuhan dan berbuat baik dengan sesamanya . Marilah kita ikuti petunjuk ayat-ayat al-Qur’an di bawah ini:
Bur Mø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
 Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
   menyembah-Ku .(QS.Adz-Dzariyat:56)
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka Bumi ini”. . . (Al-Baqarah:30).

$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ
            Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal mengenal . Sesungguhnya orang yang paling mulia di
 antarakamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.
 Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal . (Al-Hujaraat:13)
Manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Tuhan , melaksanakan perintah-perintah dan menjahui larangan-larangan-Nya dan Rasul-Nya. Perintah berkomunikasi dengan Tuhan , seperti shalat dan shaum. Bermasyarakat dengan dasar bergotong-royong dalam kebajikan dan taqwa juga termasuk perintah Agama yang bersifat social. Di dalam masyarakat , suami istri salaing nasihat menasihati dengan  kebenaran dan penyh kesabaran dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang serta menjalin hubungan tetangga seharmonis mungkin . Aktivitas di atas adalah ma’na ibadah secara utuh dan pelakunya hanya mengharap ridha Allah SWT semata . Jadi , ibadah adalah menjalankan perintah Alah atau Rasul-Nya , baik yang berhubungan dengan Tuhan maupun dengan sesamanya yang disertai dengan niat dan harapan ridla-Nya.
            Allah SWT menciptakan manusia di samping untuk meyembah kepada-Nya, juga diberi kekuasaan penuh untuk memelihara ala mini , mengambil manfaat darinya dan mengkordinir orang-orang yang bedomisili di dalamnya. Memimpin rakyat dengan penuh keadilan adalah tugas kepala Negara, khalifah di muka Bumi . Islam tidak hanya mementingkan berbangsa saja, tetapi bahkan mementingkan kebutuhan umat manusia sedunia, internasional . Dengan demikian , bertuhan , bermasyarakat, berbangsa dan berinternasional adalah perintah Tuhan Yang Maha Kuasa, dan sebagai tujuan hidup manusia .
            Segala apa yang telah dilakukan manusia akan dimintai tanggung jawab di sisi Allah SWT nanti Dia akan membalas kebaikan atau kejahatan mereka. Mati adalah suatu proses untuk mengahadapi pertanggung jawaban apa yang pernah dilakukan di dunia dan sebagai peringatan bagi yang mengharap rahmat Tuhan. Apa yang akan dirasai oleh setiap yang bernyawa setelah hidup di dunia ini dan mau kemana? Pertanyaan tersurat ini di dalam al-Qur’an sebagaimana syarat di bawah ini:
$yJoY÷ƒr& (#qçRqä3s? ãNœ3.ÍôムÝVöqyJø9$# öqs9ur ÷LäêZä. Îû 8lrãç/ ;oy§t±B 3 bÎ)ur öNßgö6ÅÁè? ×puZ|¡ym (#qä9qà)tƒ ¾ÍnÉ»yd ô`ÏB ÏZÏã «!$# ( bÎ)ur öNßgö6ÅÁè? ×py¥ÍhŠy (#qä9qà)tƒ ¾ÍnÉ»yd ô`ÏB x8ÏZÏã 4 ö@è% @@ä. ô`ÏiB ÏZÏã «!$# ( ÉA$yJsù ÏäIwàs¯»yd ÏQöqs)ø9$# Ÿw tbrߊ%s3tƒ tbqßgs)øÿtƒ $ZVƒÏtn ÇÐÑÈ
 Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan[319], mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka Mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan[320] sedikitpun?(QS.An-Nisa’:78)
[319]  kemenangan dalam peperangan atau rezki.
[320]  pelajaran dan nasehat-nasehat yang diberikan.
tPöquø9$# 3tøgéB @ä. ¤§øÿtR $yJÎ/ ôMt6|¡Ÿ2 4 Ÿw zNù=àß tPöquø9$# 4 žcÎ) ©!$# ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$# ÇÊÐÈ
Pada hari Ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.(QS.Al-Mukmin:17)
öNs9urr& (#r㍩3xÿtGtƒ þÎû NÍkŦàÿRr& 3 $¨B t,n=y{ ª!$# ÏNºuq»uK¡¡9$# uÚöF{$#ur $tBur !$yJåks]øŠt/ žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ 9@y_r&ur wK|¡B 3 ¨bÎ)ur #ZŽÏVx. z`ÏiB Ĩ$¨Z9$# Ç!$s)Î=Î/ öNÎgÎn/u tbrãÏÿ»s3s9 ÇÑÈ
Dan Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.(QS.Ar-Rum:8)
Secara ringkas, ketiga surat di atas menunjukan kepada manusia, bahwa manusia akan mengalami mati, akan menerima balasan sesuai dengan perbuatannya, dan akan menghadap dengan Tuhannya di akhirat nanti .

b. Pandangan Filsuf Muslim terhadap kehidupan dan kematian
            Keterangan Agama telah jelas, bahwa hidup atau mestinya manusia diserahkan kepadanya sesuai dengan kemauan masing-masing dan Allah SWT kuasa penuh terhadap makhluk-Nya. Pengabdian manusia kepada Tuhan adalah keburukan manusia. Bagaimana para filsuf muslim memahami hakekat hidup atau mati? Dibawah ini , para filsuf membicarakan hal-hal tersebut , hidup dan mati .
            Ibnu Bajjah(dilahirkan di Saragosta pada abad XI M. dan meninggal di Fas pada tahun 1138 M.) menyadari bahwa hidup ini sebagai pengabdian penuh kepada Tuhan menyebutkan juga langkah-langkah kongkrit bagaimana beribadah kepada Tuhan, yaitu:
            . . . Melakukan tiga hal: (1) Membuat lidah kita selalu mengingat Tuhan dan memeliakan-Nya.,(2) Membuat organ-organ tubuh kita bertindak sesuai dengan wawasan hati, dan(3) Menghindari segala yang membuat hati kita berpaling dari-Nya.Ini semua mesti dilaksanakan . . . sepanjang hidup. [13]
            Nasir Al-Din Tusai (lahir di tus pada tahun 597 H. /1201 M . dan meninggal pada tahun 672 H/1274 M) memberi bimbingan kepada krhidupan rumah tangga yang sejahtera bagaimana Al Qur’an adalah mengandung perintah yang universal , bagaimana sikap seseorang , bermasyarakat dan bernegara .
Perhatikan komentarnya di bawah ini:
            Rumah adalah pusat kehidupan keluarga , pemasukan, pengeluaran, dan disiplain istri, anak serta pelayan, semuanya merupakan pencipta kesejahteraan keluarga. [14]
Menurut Tusi , perintah-perintah Al Qur’an diberikan kepada manusia sebagai individu, sebagai anggota keluarga dan sebagai penghuni kota atau Negara .[15]
            . . . Kalau roh telah dapat meningggalkan keinginan-keinginan badan , bersih dari segala noda kematerian , dan senantiasa berpikir tentang hakekat-hakekat wujud, dia akan menjadi suci dan diketika itu akan dapatlah mendapat gambaran segala hakekat-hakekat , tak ubahnya sebagai cermin yang dapat menangkap gambaran dari benda-benda yang ada di depannya. Ini lomentarAl-Kindi .
            Dengan penjelasan-penjelasan di atas, para filsuf muslim mempunyai cara masing-masing dalam mengisi sebagian kehidupannya . Aktivitasnya yang dicapai oleh filsuf muslim di atas sangat relavan dengan ketkerangan Agama sebagai makhluk hidup dan sebagai makhluk Tuhan . Garis besarnya, pemahaman, pelsuf tentang kehidupan manusia adalah diarahkan kepada Tuhan, menjalankan sebagai antar Negara . Dan esensi kehidupan manusia adlaah mensucikan ruh dari pengaruh noda kematerian .
            Sebagai kelanjutan kehidupan manusia setelah ruh berpisah, Islam mengajarkan kepada pemaluk-pemeluk-Nya untuk berioman dan beramal shalih , guna mendapatkan balasan di akhirat kelak . Para filsuf muslim juga meyakini adanya hari pembalasan , sebagaimana keterangan-keterangan ayat Al Qur’an . karena itu , mari kita ikuti keterangan –keterangan di bawah ini :
Akhirat menurut Ibnu Sina adalah alam ruhani, dunia: alam materi. Keruhanian
lebih tinggi nilainya dari pada kebendaan . Pemikiran tidak mengharuskan adanya
kebangkitan jasad , kenikmatan dan siksaan jasmani , surga atau neraka serta  segalanya isinya yang bersifat lahirlah . . . Ketinggian nilai alam ruhaniah sesungguhnya juga berlaku dalam dunia, berdasarkan kekuatan berpikir dan  kenikmatan mendapatkan obyek-obyek pikiran. Tetapi dapat dicapai , karena kesibukan kebendaan . Ia baru tercapai di akhirat, ketika mana kesibukan-kesibukan kebendaan tersebut , Tidak lagi manjadi penghambat .[16]
            Al-Kindi menerangkan bahwa, Ruh adalah suatu wujud sederhana , dan zatnya terpencar dari sang pencipta , persisi sebagaimana sinar terpencar dari matahari . Ruh bersifat spiritual , ketuhanan, terpisah dan berbeda dari tuguh . Bila dipisahkan dari tubuh, maka ruh itu memperoleh pengetahuan tentang segala yang ada di dunia , dan melihat hal yang dialami . Setelah terpisah dari tubuh , ia menuju ke alam akal , kembali ke Nur sang pencipta , dan bertemu dengan-Nya.[17] 
            Menurut Al-Razi, Tuhan mewujudkan manusia dan dalamnya ruh mengambil tempat. Terikat pada materi roh lupa pada asalnya dan lupa bahwa kesenangannya yang sebenarnya bukan terletak dalam persatuan dengan materi tetapi dalam melepaskan diri dari materi . Oleh karena itu Tuhan mewujudkan akal, yang berasal dari zat Tuhan sendiri.  Tugas akal untuk menyadarkan manusia yang telah terperdaya oleh kesenangan materi , bahwa alam materi ini bukanlah alam yang sebenarnya .[18]
            Bagi Ibnu Rusyd, semua Agama sama sepakat mengenai realitas kebangkitan . Perbedaan hanya terletak pada masalah apakah realitas kebangkitan itu berbentuk ruhani atau jasmani . Kebangkitan ruhani merupakan ketidakmatian ruh setelah terpisah dari tubuh. Keyakinan akan kebangkitan jasmani lebih sesuai bagi pikiran awam yang tidak memahami kekekalan ruh.[19]
            Dari beberapa keterangan di atas, kebangkitan di akhirat ternyata diyakini oleh para filsuf tersebut dan manusia akan merasakan pembalasan Tuhan, kenikmatan atau kesengsaraan sesuai dengan daya ruh ketika di dunia. Kenikmatan non bendawi lebih tinggi nilainya bagi para filsuf , sedangkan bagi pemikiran awam lebih mudah tertarik dengan kesenangan yang bersifat bendawi .






   BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Dengan inayah Tuhan , penulis telah menyelesaikan risalah ini dan dari keterangan bab dan kedua , isinya dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Umat Islam diwajibkan beriman kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan telah menganuhgerakan akal kepada mereka, agar membaca serta memahami apa yang tersurat maupun tersyrat, sehingga keimannya berma’na .
2.      Eksisitensi manusia di dunia ini hanyalah untuk menjadi pengabdi Tuhan dalam arti yang luas, sebagai manusia individu , bermasyarakat , yang kesemuanya itu disertai dengan keridhaan-Nya .
3.      Para ridlsuf muslim memahami bahwa manusia adalah sebagian makhluk Tuhan yang terdiri dari unsur jasmani dan ruhani/ jiwa. Jika jiwa binatang menguasai atas dirinya maka akan bersikap seperti binatang dan manusia akan dekat menyerupai malaikat bilamana ia dikuasai jiwa kemanusiaannya .
4.      Pemabalasan Tuhan , keni’matan / surga atau kesengsaraan / neraka akan diberikan kepada manusia sesuai dengan daya jiwa yang menguasai manusia ketika di dunia .

B. Saran-saran
            1. Mahasiswa muslim ditunutt untuk memiliki keimanan yang kokoh dan menggunakan akal dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an .
            2. Menyampaikan da’wah kepada umat yang bersangkutan hendaknya dusesuaikan dengan kadar kemampuan mereka , sehingga dapat dipahami olehnya bukan sebaliknya .
            3. Bilamana suatu bangsa ingin memperoleh kebahagiaan lahir-batin bagi warganya, maka mereka harus menyadari bahwa dirinya adalah mahkluk Tuhan dengan mentaati perintahnya dan menjahui larangan-larangan-Nya .
            4. Mencerdaskan setiap warga adalah kewajiban Negara dan kesadaran warga. Oleh karena itu , pendidikan Agama umum harus ditingalkan tidak sebaliknya.
            Mudah-mudahan umat Islam , khususnya umat Islam Indonesia mampu menciptakan kesatuan ukhuwah islamiyah dalam bermasyarakat , berbangsa, bernegara yang berdasarkan undang-undang 1945 dan pancasila serta menunaikan perintah Allah dan rasul-Nya . Amin.

DAFTAR BACAAN

Al Qur’an dan terjemahannya , Departemen Agama Republik Indonesia Proyek
  Pengadaan Suci Al Qur’an , Jakarta 1985/ 1986.

Achmad ,Mudlor, H. Drs., Etika dalam Islam , Al Ikhlas Surabaya –Indonesia
.
Ahmadi , Abu, H. Drs. , Etika Islam , CV Toha Putra Semarang , 1982
.
Abbas, Hamzah, Drs. , Pengantar Filsafat Alam, Al Ikhlas Surabaya- Indonesia , 1981.

Amin, Ahmad, Dr. Prof. , Al Akhlak Etika (Ilmu Akhlak). Bulan dan Bintang , Jakarta,
 1975.

Atiyen , N. George, Al Kindi Tokoh Filsof Muslim, Penterjemah Kasidjo dan Penyunting
 Armahedi Mazhar, Pustaka Bandung, Cetakan I, 140 H-1983M.

Gazalba, Sidi , Drs. , Sisitematika Filsafat, Bulan Bintang Jakarta, 1981.

Gazalba, Sidi , Drs. , Ilmu . Filsafat , dan Islam tentang Manusia dan Agama, Bulan
            Bintang , Jakarta, 1978 .

Nasution, Harun , Dr. , Prof. , Filsafat & Mistisme dalam Islam , Bulan Bintang , Jakarta,
 1983.

Nasution , Harun, Dr. , Prof. , Filsafat dan Agama , yayasan Penerbit Universitas
 Indonesia , Jakarta, Cetakan II.

Anshari , Saifuddin, H.. , M.A. , Filsafat dan Agama , Bina Ilmu , Surabaya, 1985.
Lasiyo, Drs. ,Yuwono, Drs. , Penganatar Ilmu Filsafat , Liberty, Yogyakarta, 1985.

Nasution , S. Dr. , Prof. , Thomas , N. , Dr, Prof. , Disertasi , ,Thesis, Skripsi, Report dan
 Paper, Jammras Bandung, 1980.

Katsir Ibnu , Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, Ikhtisar wa Taqhqiq Muhammad Ali al
 Shabuni, Dar al Qur’an al Karim, Jerman Barat, 1396 h.

Maraghi al, Ahmad Ali Musthafa, Tafsir Al Maraghi , Mesir.

Thabari al, Abu Jafar Muhammad bin al Jarir, Tfasir Al Thabari , Cetakan II, Mesir,1954.

__________ , Para Filsof Muslim , Editor M.M. Syarif M.A. Penrbit Mizan, Bandung ,
            Cetakan I ,1985.

ABI NAUFAL
JAKARTA  1986
  



[1] Prof. Dr. Harun Nasution , Op cit . , hlm .37.
[2] George N. Atiyeh , Op cit, hlm 96 .
[3] Prof. Dr. Harun Nasution , Op Cit. , hlm 86 .
[4] Drs. Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat , BULAN Bintang g, Jakarta ,1981,hlm 417.
[5] Drs. Sidi Gazalba , Ibid , hlm 419.
[6] Drs. Sidi Gazalba, Loc Cit, hlm 419.
[7] Drs. Mudlor Ahmad, Etika Dalam Islam , Al Ikhlas Surabaya-Indonesia , hlm 15
[8] Drs. Sidi Gajalba, Op Cit, hlm 512 .
[9] Prof . I. R. Ahmad Amin, Al Akhlak , Etika (Ilmu Akhlak), Bulan Bintang , Jakarta, 1975, hlm 6.
[10]Drs. H. Abu Hamid , Filsafat Islam, Toha Putra , Semarang , 1982, hlm. 190 .
[11] M.M Syarif M.A. (ed.) , Op Cit. ,hlm . 92.
[12] Editor: M.M Syarif M.A Ibid, hlm 187-188.
[13] M.M. Syarif M.A. (ed.) , Ibid, hlm . 165.
[14] Ibid ,hlm . 246.
[15]Ibid , hlm . 248 .
[16] Drs. Sidi Gazalba, Op Cit , hlm. 447
[17] Editor: M.M. Syarif MA, Op Cit,hlm . 25-26.
[18] Prof. Dr. Harun Nasution, Op Cit, hlm, 23.
[19] Editor LM.M. Syarif MA, Op Cit, hlm 212.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar