KHABAR RASULULLAH SAW: KITABULLAH DAN ‘ITRATI AHLUL BAITKU ?
“Dan aku
tinggalkan untuk kalian tsaqalain (dua perkara yang berat) yaitu kitabullah yang di
dalamnya terdapat petunjuk dan nur (cahaya), ambillah kitabullah ini dan
berpegang teguhlah padanya.” Zaid berkata: “Beliau menganjurkan
(berpegang teguh) pada kitabullah dan selalu memotivasi untuk (berpedoman)
padanya, lantas beliau bersabda: “Dan ahlul baitku, aku ingatkan kalian kepada
Allah akan ahlul baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul baitku,
aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul baitku.” [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam
Shahihnya].
Muqaddimah
Jabir ibnu
Abdillah berkisah: “Aku melihat Rasulullah dalam haji Wada` pada hari
Arafah. Beliau menyampaikan khutbah dalam keadaan menunggangi untanya yang
bernama Al-Qashwa. Aku mendengar beliau n bersabda:
“Wahai
sekalian manusia! Sungguh aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara yang
bila kalian mengambilnya, maka kalian tidak akan sesat yaitu kitabullah dan
‘itrati ahlul baitku.”
Hadits di
atas diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi t dalam Sunan-nya no. 3786, kitab
Al-Manaqib ‘an Rasulillah , bab Manaqib Ahli Baitin Nabi shallallahu alaihi wa
sallam. Al-Imam At-Tirmidzi berkata:“Dalam bab ini ada hadits dari riwayat Abu
Dzar, Abu Said, Zaid bin Arqam dan Hudzaifah bin Asid. Dan hadits ini dari sisi
ini hasan gharib. Asy-Syaikh Al-Albani t menshahihkan hadits ini dalam Shahih
Sunan At-Tirmidzi, Misykatul Mashabih no. 6143, dan Ash-Shahihah no. 1761.
Al-‘Itrah dan Keutamaan Ahlul Bait ?
At-Taurabasyti dalam Al-Mirqaah (5/600) berkata:
“’Itrah seseorang adalah ahlul baitnya dan kelompok/ golongannya yang paling
dekat dengannya. Karena kata ‘itrah ini dipakai untuk banyak segi, Rasulullah n
menjelaskannya dengan pernyataan beliau ‘ahlul baitku’, agar diketahui bahwa
yang beliau maksudkan dengan kata tersebut adalah keturunan beliau, keluarga
beliau yang paling dekat, dan istri-istri beliau.” (Tuhfatul Ahwadzi 1/196,
Ash-Shahihah 4/360)
Dalam hadits yang mulia di atas, di samping Rasulullah
n memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’an dalam bentuk
ilmu dan amal, beliau pun memerintahkan berpegang dengan ‘itrah beliau yakni
Ahlu Bait beliau. Dalam Tuhfatul Ahwadzi, dibawakan ucapan Ibnu Malik bahwa
yang dimaksud berpegang teguh dengan Al-Qur’an adalah mengamalkan apa
yang ada di dalamnya yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah dan berhenti
(tidak mengerjakan) dari larangan-larangan-Nya. Sedangkan makna berpegang
dengan ‘itrah Rasulullah n adalah mencintai mereka dan mengambil petunjuk/
bimbingan dengan petunjuk mereka dan perjalanan hidup mereka. As-Sayyid
Jamaluddin menambahkan: “Selama hal itu tidak menyelisihi agama.” Al-Qari berkata:
“Yang dimaksud berpegang dengan ahlul bait adalah berpegang teguh dengan
kecintaan terhadap mereka, menjaga kehormatan mereka, mengamalkan riwayat
mereka dan bersandar dengan perkataan mereka (selama tidak menyelisihi
Al-Qur’an dan As-Sunnah, pent.). Dan hal ini bukan berarti meniadakan
pengambilan As-Sunnah dari shahabat selain mereka.”
Ath-Thibi berkata: “Dalam ucapan Rasulullah n
(()) ada isyarat bahwa keduanya (Al-Qur`an dan Al-’Itrah) seperti saudara
kembar yang ditinggalkan Rasulullah n . Beliau mewasiatkan kepada umat beliau
untuk membaikkan penjagaan dan perhatian kepada keduanya dan mengutamakan hak
keduanya di atas hak diri mereka sendiri, sebagaimana wasiat seorang ayah yang
dicintai oleh manusia tentang hak anak-anaknya.” (Tuhfatul Ahwadzi 1/196,197)
Jabir ibnu
Abdillah berkisah: “Aku melihat Rasulullah dalam haji Wada` pada hari
Arafah. Beliau menyampaikan khutbah dalam keadaan menunggangi untanya yang
bernama Al-Qashwa. Aku mendengar beliau n bersabda:
“Wahai
sekalian manusia! Sungguh aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara yang
bila kalian mengambilnya, maka kalian tidak akan sesat yaitu kitabullah dan
‘itrati ahlul baitku.”
Hadits di
atas diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi t dalam Sunan-nya no. 3786, kitab
Al-Manaqib ‘an Rasulillah , bab Manaqib Ahli Baitin Nabi shallallahu alaihi wa
sallam. Al-Imam At-Tirmidzi berkata:“Dalam bab ini ada hadits dari riwayat Abu
Dzar, Abu Said, Zaid bin Arqam dan Hudzaifah bin Asid. Dan hadits ini dari sisi
ini hasan gharib. Asy-Syaikh Al-Albani t menshahihkan hadits ini dalam Shahih
Sunan At-Tirmidzi, Misykatul Mashabih no. 6143, dan Ash-Shahihah no. 1761.
inilah hadits nama-nama dua belas imam suci yang disebutkan oleh
Rasulullah saw :
Dari Jabir
Yazid al Ju`fy, ia berkata, “Jabir bin Abdillah Anshari berkata : ` Ketika
Allah menurunkan menurunkan ayat :
“Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu (Q.S 4: 59)”
Aku berkata,
“Wahai Rasulullah! Kami telah kenal Allah dan RasulNya. Akan tetapi siapakah
Ulil Amr yang ketaatan kepadanya dihubugkan dengan ketaatan (kepada) Anda?
Beliau
menjawab ,” Hai Jabir! Mereka adalah para khalifah (penggantiku) dan pemimpin
umat Islam setelahku. Yang pertama
(1)Ali bin Abi Thalib, kemudian (2)Hasan dan (3)Husain, kemudian (4)Ali bin
Husain, kemudian (5)Muhammad bin Ali, yang dalam Taurat dikenal dengan al Baqir
dan kamu, hai Jabir, akan menemuinya. Jika kamu menjumpainya, sampaikan salamku
atasnya! Kemudian (6)ash Shidiq Ja`far bin Muhammad, kemudian (7)Musa bin Ja`far,
Kemudian (8)Ali bin Musa, kemudian (9)Muhammad bin Ali, kemudian (10)Ali bin
Muhammad, kemudian (11)Hasan bin Ali, kemudian yang kauniyahnya sama denganku,
ia adalah al Hujjah (bukti) Allah di bumi Nya, peninggalan Nya di kalangan (di
antara) hamba-hamba Nya, ia adalah (12) Putra Hasan bin Ali, Allah akan
menaklukan Timur dan Barat melalui tangannya, ia menghilang dari syiah dan
orang-orang yang mencintainya, sehingga tidak akan meyakini imamahnya dengan
teguh kecuali orang yang hatinya telah diuji oleh Allah (dan berhasil dengan)
keimanan.
Jabir
berkata, `Aku berkata : “Wahai Rasulullah, apakah pengikut-pengikut (syiah)-nya
dapat mengambil manfaat darinya pada masa ghaibnya?
Beliau
menjawab “ Demi Dzat yang membangkitkanku (mengutusku) dengan kenabian, mereka
akan bersinar dengan sinar cahayanya dan mengambil manfaat dengan wilayahnya
pada masa ghaibnya, sehingga manusia menarik manfaat dari matahari ketika
ditutupi awan tebal.” [41]
Makna lain yang bisa kita lihat adalah bahwa itrah ahlulbait ini :
1. Ada sampai akhir zaman , karena dilihat dari lafadz : lan yaftariqa hatta yarida alaiyya alhaudh , kedua-duanya (quran dan itrah ahlulbait) tidak akan terlepas sampai bertemu nabi di akhirat.
2. Itrah ahlulbait memiliki makna khusus sebab itrah nabi disandingkan dengan alquran dan juga diistilahkan dengan dua pusaka besar, bahkan disebagian redaksi dengan khalafatain atau dua pemimpin yang besar. Alamat ini meniscayakan itrah ahlulbait yang selalu bersama alquran yang memahami alquran yang menjadi mishdaq akan sunnah nabinya dan penjelas quran serta sunnahnya , bahkan sebagai jalur perawian yang khusus (istimewa) dari silsilah mereka.
3. Itrah ahlulbait ini sebagai petunjuk satu-satunya setelah alquran , yang dimana tidak ada yang lebih paham alquran selain itrah ahlulbait , dan kita akan terlindungi dari segala kesesatan dibuktikan dengan redaksi : wa in tamassaktum bihima lan tadhillu abadan ( jikalau kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan tersesat selamanya)
4. Itrah ahlulbait ini memiliki sifat yang terjaga dari kesalahan atau maksum , karena quran adalah maksum (terjaga dari segala kesalahan) dan yang ahli 100% tidak menyesatkan harus orang yang maksum pula, walaupun mereka itu bukan nabi. Seperti kita lihat ayat alahzab 33 yang dikenal dengan ayat tathhir (kesucian)
إِنَّما يُريدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهيراً
Makna lain yang bisa kita lihat adalah bahwa itrah ahlulbait ini :
1. Ada sampai akhir zaman , karena dilihat dari lafadz : lan yaftariqa hatta yarida alaiyya alhaudh , kedua-duanya (quran dan itrah ahlulbait) tidak akan terlepas sampai bertemu nabi di akhirat.
2. Itrah ahlulbait memiliki makna khusus sebab itrah nabi disandingkan dengan alquran dan juga diistilahkan dengan dua pusaka besar, bahkan disebagian redaksi dengan khalafatain atau dua pemimpin yang besar. Alamat ini meniscayakan itrah ahlulbait yang selalu bersama alquran yang memahami alquran yang menjadi mishdaq akan sunnah nabinya dan penjelas quran serta sunnahnya , bahkan sebagai jalur perawian yang khusus (istimewa) dari silsilah mereka.
3. Itrah ahlulbait ini sebagai petunjuk satu-satunya setelah alquran , yang dimana tidak ada yang lebih paham alquran selain itrah ahlulbait , dan kita akan terlindungi dari segala kesesatan dibuktikan dengan redaksi : wa in tamassaktum bihima lan tadhillu abadan ( jikalau kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan tersesat selamanya)
4. Itrah ahlulbait ini memiliki sifat yang terjaga dari kesalahan atau maksum , karena quran adalah maksum (terjaga dari segala kesalahan) dan yang ahli 100% tidak menyesatkan harus orang yang maksum pula, walaupun mereka itu bukan nabi. Seperti kita lihat ayat alahzab 33 yang dikenal dengan ayat tathhir (kesucian)
إِنَّما يُريدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهيراً
Sesungguhnya
Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan
menyucikan kamu sesuci-sucinya.
Ahlul Bait
Menurut Syi’i ?
Menurut Syiah, Ahlul Bait adalah "anggota rumah tangga" Muhammad yang terdiri dari: Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, Hasan bin Ali, dan Husain bin Ali.
Menurut Syi'ah istri-istri Nabi Muhammad tidak termasuk dalam Ahlul Bait.
Menurut Syiah Dua Belas (Itsna Asyariah)--berdasarkan Kitab Al Tathir-- istilah Ahlul Bayt ada dua makna: makna umum dan makna khusus.
Ahlul Bait makna Umum adalah setiap orang yang haram menerima zakat dan sedekah dari kalangan Bani Hasyim.
Ahlul Bait makna khusus adalah orang-orang yang disebut dalam Al-Quran dalam ayat Tathir (penyucian). Di antaranya adalah Rasulullah. Jadi, Ahlul Bait adalah mereka yang mewarisi kemaksuman (lepas dari dosa). Sedangkan Tathir adalah Ahlussunnah Nabi yaitu orang yang wajib diikuti.
Menurut Syiah, Ahlul Bait adalah "anggota rumah tangga" Muhammad yang terdiri dari: Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, Hasan bin Ali, dan Husain bin Ali.
Menurut Syi'ah istri-istri Nabi Muhammad tidak termasuk dalam Ahlul Bait.
Menurut Syiah Dua Belas (Itsna Asyariah)--berdasarkan Kitab Al Tathir-- istilah Ahlul Bayt ada dua makna: makna umum dan makna khusus.
Ahlul Bait makna Umum adalah setiap orang yang haram menerima zakat dan sedekah dari kalangan Bani Hasyim.
Ahlul Bait makna khusus adalah orang-orang yang disebut dalam Al-Quran dalam ayat Tathir (penyucian). Di antaranya adalah Rasulullah. Jadi, Ahlul Bait adalah mereka yang mewarisi kemaksuman (lepas dari dosa). Sedangkan Tathir adalah Ahlussunnah Nabi yaitu orang yang wajib diikuti.
Ahlul Bait Menurut Sunni ?
Ahlul-Bait adalah anggota keluarga Nabi Muhammad yang dalam hadits disebutkan haram menerima zakat, seperti keluarga Ali dan Fatimah beserta putra-putra mereka (Hasan dan Husain) serta keturunan mereka. Istri-istri Nabi termasuk dalam kategori Ahlul Bait.
Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi berpendapat bahwa Ahlul Bait dalam QS Al Ahzab 33:33 adalah istri-istri Nabi dan keluarga Nabi (راد به نساء النبي صلى الله عليه وسلم . وقيل : يراد به نساؤه وأهله الذين هم أهل بيته).
Sedangkan Muhammad bin Jarir At-Thabari dalam Tafsir Thabari berpendapat bahwa Ahlul Bait dalam QS Al Ahzab 33:33 adalah Nabi Muhammad, Ali bin Abi Talib, Fatimah Az-Zahra, Hasan dan Husin (اختلف أهل التأويل في الذين عنوا بقوله ( أهل البيت ) فقال بعضهم : عني به رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضوان الله عليهم )
Ahlu Bait Rasulullah menurut Ahlussunnah Waljamaah adalah:
- Anak cucu Bani Hasyim
- Istri-istri Nabi
- Seluruh keturunan Bani Hasyim sampai saat ini yaitu:
-- Keturunan Abbas bin Abdul Muttalib
-- Keturunan Uqail bin Abu Talib
-- Keturunan Ali bin Abu Talib
-- Keturunan Ja'far bin Abu Talib
-- Keturunan Harits bin Abdul Muttalib
-- Keturunan Abu Lahab bin Abdul Muttalib
Imam Syafi'i berpendapat termasuk Ahlul Bait adalah Bani Hasyim bin Abdi Manaf, Bani Muttalib bin Abdi Manaf, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Bukhari Nabi bersabda: Bahwasanya Bani Muttalib dan Bani Hasyim adalah satu.
Ahlul-Bait adalah anggota keluarga Nabi Muhammad yang dalam hadits disebutkan haram menerima zakat, seperti keluarga Ali dan Fatimah beserta putra-putra mereka (Hasan dan Husain) serta keturunan mereka. Istri-istri Nabi termasuk dalam kategori Ahlul Bait.
Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi berpendapat bahwa Ahlul Bait dalam QS Al Ahzab 33:33 adalah istri-istri Nabi dan keluarga Nabi (راد به نساء النبي صلى الله عليه وسلم . وقيل : يراد به نساؤه وأهله الذين هم أهل بيته).
Sedangkan Muhammad bin Jarir At-Thabari dalam Tafsir Thabari berpendapat bahwa Ahlul Bait dalam QS Al Ahzab 33:33 adalah Nabi Muhammad, Ali bin Abi Talib, Fatimah Az-Zahra, Hasan dan Husin (اختلف أهل التأويل في الذين عنوا بقوله ( أهل البيت ) فقال بعضهم : عني به رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضوان الله عليهم )
Ahlu Bait Rasulullah menurut Ahlussunnah Waljamaah adalah:
- Anak cucu Bani Hasyim
- Istri-istri Nabi
- Seluruh keturunan Bani Hasyim sampai saat ini yaitu:
-- Keturunan Abbas bin Abdul Muttalib
-- Keturunan Uqail bin Abu Talib
-- Keturunan Ali bin Abu Talib
-- Keturunan Ja'far bin Abu Talib
-- Keturunan Harits bin Abdul Muttalib
-- Keturunan Abu Lahab bin Abdul Muttalib
Imam Syafi'i berpendapat termasuk Ahlul Bait adalah Bani Hasyim bin Abdi Manaf, Bani Muttalib bin Abdi Manaf, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Bukhari Nabi bersabda: Bahwasanya Bani Muttalib dan Bani Hasyim adalah satu.
Sikap
Ahlus Sunnah terhadap Ahlul Bait ?
Ahlus Sunnah mencintai Ahlu Bait Rasulullah , berloyalitas kepada mereka dan menjaga wasiat Rasulullah n dalam perkara mereka, di mana beliau n bersabda: “Aku mengingatkan kalian kepada Allah dalam perkara ahlu baitku. Aku mengingatkan kalian kepada Allah dalam perkara ahlu baitku.”
Ahlus Sunnah
berloyalitas kepada Al-Hasan, Al-Husain, dan orang-orang yang masyhur dari
kalangan cucu-cucu Rasulullah n seperti Al-Hasan bin Al-Hasan, Abdullah bin
Al-Hasan, Ali bin Al-Husain Zainul Abidin, Muhammad bin Ali bin Al-Husain yang
digelari Al-Baqir, Ja‘far bin Muhammad Ash-Shadiq, Musa bin Ja‘far, dan Ali bin
Musa Ar-Ridla. Demikian pula sikap Ahlus Sunnah terhadap seluruh anak turunan
Ali dari tulang sulbinya seperti Al-Abbas, Umar, Muhammad bin Al-Hanafiyyah dan
seluruh yang berjalan di atas jalan yang dilalui oleh bapak-bapak mereka yang
bersih, namun mereka yang condong kepada pemahaman Mu‘tazilah ataupun Rafidlah
tidaklah termasuk di dalamnya. (Masailut Taqrib Baina Ahlis Sunnah wasy Syi‘ah,
1/106)
Ibnu
Taimiyyah berkata: “Ahlu Bait Rasulullah n memiliki hak-hak yang wajib
untuk dijaga/ diperhatikan, karena Allah I menjadikan hak untuk mereka dalam
mendapatkan bagian dari harta khumus dan fai’ (pampasan perang). Allah
perintahkan untuk memberikan shalawat kepada mereka sebagaimana bershalawat untuk
Rasulullah n. Rasulullah n mengajari kita untuk mengatakan:
“Ya Allah,
berikanlah shalawat kepada Rasulullah n dan kepada keluarga beliau sebagaimana
Engkau memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya
Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Berikanlah berkah kepada Muhammad dan
keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan
keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (Majmu`ah
Ar-Rasail Al-Kubra 1/297-298)
Ikhtitam
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا
الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ
فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
”Hai
orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah
dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.” (QS.
An-Nisa [4] : 59)
Adapun Abu
Said Al-Khudri dan Zaid bin Arqam , keduanya membawakan hadits Rasulullah n
yang semakna dengan hadits di atas dengan lafadz:
“Sungguh aku
meninggalkan pada kalian perkara yang bila kalian berpegang teguh
dengannya niscaya kalian tidak akan sesat sepeninggalku. Salah satu dari
perkara itu lebih besar daripada perkara yang lainnya, yaitu kitabullah tali Allah yang terbentang dari langit ke bumi1. Dan (perkara lainnya adalah) ‘itrati, yaitu
ahlul baitku. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku2 di
haudl3. Maka lihatlah dan perhatikanlah bagaimana kalian menjaga dan
memperhatikan keduanya sepeninggalku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya
3/14,17 dan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 3788, dishahihkan Asy-Syaikh
Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, Misykatul Mashabih no. 6144, dan
Ash-Shahihah 4/356-357)
Sumber:1.https://zenhusein.wordpress.com
2.https://syiahali.wordpress.com
3.http://salafy.or.id
4.http://www.alkhoirot.net
Jakarta
3/2/2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar