HIJRAH MENUJU RUMAH TANGGA YANG ḤAYĀTAN ṬAYYIBAH
Menjemput Keluarga Bahagia yang Diridhai Allah
Oleh: Pengamat Dakwah
Pendahuluan
Di era modern, banyak keluarga memiliki rumah yang megah, kendaraan yang mewah, dan fasilitas yang lengkap. Namun tidak sedikit yang kehilangan ketenangan, keharmonisan, bahkan arah hidup. Konflik rumah tangga, renggangnya hubungan orang tua dan anak, serta lunturnya nilai-nilai agama menjadi tantangan yang nyata.
Islam menawarkan konsep kebahagiaan keluarga yang tidak hanya bertumpu pada kemapuan materi, tetapi juga pada ketenangan jiwa dan keberkahan hidup. Al-Qur'an menyebutnya sebagai ḥayātan ṭayyibah—kehidupan yang baik.
Allah SWT berfirman:
"Barang siapa yang bekerja amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl : 97)
Menurut Imam Ath-Thabari, kehidupan yang baik bukan semata-mata banyaknya harta, melainkan ketenteraman hati, keberkahan rezeki, dan rasa cukup yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang beriman.
Oleh karena itu, hijrah keluarga bukan sekedar perubahan penampilan atau gaya hidup, tetapi transformasi menuju keluarga yang lebih dekat kepada Allah.
Hijrah dari Kelalaian Menuju Ketakwaan
Setiap keluarga memiliki titik awal perjalanan hijrahnya masing-masing. Ada yang memulai dari memperbaiki shalat, ada yang memulai dari memperbaiki komunikasi, dan ada juga yang dimulai dengan memperbaiki sumber rezeki.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.” (QS. Ali Imran : 102)
Ketakwaan merupakan yayasan utama rumah tangga Islami. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa seluruh amal kebaikan akan tumbuh di atas fondasi takwa.
Keluarga yang bertakwa bukan berarti bebas dari ujian. Mereka tetap menangani masalah ekonomi, kesehatan, ataupun konflik rumah tangga. Namun mereka memiliki kompas yang selalu mengarahkan ke jalan yang benar.
Oleh karena itu, hijrah pertama dalam keluarga adalah membiasakan shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, mengikuti majelis ilmu, dan memastikan bahwa nafkah yang masuk ke rumah berasal dari jalan yang halal.
Hijrah dari Pertengkaran Menuju Sakinah
Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam adalah menghadirkan ketenteraman.
Allah berfirman:
لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
"Agar kamu merasa tenteram padanya." (QS. Ar-Rum : 21)
Kata sakinah berasal dari akar kata yang berarti tenang dan damai. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sakinah adalah ketenangan yang Allah tanamkan dalam hati suami dan istri.
Dalam kehidupan nyata, sakinah tidak berarti rumah tangga tanpa masalah. Bahkan keluarga para nabi pun menghadapi ujian yang berat. Yang membedakannya adalah cara mereka menyikapi masalah tersebut.
Ketika ego dikalahkan, komunikasi diperbaiki, dan doa diperbanyak, konflik yang menjadi sumber perpecahan justru berubah menjadi sarana pendewasaan.
Rumah tangga yang sakinah lahir bukan dari kemenangan dalam pengasuhan, tetapi dari kemampuan untuk saling memahami.
Hijrah Menuju Mawaddah dan Rahmah
Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga kasih sayang yang bertahan sepanjang usia.
Allah SWT berfirman:
وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
"Dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang." (QS. Ar-Rum : 21)
Imam Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa mawaddah adalah cinta yang tampak dalam perhatian dan tindakan, sedangkan rahmah adalah kasih sayang yang tetap hadir saat cinta sedang diuji.
Pada masa awal pernikahan, cinta mungkin tumbuh karena ketertarikan. Namun seiring berjalannya waktu, rumah tangga akan bertahan karena kasih sayang.
Ucapan yang lembut, diberikan kepada pasangan, saling membantu pekerjaan rumah, dan kesediaan memaafkan merupakan bentuk nyata dari mawaddah dan rahmah.
Keluarga yang bahagia bukanlah keluarga yang sempurna, tetapi keluarga yang terus belajar mencintai dalam ridha Allah.
Hijrah Menuju Keluarga Ahli Ibadah
Rumah yang paling indah bukanlah rumah yang dipenuhi perabotan mahal, melainkan rumah yang dipenuhi ibadah.
Allah SWT berfirman:
“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha : 132)
Ayat ini menunjukkan bahwa membimbing keluarga menuju ibadah merupakan tugas mulia setiap orang tua.
Shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an bersama, dzikir pagi dan petang, serta qiyamul lail sesekali bersama keluarga dapat menjadi sarana memperkuat hubungan spiritual antaranggota keluarga.
Ketika hubungan dengan Allah semakin baik, hubungan sesama anggota keluarga pun akan semakin harmonis.
Hijrah Menuju Akhlak Mulia
Pendidikan terbaik yang diberikan kepada orang tua bukanlah warisan harta, melainkan keteladanan akhlak.
Allah SWT berfirman:
قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim : 6)
Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat ini dengan mengajarkan ilmu dan adab kepada keluarga.
Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Ketika orang tua jujur, santun, disiplin, dan bertanggung jawab, nilai-nilai itu akan tertanam kuat dalam diri anak-anak.
Oleh karena itu, hijrah keluarga harus diwujudkan melalui perubahan perilaku sehari-hari.
Hijrah Menuju Keluarga yang Bersyukur dan Gemar Berbagi
Banyak orang mengira kebahagiaan terletak pada banyaknya harta. Padahal Al-Qur'an mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari rasa syukur.
Allah SWT berfirman:
"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmatmu." (QS.Ibrahim:7)
Keluarga yang disyukuri akan lebih mudah merasakan kebahagiaan, meskipun hidup dalam kesederhanaan.
Syukur kemudian melahirkan kepedulian sosial. Keluarga yang gemar bersedekah, membantu tetangga, menyantuni yatim, dan berbagi kepada sesama akan merasakan keberkahan yang tidak dapat diukur dengan angka.
setara dengan kaum Anshar yang dipuji Allah karena mendahulukan kepentingan orang lain, keluarga Muslim pun diajarkan untuk menjadi sumber manfaat bagi lingkungan sekitar.
Hijrah Menuju Keluarga Surga
Pada akhirnya, tujuan keluarga Muslim bukan hanya sukses di dunia, tetapi juga berkumpul kembali di akhirat.
Doa yang diajarkan Al-Qur'an menjadi penutup yang indah:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata.” (QS. Al-Furqan : 74)
Menurut Imam As-Sa'di, keluarga terbaik adalah keluarga yang saling membantu dalam ketaatan dan saling mengingatkan menuju surga.
Inilah makna terdalam dari hijrah keluarga. Bukan sekedar perubahan lahiriah, melainkan perjalanan bersama menuju ridha Allah.
Hikmah dan Ibrah
Pertama, hijrah keluarga dimulai dari perbaikan diri masing-masing anggota keluarga.
Kedua, ketakwaan adalah fondasi utama ketahanan rumah tangga.
Ketiga, sakinah lahir dari iman, komunikasi, dan pengendalian diri.
Keempat, mawaddah dan rahmah harus dijaga setiap hari melalui perhatian dan kasih sayang.
Kelima, ibadah bersama akan memperkuat ikatan ruhani keluarga.
Keenam, pendidikan akhlak merupakan investasi terbesar bagi masa depan anak.
Ketujuh, syukur dan sedekah menjadi kunci hadirnya keberkahan.
Kedelapan, tujuan akhir keluarga Muslim adalah memperoleh ridha Allah dan berkumpul kembali di surga-Nya.
Penutup
Rumah tangga yang ḥayātan ṭayyibah tidak lahir dalam satu malam. Ia dibangun melalui proses hijrah yang panjang, penuh kesabaran, pengorbanan, dan doa.
Ketika sebuah keluarga menjadikan Allah sebagai tujuan, Al-Qur'an sebagai pedoman, dan Rasulullah ﷺ sebagai teladan, maka rumah itu akan menjadi tempat bertumbuhnya cinta, ketenangan, dan keberkahan.
Di tengah berbagai tantangan zaman, keluarga yang berhijrah menuju Allah akan menemukan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki segalanya, melainkan tentang merasa cukup bersama Allah dan orang-orang yang dicintai karena-Nya.
Referensi: Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān; Al-Qurṭubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān; Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm; Fakhruddin Ar-Razi, Mafātīḥ al-Ghaib; Hamka, Tafsir Al-Azhar; M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah; As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān; Al-Ghazali, Iḥyā' 'Ulūm ad-Dīn.







