Dari Perubahan Diri Menuju Indonesia Emas
Oleh: Ustadz Umar Fauzi
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hijrah adalah salah satu kata yang paling familiar di telinga umat Islam. Setiap kali memasuki tahun baru Hijriah, kata ini kembali menggema di mimbar-mimbar masjid, ruang kajian, hingga media sosial. Namun, hijrah sesungguhnya bukan sekadar mengenang perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah sebuah gerakan perubahan yang terus hidup sepanjang zaman.
Al-Qur'an mengabadikan kemuliaan orang-orang yang berhijrah dalam firman-Nya:
Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 218)
Ayat ini menunjukkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah perjalanan menuju rahmat Allah. Perjalanan itu membutuhkan iman, pengorbanan, dan perjuangan.
Dalam konteks kehidupan modern, hijrah menjadi panggilan untuk berubah dari kondisi yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik. Dari malas menjadi rajin, dari penghematan ilmu, dari perpecahan menuju persatuan, serta dari kemunduran menuju kemajuan.
Hijrah yang Tidak Pernah Berakhir
Rasulullah SAW memberikan definisi hijrah yang sangat mendalam:
اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى الله عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa hijrah sejati berlangsung setiap hari. Ketika seseorang meninggalkan kebiasaan buruk, ia sedang berhijrah. Ketika seorang pejabat menolak korupsi, ia sedang berhijrah. Ketika seorang pelajar bersungguh-sungguh mencari ilmu, ia juga sedang berhijrah.
Oleh karena itu, hijrah bukan hanya milik generasi sahabat. Hijrah adalah tugas setiap umat Islam hingga akhir zaman.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa hijrah merupakan perpindahan dari kegelapan menuju cahaya. Menurut beliau, selama masih ada kebatilan, kemiskinan, kebencian, dan ketidakadilan, maka semangat hijrah akan selalu relevan.
Hijrah bukan nostalgia sejarah. Hijrah adalah energi perubahan.
Ulama Nusantara dan Semangat Perubahan
Para ulama Nusantara sejak dahulu telah menanamkan semangat hijrah melalui pendidikan, dakwah, dan perjuangan sosial.
KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, menekankan bahwa kebangkitan umat harus dimulai dari akhlak dan ilmu. Dalam kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim, beliau mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan adab justru dapat menjadi bencana.
Pesan ini sangat relevan bagi bangsa Indonesia. Kemajuan teknologi dan ekonomi tidak akan berarti jika tidak didukung oleh integritas moral. Indonesia membutuhkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.
Sementara itu, Syekh Nawawi al-Bantani dalam tafsir Marah Labid ketika menjelaskan QS. Al-Hasyr ayat 9 menonjolkan nilai itsar atau mendahulukan kepentingan orang lain. Menurut beliau, masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu membangun solidaritas dan kepedulian sosial.
Di tengah meningkatnya individualisme, pesan ini menjadi sangat penting. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang saling berebut kepentingan, melainkan bangsa yang mampu bekerja sama untuk kemaslahatan bersama.
Adapun KH. Ahmad Dahlan menampilkan makna hijrah melalui tindakan nyata. Beliau melakukan pembaruan pendidikan Islam dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu modern. Baginya, keimanan harus melahirkan amal saleh dan kemajuan peradaban.
Semangat yang diwariskan para ulama tersebut sesungguhnya merupakan bentuk hijrah kolektif menuju masyarakat yang lebih maju dan berdaya saing.
Hijrah Menuju Indonesia Emas 2045
Ketika pemerintah mencanangkan visi Indonesia Emas 2045, umat Islam sesungguhnya memiliki modal spiritual yang sangat besar untuk berkontribusi mewujudkannya.
Al-Qur'an telah memberikan prinsip dasar perubahan sosial:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu umat sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd : 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa kemajuan bangsa harus dimulai dari perubahan manusia-manusianya. Tidak ada bangsa yang besar menjadi tanpa kerja keras, disiplin, dan pengorbanan.
Dalam perspektif ini, hijrah menuju Indonesia Emas dapat dimaknai dalam beberapa bentuk.
Pertama, hijrah intelektual, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan, literasi, penelitian, dan inovasi. Bangsa yang unggul adalah bangsa yang menghargai ilmu pengetahuan.
Kedua, hijrah moral, yakni membangun budaya jujur, amanah, dan bertanggung jawab. Korupsi, manipulasi, dan menghina harus ditinggalkan sebagai bagian dari proses hijrah nasional.
Ketiga, hijrah ekonomi, yaitu peralihan dari budaya konsumtif menuju budaya produktif. Umat Islam perlu menjadi pelaku usaha, pencipta lapangan kerja, dan penggerak ekonomi yang berkeadilan.
Keempat, hijrah spiritual, yakni memperdalam kualitas keimanan sehingga agama tidak berhenti pada ritual, namun melahirkan kepedulian sosial dan etos kerja yang tinggi.
Kelima, hijrah kebangsaan, yaitu mengutamakan persatuan di atas kepentingan kelompok. Indonesia yang maju hanya dapat maju jika seluruh elemen bangsa bersedia berjalan bersama.
Menjadikan Hijrah sebagai Gerakan Bersama
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten. Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah melahirkan peradaban Islam yang mengubah dunia.
Demikian pula Indonesia. Perubahan bangsa tidak hanya bergantung pada pemimpin, tetapi juga pada jutaan rakyat yang ingin memperbaiki dirinya.
Seorang guru yang mendidik dengan ikhlas sedang berhijrah. Seorang petani yang bekerja jujur sedang berhijrah. Seorang pelajar yang tekun belajar sedang berhijrah. Seorang pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat juga sedang berhijrah.
Semua langkah kecil itu akan menjadi kekuatan besar ketika dilakukan bersama-sama.
Ibrah
Ada tiga pelajaran penting dari makna hijrah.
Pertama, perubahan harus dimulai dari diri sendiri.
Kedua, kemajuan bangsa tidak cukup dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan akhlak.
Ketiga, Indonesia Emas bukan sekadar sasaran ekonomi, melainkan cita-cita membangun masyarakat yang beriman, berilmu, berkeadilan, dan beradab.
Penutup
Hijrah bukan sekedar cerita masa lalu, melainkan agenda masa depan. Hijrah adalah perjalanan dari penghancuran ilmu, dari kemalasan menuju kerja keras, dari korupsi menuju keutuhan, dan dari perpecahan menuju persatuan.
Jika semangat hijrah ini tumbuh dalam diri setiap warga bangsa, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukanlah mimpi yang mustahil. Dengan iman sebagai landasan, ilmu sebagai cahaya, dan amal sebagai bukti, Indonesia dapat menjadi negeri yang dicita-citakan Al-Qur'an:
“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS.Saba': 15)
Wallahu a'lam bish-shawab.
Manfaat. Aamiin








