Selasa, 30 Juni 2026

MENGENAL AL-QUR'AN

 


Al-Qur'an: Hidayah, Rahmat, Berkah, Syafaat, dan Jalan Mengamalkannya

Oleh: Pengamat Studi Al-Qur'an dan Dakwah


Al-Qur'an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk memperoleh pahala. Sejak pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, Al-Qur'an hadir sebagai petunjuk hidup yang membimbing manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Di dalamnya terdapat tuntunan akidah, ibadah, akhlak, hukum, hingga prinsip-prinsip membangun peradaban yang berkeadilan.

Allah SWT berfirman,

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 2).

Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa hidayah dalam ayat tersebut merupakan petunjuk menuju seluruh kebaikan, baik dalam urusan agama maupun kehidupan dunia.^1 

Karena itu, semakin dekat seseorang dengan Al-Qur'an, semakin jelas arah hidupnya. Sebaliknya, ketika manusia menjauh dari wahyu, kebingungan dan krisis moral semakin mudah menguasai dirinya.

Al-Qur'an juga menegaskan fungsinya sebagai penunjuk jalan yang paling lurus.

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus." (QS. Al-Isra' [17]: 9).

Ibnu Katsir menerangkan bahwa jalan yang paling lurus adalah jalan tauhid, keadilan, kemuliaan akhlak, dan keselamatan dunia serta akhirat.^2

Sementara Prof. M. Quraish Shihab mengingatkan bahwa Al-Qur'an tidak sekadar memberi informasi tentang kebenaran, tetapi juga membimbing manusia agar mampu menjalani kebenaran itu dalam kehidupan nyata.^3

Selain menjadi petunjuk, Al-Qur'an merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Allah SWT berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

"Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Isra' [17]: 82).

Rahmat yang dimaksud bukan hanya kesembuhan fisik melalui ruqyah syar'iyyah, tetapi terutama kesembuhan hati dari penyakit kesombongan, iri hati, kebencian, putus asa, dan keraguan kepada Allah. Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa Al-Qur'an membersihkan hati sebagaimana air membersihkan tubuh.^4

 Ketika hati bersih, lahirlah keluarga yang damai, masyarakat yang saling menghormati, dan bangsa yang menjunjung keadilan.

Fungsi berikutnya adalah sebagai sumber keberkahan.

Allah SWT berfirman,

وَهٰذَا كِتٰبٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ

"Dan ini adalah Kitab yang Kami turunkan penuh keberkahan." (QS. Al-An'am [6]: 92).

Menurut Wahbah az-Zuhaili, keberkahan Al-Qur'an berarti manfaatnya tidak pernah habis dimakan zaman. Semakin dipelajari, semakin banyak hikmah yang ditemukan; semakin diamalkan, semakin besar manfaatnya bagi kehidupan pribadi maupun masyarakat.^5

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menambahkan bahwa keberkahan Al-Qur'an akan tampak pada lahirnya masyarakat yang menjunjung kejujuran, amanah, ilmu pengetahuan, dan persaudaraan. Sebaliknya, ketika nilai-nilai Al-Qur'an ditinggalkan, kerusakan moral dan sosial akan mudah berkembang.^6

Keutamaan Al-Qur'an tidak berhenti di dunia. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bahwa Al-Qur'an akan menjadi pemberi syafaat di akhirat.

Beliau bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim).^7

Namun, para ulama mengingatkan bahwa syafaat tersebut bukan hanya untuk orang yang pandai melantunkan ayat-ayatnya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah mereka yang membaca, memahami, menjaga adab terhadap Al-Qur'an, serta berusaha mengamalkan kandungannya.^8

Inilah pesan yang sering terlupakan. Tidak sedikit orang yang rajin membaca Al-Qur'an, tetapi masih gemar berdusta, mengkhianati amanah, atau berlaku zalim kepada sesama. Padahal tujuan utama diturunkannya Al-Qur'an bukan hanya untuk dilagukan, melainkan untuk dijadikan pedoman hidup.

Allah SWT berfirman,

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم

"Ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." (QS. Az-Zumar [39]: 55).

Rasulullah SAW juga bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. al-Bukhari).^9

Belajar Al-Qur'an tentu tidak berhenti pada kemampuan membaca dengan tartil. Tahap berikutnya adalah memahami makna, mentadabburi pesan-pesannya, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa hak Al-Qur'an ialah dibaca dengan khusyuk, dipahami, direnungkan, kemudian diwujudkan dalam amal nyata.^10

Hari ini, umat Islam hidup di tengah derasnya arus informasi, kemajuan teknologi, dan tantangan moral yang semakin kompleks. Karena itu, kebutuhan terhadap Al-Qur'an justru semakin besar. Al-Qur'an menjadi kompas yang menjaga manusia agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.

Membaca satu halaman Al-Qur'an setiap hari adalah awal yang baik. Akan tetapi, membaca satu ayat lalu mengamalkannya jauh lebih bernilai daripada membaca banyak halaman tanpa menghadirkan perubahan perilaku. Kejujuran dalam berdagang, amanah dalam bekerja, kasih sayang dalam keluarga, kepedulian kepada fakir miskin, serta keadilan dalam memimpin merupakan wujud nyata pengamalan Al-Qur'an.

Semoga kita termasuk golongan yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sahabat sepanjang hidup, petunjuk dalam setiap langkah, rahmat dalam setiap keadaan, sumber keberkahan dalam setiap amal, serta pemberi syafaat ketika menghadap Allah SWT kelak. Aamiin.

Manfaat. Aamiin


Catatan Kaki

1.Abu Ja'far al-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Jil. 1 (Beirut: Mu'assasah al-Risālah), hlm. 221.

2.Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Jil. 1, hlm. 112.

3.M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jil. 1, hlm. 93.

4.Al-Qurṭubī, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, Jil. 10, hlm. 316.

5.Wahbah al-Zuḥaylī, Al-Tafsīr al-Munīr, Jil. 8, hlm. 47.

6.Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jil. 3, hlm. 115.

7.Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, No. 804.

8.Al-Nawawī, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Jil. 6, hlm. 90.

9.Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, No. 5027.

10.Al-Ghazālī, Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn, Jil. 1, hlm. 282.

READ MORE - MENGENAL AL-QUR'AN

Senin, 29 Juni 2026

BILHIKMAH


 Dakwah Bil Hikmah, Tugas Siapa ?

Oleh: Pengamat Dakwah


Dakwah Adalah Tanggung Jawab Bersama

Islam hadir sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin). Oleh karena itu, dakwah bukanlah aktivitas yang identik dengan amarah, hujatan, atau pemaksaan kehendak, melainkan ajakan menuju kebaikan dengan cara yang santun, bijaksana, dan penuh kasih sayang.

Di tengah derasnya arus media sosial, perbedaan pandangan sering kali berubah menjadi permusuhan. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa berdakwah berarti harus keras, lantang, bahkan mencela pihak yang berbeda. Padahal, Al-Qur'an justru mengajarkan metode yang sebaliknya.

Allah SWT berfirman ysng artinya:

«"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik." (QS. An-Nahl [16]: 125).»

Ayat ini menjadi fondasi utama konsep dakwah bil hikmah. Menurut Imam ath-Thabari, kata hikmah berarti menyampaikan kebenaran berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan argumentasi yang kuat sesuai tingkat pemahaman orang yang diajak berdakwah (ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān, jil. 17).


Siapa yang Berkewajiban Berdakwah?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah dakwah hanya tugas ustaz, kiai, atau mubaligh?

Al-Qur'an memberikan jawaban yang lebih luas.

Allah SWT berfirman yang artinya:

«"Dan hendaknya ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar." (QS. Ali 'Imran [3]: 104).»

Dalam hadis yang sangat masyhur, Rasulullah SAW bersabda:

«"Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat." (HR. al-Bukhari)»

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap muslim mempunyai kewajiban berdakwah sesuai kemampuan ilmu, kedudukan, dan kesempatan yang dimiliki. Para ulama menjelaskan bahwa kewajiban dakwah secara umum bersifat fardhu kifayah, sedangkan menyampaikan kebenaran yang diketahui dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi fardhu 'ain sesuai kemampuan masing-masing (al-Qurthubi, al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'an, jil. 4).

Artinya, orang tua berdakwah kepada anaknya, guru kepada muridnya, pemimpin kepada rakyatnya, pedagang melalui kejujurannya, bahkan seorang tetangga melalui akhlaknya yang baik.


Hikmah Adalah Kunci Dakwah

Hikmah bukan sekadar kelembutan, tetapi kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Menurut Imam al-Qurthubi, hikmah adalah perkataan yang benar, tepat sasaran, dan jauh dari celaan yang tidak bermanfaat (al-Qurthubi, al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'an, jil. 10).

Sayyid Quthb menjelaskan bahwa seorang dai harus memahami kondisi psikologis, budaya, dan tingkat intelektual masyarakat sebelum berbicara. Dakwah yang baik tidak mengenai rata semua orang dengan pendekatan yang sama (Sayyid Quthb, Fī Ẓilāl al-Qur'ān, jil. 4).

Senada dengan itu, Wahbah az-Zuhaili menyebut hikmah sebagai perpaduan antara ilmu, etika, dialog rasional, dan akhlak mulia sehingga dakwah mampu menyentuh hati manusia (Wahbah az-Zuhaili, Tafsīr al-Munīr, jil. 14).

Rasulullah Mencontohkan Dakwah yang Lembut

Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW bukan semata-mata karena mukjizat, melainkan juga karena akhlaknya.

Allah SWT berfirman:

«"Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau berpikir keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekitarmu." (QS. Ali 'Imran [3]: 159).»

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

«"Permudahlah dan jangan berteman. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari." (HR. al-Bukhari dan Muslim).»

Beliau juga bersabda:

«"Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu melainkan akan memikatnya." (HR.Muslim).»

Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah lebih banyak ditentukan oleh akhlak daripada kerasnya suara.


Pelajaran dari Ulama Nusantara

Buya Hamka menjelaskan bahwa dakwah bil hikmah berarti memahami budaya masyarakat sehingga Islam hadir sebagai rahmat, bukan ancaman (Hamka, Tafsir al-Azhar, juz 14).

Prof. M. Quraish Shihab menambahkan bahwa hikmah adalah ketepatan memilih waktu, bahasa, dan cara menyampaikan. Tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang sama kepada setiap orang (Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, jil. 7).

KH. Bisri Mustofa melalui Tafsir al-Ibriz menampilkan bagaimana bahasa sederhana dan dekat dengan masyarakat lebih mudah menyentuh hati daripada istilah-istilah yang sulit dipahami.

Sementara KH. Hasyim Asy'ari menegaskan bahwa seorang dai harus menyempurnakan dirinya dengan adab, tawaduk, keikhlasan, dan kasih sayang sebelum mengajak orang lain kepada Allah (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim).


Dakwah di Era Digital

Media sosial memberi peluang besar untuk berdakwah, namun juga membuka pintu fitnah, kebencian, dan perpecahan.

Oleh karena itu, prinsip dakwah bil hikmah semakin relevan. Seorang Muslim hendaknya memastikan informasi yang disampaikan benar, memilih bahasa yang santun, menghindari hasutan, serta tidak mudah mengkafirkan atau melontarkan kata-kata kepada pihak lain.

Dakwah bukan perlombaan mencari pengikut, melainkan usaha menghadirkan rahmat Allah di tengah masyarakat.


Penutup

Dakwah bil hikmah adalah metode dakwah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tugas berdakwah bukan hanya milik para ulama, tetapi menjadi tanggung jawab setiap Muslim sesuai ilmu dan kemampuannya.

Hikmah berarti menyampaikan kebenaran dengan ilmu, kasih sayang, kelembutan, argumentasi yang benar, dan memahami kondisi orang yang diajak. Dengan cara itulah dakwah akan menghadirkan persatuan, kedamaian, dan hidayah, bukan permusuhan.

serupa sabda Rasulullah SAW:

«"Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu yang memikatnya." (HR.Muslim).»

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu berdakwah dengan hikmah, memberi teladan melalui akhlak, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Aamiin.


Daftar Pustaka

Al-Qur'an al-Karim.

Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhari.

Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim.

Ath-Thabari. Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān.

Al-Qurthubi. Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān.

Sayyid Quthb. Fī Ẓilāl al-Qur'ān.

Wahbah az-Zuhaili. Tafsir al-Munir.

Hamka. Tafsir al-Azhar.

M.Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbah dan Wawasan Al-Qur'an.

Bisri Mustofa. Tafsir al-Ibriz.

KH. Hasyim Asy'ari. Adab al-'Alim wa al-Muta'allim.

READ MORE - BILHIKMAH

MEMBERSIHKAN HATI


Memmahami Takhalli, Tahalli, dan Tajalli: Jalan Membersihkan Hati Menuju Kedekatan dengan Allah

Oleh: Ustadz Umar Fauzi


Pendahuluan

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, tasawuf bukanlah ajaran yang terpisah dari syariat. Justru ia menjadi jalan penyempurna keislaman setelah seseorang membangun iman dan menjalankan syariat dengan baik.

Tasawuf mengajarkan bagaimana hati dibersihkan, akhlak diperbaiki, dan hubungan seorang hamba dengan Allah semakin dekat.

Para ulama besar seperti Imam al-Ghazali, Imam al-Qusyairi, Imam al-Junaid al-Baghdadi, hingga Syekh Ibnu 'Arabi menjelaskan bahwa perjalanan ruhani seorang mukmin melewati tiga tahapan penting, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli.

Ketiganya bukan sekadar teori, tetapi latihan hidup yang dapat diamalkan oleh setiap Muslim sesuai kemampuannya.


1. Takhalli: Mengosongkan Hati dari Penyakit

Takhalli berarti mengosongkan atau membersihkan hati dari berbagai penyakit batin seperti riya', hasad, takabbur, ujub, cinta dunia yang berlebihan, serta berbagai hawa nafsu yang menghalangi seseorang untuk mendekat kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, memikirkanlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (QS. At-Tahrim [66]: 8).

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa taubat merupakan pintu pertama perjalanan menuju Allah. Hati yang masih dipenuhi kepuasan dan kecintaan terhadap dunia akan sulit menerima cahaya petunjuk.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR.Muslim).

Oleh karena itu, membersihkan hati menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai sepanjang hayat.

2. Tahalli: Menghias Diri dengan Akhlak Mulia

Setelah hati dibersihkan, tahap berikutnya adalah tahalli, yakni menyempurnakan diri dengan sifat-sifat yang dicintai Allah.

Di antara adalah:

- ikhlas,

- sabar,

- syukur,

- tawakal,

- tawadhu',

- kasih sayang,

- jujur,

- amanah,

- zuhud, serta cinta kepada sesama.

Imam al-Junaid al-Baghdadi mengatakan bahwa hakikat tasawuf adalah berakhlak sebagaimana akhlak Rasulullah ﷺ.

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Sungguh beruntungnya orang yang menyucikan jiwa.” (QS. Asy-Syams [91]: 9).

Tahalli menjadikan ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi membentuk pribadi yang lembut, rendah hati, dan bermanfaat bagi masyarakat.

3. Tajalli: Cahaya Allah dalam Hati Seorang Hamba

Dalam sastra tasawuf, tajalli berarti tersingkapnya cahaya hidayah Allah dalam hati seorang hamba yang telah bersih.

Allah SWT berfirman:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah adalah Cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur [24]: 35).

Para ulama tasawuf memahami ayat ini sebagai isyarat bahwa hati yang bersih akan mudah menerima cahaya petunjuk Allah.

Namun para ulama Ahlussunnah mengingatkan bahwa pengalaman ruhani tidak bisa dijadikan alasan meninggalkan syariat. Semakin tinggi maqam seseorang, semakin kuat pula ia menjaga shalat, puasa, dzikir, adab, dan ketundukan kepada syariat.

Mengamalkannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Tasawuf bukan hanya untuk para ulama atau penghuni pesantren.

Setiap Muslim dapat memulainya melalui kebiasaan sederhana, seperti:

- memperbanyak istighfar setiap hari;

- bermuhasabah sebelum tidur;

- menjaga dzikir pagi dan petang;

- membaca Al-Qur'an secara istiqamah;

- melatih keikhlasan dalam beramal;

- menghindari ghibah, iri, dan permusuhan;

- Membiasakan akhlak Rasulullah kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat.

Ketika hati dipenuhi dzikir, seseorang akan lebih mudah menghadapi ujian hidup dengan sabar dan penuh harapan kepada Allah.


Hikmah Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Perjalanan spiritual ini melahirkan banyak manfaat.

Secara pribadi, hati menjadi tenang, ibadah terasa nikmat, serta iman semakin kuat.

Dalam kehidupan sosial, seseorang menjadi lebih penyayang, mudah memaafkan, rendah hati, serta gemar menolong sesama.

Sementara secara spiritual, seorang hamba semakin menyadari bahwa seluruh hidupnya adalah ibadah kepada Allah. Inilah hakikat tasawuf yang diajarkan para ulama Ahlussunnah.


Penutup

Takhalli, tahalli, dan tajalli merupakan tiga tahapan penting dalam penyucian jiwa. Takhalli membersihkan hati dari sifat-sifat tercela. Tahalli menyempurnakannya dengan akhlak mulia. Adapun tajalli merupakan anugerah Allah berupa cahaya hidayah yang diberikan kepada hamba-Nya yang istiqamah dalam ketaatan.

Oleh karena itu, memperbanyak dzikir, memperbaiki akhlak, menuntut ilmu, beramal saleh, serta berdakwah dengan hikmah merupakan jalan terbaik menuju ridha Allah Swt.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa membersihkan hati, memperindah akhlak, dan memperoleh cahaya hidayah-Nya.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Walkah a'lam bish-shawab

Manfaat. Aamiin


Catatan Kaki

Imam al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Juz III (Beirut: Dar al-Ma'rifah), hlm. 52–65.

Imam al-Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyyah (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2002), hlm. 45–61.

Al-Ghazali, Ihya', Juz IV, hlm. 4–18.

Al-Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyyah, hlm. 87–94.

Ibnu 'Arabi, Fushush al-Hikam (Beirut: Dar al-Kutub al-'Arabiyyah, 1980), hlm. 48–60.

William C. Chittick, Jalan Sufi Menuju Pengetahuan (Albany: SUNY Press, 1989), hlm. 102–118.

READ MORE - MEMBERSIHKAN HATI

Minggu, 28 Juni 2026

MENGENAL NABI MUHAMMAD SAW


 KETURUNAN NABI MUHAMMAD ﷺ


Silsilah, Bangsa Arab, Jurhum (Yaman), Hikmah Nasab, dan Ibrah bagi Kaum Beriman

Oleh: Pengamat Dakwah


Pendahuluan

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling memaafkan keturunan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, penutup para nabi, yang memiliki nasab paling mulia sekaligus mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan.

Mengenal nasab Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari mengenal sejarah Islam dan menumbuhkan kecintaan kepada beliau. Para ulama tafsir, ahli hadis, dan sejarawan Islam memberikan perhatian besar terhadap silsilah Nabi karena berkaitan dengan sejarah dakwah, pemahaman Al-Qur'an, serta penghormatan kepada Ahlul Bait. Namun, Islam juga menolak fanatisme keturunan ('ashabiyyah) yang menganggap suatu suku atau keluarga lebih mulia hanya karena nasabnya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13).

Imam Ath-Ṭabari menjelaskan bahwa perbedaan nasab dan suku merupakan sarana untuk saling mengenal (ta'āruf), menjaga silaturahim, dan menunaikan hak-hak keluarga, bukan untuk saling menyombongkan diri.¹ 

Ibnu Katsir menambahkan bahwa ayat ini membatalkan tradisi jahiliah yang mengukur kemuliaan seseorang dari keturunannya semata.²

Nasab Rasulullah ﷺ yang disepakati para ulama sampai kepada Adnan adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abd Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Dari Adnan hingga Nabi Ismail beberapa riwayat, sehingga mayoritas ahli hadis memilih berhenti pada Adnan terdapat sebagai jalur yang paling kuat.³

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Layanan Pelanggan yang Aman

“Allah Sesungguhnya memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR.Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan nasab Rasulullah ﷺ merupakan pilihan Allah, namun tidak menghapus kewajiban setiap manusia untuk beriman dan beramal saleh.⁴

Para perbincangan membagi bangsa Arab menjadi tiga kelompok, yaitu Arab Bā'idah (bangsa Arab purba yang telah punah), Arab 'Āribah atau Qaḥṭāniyyah (Arab asli dari Yaman), dan Arab Musta'ribah, yaitu keturunan Nabi Ismail yang memperoleh bahasa Arab melalui interaksi dengan kabilah Jurhum.⁵

Kabilah Jurhum berasal dari Yaman dan menetap di sekitar Makkah setelah munculnya mata air Zamzam. Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah Makkah atas perintah Allah, beliau berdoa sebagaimana termaktub dalam QS. Ibrahim ayat 37. Doa itu menjadi awal berkembangnya Makkah sebagai pusat tauhid. Setelah Zamzam memancar, Jurhum meminta izin kepada Hajar untuk tinggal di sekitar sumur tersebut, lalu Nabi Ismail tumbuh bersama mereka dan belajar bahasa Arab hingga menjadi orang yang paling fasih di antara mereka. Riwayat ini diriwayatkan secara sahih oleh Imam al-Bukhari.⁶

Setelah dewasa, Nabi Ismail menikah dengan perempuan dari Jurhum. Dari keturunan inilah lahirnya Arab Musta'ribah yang kemudian berkembang menjadi Kinanah, Quraisy, Bani Hasyim, hingga akhirnya lahir Nabi Muhammad ﷺ. Ibnu Hisyam dan Ibnu Katsir menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ merupakan keturunan Nabi Ibrahim melalui jalur Nabi Ismail.⁷

Di antara keturunan Ismail lahirlah Fihr bin Malik yang dikenal sebagai Quraisy. Dari Quraisy kemudian muncul Bani Hasyim, keluarga Rasulullah ﷺ. Allah mengingatkan mereka melalui Surah Quraisy agar tidak menjanjikan perdagangan dan kedudukan, tetapi menyembah Rabb pemilik Ka'bah yang telah memberi keamanan dan rezeki.⁸

Al-Qur'an juga memerintahkan kaum Muslimin untuk memuliakan Ahlul Bait. Firman Allah dalam QS. Al-Aḥzāb ayat 33 dipahami oleh para mufasir klasik seperti Ath-Ṭabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurṭubi mencakup istri-istri Nabi ﷺ sesuai konteks ayat, serta Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain berdasarkan hadis al-Kisā'. Memuliakan Ahlul Bait merupakan bagian dari ajaran Islam, namun tidak boleh melahirkan sikap berlebihan maupun pengkultusan.⁹

Dalam perspektif maqāṣid al-syarī'ah, Imam Al-Ghazali dan Imam Asy-Syathibi menjadikan ḥifẓ al-nasl (menjaga keturunan) sebagai salah satu tujuan utama syariat. Menjaga nasab berarti menjaga kehormatan keluarga, hak waris, pendidikan generasi, dan silaturahim. Oleh karena itu, Islam mengharamkan zina, fitnah terhadap nasab, dan pemutusan hubungan keluarga.¹⁰

Ulama kontemporer seperti Prof. M. Quraish Shihab menegaskan bahwa mengenal silsilah Rasulullah ﷺ bertujuan memperkuat kecintaan kepada beliau dan memahami sejarah Islam, bukan membangun superioritas keturunan.

Senada dengan itu, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tetap diukur dari ketakwaannya. KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Maimoen Zubair juga mengajarkan pentingnya menghormati dzurriyah Rasulullah ﷺ dengan tetap berpegang pada prinsip keadilan dan akhlak Islam.¹¹


Kesimpulan

Mengenal nasab Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar mempelajari silsilah keluarga, melainkan memahami perjalanan dakwah tauhid sejak Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail hingga lahirnya Rasulullah ﷺ. Kabilah Jurhum dari Yaman memiliki peran penting dalam sejarah tersebut karena menjadi masyarakat tempat Nabi Ismail tumbuh dan belajar bahasa Arab.

Islam memelihara nasab sebagai nikmat Allah dan salah satu tujuan syariat yang harus dijaga. Namun Al-Qur'an dan Sunnah menegaskan bahwa kemuliaan sejati berada pada iman, takwa, dan amal saleh. Oleh karena itu, mencintai Rasulullah ﷺ dan Ahlul Bait harus diwujudkan dengan mengikuti ajaran beliau, memperbaiki akhlak, menjaga silaturahim, serta menjadikan ketakwaan sebagai ukuran utama dalam kehidupan.

Wallah a'lam bish-shawab

Manfaat. Aamiin


Catatan Kaki

1. Abu Ja'far ath-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 22, hlm. 308–310.

2. Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Juz 7, hlm. 383–385.

3. Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Juz 2, hlm. 223–229; Ibnu Hisyam, As-Sīrah an-Nabawiyyah, Juz 1, hlm. 1–10.

4. Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2276.

5. Ibnu Hisyam, As-Sīrah an-Nabawiyyah, Juz 1, hlm. 108–115; Al-Azraqi, Akhbār Makkah, Juz 1.

6. Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhari, no. 3364; Ath-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 16, tafsir QS. Ibrahim: 37.

7. Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Juz 1–2; Ibnu Hisyam, As-Sīrah an-Nabawiyyah, Juz 1.

8. Ath-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 24, tafsir QS. Quraisy.

9. Ath-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 20; Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Juz 6; Al-Qurṭubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, Juz 14.

10. Abu Hamid al-Ghazali, Al-Mustaṣfā, Juz 1; Asy-Syathibi, Al-Muwāfaqāt, Juz 2.

11. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 12; Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9; KH. Hasyim Asy'ari, Adab al-'Ālim wa al-Muta'allim.

READ MORE - MENGENAL NABI MUHAMMAD SAW

Sabtu, 27 Juni 2026

MENGENAL IBADAHNYA


Ibadah Berujung Taqwa: Jalan Menjadi Hamba yang Dicintai Allah

Oleh: Pengamat Studi Al-Qur'an dan Dakwah


Segala bentuk ibadah dalam Islam pada hakikatnya tidak berhenti pada pelaksanaan ritual semata. Shalat, puasa, zakat, haji, zikir, membaca Al-Qur'an, hingga amal sosial merupakan sarana untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan ibadah bukan sekedar amalan, namun sejauh mana ibadah tersebut melahirkan akhlak mulia, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama.

Allah SWT berfirman:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ»

"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 21).

Ayat ini menjadi landasan bahwa tujuan utama ibadah adalah melahirkan ketakwaan. Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa perintah beribadah merupakan ajakan untuk mentauhidkan Allah, menaati segala perintah-Nya, dan menghindari larangan-Nya.¹ Dengan demikian, ibadah bukan hanya aktivitas lahiriah, tetapi juga pendidikan ruhani yang membentuk karakter seorang mukmin.

Secara bahasa, kata ibadah berasal dari akar kata 'abada yang berarti kepatuhan, kepatuhan, dan kepatuhan diri. Adapun menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ibadah adalah segala perkataan dan perbuatan, lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai Allah.² Definisi ini menunjukkan luasnya meliputi ibadah. Tidak hanya shalat dan puasa, tetapi juga bekerja dengan jujur, menuntut ilmu, mengajar, menjaga amanah, menghormati orang tua, hingga membantu tetangga dapat bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, ibadah dibagi menjadi doa. Pertama, ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang tata caranya telah ditentukan secara rinci oleh syariat, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Dalam hal ini, umat Islam wajib mengikuti tuntunan Rasulullah saw. tanpa menambah ataupun mengurangi. Kedua, ibadah ghairu mahdhah, yaitu segala bentuk aktivitas kehidupan yang membawa kemaslahatan dan diniatkan untuk mencari ridha Allah. Oleh karena itu, seorang petani yang bekerja dengan jujur, guru yang mengajar dengan ikhlas, pedagang yang amanah, hingga tenaga kesehatan yang melayani pasien dapat memperoleh pahala ibadah.

Para ulama juga menjelaskan bahwa hukum asal ibadah adalah tauqifiyyah, yakni harus memiliki dasar dari Al-Qur'an, Sunnah, ijma', ataupun dalil syar'i yang dapat dipertanggungjawabkan. Imam Asy-Syathibi menegaskan bahwa ibadah tidak boleh didasarkan semata-mata pada logika atau selera manusia, melainkan harus mengikuti petunjuk syariat.³ Prinsip ini menjadi ciri penting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus melindungi umat dari praktik-praktik yang tidak memiliki landasan agama.

Al-Qur'an berulang kali menghubungkan ibadah dengan ketakwaan. Tentang puasa, Allah berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ... لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ»

"Diwajibkan atas kamu berpuasa...agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Demikian pula shalat. Allah berfirman:

«إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ»

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-'Ankabut [29]: 45).

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah memiliki dampak nyata terhadap perilaku seseorang. Bila shalat belum mampu mencegah kemaksiatan, puasa belum melahirkan kesabaran, atau zakat belum menumbuhkan kepedulian sosial, maka seorang muslim perlu terus memperbaiki kualitas ibadahnya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin menjelaskan bahwa ibadah yang diterima adalah ibadah yang menghadirkan hati, keikhlasan, serta rasa muraqabah kepada Allah.⁴ Sementara itu, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa ketakwaan akan tampak dalam perilaku sehari-hari, seperti kejujuran, amanah, kasih sayang, dan semangat membantu sesama.⁵ Inilah yang menjadi ciri seorang hamba yang berhasil sepanjang jalan ibadah.

Dalam khazanah tasawuf Ahlussunnah, para ulama mengajarkan bahwa ibadah memiliki tingkatan. Ada yang beribadah karena takut siksa, ada yang berharap pahala, dan ada pula yang beribadah karena cinta kepada Allah. Tingkatan ketiga tersebut tetap diterima, namun para ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Ibnu 'Athaillah As-Sakandari mengajarkan bahwa cinta kepada Allah merupakan maqam yang paling tinggi. Ketika ibadah dilandasi cinta, maka seseorang akan istiqamah dalam ketaatan, baik ketika dilihat manusia maupun saat sendirian.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pesan Al-Qur'an tentang ibadah semakin relevan. Umat ​​Islam tidak cukup hanya memperbanyak ritual, tetapi juga harus menghadirkan nilai-nilai ibadah dalam kehidupan sosial. Kejujuran dalam bekerja, keadilan dalam memimpin, kepedulian kepada fakir miskin, menjaga lingkungan, serta mempererat persaudaraan merupakan wujud nyata dari ketakwaan yang lahir dari ibadah.

Akhirnya dapat dipahami bahwa seluruh ibadah dalam Islam memiliki tujuan yang sama, yakni membentuk manusia bertakwa. Ketakwaan itulah yang akan mengantarkan seorang hamba memperoleh cinta Allah, kemudahan dalam urusan hidup, keberkahan rezeki, serta keselamatan di dunia dan akhirat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga mampu menghadirkan buah ibadah berupa akhlak yang mulia dan ketakwaan yang sejati.

Wallah a'lam bish-shawab

Manfaat. Aamiin


Catatan Kaki

¹ Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān, Jil. 1 (Beirut: Mu'assasah ar-Risalah), hlm. 373–375.

² Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah, Al-'Ubūdiyyah (Beirut: Dār al-Kutub al-'Ilmiyyah), hlm. 38.

³ Abu Ishaq Asy-Syathibi, Al-I'tishām, Jil. 1 (Beirut: Dār Ibnu 'Affan), hlm. 37–40.

⁴ Abu Hamid Al-Ghazali, Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn, Jil. 4 (Beirut: Dār al-Ma'rifah), hlm. 311–315.

⁵ Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jil. 1 (Jakarta: Pustaka Panjimas), hlm. 177–180.

READ MORE - MENGENAL IBADAHNYA

MENGENAL SHALATNYA


MENGENAL SHALAT: MAKNA, KHUSYU', HIKMAH, DAN IBRAHNYA

Shalat sebagai Jalan Menuju Kedekatan dengan Allah dan Kemuliaan Akhlak

Oleh: Ustadz Umar Fauzi


Shalat adalah ibadah yang paling utama setelah dua kalimat syahadat. Ia merupakan tiang agama, pembeda antara iman dan kekufuran, sarana sekaligus seorang hamba berkomunikasi langsung dengan Allah Swt. Tidak ada ibadah lain yang diwajibkan melalui peristiwa agung Isra' Mi'raj selain shalat. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan shalat dalam Islam.

Allah SWT berfirman:

«وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ»

“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43).¹

Menurut Imam ath-Ṭabari, yang dimaksud dengan mendirikan shalat bukanlah sekadar melaksanakan gerakan-gerakan lahiriah, tetapi menyempurnakan syarat, rukun, kekhusyukan, dan menjaga waktunya. Shalat yang ditegakkan dengan sempurna akan membentuk kepribadian seorang mukmin.²

Dalam bahasa Indonesia, kata shalat berarti doa. Dalam pengertian syariat, shalat adalah ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai tutunan Rasulullah ﷺ. Namun, makna shalat jauh lebih luas daripada sekadar rangkaian bacaan dan gerakan. Shalat merupakan pendidikan jiwa yang dilakukan lima kali sehari agar manusia tidak jauh dari Rabb-nya.

Allah berfirman:

«إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا»

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa' [4]: ​​103).³

Quraish Shihab menjelaskan bahwa waktu-waktu shalat mendidik manusia agar hidup disiplin, menghargai waktu, serta tidak larut dalam urusan dunia hingga melupakan akhirat.⁴

Salah satu tujuan shalat terbesar adalah melahirkan kekhusyukan. Allah bahkan membuka Surat Al-Mu'minun dengan menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman yang beruntung adalah mereka yang khusyuk dalam shalatnya.

«قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ»

“Sungguh beruntungnya orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu'minun [23]: 1–2).⁵

Imam al-Qurthubi menerangkan bahwa khusyuk bukan hanya menundukkan kepala atau memejamkan mata, melainkan hadirnya hati, rasa takut, cinta, dan pengagungan kepada Allah sehingga seluruh anggota badan ikut tunduk.⁶

Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulum ad-Din menjelaskan bahwa khusyuk lahir dari ma'rifat, yakni semakin seseorang mengenal Allah, semakin kecil dunia dalam berkumpul ketika berdiri menghadap-Nya.⁷

Oleh karena itu, shalat sejatinya adalah dialog antara seorang hamba dengan Allah. Dalam hadis qudsi Rasulullah ﷺ bersabda:

«قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ...»

“Aku membagi shalat (al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian.” (HR.Muslim).

Setiap ayat al-Fatihah dijawab langsung oleh Allah. Ketika seorang hamba membaca Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin, Allah berfirman, "Hamba-Ku telah memuji-Ku." Maka, membaca al-Fatihah dengan tergesa-gesa tanpa menghadirkan hati berarti kehilangan kenikmatan dialog tersebut.

Shalat juga merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Firman-Nya:

«وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ»

“Bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah.” (QS. Al-'Alaq [96]: 19).⁸

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ»

“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud.” (HR.Muslim).

Menurut Ibnu Katsir, ayat tersebut menunjukkan bahwa sujud adalah puncak ketundukan seorang manusia kepada Allah. Di saat itulah kesombongan luluh dan doa-doa paling mudah dikabulkan.⁹

Selain bernilai spiritual, setiap gerakan shalat mengandung hikmah yang mendalam. Takbiratul ihram mengajarkan meninggalkan seluruh urusan dunia. Rukuk melatih kerendahan hati. I'tidal mengajarkan keseimbangan. Sujud menghapus kesombongan. Salam mengingatkan bahwa ibadah harus melahirkan kedamaian bagi sesama.

Buya Hamka menjelaskan bahwa shalat bukan hanya mendidik hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesamanya. Orang yang rajin shalat namun masih gemar berdusta, berkhianat, dan menyakiti orang lain berarti belum menangkap ruh shalat itu sendiri.¹⁰

Al-Qur'an menegaskan:

«إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ»

“Sholat sejati mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-'Ankabut [29]: 45).¹¹

Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran berhasilnya shalat tidak hanya dilihat dari lamanya berdiri atau indahnya bacaan, tetapi dari perubahan akhlak setelah selesai shalat. Jika seseorang masih mudah memfitnah, korupsi, berlaku zalim, atau menyebarkan kebencian, maka ia perlu memperbaiki kualitas shalatnya.

Lalu kenapa banyak orang shalat tapi belum merasakan ketenangan? Para ulama menjelaskan beberapa penyebab hilangnya kekhusyukan, di antaranya hati yang terlalu sibuk dengan urusan dunia, kurang memahami makna bacaan shalat, terburu-buru dalam melaksanakan shalat, serta banyaknya dosa yang belum ditaubati.

Sebaliknya, kekhusyukan akan tumbuh ketika seseorang menjaga kehalalan rezeki, memahami bacaan shalat, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur'an, menjaga wudhu, dan menyadari bahwa setiap shalat bisa jadi merupakan shalat terakhir dalam hidupnya.

Bagi seorang mukmin, shalat bukan beban, melainkan kebutuhan. Ketika hati gelisah, shalat menjadi penenang. Ketika rezeki sempit, shalat menjadi tempat permohonan pertolongan. Ketika mendapat nikmat, shalat menjadi wujud syukur. Bahkan ketika menghadapi musikbah, Rasulullah ﷺ selalu kembali kepada shalat.

Pada akhirnya, shalat bukan sekadar kewajiban harian, tetapi perjalanan ruh menuju Allah. Ia membentuk pribadi yang jujur, amanah, disiplin, rendah hati, serta peduli kepada sesama. Semakin baik kualitas shalat seseorang, semakin baik pula akhlak dan kehidupannya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat, merasakan kekhusyukan, serta memperoleh keberkahan dan keselamatan di dunia maupun akhirat.

«رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ»

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim [14]: 40).


Catatan Kaki:

1. QS. Al-Baqarah [2]: 43.

2. Ath-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 1, hlm. 559.

3. QS. An-Nisa' [4]: ​​103.

4. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 2, hlm. 640.

5. QS. Al-Mu'minun [23]: 1–2.

6. Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, Juz 12, hlm. 97.

7. Al-Ghazali, Iḥyā' 'Ulūm ad-Dīn, Juz 1, hlm. 153–167.

8. QS. Al-'Alaq [96]: 19.

9. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Juz 8, hlm. 452.

10. Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 6, hlm. 412.

11. QS. Al-'Ankabut [29]: 45.

READ MORE - MENGENAL SHALATNYA

Jumat, 26 Juni 2026

DIBALIK UJIAN...


RAHMAT ALLAH DALAM KEHIDUPAN: HIKMAH DI BALIK SEHAT, SAKIT, KAYA, MISKIN...

Oleh: Pengamat Dakwah


Pendahuluan

Allah SWT. adalah Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm, Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Seluruh kehidupan manusia berada dalam lingkup rahmat-Nya. Rahmat Allah tidak selalu tampak dalam bentuk kenikmatan yang menyenangkan, tetapi juga dapat hadir melalui ujian yang mendidik keimanan. Sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, serta berbagai musibah merupakan bagian dari sunnatullah yang mengandung hikmah bagi orang-orang yang beriman.

Allah berfirman:

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A'raf [7]: 156)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa rahmat Allah meliputi seluruh makhluk di dunia, sedangkan rahmat yang sempurna diberikan kepada orang-orang yang bertakwa di akhirat.¹


Sehat sebagai Nikmat yang Harus Disyukuri

Kesehatan merupakan kenikmatan besar yang sering terlupakan. Dengan tubuh yang sehat, manusia mampu beribadah, bekerja, menuntut ilmu, dan memberi manfaat kepada sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

_"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang."_²

Syukur atas kesehatan diwujudkan dengan menjaga pola hidup yang baik, menghindari hal-hal yang membahayakan diri, serta menggunakan kesehatan untuk memperbanyak amal saleh.³


Sakit sebagai Menghapus yang Menghapus Dosa

Sakit bukanlah tanda kebencian kepada Allah. Sebaliknya, bagi orang yang beriman, sakit dapat menjadi sarana penghapus dosa dan peningkat derajat jika dihadapkan dengan sabar.

Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ...

“Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar…” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidaklah seorang mukmin ditimpa penyakit melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya.⁴ Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan bersabar, berobat, dan tetap berikhtiar karena Allah juga menurunkan obat bagi setiap penyakit.⁵


Kaya dan Miskin Sama-sama Ujian

Harta bukan ukuran kemuliaan seseorang. Orang kaya diuji dengan amanah hartanya, sedangkan orang miskin diuji dengan kesabaran dan ikhtiarnya.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Al-Qur'an juga memerintahkan agar harta dimanfaatkan untuk mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan kehidupan dunia.⁶

Oleh karena itu, orang kaya hendaknya gemar berinfak dan bersedekah, sedangkan orang yang hidup sederhana tetap bekerja keras, menjaga kehormatan diri, dan tidak putus asa dari rahmat Allah.


Musibah Mengandung Hikmah

Tidak ada musik yang terjadi di luar pengetahuan dan kehendak Allah. Musibah mengajarkan kesabaran, introspeksi, memperkuat tawakal, dan meningkatkan kepedulian sosial.

Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Tidak ada suatu musik pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun [64]: 11)

Musik tidak boleh menjadikan seseorang memutuskan asa. Sebaliknya, musibah harus mendorong lahirnya ikhtiar, doa, serta semangat memperbaiki diri dan membantu sesama.


Penutup

Rahmat Allah hadir dalam seluruh keadaan kehidupan. Sehat mendorong rasa syukur, sakit melatih kesabaran, kaya menguji amanah, miskin mengajarkan qana'ah dan kerja keras, sedangkan musibah menjadi sarana muhasabah dan peningkatan keimanan.

Seorang mukmin memandang seluruh ketentuan Allah dengan penuh keyakinan, bahwa setiap peristiwa mengandung hikmah bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.


Catatan Kaki:

Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Jil. 3 (Riyadh: Dar Tayyibah, 1999), hlm. 521.

Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, no. 6412.

M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jil. 5 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 341.

Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 5641; Muslim, Shahih Muslim, no. 2573.

Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 3855.

Abu Ja'far al-Tabari, Jami' al-Bayan, Jil. 19 (Beirut: Mu'assasah al-Risalah, 2000), hlm. 602–604.

READ MORE - DIBALIK UJIAN...
 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman