DAKWAH SUNAN DRAJAT
Oleh: Pengamat Dakwah
Pendahuluan
Islam masuk ke Nusantara melalui proses yang damai, penuh hikmah, dan menghargai budaya masyarakat setempat. Salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa adalah Sunan Drajat, salah seorang anggota Wali Songo. Beliau dikenal bukan hanya sebagai ulama dan mubalig, tetapi juga sebagai tokoh sosial yang mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap kaum miskin, anak yatim, serta masyarakat yang mengalami kesulitan hidup.
Dakwah Sunan Drajat menunjukkan bahwa keberhasilan menyampaikan ajaran Islam tidak semata-mata melalui ceramah, tetapi juga melalui keteladanan, pelayanan sosial, pendidikan, seni, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Model dakwah seperti ini menjadikan Islam diterima dengan lapang oleh masyarakat Jawa tanpa menimbulkan konflik yang berarti.
Di tengah tantangan dakwah pada era modern yang sering diwarnai polarisasi dan perdebatan, metode dakwah Sunan Drajat tetap relevan. Dakwah yang mengedepankan kasih sayang, kebijaksanaan, dan solusi nyata bagi persoalan umat merupakan pelajaran berharga bagi para dai masa kini.
Sejarah Singkat Sunan Drajat
Sunan Drajat memiliki nama kecil Raden Qasim atau Syarifuddin. Beliau merupakan putra dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dengan Dewi Candrawati.
Dengan demikian, Sunan Drajat merupakan saudara kandung Sunan Bonang, sehingga keduanya memperoleh pendidikan agama langsung dari ayahnya yang dikenal sebagai ulama besar di Jawa (Azra 2002).
Setelah memperoleh pendidikan Islam yang mendalam, Sunan Drajat mendapat amanah untuk berdakwah di wilayah pesisir utara Jawa Timur, terutama daerah Paciran, Lamongan. Daerah tersebut pada waktu itu masih dipengaruhi kepercayaan Hindu-Buddha serta tradisi lokal yang kuat.
Menurut berbagai sumber sejarah Wali Songo, Sunan Drajat tidak memulai dakwah dengan memperdebatkan keyakinan masyarakat, melainkan dengan membantu kehidupan mereka terlebih dahulu. Ketika masyarakat merasakan manfaat kehadiran beliau, hati mereka menjadi terbuka untuk menerima ajaran Islam (Ricklefs 2008).
Kepribadian Sunan Drajat
Sunan Drajat dikenal sebagai sosok yang sederhana, rendah hati, penyayang, serta memiliki perhatian besar terhadap fakir miskin.
Prinsip dakwah beliau sering diringkas dalam ajaran moral Jawa yang mengajarkan agar seseorang:
memberi tongkat kepada orang yang berjalan,
memberi makan kepada orang lapar,
memberi pakaian kepada orang yang membutuhkan,
membantu orang yang sedang mengalami kesulitan,
membimbing masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
Nilai tersebut sejalan dengan firman Allah:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa." (QS. al-Mā'idah [5]: 2).
Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar kehidupan sosial umat Islam. Amal saleh tidak cukup dilakukan secara individual, tetapi harus diwujudkan dalam kerja sama dan kepedulian sosial (Shihab 2002).
Kondisi Masyarakat Saat Dakwah Sunan Drajat
Pada masa itu, masyarakat Jawa masih menghadapi berbagai persoalan, antara lain:
kemiskinan,
rendahnya pendidikan,
kuatnya sistem kasta dan feodalisme,
kepercayaan animisme dan dinamisme,
pengaruh agama Hindu-Buddha.
Sunan Drajat memahami bahwa masyarakat tidak cukup hanya diberikan ceramah agama. Mereka juga membutuhkan solusi nyata atas persoalan kehidupan sehari-hari.
Karena itu beliau memadukan dakwah spiritual dengan pembangunan sosial sehingga Islam hadir sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Hamka menjelaskan bahwa dakwah Rasulullah juga selalu memperhatikan kesejahteraan masyarakat sehingga agama dan kehidupan sosial tidak dipisahkan (Hamka 1982).
Landasan Dakwah dalam Al-Qur'an
Metode Sunan Drajat sangat sesuai dengan firman Allah Swt.:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik." (QS. an-Nahl [16]: 125).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hikmah berarti menyampaikan dakwah sesuai kondisi orang yang didakwahi, sedangkan mau'izah hasanah adalah nasihat yang lembut sehingga mudah diterima (Ibnu Katsir 1999).
Metode inilah yang menjadi ciri khas dakwah Sunan Drajat sehingga masyarakat menerima Islam tanpa paksaan maupun kekerasan.
Dakwah Sunan Drajat
Keberhasilan dakwah Sunan Drajat tidak terlepas dari metode yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Beliau memahami bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan ajaran, melainkan menghadirkan Islam sebagai solusi bagi kehidupan. Pendekatan ini selaras dengan prinsip rahmatan lil 'alamin yang diajarkan Al-Qur'an.
1. Dakwah bil-Hal (Keteladanan dan Aksi Nyata)
Metode utama Sunan Drajat adalah dakwah bil-hal, yakni berdakwah melalui perbuatan nyata. Beliau membangun hubungan dengan masyarakat melalui kepedulian terhadap kebutuhan mereka, seperti membantu fakir miskin, memberi makan orang lapar, menolong musafir, serta memperhatikan anak yatim dan kaum lemah.
Allah Swt. berfirman:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan." (QS. al-Hasyr [59]: 9).
Menurut Wahbah az-Zuhaili, ayat ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial merupakan ciri utama orang beriman. Dakwah akan lebih mudah diterima apabila seorang dai terlebih dahulu menunjukkan akhlak mulia dan pengorbanan nyata bagi masyarakat (Az-Zuhaili 1991).
2. Dakwah melalui Pendidikan
Sunan Drajat mendidik masyarakat secara bertahap. Pendidikan tidak hanya berisi ilmu agama, tetapi juga pembentukan akhlak, etika bermasyarakat, tanggung jawab sosial, dan semangat bekerja.
Beliau membina murid-murid yang kemudian menjadi penyebar Islam di berbagai daerah. Sistem pendidikan seperti ini melahirkan kader dakwah yang mampu meneruskan perjuangan Islam secara berkesinambungan.
Quraish Shihab menjelaskan bahwa pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak sehingga mampu membawa kemaslahatan bagi masyarakat (Shihab 2002).
3. Dakwah melalui Seni dan Budaya
Sebagaimana Wali Songo lainnya, Sunan Drajat menggunakan seni sebagai media dakwah. Beliau memanfaatkan tembang, syair, dan budaya lokal untuk menyampaikan pesan-pesan tauhid, akhlak, dan kepedulian sosial.
Pendekatan budaya ini tidak menghilangkan ajaran Islam, tetapi menjadikan nilai-nilai Islam lebih mudah dipahami masyarakat Jawa. Dengan demikian, dakwah berlangsung secara damai tanpa merusak tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat.
Hamka menyatakan bahwa Islam tidak menolak budaya selama budaya tersebut tidak mengandung kemusyrikan dan kemaksiatan. Islam justru membimbing budaya agar bernilai ibadah (Hamka 1982).
4. Dakwah melalui Pemberdayaan Ekonomi
Sunan Drajat menyadari bahwa kemiskinan dapat menjadi penghambat kemajuan umat. Karena itu, beliau mendorong masyarakat untuk bekerja, berdagang, bertani, dan saling membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Beliau mengajarkan bahwa mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ibadah. Dengan ekonomi yang kuat, masyarakat dapat lebih mudah menjalankan ajaran agama dan membantu sesama.
Prinsip ini sesuai dengan firman Allah Swt.:
فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ
"Berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya." (QS. al-Mulk [67]: 15).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut memerintahkan manusia untuk berusaha dan bekerja sambil tetap bertawakal kepada Allah (Ibnu Katsir 1999).
5. Dakwah dengan Akhlak Mulia
Akhlak menjadi kekuatan utama dakwah Sunan Drajat. Beliau dikenal lembut, sabar, tidak mudah menyalahkan masyarakat, serta menghargai perbedaan.
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad).
Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa akhlak merupakan buah dari keimanan. Dakwah yang tidak disertai akhlak mulia akan kehilangan pengaruh di tengah masyarakat (Nawawi al-Bantani, Marah Labid).
Pengaruh Dakwah Sunan Drajat
Metode dakwah Sunan Drajat memberikan dampak besar bagi perkembangan Islam di Jawa, antara lain:
- Islam diterima masyarakat tanpa pertumpahan darah.
- Tumbuh budaya gotong royong dan kepedulian sosial.
- Berkembang lembaga pendidikan Islam.
- Meningkatnya kesejahteraan masyarakat melalui semangat bekerja.
- Terbentuk masyarakat yang menjadikan akhlak sebagai dasar kehidupan.
- Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa dakwah yang menggabungkan ilmu, keteladanan, dan pelayanan sosial memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan dakwah yang hanya bersifat verbal.
Hikmah Dakwah Sunan Drajat
Dakwa Sunan Drajat memberikan banyak pelajaran bagi umat Islam sepanjang zaman. Pertama, dakwah akan lebih mudah diterima apabila dibangun di atas kasih sayang, keteladanan, dan kepedulian sosial. Masyarakat tidak hanya membutuhkan nasihat, tetapi juga membutuhkan kehadiran seorang dai yang mampu membantu menyelesaikan persoalan kehidupan mereka.
Kedua, dakwah harus memperhatikan kondisi sosial dan budaya masyarakat. Sunan Drajat tidak memaksakan perubahan secara instan, tetapi membimbing masyarakat sedikit demi sedikit menuju ajaran Islam yang benar. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip hikmah sebagaimana diajarkan Al-Qur'an (QS. an-Nahl [16]: 125).
Ketiga, kesejahteraan masyarakat merupakan bagian dari tujuan dakwah. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengajarkan kepedulian terhadap fakir miskin, anak yatim, dan kaum yang membutuhkan (Shihab 2002).
Keempat, akhlak merupakan media dakwah yang paling efektif. Ketika masyarakat melihat kejujuran, kesederhanaan, kesabaran, dan kasih sayang seorang dai, mereka akan lebih mudah menerima ajaran Islam dibandingkan hanya melalui ceramah.
Ibrah bagi Dakwah Masa Kini
Di era digital, metode dakwah Sunan Drajat tetap relevan.
Seorang dai hendaknya tidak hanya aktif di media sosial, tetapi juga hadir di tengah masyarakat melalui pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, pendampingan umat, dan pembinaan akhlak.
Tantangan dakwah saat ini bukan hanya kemiskinan, tetapi juga penyebaran hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, konsumerisme, serta krisis moral. Karena itu, dakwah perlu menghadirkan solusi yang menenangkan, mempersatukan, dan membangun optimisme umat.
Hamka menegaskan bahwa dakwah yang berhasil adalah dakwah yang mampu mengubah hati manusia menjadi lebih dekat kepada Allah sekaligus memperbaiki kehidupan masyarakat (Hamka 1982).
Relevansi Dakwah Sunan Drajat bagi Indonesia
Indonesia sebagai negara yang majemuk memerlukan pendekatan dakwah yang santun dan inklusif sebagaimana dicontohkan Sunan Drajat. Nilai-nilai gotong royong, kepedulian terhadap kaum lemah, penghormatan terhadap budaya yang tidak bertentangan dengan syariat, serta semangat persaudaraan menjadi modal penting dalam menjaga persatuan bangsa.
Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa Islam berkembang di Nusantara melalui jalan damai, dialog, pendidikan, dan keteladanan. Oleh sebab itu, warisan dakwah Wali Songo, termasuk Sunan Drajat, layak terus dikaji dan diterapkan dalam kehidupan umat Islam Indonesia.
Kesimpulan
Sunan Drajat merupakan salah satu Wali Songo yang berhasil menyebarkan Islam melalui dakwah yang humanis, bijaksana, dan penuh kasih sayang. Sejarah dakwah beliau menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh keluasan ilmu, tetapi juga oleh keteladanan akhlak, kepedulian sosial, dan kemampuan memahami kondisi masyarakat.
Metode dakwah beliau meliputi dakwah bil-hal, pendidikan, seni dan budaya, pemberdayaan ekonomi, serta pembinaan akhlak. Pendekatan tersebut terbukti mampu menghadirkan Islam sebagai agama yang membawa rahmat, kedamaian, dan kesejahteraan.
Nilai-nilai dakwah Sunan Drajat tetap relevan hingga saat ini. Para dai, ulama, pendidik, dan seluruh umat Islam dapat menjadikannya sebagai inspirasi dalam membangun masyarakat yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Wallah A'lam bish- Shawab
Manfaat. Aamiin
Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara. Jakarta: Kencana, 2002.
Hamka. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1999.
Nawawi al-Bantani. Marah Labid Tafsir al-Nawawi. Beirut: Dar al-Fikr.
Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2008.
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Wahbah az-Zuhaili. Tafsir al-Munir. Damaskus: Dar al-Fikr, 1991.
Dengan tiga bagian tersebut, artikel telah menjadi satu naskah utuh bergaya Republika, menggunakan body note, dengan cakupan sekitar 10 halaman yang membahas sejarah, metode dakwah, hikmah, ibrah, kesimpulan, dan daftar pustaka.


.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

