Sayyidah Fatimah binti Nabi Muhammad saw.: Sejarah, Keistimewaan, Ibadah, Wafat, dan KuburannyaOleh: Pengamat Dakwah
Pendahuluan
Di antara perempuan paling mulia dalam sejarah Islam, nama Sayyidah Fatimah az-Zahra binti Nabi Muhammad saw. menempati posisi yang sangat istimewa. Beliau bukan hanya putri Rasulullah saw., tetapi juga ibu dari Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain, dua cucu kesayangan Nabi yang kelak menjadi pemimpin para pemuda surga sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadis sahih. Dari keturunannya pula berlanjut nasab Rasulullah saw. hingga dikenal sebagai Ahlul Bait atau dzurriyah Nabi Muhammad saw.
Kecintaan umat Islam kepada Sayyidah Fatimah telah diwariskan sejak masa Rasulullah saw. sendiri. Dalam hadis sahih, Nabi bersabda:
"Fatimah adalah bagian dariku. Siapa yang menyakitinya berarti telah menyakitiku." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan kedudukan istimewa Sayyidah Fatimah di sisi Rasulullah saw. Para ulama Ahlussunnah maupun Syiah sepakat bahwa beliau merupakan wanita agung yang menjadi teladan sepanjang zaman, meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam rincian sejarah menjelang wafat beliau.
Di Indonesia, para ulama seperti Syaikh Nawawi al-Bantani, Hamka, dan M. Quraish Shihab juga memberikan perhatian besar terhadap kemuliaan Ahlul Bait. Mereka menegaskan bahwa mencintai keluarga Rasulullah merupakan bagian dari ajaran Islam, selama dilakukan secara proporsional sesuai tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah (Hamka, 1982; Shihab, 2002).
Sejarah Singkat Sayyidah Fatimah az-Zahra
Fatimah az-Zahra adalah putri bungsu Rasulullah saw. dari Sayyidah Khadijah binti Khuwailid. Mayoritas ulama Ahlussunnah berpendapat bahwa dia lahir sekitar lima tahun sebelum Nabi menerima wahyu pertama, sedangkan sebagian riwayat Syiah menyebut dia lahir setelah kenabian dimulai. Perbedaan ini tidak mengurangi kesepakatan bahwa beliau tumbuh dalam rumah tangga yang penuh kemakmuran dan pendidikan kenabian (Ibnu Katsir, 1998).
Sejak kecil Fatimah menyaksikan beratnya perjuangan dakwah Islam di Makkah. Ia melihat langsung bagaimana kaum Quraisy menyakiti ayahnya. Dalam sebuah riwayat sahih disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. dilempari kotoran saat sujud di dekat Ka'bah, Fatimah kecil datang membersihkan tubuh ayahnya sambil menangis. Peristiwa tersebut menunjukkan kecintaan dan keberanian beliau sejak usia muda (al-Bukhari, 2002).
Setelah wafatnya Sayyidah Khadijah, Fatimah semakin dekat dengan Rasulullah. Beliau menjadi sosok yang menghibur beliau sehingga dijuluki Ummu Abiha, yakni “ibu bagi ayah”, karena kasih sayang yang luar biasa kepada Rasulullah (Ibnu Hajar al-'Asqalani, al-Ishabah).
Ketika kaum Muslim berhijrah ke Madinah, Fatimah pun ikut berhijrah. Di Madinah beliau kemudian menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib atas perintah Allah sebagaimana disebutkan dalam sejumlah riwayat. Mahar pernikahan mereka sangat sederhana. Rumah tangga yang dibangun jauh dari kemewahan, tetapi dipenuhi keimanan, kesabaran, dan kasih sayang.
Dari pernikahan tersebut lahirlah Hasan, Husain, Zainab, Ummu Kultsum, dan menurut sebagian riwayat juga Muhsin yang wafat ketika masih kecil. Hasan dan Husain kemudian menjadi penerus nasab Rasulullah saw. sehingga seluruh keturunan Nabi pada masa berikutnya berasal melalui Sayyidah Fatimah.
Kehidupan Fatimah tidak pernah memenuhi kemewahan dunia. Beliau menggiling gandum sendiri hingga tangan melepuh, mengambil udara sendiri, dan mengurus rumah tangga tanpa mengeluh. Ketika meminta seorang pembantu kepada Rasulullah saw., Nabi justru mengajarkan tasbih, tahmid, dan takbir yang kemudian dikenal dengan Tasbih Fatimah.
Menurut para ulama, hal ini mengajarkan bahwa kekuatan spiritual lebih utama daripada sekedar kenyamanan duniawi (an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim).
Kesederhanaan tersebut menjadi salah satu teladan terbesar Sayyidah Fatimah bagi umat Islam sepanjang zaman.
Pada bagian berikutnya akan dibahas keistimewaan Sayyidah Fatimah menurut Al-Qur'an, hadis, ulama Ahlussunnah, Syiah, serta ulama Nusantara secara lebih mendalam.
Keistimewaan Sayyidah Fatimah az-Zahra Menurut Ahlussunnah dan Syiah
Kemuliaan Sayyidah Fatimah az-Zahra merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh kaum Muslimin.
Ahlussunnah maupun Syiah sama-sama menempatkannya sebagai perempuan yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah Swt. Perbedaan antara keduanya lebih banyak berkaitan dengan penafsiran terhadap sebagian peristiwa sejarah setelah wafat Rasulullah saw., bukan pada kemuliaan pribadi Sayyidah Fatimah.
1. Pemimpin Perempuan Penghuni Surga
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan at-Tirmidzi, Rasulullah saw. bersabda:
Fatimah adalah pemimpin para perempuan penghuni surga.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan keutamaan Sayyidah Fatimah dibandingkan perempuan lain pada zamannya. Kemuliaan tersebut diperoleh karena kesempurnaan iman, ketakwaan, kesabaran, dan kedekatannya dengan Rasulullah saw. (Ibnu Katsir, 1998).
Imam an-Nawawi menambahkan bahwa keutamaan itu bukan hanya karena hubungan nasab, tetapi juga karena amal saleh dan kemuliaan akhlaknya (an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim).
2. Fatimah Adalah Bagian dari Rasulullah
Dalam hadis sahih disebutkan:
"Fatimah adalah bagian dariku. Siapa yang membuatnya marah, berarti membuat marah." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Menurut Imam al-Qurthubi, hadis ini menunjukkan besarnya kasih sayang Rasulullah kepada putrinya sekaligus menjadi peringatan agar umat Islam menjaga kehormatan keluarga Nabi (al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an).
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa hadis tersebut tidak berarti semua kemarahan Fatimah pasti menjadi hukum syariat, melainkan menunjukkan kedudukan beliau yang sangat mulia serta kewajiban menghormati Ahlul Bait (Shihab, 2002).
3. Termasuk Ahlul Bait Rasulullah
Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33).
Dalam hadis al-Kisa', Rasulullah saw. mengumpulkan Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain di bawah sebuah kain, kemudian berdoa agar Allah menyucikan mereka.
Menurut ulama Ahlussunnah, ayat ini mencakup istri-istri Nabi dan juga Ahlul Kisa' berdasarkan gabungan konteks ayat dan hadis.
Sementara ulama Syiah memahami bahwa ayat tersebut secara khusus menunjuk kepada lima orang suci (Ahlul Kisa').
Kedua pandangan sama-sama mengakui bahwa Fatimah termasuk Ahlul Bait Rasulullah yang dimuliakan Allah (ath-Thabari; ath-Thabathaba'i).
4. Teladan Zuhud dan Kesederhanaan
Meski putri pemimpin umat Islam, kehidupan Sayyidah Fatimah sangat sederhana. Rumahnya hanya memiliki sedikit perabot. Beliau menggiling gandum dengan tangannya sendiri hingga meninggalkan bekas pada telapak tangan.
Hamka menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari kekayaan, melainkan dari iman, kesabaran, dan pengabdiannya kepada Allah. Fatimah menjadi contoh nyata bahwa kemewahan lahir dari ketakwaan, bukan kemewahan (Hamka, Tafsir al-Azhar).
Syaikh Nawawi al-Bantani juga menegaskan bahwa keluarga Rasulullah dipilih Allah untuk menjadi teladan dalam kesabaran menghadapi kehidupan dunia yang sederhana (Nawawi al-Bantani, Marah Labid).
5. Pandangan Ulama Nusantara
Ulama Nusantara memberikan perhatian besar terhadap kecintaan kepada Ahlul Bait.
KH. Hasyim Asy'ari menegaskan bahwa mencintai keluarga Rasulullah merupakan bagian dari akidah Ahlussunnah wal Jamaah, selama tidak disertai sikap berlebihan yang bertentangan dengan syariat.
Buya Hamka menggambarkan Sayyidah Fatimah sebagai perempuan yang menggabungkan kemuliaan nasab, keluasan ilmu, kesucian hati, serta pengabdian kepada keluarga dan masyarakat.
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa penghormatan kepada Ahlul Bait adalah bagian dari penghormatan kepada Rasulullah saw., namun tidak boleh menjadi sebab lahirnya perpecahan di tengah umat Islam.
Hikmah
Keistimewaan Sayyidah Fatimah bukan semata-mata karena beliau putri Rasulullah saw., melainkan karena ketakwaan, akhlak mulia, kesabaran, dan pengabdiannya kepada Allah Swt. Hal ini menjadi pelajaran bahwa kemuliaan sejati diperoleh melalui iman dan amal saleh, bukan hanya karena keturunan ataupun kedudukan.
Ibadah, Akhlak, dan Kehidupan Spiritual Sayyidah Fatimah az-Zahra
Sayyidah Fatimah az-Zahra dikenal sebagai salah seorang perempuan paling salehah dalam sejarah Islam. Kehidupan beliau dipenuhi dengan ibadah, zikir, doa, kesabaran, dan pengabdian kepada Allah Swt. Para ulama Ahlussunnah maupun Syiah sama-sama menggambarkan beliau sebagai teladan dalam penghambaan kepada Allah.
1. Ketekunan dalam Shalat
Di tengah kesibukannya mengurus rumah tangga, Sayyidah Fatimah tidak pernah melalaikan shalat. Beliau sering menghidupkan malam dengan qiyamul lail, memperbanyak doa dan munajat kepada Allah Swt.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa qiyamul lail merupakan salah satu tanda kecintaan seorang hamba kepada Allah. Kehidupan Sayyidah Fatimah menjadi contoh nyata bahwa kesibukan dunia tidak boleh menghalangi kedekatan kepada Sang Pencipta (al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din).
2. Memperbanyak Zikir
Salah satu amalan yang paling dikenal adalah Tasbih Fatimah. Ketika dia meminta pembantunya karena kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah, Rasulullah saw. tidak memberikan pembantu, tetapi mengajarkan suatu amalan:
- Membaca Subhanallah sebanyak 33 kali.
- Membaca Alhamdulillah sebanyak 33 kali.
- Membaca Allahu Akbar sebanyak 34 kali.
- Amalan ini dibaca sebelum tidur dan diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Menurut Imam an-Nawawi, zikir tersebut merupakan salah satu zikir paling utama karena diajarkan langsung oleh Rasulullah kepada putri tercintanya (an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim).
Hingga kini, Tasbih Fatimah diamalkan oleh kaum Muslimin dari berbagai mazhab sebagai wirid harian.
3. Zuhud terhadap Dunia
Sayyidah Fatimah hidup dalam kesederhanaan. Beliau menggiling gandum sendiri, menjahit pakaian, memasak, serta mengurus anak-anak tanpa mengeluh.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kehidupan beliau merupakan bukti bahwa keluarga Rasulullah tidak mencari kemewahan dunia, tetapi mengutamakan kehidupan akhirat (Ibnu Katsir, 1998).
Buya Hamka menambahkan bahwa kezuhudan bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan menjadikan dunia sebagai sarana beribadah kepada Allah, bukan tujuan hidup (Hamka, Tafsir al-Azhar).
4. Kepedulian kepada Fakir Miskin
Al-Qur'an mengabadikan salah satu keteladanan keluarga Ali dan Fatimah dalam Surah Al-Insan ayat 8–9:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepada Anda hanyalah karena mengharap ridha Allah.”
Banyak mufasir, seperti ath-Thabari, al-Qurthubi, dan Wahbah az-Zuhaili, menyebutkan riwayat bahwa ayat ini berkaitan dengan kedermawanan Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah, Hasan, dan Husain yang mengutamakan orang lain meskipun mereka sendiri sedang membutuhkan (ath-Thabari; az-Zuhaili).
Peristiwa ini menjadi teladan tentang keikhlasan dalam bersedekah dan mendahulukan kepentingan sesama.
5. Seorang Ibu dan Istri yang Mulia
Sayyidah Fatimah tidak hanya dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi juga sebagai istri yang setia kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan ibu yang mendidik Hasan serta Husain dengan penuh kasih sayang.
Quraish Shihab menjelaskan bahwa rumah tangga Ali dan Fatimah merupakan contoh keluarga yang dibangun atas dasar iman, saling menghormati, kerja sama, dan kemudahan, bukan kemewahan materi (Shihab, 2002).
6. Pandangan Syiah tentang Spiritualitas Fatimah
Dalam sastra Syiah Imamiyah, Sayyidah Fatimah dipandang sebagai perempuan yang mencapai derajat kesucian dan spiritualitas yang sangat tinggi. Beliau menjadi teladan kesabaran, keberanian, dan keteguhan dalam mempertahankan nilai-nilai Islam.
Sementara itu, ulama Ahlussunnah menghormati seluruh riwayat yang sahih tentang kemuliaan beliau, namun tetap membedakan antara keutamaan (fadhilah) dengan konsep-konsep teologis yang menjadi ciri mazhab tertentu.
Meski demikian, kedua tradisi sama-sama mengakui bahwa Fatimah termasuk wanita terbaik sepanjang sejarah Islam.
Hikmah dan Ibrah
Kehidupan Sayyidah Fatimah mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya berupa shalat dan zikir, tetapi juga diwujudkan dalam kesabaran, kerja keras, kepedulian terhadap sesama, kesederhanaan, serta pengabdian kepada keluarga. Beliau membuktikan bahwa kemuliaan seorang muslim lahir dari iman, akhlak, dan amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah Swt.
Wafat Sayyidah Fatimah az-Zahra
Wafatnya Sayyidah Fatimah az-Zahra merupakan salah satu peristiwa yang paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Seluruh ulama sepakat bahwa beliau adalah putri Rasulullah saw. yang pertama kali menyusul wafat setelah Nabi Muhammad saw., sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah sendiri dalam hadis sahih.
Dalam riwayat Aisyah ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah membisikkan doa hal kepada Fatimah. Pada bisikan pertama beliau menangis, sedangkan pada bisikan kedua beliau tersenyum.
Setelah Rasulullah wafat, Fatimah menjelaskan bahwa bisikan pertama berisi kabar bahwa Rasulullah akan segera wafat, sedangkan bisikan kedua berisi kabar gembira bahwa Fatimah akan menjadi anggota keluarganya yang pertama setelah beliau.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim (al-Bukhari, 2002; Muslim, 2002).
Mayoritas ulama Ahlussunnah berpendapat bahwa Sayyidah Fatimah wafat sekitar enam bulan setelah Rasulullah saw., pada tahun 11 Hijriah. Saat itu usia beliau diperkirakan sekitar 29 tahun, meskipun terdapat perbedaan riwayat mengenai usia tepatnya (Ibnu Katsir, 1998).
Perbedaan Riwayat Ahlussunnah dan Syiah
Dalam sastra Ahlussunnah, wafatnya Sayyidah Fatimah dipahami sebagai akibat dari kesedihan yang mendalam setelah kehilangan ayahandanya serta kondisi kesehatan yang semakin melemah.
Sementara itu, dalam sebagian literatur Syiah Imamiyah terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengalami penderitaan akibat peristiwa yang terjadi setelah wafat Rasulullah saw. Riwayat-riwayat tersebut menjadi bagian dari historiografi Syiah dan dipahami berbeda-beda oleh ulama Ahlussunnah.
Para ceramah Muslim menegaskan bahwa perbedaan ini hendaknya dikaji secara ilmiah dengan Merujuk kepada sumber-sumber primer masing-masing mazhab serta menghindari sikap saling mencela.
Quraish Shihab mengingatkan bahwa perbedaan sejarah tidak seharusnya mengurangi kecintaan umat Islam kepada Ahlul Bait maupun kepada para sahabat Rasulullah saw. Sikap yang bijaksana adalah menghormati seluruh tokoh yang berjasa dalam sejarah Islam serta menjaga persatuan umat (Shihab, 2002).
Kuburan Sayyidah Fatimah az-Zahra
Lokasi Makam Sayyidah Fatimah hingga kini masih menjadi pembahasan di kalangan ulama dan akademisi.
Pendapat pertama menyatakan bahwa beliau dimakamkan di Jannatul Baqi', pemakaman utama kaum Muslimin di Madinah. Pendapat ini dipegang oleh banyak ulama Ahlussunnah berdasarkan sejumlah riwayat sejarah.
Pendapat kedua menyebutkan bahwa beliau dimakamkan di sekitar rumahnya yang kini berada di dalam kompleks Masjid Nabawi. Pendapat ini juga memiliki pendukung di kalangan ulama.
Sebagian ulama Syiah berpendapat bahwa lokasi makam beliau sengaja dirahasiakan sesuai wasiat Sayyidah Fatimah menjelang wafatnya. Oleh karena itu, hingga kini tidak terdapat kesepakatan mutlak mengenai letak makam beliau.
Perbedaan pendapat tersebut tidak mengurangi penghormatan umat Islam kepada putri Rasulullah saw. Yang lebih penting adalah meneladani iman, ketakwaan, dan akhlak beliau daripada memperdebatkan lokasi makamnya.
Hikmah dan Ibrah
Dari kehidupan Sayyidah Fatimah az-Zahra, umat Islam dapat mengambil banyak hikmah.
Pertama, kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari kekayaan ataupun kedudukan, melainkan dari ketakwaan dan amal saleh.
Kedua, seorang Muslim hendaknya menghormati dan mencintai Ahlul Bait Rasulullah saw. sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis sahih.
Ketiga, kehidupan rumah tangga Fatimah dan Ali mengedepankan pentingnya kesederhanaan, saling membantu, kesabaran, dan tanggung jawab dalam membangun keluarga sakinah.
Keempat, semangat beribadah, zikir, sedekah, dan kepedulian sosial yang ditunjukkan Sayyidah Fatimah menjadi teladan bagi kaum perempuan maupun laki-laki sepanjang zaman.
Kelima, perbedaan pandangan sejarah antara Ahlussunnah dan Syiah hendaknya disikapi dengan ilmu, adab, dan sikap saling menghormati, tanpa menjadikannya sebagai sebab permusuhan di antara sesama umat Islam.
Penutup
Sayyidah Fatimah az-Zahra merupakan sosok perempuan agung yang memadukan kemuliaan nasab, keluasan ilmu, keteguhan iman, serta keindahan akhlak. Beliau adalah putri Rasulullah saw., istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ibu Hasan dan Husain, serta teladan bagi seluruh umat Islam.
Ahlussunnah dan Syiah sama-sama menempatkan dia sebagai perempuan yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah Swt., meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam memahami sebagian peristiwa sejarah. Persamaan yang jauh lebih besar adalah kecintaan kepada Sayyidah Fatimah sebagai bagian dari Ahlul Bait Nabi Muhammad saw.
Oleh karena itu, umat Islam bermaksudnya tidak hanya mengenang beliau dalam sejarah, tetapi juga meneladani ketakwaan, rendahnya, kesabaran, kasih sayang, serta semangat pengabdiannya kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Wallah A'lam bish-Shawab
Manfaat. Aamiin
Daftar Pustaka
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.
Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad.
Ibnu Katsir. Al-Bidayah wa al-Nihayah.
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim.
Ath-Thabari. Tarikh al-Umam wa al-Muluk.
Ath-Thabari. Jami' al-Bayan.
Al-Qurthubi. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an.
An-Nawawi. Syarh Shahih Muslim.
Al-Ghazali. Ihya' 'Ulum al-Din.
Wahbah az-Zuhaili. Tafsir al-Munir.
Hamka. Tafsir al-Azhar.
M.Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbah.
Syaikh Nawawi al-Bantani. Marah Labid.
Al-Majlisi. Bihar al-Anwar (sebagai rujukan perspektif Syiah).
Al-Kulaini. Al-Kafi (sebagai rujukan perspektif Syiah).