Sabtu, 27 Juni 2026

MENGENAL SHALATNYA


MENGENAL SHALAT: MAKNA, KHUSYU', HIKMAH, DAN IBRAHNYA

Shalat sebagai Jalan Menuju Kedekatan dengan Allah dan Kemuliaan Akhlak

Oleh: Ustadz Umar Fauzi


Shalat adalah ibadah yang paling utama setelah dua kalimat syahadat. Ia merupakan tiang agama, pembeda antara iman dan kekufuran, sarana sekaligus seorang hamba berkomunikasi langsung dengan Allah Swt. Tidak ada ibadah lain yang diwajibkan melalui peristiwa agung Isra' Mi'raj selain shalat. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan shalat dalam Islam.

Allah SWT berfirman:

«وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ»

“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43).¹

Menurut Imam ath-Ṭabari, yang dimaksud dengan mendirikan shalat bukanlah sekadar melaksanakan gerakan-gerakan lahiriah, tetapi menyempurnakan syarat, rukun, kekhusyukan, dan menjaga waktunya. Shalat yang ditegakkan dengan sempurna akan membentuk kepribadian seorang mukmin.²

Dalam bahasa Indonesia, kata shalat berarti doa. Dalam pengertian syariat, shalat adalah ibadah yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai tutunan Rasulullah ﷺ. Namun, makna shalat jauh lebih luas daripada sekadar rangkaian bacaan dan gerakan. Shalat merupakan pendidikan jiwa yang dilakukan lima kali sehari agar manusia tidak jauh dari Rabb-nya.

Allah berfirman:

«إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا»

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa' [4]: ​​103).³

Quraish Shihab menjelaskan bahwa waktu-waktu shalat mendidik manusia agar hidup disiplin, menghargai waktu, serta tidak larut dalam urusan dunia hingga melupakan akhirat.⁴

Salah satu tujuan shalat terbesar adalah melahirkan kekhusyukan. Allah bahkan membuka Surat Al-Mu'minun dengan menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman yang beruntung adalah mereka yang khusyuk dalam shalatnya.

«قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ»

“Sungguh beruntungnya orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu'minun [23]: 1–2).⁵

Imam al-Qurthubi menerangkan bahwa khusyuk bukan hanya menundukkan kepala atau memejamkan mata, melainkan hadirnya hati, rasa takut, cinta, dan pengagungan kepada Allah sehingga seluruh anggota badan ikut tunduk.⁶

Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulum ad-Din menjelaskan bahwa khusyuk lahir dari ma'rifat, yakni semakin seseorang mengenal Allah, semakin kecil dunia dalam berkumpul ketika berdiri menghadap-Nya.⁷

Oleh karena itu, shalat sejatinya adalah dialog antara seorang hamba dengan Allah. Dalam hadis qudsi Rasulullah ﷺ bersabda:

«قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ...»

“Aku membagi shalat (al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian.” (HR.Muslim).

Setiap ayat al-Fatihah dijawab langsung oleh Allah. Ketika seorang hamba membaca Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin, Allah berfirman, "Hamba-Ku telah memuji-Ku." Maka, membaca al-Fatihah dengan tergesa-gesa tanpa menghadirkan hati berarti kehilangan kenikmatan dialog tersebut.

Shalat juga merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Firman-Nya:

«وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ»

“Bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah.” (QS. Al-'Alaq [96]: 19).⁸

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ»

“Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud.” (HR.Muslim).

Menurut Ibnu Katsir, ayat tersebut menunjukkan bahwa sujud adalah puncak ketundukan seorang manusia kepada Allah. Di saat itulah kesombongan luluh dan doa-doa paling mudah dikabulkan.⁹

Selain bernilai spiritual, setiap gerakan shalat mengandung hikmah yang mendalam. Takbiratul ihram mengajarkan meninggalkan seluruh urusan dunia. Rukuk melatih kerendahan hati. I'tidal mengajarkan keseimbangan. Sujud menghapus kesombongan. Salam mengingatkan bahwa ibadah harus melahirkan kedamaian bagi sesama.

Buya Hamka menjelaskan bahwa shalat bukan hanya mendidik hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesamanya. Orang yang rajin shalat namun masih gemar berdusta, berkhianat, dan menyakiti orang lain berarti belum menangkap ruh shalat itu sendiri.¹⁰

Al-Qur'an menegaskan:

«إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ»

“Sholat sejati mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-'Ankabut [29]: 45).¹¹

Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran berhasilnya shalat tidak hanya dilihat dari lamanya berdiri atau indahnya bacaan, tetapi dari perubahan akhlak setelah selesai shalat. Jika seseorang masih mudah memfitnah, korupsi, berlaku zalim, atau menyebarkan kebencian, maka ia perlu memperbaiki kualitas shalatnya.

Lalu kenapa banyak orang shalat tapi belum merasakan ketenangan? Para ulama menjelaskan beberapa penyebab hilangnya kekhusyukan, di antaranya hati yang terlalu sibuk dengan urusan dunia, kurang memahami makna bacaan shalat, terburu-buru dalam melaksanakan shalat, serta banyaknya dosa yang belum ditaubati.

Sebaliknya, kekhusyukan akan tumbuh ketika seseorang menjaga kehalalan rezeki, memahami bacaan shalat, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur'an, menjaga wudhu, dan menyadari bahwa setiap shalat bisa jadi merupakan shalat terakhir dalam hidupnya.

Bagi seorang mukmin, shalat bukan beban, melainkan kebutuhan. Ketika hati gelisah, shalat menjadi penenang. Ketika rezeki sempit, shalat menjadi tempat permohonan pertolongan. Ketika mendapat nikmat, shalat menjadi wujud syukur. Bahkan ketika menghadapi musikbah, Rasulullah ﷺ selalu kembali kepada shalat.

Pada akhirnya, shalat bukan sekadar kewajiban harian, tetapi perjalanan ruh menuju Allah. Ia membentuk pribadi yang jujur, amanah, disiplin, rendah hati, serta peduli kepada sesama. Semakin baik kualitas shalat seseorang, semakin baik pula akhlak dan kehidupannya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat, merasakan kekhusyukan, serta memperoleh keberkahan dan keselamatan di dunia maupun akhirat.

«رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ»

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim [14]: 40).


Catatan Kaki:

1. QS. Al-Baqarah [2]: 43.

2. Ath-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 1, hlm. 559.

3. QS. An-Nisa' [4]: ​​103.

4. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 2, hlm. 640.

5. QS. Al-Mu'minun [23]: 1–2.

6. Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, Juz 12, hlm. 97.

7. Al-Ghazali, Iḥyā' 'Ulūm ad-Dīn, Juz 1, hlm. 153–167.

8. QS. Al-'Alaq [96]: 19.

9. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Juz 8, hlm. 452.

10. Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 6, hlm. 412.

11. QS. Al-'Ankabut [29]: 45.

READ MORE - MENGENAL SHALATNYA

Jumat, 26 Juni 2026

DIBALIK UJIAN...


RAHMAT ALLAH DALAM KEHIDUPAN: HIKMAH DI BALIK SEHAT, SAKIT, KAYA, MISKIN...

Oleh: Pengamat Dakwah


Pendahuluan

Allah SWT. adalah Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm, Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Seluruh kehidupan manusia berada dalam lingkup rahmat-Nya. Rahmat Allah tidak selalu tampak dalam bentuk kenikmatan yang menyenangkan, tetapi juga dapat hadir melalui ujian yang mendidik keimanan. Sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, serta berbagai musibah merupakan bagian dari sunnatullah yang mengandung hikmah bagi orang-orang yang beriman.

Allah berfirman:

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A'raf [7]: 156)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa rahmat Allah meliputi seluruh makhluk di dunia, sedangkan rahmat yang sempurna diberikan kepada orang-orang yang bertakwa di akhirat.¹


Sehat sebagai Nikmat yang Harus Disyukuri

Kesehatan merupakan kenikmatan besar yang sering terlupakan. Dengan tubuh yang sehat, manusia mampu beribadah, bekerja, menuntut ilmu, dan memberi manfaat kepada sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

_"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang."_²

Syukur atas kesehatan diwujudkan dengan menjaga pola hidup yang baik, menghindari hal-hal yang membahayakan diri, serta menggunakan kesehatan untuk memperbanyak amal saleh.³


Sakit sebagai Menghapus yang Menghapus Dosa

Sakit bukanlah tanda kebencian kepada Allah. Sebaliknya, bagi orang yang beriman, sakit dapat menjadi sarana penghapus dosa dan peningkat derajat jika dihadapkan dengan sabar.

Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ...

“Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar…” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidaklah seorang mukmin ditimpa penyakit melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya.⁴ Oleh karena itu, seorang muslim diperintahkan bersabar, berobat, dan tetap berikhtiar karena Allah juga menurunkan obat bagi setiap penyakit.⁵


Kaya dan Miskin Sama-sama Ujian

Harta bukan ukuran kemuliaan seseorang. Orang kaya diuji dengan amanah hartanya, sedangkan orang miskin diuji dengan kesabaran dan ikhtiarnya.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Al-Qur'an juga memerintahkan agar harta dimanfaatkan untuk mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan kehidupan dunia.⁶

Oleh karena itu, orang kaya hendaknya gemar berinfak dan bersedekah, sedangkan orang yang hidup sederhana tetap bekerja keras, menjaga kehormatan diri, dan tidak putus asa dari rahmat Allah.


Musibah Mengandung Hikmah

Tidak ada musik yang terjadi di luar pengetahuan dan kehendak Allah. Musibah mengajarkan kesabaran, introspeksi, memperkuat tawakal, dan meningkatkan kepedulian sosial.

Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Tidak ada suatu musik pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun [64]: 11)

Musik tidak boleh menjadikan seseorang memutuskan asa. Sebaliknya, musibah harus mendorong lahirnya ikhtiar, doa, serta semangat memperbaiki diri dan membantu sesama.


Penutup

Rahmat Allah hadir dalam seluruh keadaan kehidupan. Sehat mendorong rasa syukur, sakit melatih kesabaran, kaya menguji amanah, miskin mengajarkan qana'ah dan kerja keras, sedangkan musibah menjadi sarana muhasabah dan peningkatan keimanan.

Seorang mukmin memandang seluruh ketentuan Allah dengan penuh keyakinan, bahwa setiap peristiwa mengandung hikmah bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.


Catatan Kaki:

Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Jil. 3 (Riyadh: Dar Tayyibah, 1999), hlm. 521.

Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, no. 6412.

M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jil. 5 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 341.

Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 5641; Muslim, Shahih Muslim, no. 2573.

Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 3855.

Abu Ja'far al-Tabari, Jami' al-Bayan, Jil. 19 (Beirut: Mu'assasah al-Risalah, 2000), hlm. 602–604.

READ MORE - DIBALIK UJIAN...

KEMUNAFIKAN


Kemunafikan Zaman Now: Ketika Kata-kata Tidak Lagi Sejalan dengan Perbuatan

Oleh: Pengamat Dakwah


Ketika Ucapan Kehilangan Makna

Salah satu penyakit moral yang paling keras dikecam Al-Qur'an adalah ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan. Islam mengajarkan bahwa integritas merupakan ciri utama seorang mukmin. Sebaliknya, ketika seseorang gemar berbicara tentang kebaikan namun enggan mengamalkannya, ia telah membuka pintu menuju sifat kemunafikan.

Allah SWT berfirman:

«يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٢ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٣»

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff [61]: 2–3).¹

Ayat ini bukan hanya teguran kepada para pendakwah, pemimpin, atau tokoh masyarakat. Ia merupakan peringatan bagi setiap Muslim agar menjadikan amal sebagai bukti dari ucapan. Sebab, kejujuran tidak hanya diukur dari lisan, tetapi juga dari konsistensi tindakan.


Nabi Mengingatkan Datangnya Zaman Penuh Kepalsuan

Rasulullah SAW telah menggambarkan akan datang suatu masa ketika ukuran kebenaran menjadi kabur.

Beliau bersabda:

«سيأتي على الناس سنوات خداعات، يصدق فيها الكاذب، ويكذب فيها الصادق، ويؤتمن فيها الخائن، ويخوّن فيها الأمين، وينطق فيها الرويبضة...»

"Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya; pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang amanah dianggap pengkhianat, dan berbicaralah orang-orang bodoh mengenai urusan publik." (HR. Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Al-Albani).²

Hadis tersebut terasa sangat relevan dengan kehidupan modern. Arus informasi yang begitu cepat sering kali membuat kebohongan lebih mudah dipercaya daripada kebenaran. Popularitas kerap mengalahkan integritas, sementara pencitraan lebih dihargai daripada keteladanan.


Kemunafikan Dulu dan Sekarang

Pada masa Rasulullah SAW, kaum munafik memiliki motif politik dan kekuasaan. Tokoh seperti Abdullah bin Ubay bin Salul menampakkan keislaman demi mempertahankan pengaruh di tengah masyarakat Madinah. Mereka menyusup ke dalam barisan kaum Muslimin untuk melemahkan persatuan dari dalam.³

Kini bentuknya jauh lebih kompleks. Kemunafikan tidak selalu tampil dalam penolakan terhadap Islam secara terang-terangan, tetapi justru bersembunyi di balik simbol-simbol agama. Ada yang rajin menampilkan citra religius, namun tidak segan melakukan korupsi, manipulasi, menyebarkan fitnah, mengingkari janji, bahkan mengkhianati amanah.

Dalam dunia politik, agama terkadang dijadikan alat meraih suara. Dalam dunia bisnis, simbol kesalehan dipakai untuk membangun kepercayaan konsumen tanpa diiringi etika yang benar. Bahkan di media sosial, sebagian orang berlomba menampilkan kesalehan digital, tetapi kehidupan nyata justru bertolak belakang.


Mengapa Kemunafikan Modern Lebih Sulit Dikenali?

Jika pada masa Rasulullah SAW kemunafikan dapat diketahui melalui bimbingan wahyu, maka pada zaman sekarang manusia tidak memiliki kemampuan tersebut. Karena itu, Islam mengajarkan agar tidak mudah menghakimi hati seseorang, tetapi tetap waspada terhadap tanda-tanda lahiriah yang telah dijelaskan syariat.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penyakit hati sering kali tumbuh perlahan melalui kecintaan yang berlebihan kepada dunia, sehingga seseorang terbiasa menampilkan sesuatu yang berbeda dengan isi hatinya.⁴

Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS. Ash-Shaff ayat 2–3 juga menegaskan bahwa ayat ini merupakan celaan keras terhadap siapa saja yang menjanjikan kebaikan tetapi tidak melaksanakannya.⁵


Membangun Integritas

Al-Qur'an tidak hanya mengecam kemunafikan, tetapi juga menawarkan jalan keluarnya, yaitu kejujuran (ṣidq), amanah, dan kesesuaian antara ucapan dengan amal.

Masyarakat akan kembali sehat apabila para pemimpin menepati janji, para ulama mengamalkan ilmunya, para pedagang berlaku jujur, para pendidik menjadi teladan, dan setiap individu menjadikan Allah sebagai pengawas utama dalam seluruh aktivitasnya.

Pada akhirnya, kemunafikan bukan sekadar persoalan identitas agama, melainkan krisis integritas. Sebab, siapa pun dapat terjerumus ke dalamnya apabila lebih mencintai pujian manusia daripada penilaian Allah SWT.

Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari sifat-sifat munafik, menjadikan lisan kita sejalan dengan perbuatan, serta mengaruniakan keikhlasan dalam setiap amal. Aamiin.


Catatan Kaki

1. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Ash-Shaff [61]: 2–3.

2. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, No. 4036; Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Ibnu Majah, No. 3277.

3. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jilid 2; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Jilid 4.

4. Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Kitab Riyadhah an-Nafs.

5. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Ash-Shaff ayat 2–3.

READ MORE - KEMUNAFIKAN

Kamis, 25 Juni 2026

BERHIJRAH


Mengakhiri Hijrah Adalah Peningkatan Taqwa

Oleh: Pengamat Dakwah


Hijrah merupakan salah satu kata yang paling sering terdengar dalam kehidupan umat Islam. Sebagian orang memaknainya sebagai perubahan penampilan, sebagian lagi memahaminya sebagai perpindahan dari lingkungan yang buruk menuju lingkungan yang lebih baik. Ada pula yang menganggap hijrah sebagai titik balik kehidupan setelah sekian lama terjebak dalam dosa dan kelalaian.

Namun hakikatnya, Islam mengajarkan bahwa hijrah bukanlah tujuan akhir. Hijrah adalah jalan, sedangkan tujuan akhirnya adalah takwa kepada Allah SWT.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa sepanjang perjalanan spiritual manusia bermuara pada ketakwaan. Allah berfirman:

«"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali 'Imran : 102).¹»

Ayat ini menunjukkan bahwa orientasi hidup seorang mukmin bukan sekedar perubahan lahiriah, tetapi peningkatan kualitas hubungan dengan Allah SWT.

Dalam sejarah Islam, hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah tidak hanya berpindah secara geografis. Hijrah tersebut merupakan langkah besar untuk membangun masyarakat yang beriman, berakhlak, dan bertakwa. Oleh karena itu, keberhasilan hijrah tidak diukur dari sejauh mana seseorang berpindah tempat, melainkan sejauh mana ia mendekati Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah."²»

Hadis ini memperluas makna hijrah. Seorang yang meninggalkan rahasia menuju kejujuran telah berhijrah. Orang yang meninggalkan korupsi menuju amanah juga sedang berhijrah. Begitu pula seseorang yang meninggalkan kesombongan menuju rendahan hati.


Hijrah Bukan Sekadar Simbol

Di era modern, fenomena hijrah sering kali identik dengan perubahan simbol-simbol keagamaan. Padahal para ulama mengingatkan bahwa simbol hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang menuju Allah.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa hijrah adalah proses meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi seseorang mendekat kepada Allah.³ Oleh karena itu, perubahan pakaian tanpa perubahan akhlak belum dapat disebut sebagai kesempurnaan hijrah.

Seseorang mungkin rajin menghadiri kajian, tetapi masih gemar memfitnah orang lain. Ada pula yang aktif mengutip ayat dan hadis di media sosial, namun masih menyimpan kebencian dan dendam di dalam hati. Kondisi semacam ini menunjukkan bahwa perjalanan hijrahnya belum selesai.

Hijrah yang sejati harus terlihat dalam perilaku sehari-hari. Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin lembut tutur katanya, semakin jujur ​​sikapnya, dan semakin besar manfaatnya bagi sesama.


Taqwa Sebagai Buah Hijrah

Allah SWT berfirman:

«"Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah : 21).⁴»

Menurut Imam Al-Qurthubi, tujuan seluruh bentuk ibadah adalah melahirkan ketakwaan dalam diri manusia.⁵

Oleh karena itu, setiap bentuk hijrah seharusnya menghasilkan peningkatan ketakwaan. Jika seseorang berhijrah tetapi masih ringan melakukan dosa, masih gemar menyakiti orang lain, dan masih jauh dari kebenaran, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam proses hijrahnya.

Taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah. Taqwa adalah kesadaran yang terus-menerus bahwa Allah melihat, mendengar, dan mengetahui segala perbuatan manusia. Kesadaran inilah yang mendorong seseorang untuk selalu berbuat baik, meskipun tidak ada manusia yang menyaksikan.


Pandangan Ulama Klasik

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kaum Muhajirin memperoleh kedudukan mulia karena mereka rela meninggalkan segala yang dicintai demi meraih ridha Allah.⁶ Mereka tidak berhijrah demi kekuasaan atau keuntungan dunia, tetapi demi mempertahankan iman dan ketakwaan.

Sementara itu, Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa hakikat hijrah adalah perpindahan hati dari kecintaan ke dunia menuju kecintaan kepada Allah SWT.⁷

Pandangan para ulama ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan hijrah bukanlah jumlah pengikut, luasnya pengaruh, atau tinggi popularitas seseorang. Ukuran utamanya adalah kualitas ketakwaan yang tumbuh dalam dirinya.


Hijrah Menurut Kaum Sufi

Para ulama tasawuf memberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang makna hijrah.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hijrah terbesar adalah meninggalkan hawa nafsu yang menghalangi seseorang menuju Allah.⁸ Menurut beliau, musuh yang paling berat bukanlah orang lain, melainkan nafsu yang ada di dalam diri sendiri.

Oleh karena itu, seseorang yang mampu meninggalkan kesombongan sebenarnya sedang melakukan hijrah yang besar. Demikian pula orang yang mampu meninggalkan riya, hasad, dan cinta dunia yang berlebihan.

Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari mengingatkan bahwa perpindahan dari satu keadaan ke keadaan lain belum tentu disebut hijrah apabila tidak mendekatkan diri kepada Allah.⁹

Pesan ini sangat relevan pada zaman sekarang. Banyak orang yang berubah secara lahiriah, namun belum mengalami perubahan hati. Padahal hati adalah pusat ketakwaan.


Tanda-Tanda Hijrah yang Berhasil

Bagaimana mengetahui bahwa hijrah kita berada di jalan yang benar?

Al-Qur'an memberikan definisinya:

«"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat : 13).¹⁰»

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kemuliaan seorang Muslim ditentukan oleh ketakwaannya.


Ada beberapa tanda hijrah yang berhasil.

Pertama, semakin rajin beribadah dan semakin mencintai kebaikan.

Kedua, semakin jujur ​​dan dapat dipercaya.

Ketiga, semakin rendah hati serta tidak mudah menyalahkan orang lain.

Keempat, semakin peduli kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat.

Kelima, semakin takut melakukan dosa meskipun tidak ada yang melihatnya.

Jika tanda-tanda ini mulai tumbuh, maka hijrah sedang bergerak menuju tujuan yang benar.


Hijrah yang Membawa Keberkahan

Sejarah para nabi menunjukkan bahwa setiap hijrah yang dilakukan karena Allah akan menghasilkan keberkahan.

Hijrah Nabi Ibrahim AS melahirkan generasi para nabi. Hijrah Nabi Muhammad ﷺ melahirkan peradaban Islam yang mewakili dunia. Demikian pula hijrah setiap mukmin akan melahirkan keberkahan bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungannya apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas.

Oleh karena itu, jangan pernah berhenti berhijrah. Jangan merasa cukup hanya karena sudah berubah penampilan atau lingkungan pergaulan. Hijrah adalah perjalanan sepanjang hayat.

Setiap hari seorang mukmin harus berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari dosa menuju taubat.

Pada akhirnya, keberhasilan hijrah tidak diukur oleh manusia, tetapi oleh Allah SWT. Jika setelah hijrah hati semakin lembut, ibadah semakin baik, akhlak semakin mulia, dan rasa takut kepada Allah semakin kuat, maka itulah tanda bahwa hijrah telah mencapai tujuan utamanya.

Sebab sejatinya, mengakhiri hijrah bukanlah popularitas, bukan pujian manusia, bukan pula kemegahan dunia. Mengakhiri hijrah adalah meningkatnya ketakwaan kepada Allah SWT.


Catatan Kaki:

1. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Ali 'Imran [3]:102.

2. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, No.6484.

3. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, Jilid 2, hlm. 68.

4. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Al-Baqarah [2]:21.

5. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Juz 1, hlm. 225.

6. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Beirut: Dar Thayyibah, Juz 1, hlm. 311.

7. Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-'Arabi, Juz 4, hlm. 87.

8. Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, Beirut: Dar al-Ma'rifah, Juz 3, hlm. 67.

9. Ibnu 'Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam al-'Athaiyyah, Hikmah ke-28.

10. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Al-Hujurat [49]:13.

READ MORE - BERHIJRAH

Selasa, 23 Juni 2026

WASPADA KEJAHATAN !


Korupsi dan Kebohongan: Racun yang Menggerogoti Keluarga dan Bangsa

Oleh: Pengamat Dakwah


Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, ilusi dan gambaran masih menjadi dua penyakit sosial yang paling sulit diberantas. Keduanya tidak hanya merugikan negara secara materiil, namun juga merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Lebih dari itu, korupsi dan debu menghancurkan karakter manusia, meretakkan hubungan keluarga, serta menggerogoti kepercayaan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

Islam memandang kedua perbuatan tersebut sebagai dosa besar. Korupsi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah, sedangkan ringkasan merupakan salah satu ciri kemunafikan. Karena itu Al-Qur'an dan hadis memberikan peringatan keras agar manusia menjauhinya.

Allah SWT berfirman:

«إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang menerimanya.” (QS. an-Nisa': 58)»

Ayat ini menegaskan bahwa amanah merupakan fondasi kehidupan. Ketika amanah dijaga, lahirlah keadilan dan keberkahan. Sebaliknya, ketika amanah dikhianati, kerusakan akan menyebar ke berbagai aspek kehidupan.


Korupsi: Mengambil yang Bukan Haknya

Dalam khazanah Islam, korupsi dekat dengan istilah ghulul (penggelapan), khianat, dan riswah (suap). Meski istilah korupsi dalam bentuk modern belum dikenal pada masa awal Islam, substansi perbuatannya telah dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur'an dan hadis.

Allah SWT berfirman:

«وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS. al-Baqarah: 188)»

Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini mencakup seluruh bentuk perampasan hak orang lain, baik melalui penipuan, suap, manipulasi hukum, maupun pembatasan kekuasaan. Semua bentuk pengambilan harta yang tidak sah termasuk dalam kategori memakan harta secara batil.

Korupsi sering kali dipandang sebagai pelanggaran hukum administrasi atau keuangan. Padahal dampaknya jauh lebih besar. Korupsi adalah kejahatan moral yang menghancurkan rasa keadilan. Ketika seseorang mengambil hak publik untuk kepentingan pribadi, pada saat yang sama ia telah merampas hak rakyat yang membutuhkan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa harta yang diperoleh secara haram tidak akan membawa ketenangan jiwa. Mungkin secara lahirnya tampak berlimpah, namun keberkahannya hilang. Harta semacam itu justru menjadi sumber kegelisahan dan malapetaka.


Kebohongan: Pintu Masuk Berbagai Kerusakan

Jika korupsi merusak keadilan, maka dokumenter merusak kepercayaan. Padahal kepercayaan adalah modal utama dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sejujurnya kejujuran membawa kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Sedangkan dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)»

Hadis ini menunjukkan bahwa kejujuran bukan hanya sekedar persoalan etika, tetapi juga jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Sebaliknya, dusta merupakan awal dari berbagai penyimpangan.

Dalam hadis lain Rasulullah Saw bersabda:

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan bila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)»

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kisahnya menjadi akar dari banyak dosa lainnya. Seseorang yang terbiasa berdusta akan mudah tertipu, memfitnah, bertahan hidup, bahkan melakukan kezaliman yang lebih besar.

Di era digital saat ini, bahaya gambaran semakin nyata. Berita palsu, fitnah, dan informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Banyak konflik sosial bahkan permusuhan antarkelompok bermula dari informasi yang tidak benar.

Oleh karena itu Allah Swt mengingatkan:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. al-Hujurat : 6)»

Ayat ini menjadi landasan penting dalam membangun budaya tabayyun dan literasi informasi di tengah derasnya arus media sosial.


Ketika Korupsi Masuk ke Dalam Rumah

Sering kali orang berpikir bahwa korupsi hanya berdampak pada negara. Padahal dampak pertama yang dirasakan justru oleh keluarga pelakunya sendiri.

Harta yang diperoleh secara haram tidak membawa ketenteraman. Rasulullah Saw bersabda:

“Setiap daging yang tumbuh dari barang haram maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. Tirmidzi)»

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa makanan dan harta haram akan menggelapkan hati serta menghalangi seseorang dari ketaatan kepada Allah. Keberkahan hidup perlahan hilang meskipun secara material tampak berkecukupan.

Banyak keluarga yang terlihat mewah, namun dipenuhi kegelisahan. Konflik rumah tangga meningkat, anak-anak kehilangan teladan, dan nama baik keluarga tercoreng ketika praktik korupsi terbongkar.

Yang lebih berbahaya, anak-anak dapat tumbuh dengan pola pikir bahwa kesuksesan dapat diraih melalui cara apa pun, termasuk dengan menipu dan menyalahgunakan kekuasaan. Ketika nilai kejujuran hilang dari rumah, maka generasi yang lahir pun berisiko kehilangan integritas.

Allah SWT berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. at-Tahrim : 6)»

Menjaga keluarga dari api neraka bukan hanya dengan mengajarkan ibadah, tetapi juga memastikan bahwa nafkah yang diberikan berasal dari sumber yang halal dan bersih.


Kebohongan Menghancurkan Kehangatan Keluarga

Keluarga dibangun di atas rasa percaya. Ketika kejujurannya hilang, fondasi rumah tangga mulai rapuh.

Banyak pertengkaran rumah tangga yang bermula dari hal-hal kecil yang dianggap remeh. Menyembunyikan kondisi keuangan, mengingkari janji, atau tidak terbuka dalam berbagai urusan dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari perilaku orang tua. Jika orang tua terbiasa berkata tidak jujur, anak-anak akan menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang lumrah.

Akibatnya, kebiasaan buruk tersebut terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Oleh karena itu para ulama menegaskan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari keteladanan. Kejujuran yang dipraktikkan dalam keluarga akan melahirkan generasi yang memiliki integritas dan tanggung jawab.


Korupsi dan Kemunduran Bangsa

Tidak ada bangsa yang maju jika korupsi menjadi budaya. Korupsi menggerogoti sumber daya negara, menghambat pembangunan, dan memperlebar jurang ketimpangan sosial.

Dana yang seharusnya digunakan untuk sekolah, rumah sakit, jalan, serta pelayanan publik malah dinikmati oleh segelintir orang. Akibatnya masyarakat miskin semakin tertinggal, sementara kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah terus menurun.

Allah SWT berfirman:

«كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. al-Hasyr: 7)»

Ayat ini mengandung prinsip keadilan ekonomi. Islam menghendaki distribusi kesejahteraan yang merata, bukan menghendaki kekayaan melalui jalan yang zalim.

Sayyid Quthb menjelaskan bahwa keadilan sosial merupakan salah satu tujuan utama syariat. Ketika korupsi merajalela, tujuan tersebut menjadi sulit terwujud karena hak-hak masyarakat banyak dirampas oleh segelintir orang.

Korupsi juga merusak citra bangsa di mata dunia. Investor kehilangan kepercayaan, pelayanan publik memburuk, dan daya saing negara menurun.


Hoaks dan Dusta Mengancam Persatuan

Selain ilusi, pengungkapan publik juga menjadi ancaman serius bagi kehidupan berbangsa.

Hoaks, fitnah, dan kebencian dapat memecah belah persaudaraan yang selama ini terjalin dengan baik. Masyarakat menjadi mudah curiga dan saling bermusuhan hanya karena informasi yang belum tentu benar.

Allah SWT berfirman:

«إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sejujurnya orang-orang yang suka berbuat perbuatan keji di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih.” (QS. an-Nur : 19)»

Menurut Prof. Quraish Shihab, penyebaran informasi bohong yang merusak kehormatan orang lain termasuk bentuk kerusakan sosial yang sangat berbahaya karena menghancurkan persaudaraan dan ketenteraman masyarakat.

Bangsa yang kehilangan kepercayaan akan sulit berkembang. Sebab pembangunan tidak hanya memerlukan modal ekonomi, tetapi juga modal sosial berupa kejujuran dan saling percaya.


Jalan Keluar Menurut Islam

Islam tidak hanya melarang doktrin dan doktrin, tetapi juga menawarkan solusi untuk mencegah keduanya.

Pertama, memperkuat iman dan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan manusia.

Kedua, mengajarkan kejujuran pendidikan sejak usia dini, baik di rumah maupun di sekolah.

Ketiga, menegakkan hukum secara adil tanpa membedakan status sosial.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangan.” (HR.Bukhari)»

Keempat, memilih pemimpin yang amanah dan memiliki integritas.

Kelima, membudayakan tabayyun dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Jika prinsip lima ini dijalankan, maka masyarakat akan memiliki benteng moral yang kuat untuk menghadapi berbagai bentuk penyimpangan.


Penutup

Korupsi dan ringkasan adalah dua racun yang perlahan menghancurkan kehidupan manusia. Korupsi merusak amanah, sedangkan merusak kepercayaan. Keduanya menghancurkan keluarga, meningkatkan masyarakat, dan menghambat kemajuan bangsa.

Islam mengajarkan bahwa amanah, kejujuran, dan keadilan merupakan landasan utama kehidupan. Ketika nilai-nilai tersebut dijaga, lahirlah keluarga yang tenteram, masyarakat yang harmonis, dan bangsa yang kuat.

Sebaliknya, jika korupsi dan dusta terus dibiarkan, maka kerusakan moral akan semakin meluas dan masa depan bangsa menjadi taruhannya.

Wallāhu a'lam bi al-shawāb.

Manfaat. Aamiin


Referensi

Al-Qur'an al-Karim.

Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas.

Imam an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim.

Imam al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin.

Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an.

M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah.

READ MORE - WASPADA KEJAHATAN !

ZAMAN EDAN


Antara Kecurangan dan Dendam: Tetap Mendoakan yang Terbaik di Tengah "Zaman Edan"

Oleh: Ustadz Umar Fauzi


Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, banyak orang merasa hidup pada masa yang oleh pujangga Jawa Ranggawarsita disebut sebagai zaman edan. Sebuah masa ketika kejujuran sering dianggap buruk, amanah dianggap sebagai beban, dan keadaan seolah-olah menjadi jalan tercepat menuju keuntungan. Dalam suasana seperti ini, tidak sedikit orang baik yang menjadi korban fitnah, pengkhianatan, atau perlakuan tidak adil. Akibatnya, lahirlah rasa kecewa yang berkembang menjadi balas dendam.

Islam mengajarkan bahwa kebencian dan balas dendam sama-sama berbahaya. Kecurangan merusak kehidupan sosial, sedangkan balas dendam merusak kehidupan spiritual. Oleh karena itu, seorang mukmin dituntut untuk tetap menjaga hati, memegang prinsip kebenaran, dan terus mendoakan yang terbaik meskipun menghadapi perlakuan yang menyakitkan.

Allah SWT berfirman:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ۝ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain permintaannya terpenuhi, tetapi bila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, maka mereka mengurangi. (QS. Al-Muṭaffifin : 1-3).

Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini tidak hanya berbicara tentang timbangan dalam perdagangan, tetapi mencakup seluruh bentuk pengurangan hak orang lain. Kecurangan dapat terjadi dalam jabatan, pekerjaan, pendidikan, bahkan dalam hubungan sosial sehari-hari.¹

Pada era modern, bentuk kondisi semakin beragam. Ada manipulasi data, propaganda, korupsi, penyebaran hoaks, hingga pengkhianatan terhadap amanah publik. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa pesan Al-Qur'an mengenai kondisi memiliki cakupan yang sangat luas karena pada hakikatnya semua bentuk pengurangan hak orang lain merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai keadilan.²

Namun persoalan sering kali tidak berhenti pada kondisi. Keadaan korban sering menyimpan luka yang mendalam. Dari luka tersebut tumbuh kebencian dan dendam. Jika tidak dikelola dengan baik, balas dendam dapat berubah menjadi tindakan yang sama buruknya dengan imbalan yang pernah diterima.

Oleh karena itu Allah SWT mengingatkan:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum yang mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Mā'idah : 8).

Ayat ini mengajarkan bahwa kebencian tidak dapat menghilangkan keadilan. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa seorang muslim tetap wajib berlaku adil meskipun kepada orang yang pernah menyakitinya.³ Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh emosi.

Dalam perspektif tasawuf, dendam dipandang sebagai penyakit hati yang sangat berbahaya. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa dendam merupakan bara api yang tersimpan di dalam jiwa. Bara itu tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi terlebih dahulu membakar ketenangan batin pemiliknya.⁴ Oleh karena itu, semakin lama seseorang memelihara balas dendam, semakin berat pula beban hidup yang dipikulnya.

Di akhir Islam menawarkan jalan yang lebih mulia, yaitu mendoakan kebaikan. Mungkin terasa sulit, tetapi inilah karakter orang-orang beriman yang dijelaskan Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا

Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al-Hasyr : 10).

Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah membersihkan hati dari kebencian terhadap sesama mukmin. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa doa tersebut menjadi tanda kemuliaan hati dan kesempurnaan iman.⁵

Mendoakan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan juga bukan berarti menghapus keadilan. Islam tetap memberikan ruang untuk menuntut hak secara benar dan proporsional. Namun hati tidak boleh menahan dendam yang berkepanjangan. Orang menyerahkan urusan akhir kepada Allah Yang Maha Adil.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai orang-orang yang tetap berbuat baik meskipun dicaci, tetap membantu meskipun pernah disakiti, dan tetap mendoakan meskipun pernah dikhianati. Sikap seperti ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan spiritual yang lahir dari keyakinan bahwa Allah melihat segala sesuatu.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari kemampuannya membalas kejahatan, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri ketika memiliki kesempatan untuk membalas.⁶

Sikap inilah yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang. Ketika fitnah mudah menyebar melalui media sosial, ketika kebencian sering dipelihara demi kepentingan kelompok, dan ketika keadaan terkadang dianggap lumrah, seorang muslim harus tampil sebagai pembawa kesejukan.

Allah SWT berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَأَحْسَنُ

"Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik." (QS. Fuṣṣilat : 34).

Menurut para mufasir, membalas keburukan dengan kebaikan bukan hanya memperbaiki hubungan antar manusia, tetapi juga membuka pintu pertolongan Allah. Ketika manusia memilih jalan kesabaran, Allah akan menghadirkan jalan keluar yang tidak pernah disangka-sangka.

Rasulullah SAW bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ

"Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran." (HR Ahmad).

Hadis ini mengandung pesan yang sangat dalam. Banyak orang mengira kemenangan harus diraih melalui kemarahan, balas dendam, atau tindakan yang keras. Padahal sering kali kemenangan sejati justru hadir melalui kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan menjaga prinsip.

Di tengah "zaman edan", orang beriman memang menghadapi ujian yang tidak ringan. Namun sejarah menunjukkan bahwa kejujuran selalu memiliki cahaya, kesabaran selalu memiliki jalan keluar, dan doa selalu memiliki kekuatan yang tidak terlihat oleh mata manusia.

Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan, jangan ikut curang. Ketika menghadapi kebencian, jangan menanam dendam. Ketika menghadapi fitnah, jangan membalas dengan fitnah. Tetaplah menjadi pribadi yang menjaga iman, akhlak, dan doa.

Sebab boleh jadi pertolongan Allah tidak datang melalui kekuatan yang kita miliki, tetapi melalui ketulusan hati yang tetap mendoakan kebaikan bagi sesama. Di situlah letak kemenangan orang-orang yang beriman.

Manfaat. Aamiin


Referensi

1. Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān, Jil. 24, hlm. 197.

2. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jil. 15, hlm. 120.

3. Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, Jil. 6, hlm. 110.

4. Al-Ghazali, Ihyā' 'Ulum ad-Dīn, Jil. 3, hlm. 185.

5. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Jil. 8, hlm. 95.

6. Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jil. 3, hlm. 220.

READ MORE - ZAMAN EDAN

DAKWAH WALISONGO


DAKWAH ULAMA DAN WALISONGO: MENEGAKKAN TAUHID, MENOLONG UMAT, MENGOBATI MASYARAKAT, DAN MEMBANGUN BANGSA

Oleh: Pengamat Dakwah


Dakwah yang Membumi dan Mengakar

Ketika berbicara tentang dakwah Islam di Nusantara, nama Walisongo dan para ulama tidak dapat terlepas dari sejarah perkembangan masyarakat Indonesia. Mereka tidak hanya mengajarkan syahadat, shalat, dan puasa, tetapi juga hadir di tengah sebagai pendidik masyarakat, penolong, tabib, pemimpin sosial, bahkan penasihat politik.

Inilah yang membuat dakwah Islam di Nusantara berkembang dengan damai dan diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Dakwah tidak hadir sebagai ancaman, namun sebagai rahmat yang memberikan solusi bagi persoalan kehidupan.

Allah SWT berfirman:

 ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl : 125)

Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini menunjukkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan kebijaksanaan, kelembutan, dan cara yang dapat diterima masyarakat.^1


Tauhid Sebagai Pondasi Dakwah

Misi pertama para nabi dan ulama adalah menanamkan tauhid. Sebab, perbaikan masyarakat tidak akan kokoh tanpa fondasi akidah yang benar.

Allah berfirman:

 وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat rasul agar menyembah Allah dan menjauhi thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seluruh rasul membawa misi yang sama, yaitu mengajak manusia mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan.^2

Prinsip inilah yang dijalankan oleh Walisongo. Mereka mengubah keyakinan masyarakat secara bertahap, penuh hikmah, dan tanpa kekerasan. Sunan Ampel menanamkan dasar-dasar akidah, Sunan Bonang memperkenalkan nilai tauhid melalui seni, sedangkan Sunan Kalijaga menyampaikan ajaran Islam melalui budaya yang mudah dipahami masyarakat.

Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa tauhid merupakan pokok segala amal dan sumber keselamatan dunia serta akhirat.^3


Menolong Umat Sebagai Bagian Dakwah

Keberhasilan dakwah Walisongo tidak hanya terletak pada kemampuan berbicara, tetapi juga pada kepedulian mereka terhadap kebutuhan masyarakat.

Allah berfirman:

"Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan." (QS. Al-Ma'idah : 2)

Menurut Al-Qurthubi, ayat ini menjadi dasar kewajiban membangun solidaritas sosial dan membantu sesama dalam berbagai bentuk kebaikan.^4

Para wali membangun pesantren, mengembangkan pertanian, memperkuat perdagangan, serta membangun jaringan sosial yang membantu keluarnya masyarakat dari kesulitan hidup. Dakwah mereka menyentuh kebutuhan nyata rakyat.

Dalam perspektif tasawuf, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menegaskan bahwa menolong makhluk Allah merupakan salah satu jalan tercepat untuk mendapatkan pertolongan Allah.^5

Oleh karena itu, dakwah sejati tidak berhenti di mimbar, namun hadir dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi umat.

Mengobati Masyarakat, Menyembuhkan Hati

Selain mengajarkan agama, para ulama juga dikenal sebagai penyembuh berbagai permasalahan masyarakat. Mereka mengobati penyakit fisik sekaligus penyakit hati.

Allah berfirman:

 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Kami turunkan Al-Qur’an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Al-Isra' : 82)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-Qur'an menjadi obat bagi keraguan, kemunafikan, kesombongan, dan berbagai penyakit hati lainnya.^6

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menerangkan bahwa hati manusia dapat sakit karena riya', hasad, tamak, dan cinta dunia yang berlebihan. Oleh karena itu, manusia membutuhkan bimbingan ruhani agar jiwa sehat.^7

Dalam sejarah Nusantara, para wali sering menjadi tempat masyarakat meminta nasihat, doa, dan solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Mereka tidak hanya mengobati tubuh, tetapi juga memperbaiki moral dan spiritual masyarakat.


Dakwah Melalui Pendidikan dan Kebudayaan

Salah satu keunikan dakwah Walisongo adalah kemampuannya memanfaatkan pendidikan dan budaya sebagai sarana penyebaran Islam.

Allah berfirman:

 يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Menurut Fakhruddin Ar-Razi, ilmu merupakan sarana kemuliaan manusia dan jalan menuju kemajuan peradaban.^8

Melalui pesantren, majelis ilmu, seni, sastra, dan budaya, para wali berhasil membentuk masyarakat yang berakhlak dan berpengetahuan. Sunan Giri dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam, sementara Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam tanpa menimbulkan konflik sosial.

Sejarawan Prof. Azyumardi Azra menjelaskan bahwa keberhasilan Islam di Nusantara tidak lepas dari pendekatan ulama yang mampu menggabungkan dakwah, pendidikan, dan budaya secara harmonis.^9


Dakwah dan Politik Kebangsaan

Sebagian orang memahami politik sebagai sesuatu yang terpisah dari dakwah. Padahal dalam sejarah Islam, politik merupakan salah satu instrumen untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat.

Allah berfirman:

الَّذِينَ إِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَآتَوُا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ

“Orang-orang yang apabila Kami diberi kekuasaan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Al-Hajj : 41)

Ath-Thabari menjelaskan bahwa kekuasaan merupakan amanah yang harus digunakan untuk menegakkan keadilan dan kemaslahatan umat.^10

Dalam sejarah Nusantara, para wali tidak menjadikan politik sebagai sarana mencari kekuasaan pribadi. Mereka hadir sebagai penasihat kerajaan, pembimbing penguasa, dan penjaga moral masyarakat.

Sunan Gunung Jati berperan dalam Kesultanan Cirebon, sementara Sunan Giri memiliki pengaruh besar dalam urusan sosial-politik masyarakat Jawa. Mereka menunjukkan bahwa ulama dan umara dapat bersinergi untuk membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.


Warisan Dakwah yang Tetap Relevan

Jejak dakwah Walisongo kemudian dilanjutkan oleh para ulama Nusantara seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Dahlan, Buya Hamka, hingga para ulama masa kini. Mereka berdakwah melalui pendidikan, kesehatan, mengembangkan ekonomi, sosial, dan kebangsaan.

Warisan terbesar para ulama tersebut adalah teladan bahwa dakwah harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dakwah bukan sekedar menyampaikan ceramah, namun membangun manusia, membenahi akhlak, menguatkan persaudaraan, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan umat.

Di tengah tantangan zaman digital, metode dakwah bisa berubah, tetapi substansinya tetap sama: menegakkan tauhid, menyebarkan kasih sayang, membantu sesama, dan membimbing masyarakat menuju kebaikan.


Penutup

Sejarah membuktikan bahwa dakwah para ulama dan Walisongo berhasil karena mereka tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Mereka mengajarkan tauhid, menolong masyarakat, mengobati berbagai persoalan umat, mendidik generasi, serta membimbing kehidupan sosial dan politik menuju kemaslahatan.

Model dakwah yang penuh hikmah, kasih sayang, dan keteladanan ini tetap relevan hingga hari ini. Ketika dakwah mampu menjawab kebutuhan umat dan menghadirkan rahmat bagi semua, maka Islam akan terus menjadi cahaya yang menghasilkan kehidupan bangsa dan peradaban.

Walla a'lam bish-shawab

Manfaat. Aamiin


Referensi

1. Ath-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Juz 17, hlm. 647.

2. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 4, hlm. 595.

3. Nawawi al-Bantani, Marah Labid, Juz 1, hlm. 411.

4. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Juz 6, hlm. 46.

5. Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Ghaib, hlm. 89.

6. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 5, hlm. 104.

7. Al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Juz 3, hlm. 58–62.

8. Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Juz 29, hlm. 272.

9. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, hlm. 115–120.

10. Ath-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Juz 18, hlm. 642.

READ MORE - DAKWAH WALISONGO
 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman