Dzikir (Zikrullah)
Pendahuluan
Dzikir merupakan salah satu inti ajaran Al-Qur'an, Sunnah, dan tasawuf. Dalam bahasa Indonesia, dzikir berarti mengingat, menyebut, atau menghadirkan sesuatu di dalam hati. Dalam terminologi Islam, dzikir adalah mengingat Allah dengan hati, lisan, dan seluruh aktivitas kehidupan. Para ulama tasawuf menjadikan dzikir sebagai sarana utama penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), penerangan hati (tanwir al-qalb), dan pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ilallah).
Al-Qur'an memerintahkan orang-orang beriman untuk memperbanyak dzikir dalam berbagai keadaan. Bahkan Allah menjadikan dzikir sebagai sebab ketenangan hati dan tanda kehidupan ruhani. Imam Al-Ghazali (2005) menjelaskan bahwa dzikir adalah makanan hati sebagaimana makanan menjadi kebutuhan jasad. Sedangkan Ibnu Qayyim (2003) menyebut dzikir sebagai taman surga di dunia dan ruh bagi kehidupan hati.
Ayat-Ayat Tentang Dzikir
1. QS. Al-Baqarah [2]: 152
«فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ»
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kamu.”
2. QS. Ar-Ra'd [13]: 28
«أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ»
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
3. QS. Al-Ahzab [33]: 41
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا»
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.”
4. QS. Al-Jumu'ah [62]: 10
«وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ»
"Dan ketemu Allah banyak-banyak agar kamu beruntung."
5. QS. Al-Kahfi [18]: 28
«وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا»
“Dan ketenangan Tuhanmu sebanyak-banyaknya.”
Hadis-Hadis Tentang Dzikir
Hadis Pertama
«سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ»
Para sahabat bertanya, “Siapakah al-mufarridun itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
«الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ»
“Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah.”
(HR. Muslim)
Hadis Kedua
«مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ»
“Perumamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati.”
(HR. Bukhari)
Hadis Ketiga
Hadis Qudsi:
«أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي»
“Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tafsir Para Mufassir Klasik
1. Imam Ath-Thabari (2001)
Ath-Thabari menjelaskan bahwa QS. Al-Baqarah: 152 menunjukkan hubungan timbal balik antara Allah dan hamba-Nya. Ketika seorang hamba mengingat Allah dengan ketaatan dan ibadah, Allah mengingatnya dengan rahmat, ampunan, dan pertolongan-Nya (Ath-Thabari, 2001).
2. Imam Ibn Katsir (1999)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dzikir merupakan ibadah yang paling mudah dilakukan namun memiliki pahala yang sangat besar. Allah menjanjikan ketenangan hati, keberuntungan, dan kemakmuran bagi orang-orang yang senantiasa berdzikir (Ibnu Katsir, 1999).
Tafsir Para Mufassir Kontemporer
1. Wahbah Az-Zuhaili (2009)
Az-Zuhaili menjelaskan bahwa dzikir bukan sekedar ucapan lisan, tetapi kesadaran terus-menerus terhadap kehadiran Allah dalam seluruh aktivitas kehidupan. Dzikir yang benar akan membentuk akhlak dan perilaku yang baik (Az-Zuhaili, 2009).
2. Sayyid Qutb (2003)
Menurut Sayyid Qutb, dzikir merupakan sarana menghubungkan hati manusia dengan sumber kekuatan yang tidak terbatas, yaitu Allah. Dzikir melindungi manusia dari kegelapan spiritual dan kegelisahan hidup (Qutb, 2003).
Tafsir Mufassir Nusantara
1. Hamka (1984)
Hamka menjelaskan bahwa dzikir merupakan kebutuhan jiwa sebagaimana makanan adalah kebutuhan tubuh. Hati yang jauh dari dzikir akan mengalami kegersangan spiritual dan kehilangan ketenangan (Hamka, 1984).
2. M. Quraish Shihab (2002)
Quraish Shihab mengartikan dzikir sebagai kesadaran yang terus hidup tentang Allah sehingga seseorang senantiasa menjaga sikap, ucapan, dan perbuatannya sesuai dengan tuntunan-Nya (Shihab, 2002).
3. Hasbi Ash-Shiddieqy (2000)
Hasbi menjelaskan bahwa dzikir meliputi seluruh bentuk ibadah yang mengingatkan manusia kepada Allah, baik melalui lisan, hati, maupun amal perbuatan (Ash-Shiddieqy, 2000).
Tafsir Sufistik
1. Sahl At-Tustari (2004)
Menurut At-Tustari, dzikir adalah kehidupan hati. Hati yang terus berdzikir akan dipenuhi cahaya ma'rifat, sedangkan hati yang lalai akan tertutup oleh kegelapan nafsu dan dunia (At-Tustari, 2004).
2. Abu Abdurrahman As-Sulami (2001)
As-Sulami menjelaskan bahwa dzikir adalah sarana penyucian hati dari segala sesuatu selain Allah. Semakin banyak seorang hamba berdzikir, semakin bersih cermin hatinya untuk menerima cahaya ilahi (As-Sulami, 2001).
3. Al-Qusyairi (2007)
Al-Qusyairi membagi dzikir menjadi tiga tingkatan: dzikir lisan, dzikir hati, dan dzikir ruh. Tingkatan tertinggi adalah ketika seluruh keberadaan seorang hamba tenggelam dalam ingatannya kepada Allah (Al-Qusyairi, 2007).
4. Imam Al-Ghazali (2005)
Al-Ghazali menjelaskan bahwa dzikir yang terus-menerus akan melahirkan muraqabah, ma'rifat, dan mahabbah. Dzikir merupakan jalan utama untuk membersihkan hati dari penyakit ruhani dan mendekatkan diri kepada Allah (Al-Ghazali, 2005).
5. Ibn Ajibah (2002)
Menurut Ibnu Ajibah, hakikat dzikir adalah hadirnya Allah dalam hati secara terus-menerus. Pada maqām yang tinggi, seorang arif tidak hanya berdzikir kepada Allah, tetapi hidupnya menjadi dzikir kepada Allah (Ibnu Ajibah, 2002).
Nilai-Nilai Tasawuf dalam Dzikir
1. Menghidupkan hati dengan mengingat Allah.
2. Menumbuhkan ketenangan jiwa.
3. Membersihkan hati dari kelalaian (ghaflah).
4. Menguatkan hubungan dengan Allah.
5. Menumbuhkan muraqabah.
6. Memperkuat iman dan tawakal.
7. Menghilangkan kecemasan dan kegelisahan.
8. Membuka pintu ma'rifatullah.
9. Menumbuhkan mahabbah kepada Allah.
10. Mengantarkan kepada maqām ihsan.
Kesimpulan
Dzikir merupakan salah satu amalan paling utama dalam Al-Qur'an, Sunnah, dan tasawuf. Para mufassir klasik menjelaskan dzikir sebagai sarana memperoleh rahmat, pertolongan, dan ketenangan dari Allah. Para mufassir sufistik memandang dzikir sebagai jalan penyucian hati dan sarana utama menuju ma'rifat serta mahabbah kepada Allah. Dzikir tidak terbatas pada ucapan lisan, tetapi mencakup kehadiran hati dan kesadaran spiritual yang terus-menerus terhadap Allah. Dengan dzikir, hati menjadi hidup, jiwa menjadi tenang, dan seorang hamba semakin dekat kepada Rabb-nya. Oleh karena itu, para sufi menjadikan dzikir sebagai inti perjalanan ruhani menuju Allah Swt.
Daftar Referensi
- Al-Ghazali, AH (2005). Ihya' Ulum al-Din.
- Al-Qusyairi, AQ (2007). Latha'if al-Isyarat.
- Ash-Shiddieqy, TMH (2000). Tafsir An-Nur.
- Ath-Thabari, MJ (2001). Jami' al-Bayan.
- As-Sulami, AA (2001). Haqa'iq al-Tafsir.
- At-Tustari, S. (2004). Tafsir At-Tustari.
- Az-Zuhaili, W. (2009). Tafsir al-Munir.
- Hamka. (1984). Tafsir Al-Azhar.
- Ibnu Ajibah, A. (2002). Al-Bahr al-Madid.
- Ibnu Katsir, I. (1999). Tafsir al-Qur'an al-'Azhim.
- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. (2003). Al-Wabil al-Shayyib dan Madarij al-Salikin.
- Qutb, S. (2003). Fi Zhilal al-Qur'an.
- Shihab, MQ (2002). Tafsir Al-Mishbah.


.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

