Selasa, 23 Juni 2026

DAKWAH WALISONGO


DAKWAH ULAMA DAN WALISONGO: MENEGAKKAN TAUHID, MENOLONG UMAT, MENGOBATI MASYARAKAT, DAN MEMBANGUN BANGSA

Oleh: Pengamat Dakwah


Dakwah yang Membumi dan Mengakar

Ketika berbicara tentang dakwah Islam di Nusantara, nama Walisongo dan para ulama tidak dapat terlepas dari sejarah perkembangan masyarakat Indonesia. Mereka tidak hanya mengajarkan syahadat, shalat, dan puasa, tetapi juga hadir di tengah sebagai pendidik masyarakat, penolong, tabib, pemimpin sosial, bahkan penasihat politik.

Inilah yang membuat dakwah Islam di Nusantara berkembang dengan damai dan diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Dakwah tidak hadir sebagai ancaman, namun sebagai rahmat yang memberikan solusi bagi persoalan kehidupan.

Allah SWT berfirman:

 ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl : 125)

Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini menunjukkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan kebijaksanaan, kelembutan, dan cara yang dapat diterima masyarakat.^1


Tauhid Sebagai Pondasi Dakwah

Misi pertama para nabi dan ulama adalah menanamkan tauhid. Sebab, perbaikan masyarakat tidak akan kokoh tanpa fondasi akidah yang benar.

Allah berfirman:

 وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat rasul agar menyembah Allah dan menjauhi thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seluruh rasul membawa misi yang sama, yaitu mengajak manusia mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan.^2

Prinsip inilah yang dijalankan oleh Walisongo. Mereka mengubah keyakinan masyarakat secara bertahap, penuh hikmah, dan tanpa kekerasan. Sunan Ampel menanamkan dasar-dasar akidah, Sunan Bonang memperkenalkan nilai tauhid melalui seni, sedangkan Sunan Kalijaga menyampaikan ajaran Islam melalui budaya yang mudah dipahami masyarakat.

Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa tauhid merupakan pokok segala amal dan sumber keselamatan dunia serta akhirat.^3


Menolong Umat Sebagai Bagian Dakwah

Keberhasilan dakwah Walisongo tidak hanya terletak pada kemampuan berbicara, tetapi juga pada kepedulian mereka terhadap kebutuhan masyarakat.

Allah berfirman:

"Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan." (QS. Al-Ma'idah : 2)

Menurut Al-Qurthubi, ayat ini menjadi dasar kewajiban membangun solidaritas sosial dan membantu sesama dalam berbagai bentuk kebaikan.^4

Para wali membangun pesantren, mengembangkan pertanian, memperkuat perdagangan, serta membangun jaringan sosial yang membantu keluarnya masyarakat dari kesulitan hidup. Dakwah mereka menyentuh kebutuhan nyata rakyat.

Dalam perspektif tasawuf, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menegaskan bahwa menolong makhluk Allah merupakan salah satu jalan tercepat untuk mendapatkan pertolongan Allah.^5

Oleh karena itu, dakwah sejati tidak berhenti di mimbar, namun hadir dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi umat.

Mengobati Masyarakat, Menyembuhkan Hati

Selain mengajarkan agama, para ulama juga dikenal sebagai penyembuh berbagai permasalahan masyarakat. Mereka mengobati penyakit fisik sekaligus penyakit hati.

Allah berfirman:

 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Kami turunkan Al-Qur’an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Al-Isra' : 82)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-Qur'an menjadi obat bagi keraguan, kemunafikan, kesombongan, dan berbagai penyakit hati lainnya.^6

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menerangkan bahwa hati manusia dapat sakit karena riya', hasad, tamak, dan cinta dunia yang berlebihan. Oleh karena itu, manusia membutuhkan bimbingan ruhani agar jiwa sehat.^7

Dalam sejarah Nusantara, para wali sering menjadi tempat masyarakat meminta nasihat, doa, dan solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Mereka tidak hanya mengobati tubuh, tetapi juga memperbaiki moral dan spiritual masyarakat.


Dakwah Melalui Pendidikan dan Kebudayaan

Salah satu keunikan dakwah Walisongo adalah kemampuannya memanfaatkan pendidikan dan budaya sebagai sarana penyebaran Islam.

Allah berfirman:

 يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Menurut Fakhruddin Ar-Razi, ilmu merupakan sarana kemuliaan manusia dan jalan menuju kemajuan peradaban.^8

Melalui pesantren, majelis ilmu, seni, sastra, dan budaya, para wali berhasil membentuk masyarakat yang berakhlak dan berpengetahuan. Sunan Giri dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam, sementara Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam tanpa menimbulkan konflik sosial.

Sejarawan Prof. Azyumardi Azra menjelaskan bahwa keberhasilan Islam di Nusantara tidak lepas dari pendekatan ulama yang mampu menggabungkan dakwah, pendidikan, dan budaya secara harmonis.^9


Dakwah dan Politik Kebangsaan

Sebagian orang memahami politik sebagai sesuatu yang terpisah dari dakwah. Padahal dalam sejarah Islam, politik merupakan salah satu instrumen untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat.

Allah berfirman:

الَّذِينَ إِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَآتَوُا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ

“Orang-orang yang apabila Kami diberi kekuasaan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Al-Hajj : 41)

Ath-Thabari menjelaskan bahwa kekuasaan merupakan amanah yang harus digunakan untuk menegakkan keadilan dan kemaslahatan umat.^10

Dalam sejarah Nusantara, para wali tidak menjadikan politik sebagai sarana mencari kekuasaan pribadi. Mereka hadir sebagai penasihat kerajaan, pembimbing penguasa, dan penjaga moral masyarakat.

Sunan Gunung Jati berperan dalam Kesultanan Cirebon, sementara Sunan Giri memiliki pengaruh besar dalam urusan sosial-politik masyarakat Jawa. Mereka menunjukkan bahwa ulama dan umara dapat bersinergi untuk membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.


Warisan Dakwah yang Tetap Relevan

Jejak dakwah Walisongo kemudian dilanjutkan oleh para ulama Nusantara seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Dahlan, Buya Hamka, hingga para ulama masa kini. Mereka berdakwah melalui pendidikan, kesehatan, mengembangkan ekonomi, sosial, dan kebangsaan.

Warisan terbesar para ulama tersebut adalah teladan bahwa dakwah harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dakwah bukan sekedar menyampaikan ceramah, namun membangun manusia, membenahi akhlak, menguatkan persaudaraan, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan umat.

Di tengah tantangan zaman digital, metode dakwah bisa berubah, tetapi substansinya tetap sama: menegakkan tauhid, menyebarkan kasih sayang, membantu sesama, dan membimbing masyarakat menuju kebaikan.


Penutup

Sejarah membuktikan bahwa dakwah para ulama dan Walisongo berhasil karena mereka tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Mereka mengajarkan tauhid, menolong masyarakat, mengobati berbagai persoalan umat, mendidik generasi, serta membimbing kehidupan sosial dan politik menuju kemaslahatan.

Model dakwah yang penuh hikmah, kasih sayang, dan keteladanan ini tetap relevan hingga hari ini. Ketika dakwah mampu menjawab kebutuhan umat dan menghadirkan rahmat bagi semua, maka Islam akan terus menjadi cahaya yang menghasilkan kehidupan bangsa dan peradaban.

Walla a'lam bish-shawab

Manfaat. Aamiin


Referensi

1. Ath-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Juz 17, hlm. 647.

2. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 4, hlm. 595.

3. Nawawi al-Bantani, Marah Labid, Juz 1, hlm. 411.

4. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Juz 6, hlm. 46.

5. Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Ghaib, hlm. 89.

6. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 5, hlm. 104.

7. Al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Juz 3, hlm. 58–62.

8. Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Juz 29, hlm. 272.

9. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, hlm. 115–120.

10. Ath-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Juz 18, hlm. 642.

READ MORE - DAKWAH WALISONGO

HIDUP SEHAT


HIDUP SEHAT DALAM ISLAM: MENELADANI GAYA HIDUP RASULULLAH SAW

Oleh: Ustadz Umar Fauzi


Pendahuluan

Islam adalah agama yang sempurna yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, termasuk dalam menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Dalam perspektif Islam, kesehatan merupakan kenikmatan besar yang harus disyukuri dan dijaga. Rasulullah SAW bersabda:

 نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. al-Bukhari).¹

Oleh karena itu, Islam mengajarkan pola hidup sehat yang mencakup makanan halal dan baik, pola tidur yang teratur, kebersihan, olahraga, kesehatan mental, serta kedekatan kepada Allah SWT. Menariknya, banyak prinsip kesehatan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW lebih dari empat belas abad lalu kini dibuktikan oleh ilmu kedokteran modern.


Makanan Halal dan Thayyib: Fondasi Kesehatan

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

"Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik." (QS. al-Baqarah [2]: 168).²

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa kata halal menunjukkan aspek hukum, sedangkan thayyib menunjukkan aspek kesehatan, kebersihan, dan kemanfaatan makanan.³ Dengan demikian, makanan yang dikonsumsi seorang muslim tidak cukup hanya halal, tetapi juga harus baik bagi tubuh.

Dalam Zād al-Ma'ād, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memilih makanan yang sesuai kebutuhan tubuh dan menghindari segala sesuatu yang membahayakan kesehatan.⁴

Nabi SAW bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ

"Tidak ada wadah yang berisi manusia yang lebih buruk daripada perut." (HR. al-Tirmidzi).⁵


Tafsil Ilmī

Ilmu kesehatan modern menjelaskan bahwa konsumsi makanan bergizi seimbang dapat mengurangi risiko penyakit jantung, diabetes, hipertensi, dan obesitas. Organisasi kesehatan dunia menyatakan bahwa pola makan sehat merupakan faktor utama pencegahan penyakit tidak menular. Dengan demikian, ajaran Islam tentang makanan halal dan thayyib memiliki relevansi ilmiah yang kuat.


Tidak Berlebihan dalam Makan dan Minum

Allah SWT berfirman:

 Perlindungan Lingkungan dan Keamanan

"Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan." (QS. al-A'rāf [7]: 31).⁶

Menurut Imam Fakhruddin al-Razi, larangan berlebihan (isrāf) mencakup jumlah, jenis, dan cara mengonsumsi makanan.⁷

Imam al-Ghazali dalam Ihyā' 'Ulūm al-Dīn menjelaskan bahwa kenyang berlebihan menyebabkan kerasnya hati, malas beribadah, dan memicu berbagai penyakit fisik.⁸


Tafsil Ilmī

Penelitian kedokteran menunjukkan bahwa metabolisme kalori secara proporsional dapat meningkatkan metabolisme tubuh, memperlambat penuaan sel, serta menurunkan risiko penyakit kronis. Konsep ini sejalan dengan prinsip Islam yang mengajarkan keseimbangan dalam makan dan minum.


Tidur Teratur dan Bangun Pagi

Rasulullah SAW membiasakan tidur setelah shalat Isya dan bangun pada paruh malam terakhir untuk tahajud.

Diriwayatkan:

 كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

"Beliau benci tidur sebelum Isya dan berbincang-bincang dengannya." (HR. al-Bukhari).⁹

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa tidur malam yang cukup dan bangun sebelum fajar merupakan pola tidur yang paling sehat bagi tubuh manusia.¹⁰

Para ulama juga memakruhkan tidur setelah shalat Subuh hingga matahari terbit.

Imam Ibn al-Qayyim berkata:

وَمِنَ الْمَكْرُوهِ النَّوْمُ بَيْنَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَطُلُوعِ الشَّمْسِ

*"Di antara yang makruh adalah tidur antara shalat Subuh dan terbit* matahari."¹¹


Tafsil Ilmī

Ilmu kronobiologi modern menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki ritme sirkadian yang sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari pagi. Paparan cahaya pagi membantu mengatur hormon melatonin dan kortisol sehingga meningkatkan kebugaran, konsentrasi, dan kesehatan mental.


Aktif Bergerak dan Berolahraga

Rasulullah SAW merupakan sosok yang aktif secara fisik. Beliau berjalan kaki, berkuda, memanah, dan berlomba lari.

Sayyidah Aisyah RA berkata:

سَابَقَنِي رَسُولُ اللَّهِ فَسَبَقْتُهُ

“Rasulullah pernah berlomba lari denganku dan aku mengalahkannya.” (HR.Abu Dawud).¹²

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan anjuran menjaga kebugaran fisik serta memperkuat tubuh untuk beribadah dan menjalankan tugas kehidupan.¹³


Tafsil Ilmī

Para ahli kesehatan menyatakan bahwa aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu mampu menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, obesitas, dan depresi. Aktivitas fisik juga meningkatkan daya tahan tubuh dan kualitas hidup.


Kebersihan sebagai Pilar Kesehatan

Islam sangat menekankan kebersihan. Rasulullah SAW bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci adalah sebagian iman.” (HR.Muslim).¹⁴

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan tingginya kedudukan kebersihan dalam Islam karena menjadi syarat berbagai ibadah utama seperti shalat dan thawaf.¹⁵

Rasulullah SAW mengumpat:

Berwudhu berkali-kali setiap hari.

Bersiwak.

Memotong kuku.

Kebersihan lingkungan.

Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.


Tafsil Ilmī

Dalam ilmu kesehatan masyarakat, kebiasaan mencuci tangan merupakan salah satu metode paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit. Kebiasaan hidup bersih yang diajarkan Islam terbukti mendukung kesehatan individu dan masyarakat.


Dzikir dan Kesehatan Mental

Kesehatan dalam Islam tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis dan spiritual.

Allah SWT berfirman:

 أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. al-Ra'd [13]: 28).¹⁶

Imam al-Tabari menjelaskan bahwa dzikir menghadirkan ketenangan karena hati merasa dekat dengan Allah dan percaya kepada pertolongan-Nya.¹⁷

Imam al-Ghazali menambahkan bahwa hati yang selalu berdzikir akan terbebas dari kecemasan, kecemasan, dan penyakit batin lainnya.¹⁸


Tafsil Ilmī

Berbagai penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa aktivitas spiritual seperti doa, meditasi, dan dzikir dapat menurunkan hormon stres, memperbaiki suasana hati, meningkatkan kualitas tidur, serta mengurangi risiko gangguan kecemasan.


Kesimpulan

Hidup sehat dalam Islam merupakan perpaduan harmonis antara kesehatan jasmani, mental, dan spiritual. Rasulullah SAW telah memberikan teladan sempurna melalui pola makan yang seimbang, tidur yang teratur, aktivitas fisik yang cukup, kebersihan yang terjaga, serta kedekatan kepada Allah SWT melalui dzikir dan ibadah.

Pandangan ulama klasik seperti al-Ghazali, al-Qurthubi, al-Nawawi, Ibnu Qayyim, hingga para pakar kesehatan kontemporer menunjukkan bahwa ajaran Islam tentang kesehatan tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dalam menjaga kesehatan bukan sekedar mengikuti tradisi, melainkan ikhtiar membangun kualitas hidup yang lebih baik, sehat, produktif, dan penuh keberkahan.

Manfaat. Aamiin


Catatan Kaki 

¹ Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq, Bab La 'Aisy Illa 'Aisy al-Akhirah.

² Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. al-Baqarah [2]: 168.

³ Abu Abdullah al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, Juz 2, hlm. 207.

⁴ Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zād al-Ma'ād fī Hadyi Khayr al-'Ibād, Juz 4, hlm. 213.

⁵ Muhammad bin Isa al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, No.2380.

⁶ Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. al-A'rāf [7]: 31.

⁷ Fakhruddin al-Razi, Mafātīh al-Ghaib, Juz 14, hlm. 61.

⁸ Abu Hamid al-Ghazali, Ihyā' 'Ulūm al-Dīn, Juz 3, hlm. 87.

⁹ Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Mawaqit al-Shalah.

¹⁰ Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zād al-Ma'ād, Juz 1, hlm. 155.

¹¹ Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madārij al-Sālikīn, Juz 1, hlm. 369.

¹² Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, No.2578.

¹³ Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz 13, hlm. 249.

¹⁴ Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, No.223.

¹⁵ Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz 3, hlm. 102.

¹⁶ Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. al-Ra'd [13]: 28.

¹⁷ Abu Ja'far al-Tabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 16, hlm. 435.

¹⁸ Abu Hamid al-Ghazali, Ihyā' 'Ulūm al-Dīn, Juz 4, hlm. 312.

READ MORE - HIDUP SEHAT

SAKIT HATI


Saat Benci Membutakan: Bahaya Kebencian kepada Suatu Kaum dalam Perspektif Al-Qur'an

Oleh: Pengamat Dakwah


Di tengah kehidupan yang semakin terhubung oleh teknologi, paradoksnya manusia justru semakin mudah terpecah. Perbedaan pilihan politik, organisasi, suku, bahkan pandangan keagamaan sering kali berubah menjadi bara kebencian yang sulit dipadamkan. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang silaturahim tidak jarang berubah menjadi arena saling mencela, menghina, dan menjatuhkan.

Fenomena ini sesungguhnya bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga persoalan spiritual. Ketika kebencian menguasai hati, manusia sering kehilangan kemampuan untuk melihat kebenaran secara jernih. Akal menjadi tertutup oleh emosi. Penilaian menjadi tidak objektif. Yang benar dianggap salah hanya karena berasal dari pihak yang tidak disukai, sementara yang salah dibela mati-matian karena datang dari kelompok sendiri.

Al-Qur'an memberikan perhatian besar terhadap persoalan ini. Islam tidak menafikan bahwa manusia memiliki rasa suka dan benci. Keduanya adalah bagian dari fitrah. Namun, Islam mengajarkan agar emosi tersebut tetap berada dalam kendali iman dan tidak berubah menjadi kezaliman.

Allah SWT berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."

(QS. Al-Maidah: 8)»

Ayat ini merupakan salah satu puncak ajaran moral Al-Qur'an. Allah tidak mengatakan bahwa kebencian itu tidak boleh ada, tetapi Allah melarang kebencian menjadi alasan untuk meninggalkan keadilan.


Kebencian yang Menjadi Penyakit Hati

Para ulama tasawuf sejak dahulu telah mengingatkan bahaya kebencian yang dipelihara. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa kebencian yang berlebihan dapat melahirkan penyakit-penyakit hati lainnya seperti hasad, dendam, dan permusuhan.

Awalnya seseorang hanya merasa tidak suka. Namun jika perasaan itu terus dipupuk, ia berkembang menjadi prasangka buruk. Dari prasangka lahir fitnah. Dari fitnah lahir permusuhan. Pada akhirnya hubungan sosial rusak dan hati menjadi gelap.

Karena itu Islam mengajarkan keseimbangan. Membenci kemaksiatan adalah bagian dari keimanan. Membenci kezaliman juga merupakan sikap yang terpuji. Namun membenci seseorang hingga menghilangkan hak-haknya sebagai manusia adalah sesuatu yang dilarang.


Jangan Merendahkan Orang Lain

Kebencian sering kali berawal dari sikap merasa lebih baik daripada orang lain. Al-Qur'an mengingatkan:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

"Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka."

(QS. Al-Hujurat: 11)»

Betapa banyak konflik lahir dari rasa superioritas. Seseorang merasa kelompoknya paling benar, paling suci, paling berjasa, sehingga mudah merendahkan pihak lain. Padahal ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan kelompok, bukan jabatan, bukan popularitas, melainkan ketakwaan.


Perbedaan untuk Saling Mengenal

Di antara ayat yang sangat relevan dengan kehidupan modern adalah firman Allah:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

"Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal."

(QS. Al-Hujurat: 13)»

Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman bukan kesalahan yang harus dihapus, melainkan ketetapan Allah yang harus dikelola dengan bijaksana. Perbedaan diciptakan untuk saling mengenal, bukan saling membenci.

Ketika manusia gagal memahami hikmah keberagaman, yang muncul adalah fanatisme sempit. Akibatnya, setiap perbedaan dianggap ancaman. Dari sinilah lahir polarisasi dan konflik yang berkepanjangan.


Mengendalikan Emosi

Rasulullah SAW memberikan panduan yang sangat indah dalam menghadapi gejolak emosi.

Beliau bersabda:

«إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."

(HR. Bukhari dan Muslim)»

Dalam pandangan Islam, kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan mengalahkan hawa nafsu sendiri.

Seseorang mungkin mampu memenangkan perdebatan, tetapi gagal mengendalikan emosinya. Ia mungkin tampak kuat di hadapan manusia, tetapi lemah di hadapan hawa nafsunya.


Keteladanan Nabi Saat Fathu Makkah

Salah satu contoh terbesar pengendalian kebencian terlihat pada peristiwa Fathu Makkah. Selama bertahun-tahun Rasulullah SAW dan para sahabat mengalami penghinaan, pengusiran, bahkan peperangan dari kaum Quraisy.

Namun ketika Makkah berhasil ditaklukkan dan seluruh kekuasaan berada di tangan beliau, Rasulullah tidak memilih balas dendam.

Beliau justru berkata:

«اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ

"Pergilah kalian, kalian semua bebas."»

Kalimat ini menjadi pelajaran besar bagi umat manusia. Rasulullah memiliki alasan untuk membalas, tetapi beliau memilih memaafkan. Beliau memiliki kekuatan untuk menghukum, tetapi beliau memilih kasih sayang.

Inilah puncak akhlak Islam.


Kebencian di Era Digital

Saat ini kebencian tidak lagi hanya muncul dalam pertemuan langsung. Ia menyebar melalui layar ponsel dalam hitungan detik.

Ujaran kebencian, fitnah, hoaks, dan provokasi menjadi konsumsi harian sebagian masyarakat. Banyak orang membagikan informasi bukan karena benar, tetapi karena sesuai dengan kebencian yang sudah ada di dalam hatinya.

Padahal Islam mengajarkan tabayyun, verifikasi, dan keadilan dalam menilai informasi.

Kebencian yang tidak terkendali dapat melahirkan berbagai kerusakan:

- Hilangnya objektivitas.

- Munculnya fitnah dan hoaks.

- Retaknya persaudaraan.

- Terpecahnya persatuan bangsa.

- Rusaknya kehidupan sosial.

Karena itu, setiap Muslim harus menjadikan Al-Qur'an sebagai kompas moral dalam bermedia sosial dan berinteraksi dengan sesama.


Menjaga Hati Tetap Sehat

Para ulama mengajarkan beberapa cara untuk mengobati kebencian.

Pertama, memperbanyak muhasabah. Sering kali kita terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain hingga lupa melihat kekurangan diri sendiri.

Kedua, membiasakan husnuzan atau berprasangka baik. Tidak semua yang kita dengar tentang seseorang adalah kebenaran.

Ketiga, memperbanyak doa dan dzikir. Hati yang dekat dengan Allah lebih mudah memaafkan daripada hati yang jauh dari-Nya.

Keempat, mengingat kehidupan akhirat. Pada hari kiamat, setiap kezaliman akan dipertanggungjawabkan, sekecil apa pun.


Penutup

Kebencian adalah emosi yang manusiawi. Namun Islam mengajarkan bahwa emosi tidak boleh mengalahkan keadilan. Ketika kebencian membuat seseorang berlaku zalim, saat itulah ia telah keluar dari tuntunan Al-Qur'an.

Di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan, umat Islam dituntut menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan antara prinsip dan akhlak, antara ketegasan dan kasih sayang, antara rasa tidak suka dan keadilan.

Pesan Al-Qur'an tetap relevan sepanjang zaman:

"Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."

Inilah ukuran kedewasaan iman. Bukan ketika kita mampu mencintai orang yang mencintai kita, melainkan ketika kita tetap adil kepada orang yang kita benci.


Referensi:

Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, Juz III, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Maidah: 8.

Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. Al-Maidah: 8.

At-Thabari, Jami' al-Bayan, tafsir QS. Al-Maidah: 8.

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati.

HR. Bukhari dan Muslim tentang larangan saling membenci dan pengendalian marah.

READ MORE - SAKIT HATI

Minggu, 21 Juni 2026

PUASA 'ASYURA'


Tasu'a, 'Asyura, Sedekah dan Pelajaran Besarnya bagi Kehidupan

Oleh: Pengamat Dakwah


Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, bulan ini bukan sekadar penanda pergantian tahun, tetapi juga momentum memperbarui keimanan, memperkuat kepedulian sosial, dan memperbanyak amal saleh. Di antara amalan yang sangat dianjurkan Rasulullah ﷺ pada bulan ini adalah puasa Tasu'a (9 Muharram), puasa 'Asyura (10 Muharram), dan memperbanyak sedekah.

Amalan ketiga tersebut mengandung pelajaran besar yang relevan sepanjang zaman. Tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga melambangkan rasa syukur, kepedulian, perjuangan melawan kezaliman, dan optimisme terhadap pertolongan Allah SWT.


Muharram, Bulan yang Dimuliakan

Allah SWT berfirman:

 إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah : 36)

Para mufasir seperti Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebajikan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan (Ath-Thabari, Jami' al-Bayan, Juz 14, hlm. 238).

Keutamaan Muharram juga ditegaskan Rasulullah ﷺ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram merupakan waktu yang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal saleh.


Jejak Nabi Musa dalam Puasa 'Asyura

Salah satu keistimewaan Muharram adalah adanya puasa 'Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut.

Mereka menjelaskan bahwa hari itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ

"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." (HR Bukhari)

Kemudian Rasulullah ﷺ berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menghormati seluruh nabi dan rasul. Nabi Musa bukan hanya milik Bani Israil, tetapi juga bagian dari mata rantai kenabian yang wajib diimani oleh umat Islam.

Lebih dari itu, kisah Musa dan Fir'aun adalah simbol abadi tentang kemenangan kebenaran atas kebatilan. Betapapun kuatnya kekuasaan yang zalim, pada akhirnya akan hancur di hadapan kehendak Allah SWT.


Mengapa Ada Puasa Tasu'a?

Pada akhir hayatnya, Rasulullah ﷺ berkeinginan menambah puasa tanggal 9 Muharram.

Beliau bersabda:

 لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa puasa Tasu'a dilakukan untuk membedakan amalan umat Islam dari tradisi Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa sunnah yang paling utama adalah berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram secara bersamaan. Sebagian ulama bahkan meramalkan tanggal 11 Muharram sebagai penyempurna.

Di dalam Islam mengajarkan identitas dan karakter umat. Meneladani para nabi terdahulu tidak berarti kehilangan jati diri, namun tetap menjaga ciri khas syariat yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.


Penghapus Dosa Setahun

Keutamaan puasa terbesar 'Asyura adalah sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

Menurut Imam Al-Qurthubi, yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang terhapus karena amal saleh, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.

Oleh karena itu, puasa Asyura bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, namun juga momentum memperbaiki diri. Muharram menjadi kesempatan untuk menutup lembaran kesalahan masa lalu dan membuka lembaran baru yang lebih baik.


Sedekah, Pasangan Indah bagi Puasa

Jika puasa menguatkan hubungan seorang hamba dengan Allah, maka sedekah memperkuat hubungan dengan sesama manusia.

Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir.” (QS. Al-Baqarah : 261)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

 الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

"Sedekah janji dosa memenuhi air janji api." (HR Tirmidzi)

Para ulama salaf menjadikan Muharram sebagai momentum memperbanyak sedekah. Mereka memahami bahwa kecerahan waktu seharusnya diisi dengan amal yang lebih banyak dan lebih berkualitas.

Sedekah pada bulan Muharram bukanlah tradisi tanpa dasar, melainkan bagian dari semangat memperbanyak kebaikan pada bulan yang dimuliakan Allah SWT.


Pelajaran Besar dari Tasu'a, 'Asyura dan Sedekah

Pertama, bersyukur atas nikmat Allah. Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang diberikan Allah. Rasulullah ﷺ kemudian meneladaninya dan mengajarkan umatnya untuk melakukan hal yang sama.

Kedua, keyakinan bahwa kebenaran akan menang. Fir'aun memiliki kekuasaan, tentara, dan kekayaan, tetapi semua itu tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah. Sebaliknya, Nabi Musa yang tertindas justru memperoleh pertolongan dan kemenangan.

Ketiga, pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian. Kisah Musa mengajarkan bahwa pertolongan Allah sering datang setelah perjuangan panjang dan kesabaran yang mendalam.

Keempat, kepedulian sosial. Puasa yang benar akan melahirkan empati terhadap kaum lemah. Oleh karena itu, puasa dan sedekah adalah doa amalan yang saling melengkapi.

Kelima, muhasabah diri. Awal tahun Hijriah adalah waktu yang tepat untuk memulai perjalanan hidup, memperbaiki kesalahan, dan menyusun langkah-langkah yang lebih baik di masa depan.


Relevansi bagi Indonesia

Dalam konteks kehidupan bangsa, semangat Tasu'a dan 'Asyura sangat relevan. Indonesia membutuhkan masyarakat yang memiliki integritas seperti Nabi Musa, keberanian melawan kezaliman, kesabaran dalam menghadapi tantangan, dan kepedulian sosial terhadap sesama.

Di tengah berbagai permasalahan ekonomi, sosial, dan moral, budaya sedekah menjadi salah satu solusi untuk memperkuat solidaritas masyarakat. Ketika orang-orang mampu membantu yang lemah, maka keselarasan sosial dapat diperkecil dan persatuan bangsa semakin kokoh.

Muharram mengajarkan bahwa kemajuan tidak hanya dibangun oleh kecerdasan dan kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.


Penutup

Puasa Tasu'a, puasa 'Asyura, dan sedekah merupakan amalan yang sarat makna. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang syukur, perjuangan, kesabaran, kepedulian sosial, dan optimisme terhadap pertolongan Allah SWT.

Momentum Muharram hendaknya tidak berlalu begitu saja. Ia harus menjadi titik awal hijrah pribadi menuju yang lebih bertakwa, keluarga yang lebih harmonis, masyarakat yang lebih peduli, dan bangsa yang lebih berkeadaban.

Sebab pada akhirnya, keberkahan hidup tidak hanya lahir dari banyaknya harta dan kekuasaan, tetapi dari kedekatan kepada Allah serta manfaat yang diberikan kepada sesama manusia. Wallāhu a'lam bi al-shawāb.

Manfaat. Aamiin

READ MORE - PUASA 'ASYURA'

Sabtu, 20 Juni 2026

AWAL KEHANCURAN


Bahaya Kezaliman dan Kesombongan: Jalan Kehancuran yang Sering Tak Disadari

Oleh: Pengamat Studi Al-Qur'an 

           dan Dakwah


Pendahuluan

Di antara penyakit hati yang paling banyak diperingatkan dalam Al-Qur'an adalah kezaliman dan kesombongan. Keduanya bukan sekadar perilaku buruk, tetapi juga akar dari berbagai kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Banyak konflik keluarga, kesenjangan sosial, ketimpangan ekonomi, hingga runtuhnya sebuah kekuasaan berawal dari dua sifat ini.

Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang zalim dan orang-orang yang menyombongkan diri. Sejarah para nabi juga menunjukkan bahwa hampir semua penentang risalah kenabian memiliki dua karakter yang sama: zalim dan sombong. Fir'aun, Qarun, Namrud, hingga para pembesar kaum terdahulu menjadi contoh nyata bagaimana kezaliman dan kesombongan membawa manusia menuju kehancuran.

Oleh karena itu, memahami bahaya kedua sifat tersebut menjadi bagian penting dari muhasabah agar seorang mukmin mampu menjaga hati dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.


Kezaliman: Meletakkan Sesuatu Bukan pada Tempatnya

Dalam pandangan para mufasir, kezaliman berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempat yang seharusnya. Kezaliman tidak hanya berupa tindakan fisik atau perampasan hak, tetapi juga mencakup segala bentuk pelanggaran terhadap ketentuan Allah.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.” (QS. Ibrahim [14] : 42).¹

Imam At-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kepastian balasan bagi setiap bentuk kezaliman, meskipun tampak tidak segera dihukum di dunia.²

Al-Qur'an membagi kezaliman ke dalam beberapa bentuk. Pertama, zalim kepada Allah melalui syirik dan kemaksiatan. Kedua, zalim kepada sesama manusia melalui berpikir, fitnah, korupsi, pengkhianatan, dan perampasan hak. Ketiga, zalim kepada diri sendiri dengan melakukan perbuatan yang merusak kehidupan dunia dan akhirat.

Banyak orang mengira bahwa kezaliman hanya dilakukan oleh penguasa besar atau penjahat. Padahal, mengabaikan hak keluarga, menyebarkan fitnah, menipu dalam perdagangan, bahkan meremehkan amanah juga termasuk bentuk kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.


Kesombongan: Penyakit Pertama di Langit

Jika kezaliman menjadi penyakit sosial, maka kesombongan adalah penyakit spiritual yang sangat berbahaya. Kesombongan pertama kali muncul pada diri Iblis ketika menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam AS.

Allah berfirman:

“Ia (Iblis) berkata: Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A'raf [7]: 12).³

Para ulama menjelaskan bahwa inti bukanlah pakaian mewah atau kedudukan tinggi, melainkan bukan kebenaran dan keberlangsungan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR.Muslim).⁴

Oleh karena itu, seseorang bisa saja hidup sederhana tetapi tetap sombong ketika merasa paling benar, sulit menerima nasihat, atau memandang rendah orang lain.

Imam Al-Ghazali menyebut kesombongan sebagai hijab terbesar antara manusia dan Allah karena membuat seseorang merasa tidak membutuhkan petunjuk dan pertolongan-Nya.⁵


Balasan bagi Orang Zalim dan Sombong

Al-Qur'an menjelaskan bahwa kezaliman dan kesombongan tidak pernah berakhir dengan kemenangan sejati. Mungkin pelakunya memperoleh kekuasaan, kekayaan, atau popularitas suatu saat, tetapi pada akhirnya akan menghadapi kehinaan.

Fir'aun adalah contoh penguasa yang sombong. Ia menganggap dirinya sebagai penguasa tertinggi dan menindas rakyatnya. Namun sejarah mencatat bahwa kekuasaannya berakhir di dasar Laut Merah.

Qarun adalah simbol kebanggaan karena harta. Ia merasa kekayaannya diperoleh semata-mata karena kecerdasannya sendiri. Akibatnya, Allah menenggelamkan dirinya bersama seluruh hartanya ke dalam bumi.⁶

Rasulullah SAW:

“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dan Allah.” (HR.Bukhari).⁷

Hadis ini menunjukkan bahwa kezaliman memiliki konsekuensi yang sangat serius. Ketika hak seseorang dirampas, Allah sendiri yang akan membela orang yang terzalimi.

Adapun bagi orang sombong, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kepuasan walaupun sebesar biji sawi.” (HR.Muslim).⁸

Ancaman ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekadar masalah etika, tetapi juga masalah akidah dan keselamatan akhirat.

Ibrah dari Kehancuran Orang-Orang Terdahulu

Al-Qur'an tidak sekadar menceritakan sejarah umat manusia terdahulu sebagai kisah masa lalu. Semua itu merupakan pelajaran bagi generasi berikutnya.

Fir'aun mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa kerendahan hati akan membawa kehancuran.

Qarun mengajarkan bahwa kekayaan tanpa rasa syukur dapat menimbulkan kesombongan yang membinasakan.

Kaum 'Ad dan Tsamud mengajarkan bahwa kemajuan peradaban tidak akan mampu menyelamatkan suatu bangsa ketika kezaliman telah menjadi budaya.

Pelajaran terbesarnya adalah bahwa Allah mungkin menunda hukuman, tetapi tidak pernah mengabaikan kezaliman dan kesombongan.

Oleh karena itu, ukuran keberhasilan dalam Islam bukanlah seberapa tinggi jabatan, seberapa besar kekayaan, atau seberapa luas pengaruh seseorang. Ukuran keberhasilan adalah ketakwaan, keadilan, dan kerendahan hati di hadapan Allah.


Jalan Taubat dan Kembali kepada Allah

Kabar gembiranya, pintu taubat selalu terbuka selama manusia masih hidup.

Allah SWT berfirman:

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura [42]: 25).

Taubat dari kezaliman harus disertai dengan pengembalian hak kepada pemiliknya atau permohonan maaf kepada pihak yang dizalimi. Sementara taubat dari kesombongan dilakukan dengan melatih sikap tawadhu', menerima nasehat, dan menyadari bahwa semua kelebihan berasal dari Allah.

Para ulama tasawuf menegaskan bahwa semakin seseorang mengenal dirinya, semakin kecil peluang dirinya untuk sombong. Sebab diciptakan manusia dari tanah, hidup dengan kelemahan, dan pada akhirnya kembali menjadi tanah.

Kesadaran inilah yang melahirkan kerendahan hati dan menjauhkan manusia dari sifat yang menjadi sebab terusirnya Iblis dari rahmat Allah.


Penutup

Kezaliman dan kesombongan adalah dua penyakit yang dapat menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat. Kezaliman merusak hubungan dengan sesama, sedangkan sombong merusak hubungan dengan Allah. Keduanya menjadi penyebab utama kehancuran banyak umat dalam sejarah.

Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya selalu bermuhasabah, menjaga keadilan dalam setiap urusan, menghormati sesama manusia, serta melatih kerendahan hati. Sebab pada akhirnya, bukan kekuasaan, harta, atau keturunan yang akan menyelamatkan manusia, melainkan hati yang bersih dan amal yang diridhai Allah SWT.

Wa Allah a'lam bish-shawab

Manfaat. Aamiin


Catatan Kaki 

¹ QS. Ibrahim [14]: 42.

² Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Jilid 16 (Kairo: Dar Hajar, 2001), hlm. 528.

³ QS. Al-A'raf [7]: 12.

⁴ Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, No.91.

⁵ Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Jilid III (Beirut: Dar al-Ma'rifah, tt), hlm. 343.

⁶ QS. Al-Qashash [28]: 81.

⁷ Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Mazhalim, No.2448.

⁸ Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, No.91.

READ MORE - AWAL KEHANCURAN

KELUARGA BERUNTUNG


HIJRAH MENUJU RUMAH TANGGA YANG ḤAYĀTAN ṬAYYIBAH


Menjemput Keluarga Bahagia yang Diridhai Allah

Oleh: Pengamat Dakwah


Pendahuluan


Di era modern, banyak keluarga memiliki rumah yang megah, kendaraan yang mewah, dan fasilitas yang lengkap. Namun tidak sedikit yang kehilangan ketenangan, keharmonisan, bahkan arah hidup. Konflik rumah tangga, renggangnya hubungan orang tua dan anak, serta lunturnya nilai-nilai agama menjadi tantangan yang nyata.

Islam menawarkan konsep kebahagiaan keluarga yang tidak hanya bertumpu pada kemapuan materi, tetapi juga pada ketenangan jiwa dan keberkahan hidup. Al-Qur'an menyebutnya sebagai ḥayātan ṭayyibah—kehidupan yang baik.

Allah SWT berfirman:

"Barang siapa yang bekerja amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl : 97)

Menurut Imam Ath-Thabari, kehidupan yang baik bukan semata-mata banyaknya harta, melainkan ketenteraman hati, keberkahan rezeki, dan rasa cukup yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang beriman.

Oleh karena itu, hijrah keluarga bukan sekedar perubahan penampilan atau gaya hidup, tetapi transformasi menuju keluarga yang lebih dekat kepada Allah.


Hijrah dari Kelalaian Menuju Ketakwaan

Setiap keluarga memiliki titik awal perjalanan hijrahnya masing-masing. Ada yang memulai dari memperbaiki shalat, ada yang memulai dari memperbaiki komunikasi, dan ada juga yang dimulai dengan memperbaiki sumber rezeki.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.” (QS. Ali Imran : 102)

Ketakwaan merupakan yayasan utama rumah tangga Islami. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa seluruh amal kebaikan akan tumbuh di atas fondasi takwa.

Keluarga yang bertakwa bukan berarti bebas dari ujian. Mereka tetap menangani masalah ekonomi, kesehatan, ataupun konflik rumah tangga. Namun mereka memiliki kompas yang selalu mengarahkan ke jalan yang benar.

Oleh karena itu, hijrah pertama dalam keluarga adalah membiasakan shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, mengikuti majelis ilmu, dan memastikan bahwa nafkah yang masuk ke rumah berasal dari jalan yang halal.


Hijrah dari Pertengkaran Menuju Sakinah

Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam adalah menghadirkan ketenteraman.

Allah berfirman:

لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

"Agar kamu merasa tenteram padanya." (QS. Ar-Rum : 21)

Kata sakinah berasal dari akar kata yang berarti tenang dan damai. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sakinah adalah ketenangan yang Allah tanamkan dalam hati suami dan istri.

Dalam kehidupan nyata, sakinah tidak berarti rumah tangga tanpa masalah. Bahkan keluarga para nabi pun menghadapi ujian yang berat. Yang membedakannya adalah cara mereka menyikapi masalah tersebut.

Ketika ego dikalahkan, komunikasi diperbaiki, dan doa diperbanyak, konflik yang menjadi sumber perpecahan justru berubah menjadi sarana pendewasaan.

Rumah tangga yang sakinah lahir bukan dari kemenangan dalam pengasuhan, tetapi dari kemampuan untuk saling memahami.


Hijrah Menuju Mawaddah dan Rahmah

Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga kasih sayang yang bertahan sepanjang usia.

Allah SWT berfirman:

وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

"Dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang." (QS. Ar-Rum : 21)

Imam Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa mawaddah adalah cinta yang tampak dalam perhatian dan tindakan, sedangkan rahmah adalah kasih sayang yang tetap hadir saat cinta sedang diuji.

Pada masa awal pernikahan, cinta mungkin tumbuh karena ketertarikan. Namun seiring berjalannya waktu, rumah tangga akan bertahan karena kasih sayang.

Ucapan yang lembut, diberikan kepada pasangan, saling membantu pekerjaan rumah, dan kesediaan memaafkan merupakan bentuk nyata dari mawaddah dan rahmah.

Keluarga yang bahagia bukanlah keluarga yang sempurna, tetapi keluarga yang terus belajar mencintai dalam ridha Allah.


Hijrah Menuju Keluarga Ahli Ibadah

Rumah yang paling indah bukanlah rumah yang dipenuhi perabotan mahal, melainkan rumah yang dipenuhi ibadah.

Allah SWT berfirman:

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha : 132)

Ayat ini menunjukkan bahwa membimbing keluarga menuju ibadah merupakan tugas mulia setiap orang tua.

Shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an bersama, dzikir pagi dan petang, serta qiyamul lail sesekali bersama keluarga dapat menjadi sarana memperkuat hubungan spiritual antaranggota keluarga.

Ketika hubungan dengan Allah semakin baik, hubungan sesama anggota keluarga pun akan semakin harmonis.


Hijrah Menuju Akhlak Mulia

Pendidikan terbaik yang diberikan kepada orang tua bukanlah warisan harta, melainkan keteladanan akhlak.

Allah SWT berfirman:

قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim : 6)

Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat ini dengan mengajarkan ilmu dan adab kepada keluarga.

Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Ketika orang tua jujur, santun, disiplin, dan bertanggung jawab, nilai-nilai itu akan tertanam kuat dalam diri anak-anak.

Oleh karena itu, hijrah keluarga harus diwujudkan melalui perubahan perilaku sehari-hari.

Hijrah Menuju Keluarga yang Bersyukur dan Gemar Berbagi

Banyak orang mengira kebahagiaan terletak pada banyaknya harta. Padahal Al-Qur'an mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari rasa syukur.

Allah SWT berfirman:

"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmatmu." (QS.Ibrahim:7)

Keluarga yang disyukuri akan lebih mudah merasakan kebahagiaan, meskipun hidup dalam kesederhanaan.

Syukur kemudian melahirkan kepedulian sosial. Keluarga yang gemar bersedekah, membantu tetangga, menyantuni yatim, dan berbagi kepada sesama akan merasakan keberkahan yang tidak dapat diukur dengan angka.

setara dengan kaum Anshar yang dipuji Allah karena mendahulukan kepentingan orang lain, keluarga Muslim pun diajarkan untuk menjadi sumber manfaat bagi lingkungan sekitar.


Hijrah Menuju Keluarga Surga

Pada akhirnya, tujuan keluarga Muslim bukan hanya sukses di dunia, tetapi juga berkumpul kembali di akhirat.

Doa yang diajarkan Al-Qur'an menjadi penutup yang indah:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata.” (QS. Al-Furqan : 74)

Menurut Imam As-Sa'di, keluarga terbaik adalah keluarga yang saling membantu dalam ketaatan dan saling mengingatkan menuju surga.

Inilah makna terdalam dari hijrah keluarga. Bukan sekedar perubahan lahiriah, melainkan perjalanan bersama menuju ridha Allah.


Hikmah dan Ibrah

Pertama, hijrah keluarga dimulai dari perbaikan diri masing-masing anggota keluarga.

Kedua, ketakwaan adalah fondasi utama ketahanan rumah tangga.

Ketiga, sakinah lahir dari iman, komunikasi, dan pengendalian diri.

Keempat, mawaddah dan rahmah harus dijaga setiap hari melalui perhatian dan kasih sayang.

Kelima, ibadah bersama akan memperkuat ikatan ruhani keluarga.

Keenam, pendidikan akhlak merupakan investasi terbesar bagi masa depan anak.

Ketujuh, syukur dan sedekah menjadi kunci hadirnya keberkahan.

Kedelapan, tujuan akhir keluarga Muslim adalah memperoleh ridha Allah dan berkumpul kembali di surga-Nya.


Penutup

Rumah tangga yang ḥayātan ṭayyibah tidak lahir dalam satu malam. Ia dibangun melalui proses hijrah yang panjang, penuh kesabaran, pengorbanan, dan doa.

Ketika sebuah keluarga menjadikan Allah sebagai tujuan, Al-Qur'an sebagai pedoman, dan Rasulullah ﷺ sebagai teladan, maka rumah itu akan menjadi tempat bertumbuhnya cinta, ketenangan, dan keberkahan.

Di tengah berbagai tantangan zaman, keluarga yang berhijrah menuju Allah akan menemukan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki segalanya, melainkan tentang merasa cukup bersama Allah dan orang-orang yang dicintai karena-Nya.


Referensi: Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān; Al-Qurṭubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān; Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm; Fakhruddin Ar-Razi, Mafātīḥ al-Ghaib; Hamka, Tafsir Al-Azhar; M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah; As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān; Al-Ghazali, Iḥyā' 'Ulūm ad-Dīn.

READ MORE - KELUARGA BERUNTUNG

Jumat, 19 Juni 2026

JAGA NASAB !


 Apakah Nasab Itu Tidak Penting?

Antara Kehormatan Keturunan dan Kemuliaan Amal

Oleh: Ustadz Umar Fauzi


Di tengah masyarakat Muslim, sering muncul tentang nasab. Ada yang beranggapan bahwa keturunan tidak penting karena yang dinilai Allah hanyalah amal. Sebaliknya, ada pula yang menempatkan nasab sebagai ukuran utama kemuliaan seseorang.

Lalu, bagaimana sebenarnya memandang Islam?

Al-Qur'an dan hadis memberikan jawaban yang seimbang. Islam tidak menghapus nilai-nilai nasab, tetapi juga tidak menjadikannya sebagai tiket otomatis menuju kemuliaan. Nasab dihormati, sementara amal saleh menjadi penentu utama derajat seseorang di sisi Allah.

Allah berfirman:

«"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."

(QS. Al-Hujurat: 13)»

Ayat ini menjadi prinsip dasar bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah warna kulit, suku, bangsa, ataupun garis keturunan, melainkan ketakwaannya.


Nasab Tetap Penting

Dalam Islam, nasab bukan sekadar urusan kebanggaan keluarga. Nasab memiliki fungsi syariat yang sangat penting.

Melalui nasab, seseorang mengetahui hubungan kekerabatan, hak waris, batas-batas mahram, dan kewajiban silaturahim. Karena itu Rasulullah SAW bersabda:

«"Pelajarilah nasab kalian agar kalian dapat menyambung silaturahim."

(HR. Tirmidzi)»

Artinya, Islam justru memerintahkan umatnya untuk mengenalkan dan menjaga nasab.

Bahkan terhadap keluarga Nabi Muhammad SAW, Islam memberikan penghormatan khusus. Rasulullah bersabda:

«"Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku."

(HR. Muslim)»

Kecintaan kepada keluarga Rasulullah merupakan bagian dari kecintaannya kepada beliau. Karena itu para ulama sepanjang sejarah selalu mengajarkan adab menghormati Ahlul Bait.

Namun Nasab Bukan Jaminan Keselamatan

Meskipun demikian, Islam juga menegaskan bahwa nasab tidak akan berguna apabila tidak disertai amal saleh.

Salah satu hadis paling terkenal adalah ketika Rasulullah SAW berpesan kepada putrinya sendiri, Sayyidah Fatimah RA:

«"Wahai Fatimah binti Muhammad, beramallah. Aku tidak dapat menyelamatkanmu dari azab Allah sedikit pun."

(HR. Bukhari)»

Pesan ini menunjukkan bahwa bahkan putri tercinta Nabi pun tetap dituntut untuk beramal.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

«"Barang siapa yang diperlambat oleh amalnya, maka nasabnya tidak akan dapat mempercepatnya."

(HR. Muslim)»

Inilah prinsip keadilan Islam. Semua manusia akan dihisab berdasarkan amalnya masing-masing.

Al-Qur'an juga menggambarkan keadaan manusia pada Hari Kiamat:

«"Maka apabila Sangkakala ditiup, tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka pada hari itu."

(QS. Al-Mu'minun: 101)»

Di hadapan Allah, seluruh manusia berdiri sebagai hamba yang mempertanggungjawabkan amalnya sendiri.


Pandangan Para Ulama

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa nasab yang mulia merupakan kenikmatan sekaligus ujian. Orang yang memiliki keturunan baik tetapi tidak menjaga amalnya ibarat pewaris harta yang menyia-nyiakan warisan berharga.

Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa keutamaan keluarga tidak otomatis menyelamatkan seseorang. Yang menentukan adalah iman dan amal saleh.

Sementara itu, Syekh Nawawi Al-Bantani mengingatkan bahwa keturunan Nabi memiliki kemuliaan yang wajib dihormati, namun mereka juga memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar untuk menjaga akhlak dan ketakwaan.

Buya Hamka menambahkan bahwa kemuliaan Ahlul Bait sepanjang sejarah bukan hanya karena nasab mereka, tetapi juga karena ilmu, perjuangan, dan pengabdian mereka kepada agama.

Pandangan serupa disampaikan KH Hasyim Asy'ari. Menurut pendiri Nahdlatul Ulama itu, semakin tinggi kehormatan yang diberikan Allah, semakin besar pula amanah yang harus dijaga.


Nasab dan Amal Harus Berjalan Bersama

Sesungguhnya Islam tidak mempertentangkan nasab dan amal. Keduanya memiliki posisi masing-masing.

Nasab adalah anugerah yang diberikan Allah tanpa usaha manusia. Seseorang tidak memilih dilahirkan dari keluarga mana. Karena itu nasab patut disyukuri dan dijaga kehormatannya.

Adapun amal saleh adalah ikhtiar yang menentukan kualitas diri seseorang di hadapan Allah.

Jika nasab diibaratkan pohon, maka amal adalah buahnya. Pohon yang baik seharusnya menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya, pohon yang mulia tetapi tidak berbuah akan kehilangan manfaatnya.

Karena itu para ulama sering mengatakan bahwa keturunan keturunan hendaknya menjadi motivasi untuk memperbanyak amal, bukan alasan untuk berbangga diri.


Penutup

Jadi, benarkah nasab itu tidak penting?

Jawabannya: nasab penting, tetapi bukan yang paling menentukan.

Islam menghormati nasab, terutama nasab Rasulullah SAW. Namun kemuliaan tertinggi tetap berada pada iman, takwa, dan amal saleh.

Nasab tanpa amal tidak akan menyelamatkan. Sebaliknya, amal saleh dapat mengangkat derajat seseorang meskipun ia berasal dari keluarga sederhana.

Oleh karena itu, siapa pun kita, apa pun keturunan kita, tugas utama adalah memperbaiki diri, memperbanyak amal, menjaga akhlak, dan meneladani Rasulullah SAW.

Sebab pada akhirnya, yang akan ditanyakan Allah bukanlah siapa nenek moyang kita, melainkan apa yang telah kita lakukan selama hidup di dunia.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Semoga bermanfaat dan menjadi bahan refleksi untuk menekankan penghormatan terhadap nasab dengan semangat beramal saleh. Aamiin.

READ MORE - JAGA NASAB !
 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman