PANGGILAN HAJI DAN UMRAH: KETIKA ALLAH MENGUNDANG MELALUI NABI IBRAHIM AS
Oleh: Pemgamat Dakwah
Pendahuluan
Ada perjalanan yang dirancang manusia, tetapi ada pula perjalanan yang terasa seperti sebuah panggilan. Haji dan umrah termasuk perjalanan yang memiliki makna spiritual sangat dalam. Seorang Muslim mungkin telah lama menyimpan keinginan untuk mengunjungi Baitullah. Namun, ketika kesempatan itu benar-benar terbuka, hati sering kali merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan: seolah-olah Allah sedang mengundang hamba-Nya untuk datang ke rumah-Nya.
Dalam tradisi Islam, panggilan haji dan umrah memiliki akar sejarah yang sangat kuat pada dakwah Nabi Ibrahim AS. Setelah membangun Ka'bah bersama putranya, Nabi Ismail AS, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyeru manusia agar melaksanakan haji.
Allah SWT berfirman:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. al-Hajj [22]: 27).
Ayat tersebut memperlihatkan bahwa seruan haji bukan semata-mata agenda perjalanan manusia. Ia merupakan bagian dari syiar tauhid yang berakar pada Nabi Ibrahim AS.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyeru manusia menjadi salah satu fondasi historis bagi keberlangsungan ibadah haji hingga umat Nabi Muhammad SAW.¹
Karena itu, ungkapan “panggilan Allah” dalam konteks haji dan umrah memiliki makna spiritual. Ia bukan berarti seseorang boleh meninggalkan kewajiban syariat dengan alasan belum “dipanggil”, tetapi menggambarkan kesadaran bahwa kemampuan, kesempatan, kesehatan, keamanan, dan rezeki untuk sampai ke Tanah Suci pada akhirnya berada dalam kehendak dan karunia Allah.
Seruan Nabi Ibrahim AS dari Lembah yang Gersang
Kisah Nabi Ibrahim AS merupakan kisah tentang ketaatan yang luar biasa. Allah memerintahkan Ibrahim menempatkan Hajar dan Ismail di sebuah lembah yang pada waktu itu belum menjadi kota seperti Makkah yang dikenal sekarang.
Ibrahim berdoa:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati.” (QS. Ibrahim [14]: 37).
Di tempat itulah kemudian muncul Zamzam, berkembang kehidupan, dan akhirnya berdiri kota Makkah. Nabi Ibrahim dan Ismail kemudian mengangkat fondasi Ka'bah.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ
“Dan ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail...” (QS. al-Baqarah [2]: 127).
Setelah Ka'bah berdiri, datanglah perintah Allah agar Ibrahim menyeru manusia melaksanakan haji. Menurut penjelasan para mufasir, seruan tersebut menunjukkan bahwa ibadah haji memiliki dimensi universal. Manusia dari berbagai bangsa, warna kulit, bahasa, dan wilayah dipanggil menuju satu pusat tauhid.²
Di sinilah salah satu keindahan haji: manusia yang dalam kehidupan sehari-hari dibedakan oleh status sosial, jabatan, kekayaan dan kebangsaan, di hadapan Ka'bah berdiri sebagai hamba Allah.
Niat yang Tulus: Jangan Hanya Mengejar Gelar
Haji dan umrah merupakan ibadah. Karena itu, ukuran utama bukan sekadar keberangkatan secara fisik, tetapi ketulusan hati.
Allah SWT berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS. al-Bayyinah [98]: 5).
Rasulullah SAW juga bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).³
Karena itu, orang yang hendak berangkat ke Tanah Suci sebaiknya melakukan introspeksi: untuk siapa perjalanan ini dilakukan?
Apakah karena Allah?
Ataukah karena ingin dipuji sebagai orang yang sudah haji?
Apakah karena ingin memperoleh status sosial?
Ataukah benar-benar ingin memenuhi panggilan ibadah dan memperbaiki kehidupan setelah pulang?
Pertanyaan tersebut penting karena haji bukan sekadar perjalanan wisata religi. Ia adalah madrasah kehidupan. Seseorang yang pulang dari Tanah Suci seharusnya membawa perubahan akhlak, bukan hanya membawa oleh-oleh.
Gelar “haji” tidak otomatis menjadikan seseorang lebih mulia. Kemuliaan seseorang di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya.
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat [49]: 13).
Yakin kepada Allah, Tetapi Tetap Berikhtiar
Ungkapan “kalau Allah sudah memanggil, pasti berangkat” mengandung semangat tawakal. Namun, keyakinan kepada Allah tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk meninggalkan ikhtiar.
Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan usaha. Orang yang ingin berhaji harus mempersiapkan kemampuan finansial, kesehatan, administrasi, ilmu manasik, serta kesiapan mental dan spiritual.
Allah SWT berfirman:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (QS. Ali 'Imran [3]: 97).
Kata istitha'ah atau kemampuan menjadi prinsip penting. Para ulama menjelaskan bahwa kewajiban haji terkait dengan kemampuan seseorang untuk sampai ke Baitullah dan melaksanakan ibadah dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.⁴
Dengan demikian, seorang Muslim yang memiliki kemampuan hendaknya tidak menunda-nunda kewajiban haji tanpa alasan yang dibenarkan.
Adapun orang yang belum memiliki kemampuan, jangan merasa putus asa. Ia tetap dapat berdoa, menabung, menjaga kesehatan, memperbanyak amal, dan memohon kepada Allah agar diberi kesempatan.
Doa yang tulus adalah bagian dari ikhtiar seorang mukmin.
Apa Balasan bagi Haji yang Mabrur?
Rasulullah SAW memberikan kabar gembira tentang keutamaan haji dan umrah.
Dalam hadis disebutkan:
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Umrah yang satu kepada umrah berikutnya menjadi kafarat bagi dosa-dosa di antara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).⁵
Hadis tersebut menunjukkan besarnya kedudukan haji mabrur. Akan tetapi, mabrur tidak cukup dimaknai sebagai haji yang sah secara fikih. Para ulama menjelaskan bahwa kemabruran juga berkaitan dengan keikhlasan, pelaksanaan ibadah sesuai tuntunan, menjaga diri dari dosa, serta munculnya kebaikan setelah kembali dari Tanah Suci.⁶
Haji mabrur semestinya meninggalkan bekas dalam kehidupan.
Sebelum haji mungkin seseorang mudah marah; setelah haji ia menjadi lebih sabar.
Sebelum haji mungkin ia sulit bersedekah; setelah haji ia semakin peduli kepada kaum dhuafa.
Sebelum haji mungkin lisannya mudah menyakiti; setelah haji ia menjaga ucapan.
Sebelum haji mungkin ia sibuk mengejar dunia; setelah haji ia lebih sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Dengan demikian, kemabruran tidak berhenti di Arafah.
Kemabruran justru diuji setelah seseorang kembali ke rumahnya.
Haji Mengajarkan Persamaan Manusia
Haji merupakan sekolah kemanusiaan. Semua jamaah mengenakan pakaian ihram yang sederhana. Tidak ada pakaian khusus untuk pejabat, pengusaha, ulama, maupun rakyat biasa.
Di hadapan Allah, semuanya adalah hamba.
Pemandangan tersebut mengandung pesan sosial yang sangat kuat. Islam tidak mengukur manusia berdasarkan kekayaan dan kedudukan duniawi.
Dalam thawaf, jutaan manusia mengelilingi satu pusat yang sama. Dalam wuquf di Arafah, mereka berdiri di tempat yang sama. Dalam talbiyah, mereka mengucapkan panggilan yang sama:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ
“Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”
Talbiyah tersebut merupakan pernyataan tauhid dan kesiapan seorang hamba memenuhi panggilan Allah.
Karena itu, perjalanan haji seharusnya melahirkan kesadaran bahwa semua manusia memiliki martabat sebagai makhluk Allah.
Umrah: Perjalanan Spiritual yang Terus Terbuka
Berbeda dengan haji yang memiliki waktu tertentu, umrah dapat dilakukan di luar waktu pelaksanaan haji. Umrah juga memiliki keutamaan besar.
Dalam hadis yang telah disebutkan, Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan antara satu umrah dan umrah berikutnya sebagai sebab penghapusan dosa-dosa di antara keduanya.⁷
Namun, sekali lagi, keutamaan tersebut tidak seharusnya mendorong seseorang mengejar kuantitas perjalanan semata.
Ada orang yang berkali-kali umrah, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan tetangga. Ada yang sering berada di Tanah Suci, tetapi masih meremehkan hak orang lain. Ada yang rajin thawaf, tetapi sulit memaafkan.
Padahal inti perjalanan spiritual adalah perubahan hati.
Karena itu, umrah hendaknya menjadi sarana mendekat kepada Allah, memperbarui taubat, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, dan membangun komitmen untuk hidup lebih baik.
Panggilan Allah Bukan Alasan untuk Berbangga
Istilah “sudah dipanggil Allah” sebaiknya tidak berubah menjadi simbol kesombongan.
Jika seseorang mendapatkan kesempatan berhaji pada usia muda, jangan merasa lebih suci daripada yang belum mampu.
Jika seseorang telah berkali-kali umrah, jangan memandang rendah orang yang baru sekali atau bahkan belum pernah.
Sebab kemampuan berangkat ke Tanah Suci adalah nikmat yang harus disyukuri.
Allah SWT berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim [14]: 7).
Syukur atas kesempatan haji dan umrah diwujudkan dengan menjaga kemabruran dan meningkatkan ketakwaan.
Orang yang benar-benar menyadari bahwa dirinya diundang Allah biasanya justru semakin rendah hati. Ia sadar bahwa dirinya bukanlah orang yang paling suci. Ia hanya seorang hamba yang mendapatkan kesempatan beribadah karena rahmat Allah.
Ibrah dari Panggilan Nabi Ibrahim AS
Kisah panggilan haji melalui Nabi Ibrahim AS mengandung sejumlah pelajaran penting.
Pertama, haji adalah perjalanan tauhid. Ka'bah bukan objek penyembahan. Ia adalah kiblat dan simbol persatuan umat Islam dalam menyembah Allah Yang Maha Esa.
Kedua, haji membutuhkan pengorbanan. Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail memberikan teladan tentang ketaatan, kesabaran, dan pengorbanan demi menjalankan perintah Allah.
Ketiga, niat merupakan fondasi ibadah. Besarnya biaya dan jauhnya perjalanan tidak akan berarti jika hati tidak ikhlas.
Keempat, tawakal harus disertai ikhtiar. Menunggu “panggilan” tidak berarti pasif. Orang yang ingin berhaji harus berusaha mempersiapkan diri.
Kelima, haji harus melahirkan perubahan sosial. Seorang haji tidak cukup menjadi saleh secara individual. Ia harus menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat dan bangsa.
Keenam, kemabruran harus dibuktikan setelah pulang. Ukuran keberhasilan haji bukan hanya air mata ketika melihat Ka'bah, tetapi juga perubahan perilaku setelah kembali ke tanah air.
Penutup: Semoga Kita Benar-Benar Memenuhi Panggilan-Nya
Panggilan haji dan umrah adalah salah satu bentuk karunia Allah kepada hamba-Nya. Panggilan itu secara historis terkait dengan seruan Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah untuk mengajak manusia menuju Baitullah.
Namun, panggilan tersebut harus dijawab dengan iman, niat yang tulus, keyakinan, ikhtiar, dan kesiapan mengikuti tuntunan syariat.
Bagi yang telah memiliki kemampuan, jangan menunda kewajiban haji tanpa alasan yang dibenarkan. Bagi yang belum mampu, jangan berputus asa. Teruslah berdoa dan berusaha.
Boleh jadi tabungan kita belum cukup, tetapi Allah Mahakaya.
Boleh jadi kemampuan kita terbatas, tetapi Allah Mahakuasa.
Boleh jadi jalan terasa jauh, tetapi jika Allah memberikan kemudahan, perjalanan yang berat pun menjadi ringan.
Yang terpenting bukan sekadar sampai di Makkah, tetapi bagaimana kita kembali dari Makkah dengan hati yang lebih dekat kepada Allah.
Sebab hakikat panggilan haji dan umrah bukan hanya perjalanan menuju Baitullah. Ia adalah perjalanan pulang menuju Allah dengan hati yang lebih bersih.
Semoga Allah memanggil kita ke Baitullah dalam keadaan sehat, aman, mampu, dan penuh keikhlasan. Semoga setiap langkah menuju Tanah Suci menjadi amal yang diterima, setiap doa dikabulkan, dan setiap jamaah memperoleh haji yang mabrur serta umrah yang maqbul.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حَجًّا مَبْرُورًا، وَسَعْيًا مَشْكُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مَقْبُولًا.
“Ya Allah, rezekikanlah kepada kami haji yang mabrur, usaha yang Engkau syukuri, dosa yang Engkau ampuni, dan amal saleh yang Engkau terima.”
Catatan Kaki
- Ibn Kathir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, tafsir QS. al-Hajj [22]: 27; al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. al-Hajj [22]: 27.
- Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, tafsir QS. al-Hajj [22]: 27.
- Muhammad ibn Isma'il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Bad' al-Wahy, hadis no. 1; Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 1907.
- Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, pembahasan tentang syarat wajib haji.
- Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-'Umrah; Muslim, Sahih Muslim, Kitab al-Hajj.
- Al-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim, pembahasan hadis tentang haji mabrur; Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, Kitab al-Hajj.
- Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Hajj, hadis tentang keutamaan umrah dan haji mabrur.
- Hamka, Tafsir Al-Azhar, tafsir QS. al-Hajj [22]: 27 dan QS. Ibrahim [14]: 37.
- M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, tafsir QS. al-Hajj [22]: 27 dan QS. Ali 'Imran [3]: 97.
- Syaikh Nawawi al-Bantani, Marah Labid li Kasyf Ma'na al-Qur'an al-Majid, tafsir QS. al-Hajj [22]: 27 dan QS. Ali 'Imran [3]: 97.






.jpeg)

