Kamis, 25 Juni 2026

BERHIJRAH


Mengakhiri Hijrah Adalah Peningkatan Taqwa

Oleh: Pengamat Dakwah


Hijrah merupakan salah satu kata yang paling sering terdengar dalam kehidupan umat Islam. Sebagian orang memaknainya sebagai perubahan penampilan, sebagian lagi memahaminya sebagai perpindahan dari lingkungan yang buruk menuju lingkungan yang lebih baik. Ada pula yang menganggap hijrah sebagai titik balik kehidupan setelah sekian lama terjebak dalam dosa dan kelalaian.

Namun hakikatnya, Islam mengajarkan bahwa hijrah bukanlah tujuan akhir. Hijrah adalah jalan, sedangkan tujuan akhirnya adalah takwa kepada Allah SWT.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa sepanjang perjalanan spiritual manusia bermuara pada ketakwaan. Allah berfirman:

«"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali 'Imran : 102).¹»

Ayat ini menunjukkan bahwa orientasi hidup seorang mukmin bukan sekedar perubahan lahiriah, tetapi peningkatan kualitas hubungan dengan Allah SWT.

Dalam sejarah Islam, hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah tidak hanya berpindah secara geografis. Hijrah tersebut merupakan langkah besar untuk membangun masyarakat yang beriman, berakhlak, dan bertakwa. Oleh karena itu, keberhasilan hijrah tidak diukur dari sejauh mana seseorang berpindah tempat, melainkan sejauh mana ia mendekati Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah."²»

Hadis ini memperluas makna hijrah. Seorang yang meninggalkan rahasia menuju kejujuran telah berhijrah. Orang yang meninggalkan korupsi menuju amanah juga sedang berhijrah. Begitu pula seseorang yang meninggalkan kesombongan menuju rendahan hati.


Hijrah Bukan Sekadar Simbol

Di era modern, fenomena hijrah sering kali identik dengan perubahan simbol-simbol keagamaan. Padahal para ulama mengingatkan bahwa simbol hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang menuju Allah.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa hijrah adalah proses meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi seseorang mendekat kepada Allah.³ Oleh karena itu, perubahan pakaian tanpa perubahan akhlak belum dapat disebut sebagai kesempurnaan hijrah.

Seseorang mungkin rajin menghadiri kajian, tetapi masih gemar memfitnah orang lain. Ada pula yang aktif mengutip ayat dan hadis di media sosial, namun masih menyimpan kebencian dan dendam di dalam hati. Kondisi semacam ini menunjukkan bahwa perjalanan hijrahnya belum selesai.

Hijrah yang sejati harus terlihat dalam perilaku sehari-hari. Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin lembut tutur katanya, semakin jujur ​​sikapnya, dan semakin besar manfaatnya bagi sesama.


Taqwa Sebagai Buah Hijrah

Allah SWT berfirman:

«"Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah : 21).⁴»

Menurut Imam Al-Qurthubi, tujuan seluruh bentuk ibadah adalah melahirkan ketakwaan dalam diri manusia.⁵

Oleh karena itu, setiap bentuk hijrah seharusnya menghasilkan peningkatan ketakwaan. Jika seseorang berhijrah tetapi masih ringan melakukan dosa, masih gemar menyakiti orang lain, dan masih jauh dari kebenaran, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam proses hijrahnya.

Taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah. Taqwa adalah kesadaran yang terus-menerus bahwa Allah melihat, mendengar, dan mengetahui segala perbuatan manusia. Kesadaran inilah yang mendorong seseorang untuk selalu berbuat baik, meskipun tidak ada manusia yang menyaksikan.


Pandangan Ulama Klasik

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kaum Muhajirin memperoleh kedudukan mulia karena mereka rela meninggalkan segala yang dicintai demi meraih ridha Allah.⁶ Mereka tidak berhijrah demi kekuasaan atau keuntungan dunia, tetapi demi mempertahankan iman dan ketakwaan.

Sementara itu, Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa hakikat hijrah adalah perpindahan hati dari kecintaan ke dunia menuju kecintaan kepada Allah SWT.⁷

Pandangan para ulama ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan hijrah bukanlah jumlah pengikut, luasnya pengaruh, atau tinggi popularitas seseorang. Ukuran utamanya adalah kualitas ketakwaan yang tumbuh dalam dirinya.


Hijrah Menurut Kaum Sufi

Para ulama tasawuf memberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang makna hijrah.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hijrah terbesar adalah meninggalkan hawa nafsu yang menghalangi seseorang menuju Allah.⁸ Menurut beliau, musuh yang paling berat bukanlah orang lain, melainkan nafsu yang ada di dalam diri sendiri.

Oleh karena itu, seseorang yang mampu meninggalkan kesombongan sebenarnya sedang melakukan hijrah yang besar. Demikian pula orang yang mampu meninggalkan riya, hasad, dan cinta dunia yang berlebihan.

Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari mengingatkan bahwa perpindahan dari satu keadaan ke keadaan lain belum tentu disebut hijrah apabila tidak mendekatkan diri kepada Allah.⁹

Pesan ini sangat relevan pada zaman sekarang. Banyak orang yang berubah secara lahiriah, namun belum mengalami perubahan hati. Padahal hati adalah pusat ketakwaan.


Tanda-Tanda Hijrah yang Berhasil

Bagaimana mengetahui bahwa hijrah kita berada di jalan yang benar?

Al-Qur'an memberikan definisinya:

«"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat : 13).¹⁰»

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kemuliaan seorang Muslim ditentukan oleh ketakwaannya.


Ada beberapa tanda hijrah yang berhasil.

Pertama, semakin rajin beribadah dan semakin mencintai kebaikan.

Kedua, semakin jujur ​​dan dapat dipercaya.

Ketiga, semakin rendah hati serta tidak mudah menyalahkan orang lain.

Keempat, semakin peduli kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat.

Kelima, semakin takut melakukan dosa meskipun tidak ada yang melihatnya.

Jika tanda-tanda ini mulai tumbuh, maka hijrah sedang bergerak menuju tujuan yang benar.


Hijrah yang Membawa Keberkahan

Sejarah para nabi menunjukkan bahwa setiap hijrah yang dilakukan karena Allah akan menghasilkan keberkahan.

Hijrah Nabi Ibrahim AS melahirkan generasi para nabi. Hijrah Nabi Muhammad ﷺ melahirkan peradaban Islam yang mewakili dunia. Demikian pula hijrah setiap mukmin akan melahirkan keberkahan bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungannya apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas.

Oleh karena itu, jangan pernah berhenti berhijrah. Jangan merasa cukup hanya karena sudah berubah penampilan atau lingkungan pergaulan. Hijrah adalah perjalanan sepanjang hayat.

Setiap hari seorang mukmin harus berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari dosa menuju taubat.

Pada akhirnya, keberhasilan hijrah tidak diukur oleh manusia, tetapi oleh Allah SWT. Jika setelah hijrah hati semakin lembut, ibadah semakin baik, akhlak semakin mulia, dan rasa takut kepada Allah semakin kuat, maka itulah tanda bahwa hijrah telah mencapai tujuan utamanya.

Sebab sejatinya, mengakhiri hijrah bukanlah popularitas, bukan pujian manusia, bukan pula kemegahan dunia. Mengakhiri hijrah adalah meningkatnya ketakwaan kepada Allah SWT.


Catatan Kaki:

1. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Ali 'Imran [3]:102.

2. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, No.6484.

3. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, Jilid 2, hlm. 68.

4. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Al-Baqarah [2]:21.

5. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Juz 1, hlm. 225.

6. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Beirut: Dar Thayyibah, Juz 1, hlm. 311.

7. Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-'Arabi, Juz 4, hlm. 87.

8. Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, Beirut: Dar al-Ma'rifah, Juz 3, hlm. 67.

9. Ibnu 'Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam al-'Athaiyyah, Hikmah ke-28.

10. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Al-Hujurat [49]:13.

READ MORE - BERHIJRAH

Selasa, 23 Juni 2026

WASPADA KEJAHATAN !


Korupsi dan Kebohongan: Racun yang Menggerogoti Keluarga dan Bangsa

Oleh: Pengamat Dakwah


Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, ilusi dan gambaran masih menjadi dua penyakit sosial yang paling sulit diberantas. Keduanya tidak hanya merugikan negara secara materiil, namun juga merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Lebih dari itu, korupsi dan debu menghancurkan karakter manusia, meretakkan hubungan keluarga, serta menggerogoti kepercayaan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

Islam memandang kedua perbuatan tersebut sebagai dosa besar. Korupsi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah, sedangkan ringkasan merupakan salah satu ciri kemunafikan. Karena itu Al-Qur'an dan hadis memberikan peringatan keras agar manusia menjauhinya.

Allah SWT berfirman:

«إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang menerimanya.” (QS. an-Nisa': 58)»

Ayat ini menegaskan bahwa amanah merupakan fondasi kehidupan. Ketika amanah dijaga, lahirlah keadilan dan keberkahan. Sebaliknya, ketika amanah dikhianati, kerusakan akan menyebar ke berbagai aspek kehidupan.


Korupsi: Mengambil yang Bukan Haknya

Dalam khazanah Islam, korupsi dekat dengan istilah ghulul (penggelapan), khianat, dan riswah (suap). Meski istilah korupsi dalam bentuk modern belum dikenal pada masa awal Islam, substansi perbuatannya telah dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur'an dan hadis.

Allah SWT berfirman:

«وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS. al-Baqarah: 188)»

Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini mencakup seluruh bentuk perampasan hak orang lain, baik melalui penipuan, suap, manipulasi hukum, maupun pembatasan kekuasaan. Semua bentuk pengambilan harta yang tidak sah termasuk dalam kategori memakan harta secara batil.

Korupsi sering kali dipandang sebagai pelanggaran hukum administrasi atau keuangan. Padahal dampaknya jauh lebih besar. Korupsi adalah kejahatan moral yang menghancurkan rasa keadilan. Ketika seseorang mengambil hak publik untuk kepentingan pribadi, pada saat yang sama ia telah merampas hak rakyat yang membutuhkan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa harta yang diperoleh secara haram tidak akan membawa ketenangan jiwa. Mungkin secara lahirnya tampak berlimpah, namun keberkahannya hilang. Harta semacam itu justru menjadi sumber kegelisahan dan malapetaka.


Kebohongan: Pintu Masuk Berbagai Kerusakan

Jika korupsi merusak keadilan, maka dokumenter merusak kepercayaan. Padahal kepercayaan adalah modal utama dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sejujurnya kejujuran membawa kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Sedangkan dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)»

Hadis ini menunjukkan bahwa kejujuran bukan hanya sekedar persoalan etika, tetapi juga jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Sebaliknya, dusta merupakan awal dari berbagai penyimpangan.

Dalam hadis lain Rasulullah Saw bersabda:

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan bila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)»

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kisahnya menjadi akar dari banyak dosa lainnya. Seseorang yang terbiasa berdusta akan mudah tertipu, memfitnah, bertahan hidup, bahkan melakukan kezaliman yang lebih besar.

Di era digital saat ini, bahaya gambaran semakin nyata. Berita palsu, fitnah, dan informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Banyak konflik sosial bahkan permusuhan antarkelompok bermula dari informasi yang tidak benar.

Oleh karena itu Allah Swt mengingatkan:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. al-Hujurat : 6)»

Ayat ini menjadi landasan penting dalam membangun budaya tabayyun dan literasi informasi di tengah derasnya arus media sosial.


Ketika Korupsi Masuk ke Dalam Rumah

Sering kali orang berpikir bahwa korupsi hanya berdampak pada negara. Padahal dampak pertama yang dirasakan justru oleh keluarga pelakunya sendiri.

Harta yang diperoleh secara haram tidak membawa ketenteraman. Rasulullah Saw bersabda:

“Setiap daging yang tumbuh dari barang haram maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. Tirmidzi)»

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa makanan dan harta haram akan menggelapkan hati serta menghalangi seseorang dari ketaatan kepada Allah. Keberkahan hidup perlahan hilang meskipun secara material tampak berkecukupan.

Banyak keluarga yang terlihat mewah, namun dipenuhi kegelisahan. Konflik rumah tangga meningkat, anak-anak kehilangan teladan, dan nama baik keluarga tercoreng ketika praktik korupsi terbongkar.

Yang lebih berbahaya, anak-anak dapat tumbuh dengan pola pikir bahwa kesuksesan dapat diraih melalui cara apa pun, termasuk dengan menipu dan menyalahgunakan kekuasaan. Ketika nilai kejujuran hilang dari rumah, maka generasi yang lahir pun berisiko kehilangan integritas.

Allah SWT berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. at-Tahrim : 6)»

Menjaga keluarga dari api neraka bukan hanya dengan mengajarkan ibadah, tetapi juga memastikan bahwa nafkah yang diberikan berasal dari sumber yang halal dan bersih.


Kebohongan Menghancurkan Kehangatan Keluarga

Keluarga dibangun di atas rasa percaya. Ketika kejujurannya hilang, fondasi rumah tangga mulai rapuh.

Banyak pertengkaran rumah tangga yang bermula dari hal-hal kecil yang dianggap remeh. Menyembunyikan kondisi keuangan, mengingkari janji, atau tidak terbuka dalam berbagai urusan dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari perilaku orang tua. Jika orang tua terbiasa berkata tidak jujur, anak-anak akan menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang lumrah.

Akibatnya, kebiasaan buruk tersebut terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Oleh karena itu para ulama menegaskan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari keteladanan. Kejujuran yang dipraktikkan dalam keluarga akan melahirkan generasi yang memiliki integritas dan tanggung jawab.


Korupsi dan Kemunduran Bangsa

Tidak ada bangsa yang maju jika korupsi menjadi budaya. Korupsi menggerogoti sumber daya negara, menghambat pembangunan, dan memperlebar jurang ketimpangan sosial.

Dana yang seharusnya digunakan untuk sekolah, rumah sakit, jalan, serta pelayanan publik malah dinikmati oleh segelintir orang. Akibatnya masyarakat miskin semakin tertinggal, sementara kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah terus menurun.

Allah SWT berfirman:

«كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. al-Hasyr: 7)»

Ayat ini mengandung prinsip keadilan ekonomi. Islam menghendaki distribusi kesejahteraan yang merata, bukan menghendaki kekayaan melalui jalan yang zalim.

Sayyid Quthb menjelaskan bahwa keadilan sosial merupakan salah satu tujuan utama syariat. Ketika korupsi merajalela, tujuan tersebut menjadi sulit terwujud karena hak-hak masyarakat banyak dirampas oleh segelintir orang.

Korupsi juga merusak citra bangsa di mata dunia. Investor kehilangan kepercayaan, pelayanan publik memburuk, dan daya saing negara menurun.


Hoaks dan Dusta Mengancam Persatuan

Selain ilusi, pengungkapan publik juga menjadi ancaman serius bagi kehidupan berbangsa.

Hoaks, fitnah, dan kebencian dapat memecah belah persaudaraan yang selama ini terjalin dengan baik. Masyarakat menjadi mudah curiga dan saling bermusuhan hanya karena informasi yang belum tentu benar.

Allah SWT berfirman:

«إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sejujurnya orang-orang yang suka berbuat perbuatan keji di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih.” (QS. an-Nur : 19)»

Menurut Prof. Quraish Shihab, penyebaran informasi bohong yang merusak kehormatan orang lain termasuk bentuk kerusakan sosial yang sangat berbahaya karena menghancurkan persaudaraan dan ketenteraman masyarakat.

Bangsa yang kehilangan kepercayaan akan sulit berkembang. Sebab pembangunan tidak hanya memerlukan modal ekonomi, tetapi juga modal sosial berupa kejujuran dan saling percaya.


Jalan Keluar Menurut Islam

Islam tidak hanya melarang doktrin dan doktrin, tetapi juga menawarkan solusi untuk mencegah keduanya.

Pertama, memperkuat iman dan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan manusia.

Kedua, mengajarkan kejujuran pendidikan sejak usia dini, baik di rumah maupun di sekolah.

Ketiga, menegakkan hukum secara adil tanpa membedakan status sosial.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangan.” (HR.Bukhari)»

Keempat, memilih pemimpin yang amanah dan memiliki integritas.

Kelima, membudayakan tabayyun dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Jika prinsip lima ini dijalankan, maka masyarakat akan memiliki benteng moral yang kuat untuk menghadapi berbagai bentuk penyimpangan.


Penutup

Korupsi dan ringkasan adalah dua racun yang perlahan menghancurkan kehidupan manusia. Korupsi merusak amanah, sedangkan merusak kepercayaan. Keduanya menghancurkan keluarga, meningkatkan masyarakat, dan menghambat kemajuan bangsa.

Islam mengajarkan bahwa amanah, kejujuran, dan keadilan merupakan landasan utama kehidupan. Ketika nilai-nilai tersebut dijaga, lahirlah keluarga yang tenteram, masyarakat yang harmonis, dan bangsa yang kuat.

Sebaliknya, jika korupsi dan dusta terus dibiarkan, maka kerusakan moral akan semakin meluas dan masa depan bangsa menjadi taruhannya.

Wallāhu a'lam bi al-shawāb.

Manfaat. Aamiin


Referensi

Al-Qur'an al-Karim.

Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas.

Imam an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim.

Imam al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin.

Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an.

M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah.

READ MORE - WASPADA KEJAHATAN !

ZAMAN EDAN


Antara Kecurangan dan Dendam: Tetap Mendoakan yang Terbaik di Tengah "Zaman Edan"

Oleh: Ustadz Umar Fauzi


Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, banyak orang merasa hidup pada masa yang oleh pujangga Jawa Ranggawarsita disebut sebagai zaman edan. Sebuah masa ketika kejujuran sering dianggap buruk, amanah dianggap sebagai beban, dan keadaan seolah-olah menjadi jalan tercepat menuju keuntungan. Dalam suasana seperti ini, tidak sedikit orang baik yang menjadi korban fitnah, pengkhianatan, atau perlakuan tidak adil. Akibatnya, lahirlah rasa kecewa yang berkembang menjadi balas dendam.

Islam mengajarkan bahwa kebencian dan balas dendam sama-sama berbahaya. Kecurangan merusak kehidupan sosial, sedangkan balas dendam merusak kehidupan spiritual. Oleh karena itu, seorang mukmin dituntut untuk tetap menjaga hati, memegang prinsip kebenaran, dan terus mendoakan yang terbaik meskipun menghadapi perlakuan yang menyakitkan.

Allah SWT berfirman:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ۝ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain permintaannya terpenuhi, tetapi bila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, maka mereka mengurangi. (QS. Al-Muṭaffifin : 1-3).

Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini tidak hanya berbicara tentang timbangan dalam perdagangan, tetapi mencakup seluruh bentuk pengurangan hak orang lain. Kecurangan dapat terjadi dalam jabatan, pekerjaan, pendidikan, bahkan dalam hubungan sosial sehari-hari.¹

Pada era modern, bentuk kondisi semakin beragam. Ada manipulasi data, propaganda, korupsi, penyebaran hoaks, hingga pengkhianatan terhadap amanah publik. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa pesan Al-Qur'an mengenai kondisi memiliki cakupan yang sangat luas karena pada hakikatnya semua bentuk pengurangan hak orang lain merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai keadilan.²

Namun persoalan sering kali tidak berhenti pada kondisi. Keadaan korban sering menyimpan luka yang mendalam. Dari luka tersebut tumbuh kebencian dan dendam. Jika tidak dikelola dengan baik, balas dendam dapat berubah menjadi tindakan yang sama buruknya dengan imbalan yang pernah diterima.

Oleh karena itu Allah SWT mengingatkan:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum yang mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Mā'idah : 8).

Ayat ini mengajarkan bahwa kebencian tidak dapat menghilangkan keadilan. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa seorang muslim tetap wajib berlaku adil meskipun kepada orang yang pernah menyakitinya.³ Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh emosi.

Dalam perspektif tasawuf, dendam dipandang sebagai penyakit hati yang sangat berbahaya. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa dendam merupakan bara api yang tersimpan di dalam jiwa. Bara itu tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi terlebih dahulu membakar ketenangan batin pemiliknya.⁴ Oleh karena itu, semakin lama seseorang memelihara balas dendam, semakin berat pula beban hidup yang dipikulnya.

Di akhir Islam menawarkan jalan yang lebih mulia, yaitu mendoakan kebaikan. Mungkin terasa sulit, tetapi inilah karakter orang-orang beriman yang dijelaskan Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا

Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al-Hasyr : 10).

Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah membersihkan hati dari kebencian terhadap sesama mukmin. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa doa tersebut menjadi tanda kemuliaan hati dan kesempurnaan iman.⁵

Mendoakan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan juga bukan berarti menghapus keadilan. Islam tetap memberikan ruang untuk menuntut hak secara benar dan proporsional. Namun hati tidak boleh menahan dendam yang berkepanjangan. Orang menyerahkan urusan akhir kepada Allah Yang Maha Adil.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai orang-orang yang tetap berbuat baik meskipun dicaci, tetap membantu meskipun pernah disakiti, dan tetap mendoakan meskipun pernah dikhianati. Sikap seperti ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan spiritual yang lahir dari keyakinan bahwa Allah melihat segala sesuatu.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari kemampuannya membalas kejahatan, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri ketika memiliki kesempatan untuk membalas.⁶

Sikap inilah yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang. Ketika fitnah mudah menyebar melalui media sosial, ketika kebencian sering dipelihara demi kepentingan kelompok, dan ketika keadaan terkadang dianggap lumrah, seorang muslim harus tampil sebagai pembawa kesejukan.

Allah SWT berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَأَحْسَنُ

"Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik." (QS. Fuṣṣilat : 34).

Menurut para mufasir, membalas keburukan dengan kebaikan bukan hanya memperbaiki hubungan antar manusia, tetapi juga membuka pintu pertolongan Allah. Ketika manusia memilih jalan kesabaran, Allah akan menghadirkan jalan keluar yang tidak pernah disangka-sangka.

Rasulullah SAW bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ

"Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran." (HR Ahmad).

Hadis ini mengandung pesan yang sangat dalam. Banyak orang mengira kemenangan harus diraih melalui kemarahan, balas dendam, atau tindakan yang keras. Padahal sering kali kemenangan sejati justru hadir melalui kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan menjaga prinsip.

Di tengah "zaman edan", orang beriman memang menghadapi ujian yang tidak ringan. Namun sejarah menunjukkan bahwa kejujuran selalu memiliki cahaya, kesabaran selalu memiliki jalan keluar, dan doa selalu memiliki kekuatan yang tidak terlihat oleh mata manusia.

Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan, jangan ikut curang. Ketika menghadapi kebencian, jangan menanam dendam. Ketika menghadapi fitnah, jangan membalas dengan fitnah. Tetaplah menjadi pribadi yang menjaga iman, akhlak, dan doa.

Sebab boleh jadi pertolongan Allah tidak datang melalui kekuatan yang kita miliki, tetapi melalui ketulusan hati yang tetap mendoakan kebaikan bagi sesama. Di situlah letak kemenangan orang-orang yang beriman.

Manfaat. Aamiin


Referensi

1. Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān, Jil. 24, hlm. 197.

2. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jil. 15, hlm. 120.

3. Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, Jil. 6, hlm. 110.

4. Al-Ghazali, Ihyā' 'Ulum ad-Dīn, Jil. 3, hlm. 185.

5. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Jil. 8, hlm. 95.

6. Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jil. 3, hlm. 220.

READ MORE - ZAMAN EDAN

DAKWAH WALISONGO


DAKWAH ULAMA DAN WALISONGO: MENEGAKKAN TAUHID, MENOLONG UMAT, MENGOBATI MASYARAKAT, DAN MEMBANGUN BANGSA

Oleh: Pengamat Dakwah


Dakwah yang Membumi dan Mengakar

Ketika berbicara tentang dakwah Islam di Nusantara, nama Walisongo dan para ulama tidak dapat terlepas dari sejarah perkembangan masyarakat Indonesia. Mereka tidak hanya mengajarkan syahadat, shalat, dan puasa, tetapi juga hadir di tengah sebagai pendidik masyarakat, penolong, tabib, pemimpin sosial, bahkan penasihat politik.

Inilah yang membuat dakwah Islam di Nusantara berkembang dengan damai dan diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Dakwah tidak hadir sebagai ancaman, namun sebagai rahmat yang memberikan solusi bagi persoalan kehidupan.

Allah SWT berfirman:

 ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl : 125)

Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini menunjukkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan kebijaksanaan, kelembutan, dan cara yang dapat diterima masyarakat.^1


Tauhid Sebagai Pondasi Dakwah

Misi pertama para nabi dan ulama adalah menanamkan tauhid. Sebab, perbaikan masyarakat tidak akan kokoh tanpa fondasi akidah yang benar.

Allah berfirman:

 وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat rasul agar menyembah Allah dan menjauhi thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seluruh rasul membawa misi yang sama, yaitu mengajak manusia mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan.^2

Prinsip inilah yang dijalankan oleh Walisongo. Mereka mengubah keyakinan masyarakat secara bertahap, penuh hikmah, dan tanpa kekerasan. Sunan Ampel menanamkan dasar-dasar akidah, Sunan Bonang memperkenalkan nilai tauhid melalui seni, sedangkan Sunan Kalijaga menyampaikan ajaran Islam melalui budaya yang mudah dipahami masyarakat.

Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa tauhid merupakan pokok segala amal dan sumber keselamatan dunia serta akhirat.^3


Menolong Umat Sebagai Bagian Dakwah

Keberhasilan dakwah Walisongo tidak hanya terletak pada kemampuan berbicara, tetapi juga pada kepedulian mereka terhadap kebutuhan masyarakat.

Allah berfirman:

"Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan." (QS. Al-Ma'idah : 2)

Menurut Al-Qurthubi, ayat ini menjadi dasar kewajiban membangun solidaritas sosial dan membantu sesama dalam berbagai bentuk kebaikan.^4

Para wali membangun pesantren, mengembangkan pertanian, memperkuat perdagangan, serta membangun jaringan sosial yang membantu keluarnya masyarakat dari kesulitan hidup. Dakwah mereka menyentuh kebutuhan nyata rakyat.

Dalam perspektif tasawuf, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menegaskan bahwa menolong makhluk Allah merupakan salah satu jalan tercepat untuk mendapatkan pertolongan Allah.^5

Oleh karena itu, dakwah sejati tidak berhenti di mimbar, namun hadir dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi umat.

Mengobati Masyarakat, Menyembuhkan Hati

Selain mengajarkan agama, para ulama juga dikenal sebagai penyembuh berbagai permasalahan masyarakat. Mereka mengobati penyakit fisik sekaligus penyakit hati.

Allah berfirman:

 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Kami turunkan Al-Qur’an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Al-Isra' : 82)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-Qur'an menjadi obat bagi keraguan, kemunafikan, kesombongan, dan berbagai penyakit hati lainnya.^6

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menerangkan bahwa hati manusia dapat sakit karena riya', hasad, tamak, dan cinta dunia yang berlebihan. Oleh karena itu, manusia membutuhkan bimbingan ruhani agar jiwa sehat.^7

Dalam sejarah Nusantara, para wali sering menjadi tempat masyarakat meminta nasihat, doa, dan solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Mereka tidak hanya mengobati tubuh, tetapi juga memperbaiki moral dan spiritual masyarakat.


Dakwah Melalui Pendidikan dan Kebudayaan

Salah satu keunikan dakwah Walisongo adalah kemampuannya memanfaatkan pendidikan dan budaya sebagai sarana penyebaran Islam.

Allah berfirman:

 يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Menurut Fakhruddin Ar-Razi, ilmu merupakan sarana kemuliaan manusia dan jalan menuju kemajuan peradaban.^8

Melalui pesantren, majelis ilmu, seni, sastra, dan budaya, para wali berhasil membentuk masyarakat yang berakhlak dan berpengetahuan. Sunan Giri dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam, sementara Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam tanpa menimbulkan konflik sosial.

Sejarawan Prof. Azyumardi Azra menjelaskan bahwa keberhasilan Islam di Nusantara tidak lepas dari pendekatan ulama yang mampu menggabungkan dakwah, pendidikan, dan budaya secara harmonis.^9


Dakwah dan Politik Kebangsaan

Sebagian orang memahami politik sebagai sesuatu yang terpisah dari dakwah. Padahal dalam sejarah Islam, politik merupakan salah satu instrumen untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat.

Allah berfirman:

الَّذِينَ إِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَآتَوُا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ

“Orang-orang yang apabila Kami diberi kekuasaan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Al-Hajj : 41)

Ath-Thabari menjelaskan bahwa kekuasaan merupakan amanah yang harus digunakan untuk menegakkan keadilan dan kemaslahatan umat.^10

Dalam sejarah Nusantara, para wali tidak menjadikan politik sebagai sarana mencari kekuasaan pribadi. Mereka hadir sebagai penasihat kerajaan, pembimbing penguasa, dan penjaga moral masyarakat.

Sunan Gunung Jati berperan dalam Kesultanan Cirebon, sementara Sunan Giri memiliki pengaruh besar dalam urusan sosial-politik masyarakat Jawa. Mereka menunjukkan bahwa ulama dan umara dapat bersinergi untuk membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.


Warisan Dakwah yang Tetap Relevan

Jejak dakwah Walisongo kemudian dilanjutkan oleh para ulama Nusantara seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Dahlan, Buya Hamka, hingga para ulama masa kini. Mereka berdakwah melalui pendidikan, kesehatan, mengembangkan ekonomi, sosial, dan kebangsaan.

Warisan terbesar para ulama tersebut adalah teladan bahwa dakwah harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dakwah bukan sekedar menyampaikan ceramah, namun membangun manusia, membenahi akhlak, menguatkan persaudaraan, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan umat.

Di tengah tantangan zaman digital, metode dakwah bisa berubah, tetapi substansinya tetap sama: menegakkan tauhid, menyebarkan kasih sayang, membantu sesama, dan membimbing masyarakat menuju kebaikan.


Penutup

Sejarah membuktikan bahwa dakwah para ulama dan Walisongo berhasil karena mereka tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Mereka mengajarkan tauhid, menolong masyarakat, mengobati berbagai persoalan umat, mendidik generasi, serta membimbing kehidupan sosial dan politik menuju kemaslahatan.

Model dakwah yang penuh hikmah, kasih sayang, dan keteladanan ini tetap relevan hingga hari ini. Ketika dakwah mampu menjawab kebutuhan umat dan menghadirkan rahmat bagi semua, maka Islam akan terus menjadi cahaya yang menghasilkan kehidupan bangsa dan peradaban.

Walla a'lam bish-shawab

Manfaat. Aamiin


Referensi

1. Ath-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Juz 17, hlm. 647.

2. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 4, hlm. 595.

3. Nawawi al-Bantani, Marah Labid, Juz 1, hlm. 411.

4. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Juz 6, hlm. 46.

5. Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Ghaib, hlm. 89.

6. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 5, hlm. 104.

7. Al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Juz 3, hlm. 58–62.

8. Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Juz 29, hlm. 272.

9. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, hlm. 115–120.

10. Ath-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Juz 18, hlm. 642.

READ MORE - DAKWAH WALISONGO

HIDUP SEHAT


HIDUP SEHAT DALAM ISLAM: MENELADANI GAYA HIDUP RASULULLAH SAW

Oleh: Ustadz Umar Fauzi


Pendahuluan

Islam adalah agama yang sempurna yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, termasuk dalam menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Dalam perspektif Islam, kesehatan merupakan kenikmatan besar yang harus disyukuri dan dijaga. Rasulullah SAW bersabda:

 نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. al-Bukhari).¹

Oleh karena itu, Islam mengajarkan pola hidup sehat yang mencakup makanan halal dan baik, pola tidur yang teratur, kebersihan, olahraga, kesehatan mental, serta kedekatan kepada Allah SWT. Menariknya, banyak prinsip kesehatan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW lebih dari empat belas abad lalu kini dibuktikan oleh ilmu kedokteran modern.


Makanan Halal dan Thayyib: Fondasi Kesehatan

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

"Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik." (QS. al-Baqarah [2]: 168).²

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa kata halal menunjukkan aspek hukum, sedangkan thayyib menunjukkan aspek kesehatan, kebersihan, dan kemanfaatan makanan.³ Dengan demikian, makanan yang dikonsumsi seorang muslim tidak cukup hanya halal, tetapi juga harus baik bagi tubuh.

Dalam Zād al-Ma'ād, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memilih makanan yang sesuai kebutuhan tubuh dan menghindari segala sesuatu yang membahayakan kesehatan.⁴

Nabi SAW bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ

"Tidak ada wadah yang berisi manusia yang lebih buruk daripada perut." (HR. al-Tirmidzi).⁵


Tafsil Ilmī

Ilmu kesehatan modern menjelaskan bahwa konsumsi makanan bergizi seimbang dapat mengurangi risiko penyakit jantung, diabetes, hipertensi, dan obesitas. Organisasi kesehatan dunia menyatakan bahwa pola makan sehat merupakan faktor utama pencegahan penyakit tidak menular. Dengan demikian, ajaran Islam tentang makanan halal dan thayyib memiliki relevansi ilmiah yang kuat.


Tidak Berlebihan dalam Makan dan Minum

Allah SWT berfirman:

 Perlindungan Lingkungan dan Keamanan

"Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan." (QS. al-A'rāf [7]: 31).⁶

Menurut Imam Fakhruddin al-Razi, larangan berlebihan (isrāf) mencakup jumlah, jenis, dan cara mengonsumsi makanan.⁷

Imam al-Ghazali dalam Ihyā' 'Ulūm al-Dīn menjelaskan bahwa kenyang berlebihan menyebabkan kerasnya hati, malas beribadah, dan memicu berbagai penyakit fisik.⁸


Tafsil Ilmī

Penelitian kedokteran menunjukkan bahwa metabolisme kalori secara proporsional dapat meningkatkan metabolisme tubuh, memperlambat penuaan sel, serta menurunkan risiko penyakit kronis. Konsep ini sejalan dengan prinsip Islam yang mengajarkan keseimbangan dalam makan dan minum.


Tidur Teratur dan Bangun Pagi

Rasulullah SAW membiasakan tidur setelah shalat Isya dan bangun pada paruh malam terakhir untuk tahajud.

Diriwayatkan:

 كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

"Beliau benci tidur sebelum Isya dan berbincang-bincang dengannya." (HR. al-Bukhari).⁹

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa tidur malam yang cukup dan bangun sebelum fajar merupakan pola tidur yang paling sehat bagi tubuh manusia.¹⁰

Para ulama juga memakruhkan tidur setelah shalat Subuh hingga matahari terbit.

Imam Ibn al-Qayyim berkata:

وَمِنَ الْمَكْرُوهِ النَّوْمُ بَيْنَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَطُلُوعِ الشَّمْسِ

*"Di antara yang makruh adalah tidur antara shalat Subuh dan terbit* matahari."¹¹


Tafsil Ilmī

Ilmu kronobiologi modern menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki ritme sirkadian yang sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari pagi. Paparan cahaya pagi membantu mengatur hormon melatonin dan kortisol sehingga meningkatkan kebugaran, konsentrasi, dan kesehatan mental.


Aktif Bergerak dan Berolahraga

Rasulullah SAW merupakan sosok yang aktif secara fisik. Beliau berjalan kaki, berkuda, memanah, dan berlomba lari.

Sayyidah Aisyah RA berkata:

سَابَقَنِي رَسُولُ اللَّهِ فَسَبَقْتُهُ

“Rasulullah pernah berlomba lari denganku dan aku mengalahkannya.” (HR.Abu Dawud).¹²

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan anjuran menjaga kebugaran fisik serta memperkuat tubuh untuk beribadah dan menjalankan tugas kehidupan.¹³


Tafsil Ilmī

Para ahli kesehatan menyatakan bahwa aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu mampu menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, obesitas, dan depresi. Aktivitas fisik juga meningkatkan daya tahan tubuh dan kualitas hidup.


Kebersihan sebagai Pilar Kesehatan

Islam sangat menekankan kebersihan. Rasulullah SAW bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci adalah sebagian iman.” (HR.Muslim).¹⁴

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan tingginya kedudukan kebersihan dalam Islam karena menjadi syarat berbagai ibadah utama seperti shalat dan thawaf.¹⁵

Rasulullah SAW mengumpat:

Berwudhu berkali-kali setiap hari.

Bersiwak.

Memotong kuku.

Kebersihan lingkungan.

Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.


Tafsil Ilmī

Dalam ilmu kesehatan masyarakat, kebiasaan mencuci tangan merupakan salah satu metode paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit. Kebiasaan hidup bersih yang diajarkan Islam terbukti mendukung kesehatan individu dan masyarakat.


Dzikir dan Kesehatan Mental

Kesehatan dalam Islam tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis dan spiritual.

Allah SWT berfirman:

 أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. al-Ra'd [13]: 28).¹⁶

Imam al-Tabari menjelaskan bahwa dzikir menghadirkan ketenangan karena hati merasa dekat dengan Allah dan percaya kepada pertolongan-Nya.¹⁷

Imam al-Ghazali menambahkan bahwa hati yang selalu berdzikir akan terbebas dari kecemasan, kecemasan, dan penyakit batin lainnya.¹⁸


Tafsil Ilmī

Berbagai penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa aktivitas spiritual seperti doa, meditasi, dan dzikir dapat menurunkan hormon stres, memperbaiki suasana hati, meningkatkan kualitas tidur, serta mengurangi risiko gangguan kecemasan.


Kesimpulan

Hidup sehat dalam Islam merupakan perpaduan harmonis antara kesehatan jasmani, mental, dan spiritual. Rasulullah SAW telah memberikan teladan sempurna melalui pola makan yang seimbang, tidur yang teratur, aktivitas fisik yang cukup, kebersihan yang terjaga, serta kedekatan kepada Allah SWT melalui dzikir dan ibadah.

Pandangan ulama klasik seperti al-Ghazali, al-Qurthubi, al-Nawawi, Ibnu Qayyim, hingga para pakar kesehatan kontemporer menunjukkan bahwa ajaran Islam tentang kesehatan tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dalam menjaga kesehatan bukan sekedar mengikuti tradisi, melainkan ikhtiar membangun kualitas hidup yang lebih baik, sehat, produktif, dan penuh keberkahan.

Manfaat. Aamiin


Catatan Kaki 

¹ Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq, Bab La 'Aisy Illa 'Aisy al-Akhirah.

² Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. al-Baqarah [2]: 168.

³ Abu Abdullah al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, Juz 2, hlm. 207.

⁴ Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zād al-Ma'ād fī Hadyi Khayr al-'Ibād, Juz 4, hlm. 213.

⁵ Muhammad bin Isa al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, No.2380.

⁶ Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. al-A'rāf [7]: 31.

⁷ Fakhruddin al-Razi, Mafātīh al-Ghaib, Juz 14, hlm. 61.

⁸ Abu Hamid al-Ghazali, Ihyā' 'Ulūm al-Dīn, Juz 3, hlm. 87.

⁹ Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Mawaqit al-Shalah.

¹⁰ Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zād al-Ma'ād, Juz 1, hlm. 155.

¹¹ Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madārij al-Sālikīn, Juz 1, hlm. 369.

¹² Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, No.2578.

¹³ Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz 13, hlm. 249.

¹⁴ Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, No.223.

¹⁵ Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz 3, hlm. 102.

¹⁶ Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. al-Ra'd [13]: 28.

¹⁷ Abu Ja'far al-Tabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 16, hlm. 435.

¹⁸ Abu Hamid al-Ghazali, Ihyā' 'Ulūm al-Dīn, Juz 4, hlm. 312.

READ MORE - HIDUP SEHAT

SAKIT HATI


Saat Benci Membutakan: Bahaya Kebencian kepada Suatu Kaum dalam Perspektif Al-Qur'an

Oleh: Pengamat Dakwah


Di tengah kehidupan yang semakin terhubung oleh teknologi, paradoksnya manusia justru semakin mudah terpecah. Perbedaan pilihan politik, organisasi, suku, bahkan pandangan keagamaan sering kali berubah menjadi bara kebencian yang sulit dipadamkan. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang silaturahim tidak jarang berubah menjadi arena saling mencela, menghina, dan menjatuhkan.

Fenomena ini sesungguhnya bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga persoalan spiritual. Ketika kebencian menguasai hati, manusia sering kehilangan kemampuan untuk melihat kebenaran secara jernih. Akal menjadi tertutup oleh emosi. Penilaian menjadi tidak objektif. Yang benar dianggap salah hanya karena berasal dari pihak yang tidak disukai, sementara yang salah dibela mati-matian karena datang dari kelompok sendiri.

Al-Qur'an memberikan perhatian besar terhadap persoalan ini. Islam tidak menafikan bahwa manusia memiliki rasa suka dan benci. Keduanya adalah bagian dari fitrah. Namun, Islam mengajarkan agar emosi tersebut tetap berada dalam kendali iman dan tidak berubah menjadi kezaliman.

Allah SWT berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."

(QS. Al-Maidah: 8)»

Ayat ini merupakan salah satu puncak ajaran moral Al-Qur'an. Allah tidak mengatakan bahwa kebencian itu tidak boleh ada, tetapi Allah melarang kebencian menjadi alasan untuk meninggalkan keadilan.


Kebencian yang Menjadi Penyakit Hati

Para ulama tasawuf sejak dahulu telah mengingatkan bahaya kebencian yang dipelihara. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa kebencian yang berlebihan dapat melahirkan penyakit-penyakit hati lainnya seperti hasad, dendam, dan permusuhan.

Awalnya seseorang hanya merasa tidak suka. Namun jika perasaan itu terus dipupuk, ia berkembang menjadi prasangka buruk. Dari prasangka lahir fitnah. Dari fitnah lahir permusuhan. Pada akhirnya hubungan sosial rusak dan hati menjadi gelap.

Karena itu Islam mengajarkan keseimbangan. Membenci kemaksiatan adalah bagian dari keimanan. Membenci kezaliman juga merupakan sikap yang terpuji. Namun membenci seseorang hingga menghilangkan hak-haknya sebagai manusia adalah sesuatu yang dilarang.


Jangan Merendahkan Orang Lain

Kebencian sering kali berawal dari sikap merasa lebih baik daripada orang lain. Al-Qur'an mengingatkan:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

"Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka."

(QS. Al-Hujurat: 11)»

Betapa banyak konflik lahir dari rasa superioritas. Seseorang merasa kelompoknya paling benar, paling suci, paling berjasa, sehingga mudah merendahkan pihak lain. Padahal ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan kelompok, bukan jabatan, bukan popularitas, melainkan ketakwaan.


Perbedaan untuk Saling Mengenal

Di antara ayat yang sangat relevan dengan kehidupan modern adalah firman Allah:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

"Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal."

(QS. Al-Hujurat: 13)»

Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman bukan kesalahan yang harus dihapus, melainkan ketetapan Allah yang harus dikelola dengan bijaksana. Perbedaan diciptakan untuk saling mengenal, bukan saling membenci.

Ketika manusia gagal memahami hikmah keberagaman, yang muncul adalah fanatisme sempit. Akibatnya, setiap perbedaan dianggap ancaman. Dari sinilah lahir polarisasi dan konflik yang berkepanjangan.


Mengendalikan Emosi

Rasulullah SAW memberikan panduan yang sangat indah dalam menghadapi gejolak emosi.

Beliau bersabda:

«إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."

(HR. Bukhari dan Muslim)»

Dalam pandangan Islam, kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan mengalahkan hawa nafsu sendiri.

Seseorang mungkin mampu memenangkan perdebatan, tetapi gagal mengendalikan emosinya. Ia mungkin tampak kuat di hadapan manusia, tetapi lemah di hadapan hawa nafsunya.


Keteladanan Nabi Saat Fathu Makkah

Salah satu contoh terbesar pengendalian kebencian terlihat pada peristiwa Fathu Makkah. Selama bertahun-tahun Rasulullah SAW dan para sahabat mengalami penghinaan, pengusiran, bahkan peperangan dari kaum Quraisy.

Namun ketika Makkah berhasil ditaklukkan dan seluruh kekuasaan berada di tangan beliau, Rasulullah tidak memilih balas dendam.

Beliau justru berkata:

«اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ

"Pergilah kalian, kalian semua bebas."»

Kalimat ini menjadi pelajaran besar bagi umat manusia. Rasulullah memiliki alasan untuk membalas, tetapi beliau memilih memaafkan. Beliau memiliki kekuatan untuk menghukum, tetapi beliau memilih kasih sayang.

Inilah puncak akhlak Islam.


Kebencian di Era Digital

Saat ini kebencian tidak lagi hanya muncul dalam pertemuan langsung. Ia menyebar melalui layar ponsel dalam hitungan detik.

Ujaran kebencian, fitnah, hoaks, dan provokasi menjadi konsumsi harian sebagian masyarakat. Banyak orang membagikan informasi bukan karena benar, tetapi karena sesuai dengan kebencian yang sudah ada di dalam hatinya.

Padahal Islam mengajarkan tabayyun, verifikasi, dan keadilan dalam menilai informasi.

Kebencian yang tidak terkendali dapat melahirkan berbagai kerusakan:

- Hilangnya objektivitas.

- Munculnya fitnah dan hoaks.

- Retaknya persaudaraan.

- Terpecahnya persatuan bangsa.

- Rusaknya kehidupan sosial.

Karena itu, setiap Muslim harus menjadikan Al-Qur'an sebagai kompas moral dalam bermedia sosial dan berinteraksi dengan sesama.


Menjaga Hati Tetap Sehat

Para ulama mengajarkan beberapa cara untuk mengobati kebencian.

Pertama, memperbanyak muhasabah. Sering kali kita terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain hingga lupa melihat kekurangan diri sendiri.

Kedua, membiasakan husnuzan atau berprasangka baik. Tidak semua yang kita dengar tentang seseorang adalah kebenaran.

Ketiga, memperbanyak doa dan dzikir. Hati yang dekat dengan Allah lebih mudah memaafkan daripada hati yang jauh dari-Nya.

Keempat, mengingat kehidupan akhirat. Pada hari kiamat, setiap kezaliman akan dipertanggungjawabkan, sekecil apa pun.


Penutup

Kebencian adalah emosi yang manusiawi. Namun Islam mengajarkan bahwa emosi tidak boleh mengalahkan keadilan. Ketika kebencian membuat seseorang berlaku zalim, saat itulah ia telah keluar dari tuntunan Al-Qur'an.

Di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan, umat Islam dituntut menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan antara prinsip dan akhlak, antara ketegasan dan kasih sayang, antara rasa tidak suka dan keadilan.

Pesan Al-Qur'an tetap relevan sepanjang zaman:

"Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."

Inilah ukuran kedewasaan iman. Bukan ketika kita mampu mencintai orang yang mencintai kita, melainkan ketika kita tetap adil kepada orang yang kita benci.


Referensi:

Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, Juz III, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Maidah: 8.

Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. Al-Maidah: 8.

At-Thabari, Jami' al-Bayan, tafsir QS. Al-Maidah: 8.

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati.

HR. Bukhari dan Muslim tentang larangan saling membenci dan pengendalian marah.

READ MORE - SAKIT HATI

Minggu, 21 Juni 2026

PUASA 'ASYURA'


Tasu'a, 'Asyura, Sedekah dan Pelajaran Besarnya bagi Kehidupan

Oleh: Pengamat Dakwah


Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, bulan ini bukan sekadar penanda pergantian tahun, tetapi juga momentum memperbarui keimanan, memperkuat kepedulian sosial, dan memperbanyak amal saleh. Di antara amalan yang sangat dianjurkan Rasulullah ﷺ pada bulan ini adalah puasa Tasu'a (9 Muharram), puasa 'Asyura (10 Muharram), dan memperbanyak sedekah.

Amalan ketiga tersebut mengandung pelajaran besar yang relevan sepanjang zaman. Tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga melambangkan rasa syukur, kepedulian, perjuangan melawan kezaliman, dan optimisme terhadap pertolongan Allah SWT.


Muharram, Bulan yang Dimuliakan

Allah SWT berfirman:

 إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah : 36)

Para mufasir seperti Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebajikan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan (Ath-Thabari, Jami' al-Bayan, Juz 14, hlm. 238).

Keutamaan Muharram juga ditegaskan Rasulullah ﷺ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram merupakan waktu yang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal saleh.


Jejak Nabi Musa dalam Puasa 'Asyura

Salah satu keistimewaan Muharram adalah adanya puasa 'Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut.

Mereka menjelaskan bahwa hari itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ

"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." (HR Bukhari)

Kemudian Rasulullah ﷺ berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menghormati seluruh nabi dan rasul. Nabi Musa bukan hanya milik Bani Israil, tetapi juga bagian dari mata rantai kenabian yang wajib diimani oleh umat Islam.

Lebih dari itu, kisah Musa dan Fir'aun adalah simbol abadi tentang kemenangan kebenaran atas kebatilan. Betapapun kuatnya kekuasaan yang zalim, pada akhirnya akan hancur di hadapan kehendak Allah SWT.


Mengapa Ada Puasa Tasu'a?

Pada akhir hayatnya, Rasulullah ﷺ berkeinginan menambah puasa tanggal 9 Muharram.

Beliau bersabda:

 لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa puasa Tasu'a dilakukan untuk membedakan amalan umat Islam dari tradisi Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa sunnah yang paling utama adalah berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram secara bersamaan. Sebagian ulama bahkan meramalkan tanggal 11 Muharram sebagai penyempurna.

Di dalam Islam mengajarkan identitas dan karakter umat. Meneladani para nabi terdahulu tidak berarti kehilangan jati diri, namun tetap menjaga ciri khas syariat yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.


Penghapus Dosa Setahun

Keutamaan puasa terbesar 'Asyura adalah sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

Menurut Imam Al-Qurthubi, yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang terhapus karena amal saleh, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.

Oleh karena itu, puasa Asyura bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, namun juga momentum memperbaiki diri. Muharram menjadi kesempatan untuk menutup lembaran kesalahan masa lalu dan membuka lembaran baru yang lebih baik.


Sedekah, Pasangan Indah bagi Puasa

Jika puasa menguatkan hubungan seorang hamba dengan Allah, maka sedekah memperkuat hubungan dengan sesama manusia.

Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir.” (QS. Al-Baqarah : 261)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

 الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

"Sedekah janji dosa memenuhi air janji api." (HR Tirmidzi)

Para ulama salaf menjadikan Muharram sebagai momentum memperbanyak sedekah. Mereka memahami bahwa kecerahan waktu seharusnya diisi dengan amal yang lebih banyak dan lebih berkualitas.

Sedekah pada bulan Muharram bukanlah tradisi tanpa dasar, melainkan bagian dari semangat memperbanyak kebaikan pada bulan yang dimuliakan Allah SWT.


Pelajaran Besar dari Tasu'a, 'Asyura dan Sedekah

Pertama, bersyukur atas nikmat Allah. Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang diberikan Allah. Rasulullah ﷺ kemudian meneladaninya dan mengajarkan umatnya untuk melakukan hal yang sama.

Kedua, keyakinan bahwa kebenaran akan menang. Fir'aun memiliki kekuasaan, tentara, dan kekayaan, tetapi semua itu tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah. Sebaliknya, Nabi Musa yang tertindas justru memperoleh pertolongan dan kemenangan.

Ketiga, pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian. Kisah Musa mengajarkan bahwa pertolongan Allah sering datang setelah perjuangan panjang dan kesabaran yang mendalam.

Keempat, kepedulian sosial. Puasa yang benar akan melahirkan empati terhadap kaum lemah. Oleh karena itu, puasa dan sedekah adalah doa amalan yang saling melengkapi.

Kelima, muhasabah diri. Awal tahun Hijriah adalah waktu yang tepat untuk memulai perjalanan hidup, memperbaiki kesalahan, dan menyusun langkah-langkah yang lebih baik di masa depan.


Relevansi bagi Indonesia

Dalam konteks kehidupan bangsa, semangat Tasu'a dan 'Asyura sangat relevan. Indonesia membutuhkan masyarakat yang memiliki integritas seperti Nabi Musa, keberanian melawan kezaliman, kesabaran dalam menghadapi tantangan, dan kepedulian sosial terhadap sesama.

Di tengah berbagai permasalahan ekonomi, sosial, dan moral, budaya sedekah menjadi salah satu solusi untuk memperkuat solidaritas masyarakat. Ketika orang-orang mampu membantu yang lemah, maka keselarasan sosial dapat diperkecil dan persatuan bangsa semakin kokoh.

Muharram mengajarkan bahwa kemajuan tidak hanya dibangun oleh kecerdasan dan kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.


Penutup

Puasa Tasu'a, puasa 'Asyura, dan sedekah merupakan amalan yang sarat makna. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang syukur, perjuangan, kesabaran, kepedulian sosial, dan optimisme terhadap pertolongan Allah SWT.

Momentum Muharram hendaknya tidak berlalu begitu saja. Ia harus menjadi titik awal hijrah pribadi menuju yang lebih bertakwa, keluarga yang lebih harmonis, masyarakat yang lebih peduli, dan bangsa yang lebih berkeadaban.

Sebab pada akhirnya, keberkahan hidup tidak hanya lahir dari banyaknya harta dan kekuasaan, tetapi dari kedekatan kepada Allah serta manfaat yang diberikan kepada sesama manusia. Wallāhu a'lam bi al-shawāb.

Manfaat. Aamiin

READ MORE - PUASA 'ASYURA'
 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman