إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ
لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,
dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah
berbuat dosa yang besar.” [QS An Nisa`: 48]
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada
(nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan
terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu ermasuk orang-orang yang merugi.” [QS Az Zumar: 65]
قال الله تبارك وتعالى: أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملا أشرك فيه معي
غيري تركته وشركه
“Allah tabaraka wa ta’ala berkata: Aku adalah yang
paling tidak butuh kepada persekutuan. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan,
yang dia itu menyekutukan-Ku dengan sesuatu selain diri-Ku, maka Aku akan
meninggalkannya dan sekutunya itu.” [HR Muslim (2985)]
- See more at:
http://dakwahquransunnah.blogspot.com/2013/03/hukum-beramal-untuk-selain-allah.
Muqaddimah
Ibnu Faris dalam Mu’jamu Maqayisul Lughah
berkata, “‘ع – م – ل’ Akar suatu kata yang menunjukkan pada
satu makna yang sama, yaitu semua pekerjaan yang dilakukan” (Mu’jamu
Maqayisul Lughah , 1/17, Cet: Darul Kutub ‘Alamiyah).
Raghib al Asfahaniy berkata, “amalan adalah semua
pekerjaan yang berasal dari makhluk hidup dan dilakukan dengan sengaja” (Al
Mufradaat Fi Gharibul Qur’an:351, Cet: Darul Ma’rifat).
Ibnu Faris dalam Mu’jamu Maqayisul Lughah berkata,
“’ص- ل – ح ‘ Akar suatu kata yang menunjukkan pada satu makna yang sama yaitu lawan dari kerusakan” (Mu’jamu Maqayisul Lughah, 1/17, Cet: Darul Kutub ‘Alamiyah).
Syaikh Ahmad bin Yusuf Al Halabiy berkata, “الصلاح maknanya adalah lawan dari kerusakan, lawan dari
keshalihan di dalam al Qur’an adalah kerusakan [الفساد ]dan kejelakan [السيء ] sebagaimana dalam firman Allah (yang artinya), “ Dan apabila dikatakan kepada mereka “ janganlah
kalian berbuat kerusakan di muka bumi, mereka mengatakan hanyasaja kami adalah
orang-orang yang berbuat perbaikan” (QS. Al Baqarah:11).
Juga dalam firman Allah (yang artinya), “Mereka
mencampur amalan shalih dan yang lain amalan yang jelek” (Q.S.At Taubah:102)
(Lihat Umdatul Huffadz:2/346, cet:Darul Kutub ilmiyah).
Kesimpulannya, amal shalih adalah perbuatan baik yang
dapat membuat kebaikan dan dilakukan secara sengaja.
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ
الْعَادِلُ ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ
مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ
وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ
فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ . وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ
شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ
عَيْنَاهُ
“Ada tujuh
golongan yang akan dinaungi Allah ta’ala
dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. mereka
adalah seorang pemimpin yang adil; seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan
kepada Allah; seorang pria yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid; dua
orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah di atas
kecintaan kepada-Nya; seorang pria yang diajak (berbuat tidak senonoh) oleh
seorang wanita yang cantik, namun pria tersebut mengatakan, “Sesungguhnya saya
takut kepada Allah”; seorang pria yang bersedekah kemudian dia
menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu aa yang telah disedekahkan
oleh tangan kanannya; seorang pria yang mengingat Allah dalam keadaan sunyi dan
air matanya berlinang.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Beramal Shalih ?
Janganlah anda memperhatikan amalan orang yang sezaman
denganmu, yaitu orang berada di bawahmu dalam hal berbuat kebaikan. Perhatikan
dan jadikanlah para nabi dan orang shalih terdahulu sebagai panutan anda. Allah
ta’ala berfirman,
أُولَئِكَ
الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ
أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ (٩٠)
“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk
oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah
kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran). Al-Quran itu tidak lain hanyalah
peringatan untuk seluruh umat.” (Al An’am: 90).
Bacalah biografi para ulama, ahli ibadah, dan zuhhad
(orang yang zuhud), karena hal itu lebih mampu untuk menambah keimanan di dalam
hati.
Takut tidak Diterima amalnya ?
Anggaplah remeh setiap amal shalih yang telah anda
perbuat. Apabila anda telah mengerjakannya, tanamkanlah rasa takut, khawatir
jika amal tersebut tidak diterima. Diantara do’a yang dipanjatkan para salaf
adalah,
اللهم إنا
نسألك العمل الصالح و حفظه
“Ya Allah kami memohon kepada-Mu amal yang shalih dan
senantiasa terpelihara.”
Diantara bentuk keterpeliharaan amal shalih adalah
amal tersebut tidak disertai dengan rasa ujub dan bangga dengan amal tersebut,
namun justru amal shalih terpelihara dengan adanya rasa takut dalam diri
seorang bahwa amal yang telah dikerjakannya tidak serta merta diterima
oleh-Nya. Allah ta’ala berfirman,
وَلا
تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى
مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (٩٢)
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang
menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai
kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di
antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari
golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan
Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu
perselisihkan itu.” (An Nahl: 92).
Ibnu Katsir mengatakan, ["Mereka
menunaikan sedekah, namun hati mereka takut dan khawatir, bahwa amalan mereka
tidak diterima di sisi-Nya. mereka takut karena (sadar) mereka tidak menunaikan
syarat-syaratnya secara sempurna. Imam Ahmad dan Tirmidzi telah meriwayatkan
hadits dari Ummul Mukminin, 'Aisyah radhiallahu 'anhu. Dia bertanya
kepada rasulullah, "Wahai rasulullah, mengenai ayat,
وَالَّذِينَ
يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ
رَاجِعُونَ (٦٠)
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah
mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya
mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (Al Mukminun: 60).
Tidak Pamer Beramal ?
Dia menempatkan manusia layaknya
penghuni kubur yang tidak mampu memberikan manfaat kepada dirinya dan tidak
mampu menolak bahaya dari dirinya. Ibnul Jauzi mengatakan,
أن ترك النظر
إلى الخلق و محو الجاه من قلوبهم بالعمل و إخلاص القصد و ستر الحال هو الذي رفع من
رفع
["Meninggalkan perhatian makhluk dan tidak
mencari-cari kedudukan di hati mereka dengan beramal shalih, mengikhlaskan
niat, dan menyembunyikan amal merupakan faktor yang mampu meninggikan derajat
orang yang mulia."]
Surga dan Neraka Milik Allah ?
Ibnu Rajab mengatakan,
من صلى وصام
وذكر الله يقصد بذلك عرض الدنيا فإنه لا خير له فيه بالكلية لأنه لاتقع في ذلك
لصاحبه لما يترتب عليه من الإثم فيه ولا لغيره
“Barangsiapa yang berpuasa, shalat, dan berzikir
kepada Allah demi tujuan duniawi, maka amalan itu tidak mendatangkan kebaikan
baginya sama sekali. Seluruh amal tersebut tidak bermanfaat bagi pelakunya
dikarenakan mengandung dosa (riya), dan (tentunya amalan itu) tidak bermanfaat
bagi orang lain.”
Kemudian, anda tidak akan mampu memperoleh keinginan
anda dari manusia yang menjadi tujuan riya yang telah anda lakukan, yaitu agar
mereka memuji anda. Bahkan mereka akan mencela anda, menyebarkan keburukan anda
di tengah-tenah mereka, dan tumbuhlah kebencian di hati mereka kepada anda.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من يراء يراء
الله به
“Barangsiapa yang berbuat riya, maka Allah akan
menyingkap niat busuknya itu di hadapan manusia” (HR. Muslim).
Demikianlah akibat orang yang riya. Namun, apabila
anda mengikhlaskan amal kepada-Nya, niscaya Allah dan makhluk akan mencintaimu.
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
(٩٦)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal
saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah[911] akan menanamkan dalam (hati) mereka
rasa kasih saying (kecintaan)” (Maryam: 96).
Mempersiapkan Diri dengan Amal
Shalih ?
Ibnul Qayyim mengatakan,
صدق التأهب
للقاء الله من أنفع ما للعبد وأبلغه في حصول استقامته فإن من استعد للقاء الله
انقطع قلبه عن الدنيا وما فيها ومطالبها
["Persiapan yang benar untuk bertemu dengan
Allah merupakan salah satu faktor yang paling bermanfaat dan paling ampuh bgi
hamba untuk merealisasikan keistiqamahan diri. Karena setiap orang yang mengadakan
persiapan untuk bertemu dengan-Nya, hatinya akan terputus dari dunia dan segala
isinya."]
Ikhtitam
Do’a yang sering dipanjatkan oleh Umar ibnul Khaththab
radhiallahu ‘anhu adalah do’a berikut,
اللهم اجعل
عملي كلها صالحا, واجعله لوجهك خالصا, و لا تجعل لأحد فيه شيئا
“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang
shalih, Ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku
bagian untuk siapapun.”
Sumber:1.Al-Qur’an Hadits
JAKARTA 5/4/2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar