SURAT AL-INSAN ?
Sesungguhnya kami Telah menunjukinya jalan
yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.(QS Al-Insan: 3)
Nama Surat
Nama surat al-Insan lainnya, yaitu surat Hal
ata ‘ala al-insan, al-Dahr, Amsyaj. Al-Insan
berarti manusia; Hal ata ‘ala al-insan
artinya: Bukankah telah datang atas manusia; Al-Dahr berarti masa; Amsyaj
berarti yang bercampur.
M. Quraish Shihab menulis dalam tafsir ‘Al-Mishbah’:”Nama
surah ini yang paling populer adalah surah al-Insan.
Kata tersebut ditemukan pada awal ayatnya. Pada masa Nabi saw. Ia lebih dikenal
dengan nama Hal ata ‘ala al-Insan yang merupakan rangkian kata-kata paruh pertama
ayatnya yang pertama. Ada juga yang menamainya Surah ad-Dahr. Nama ini ditemukan dalam banyak mushhaf. Nama lain
untuknya adalah surah al-Amsyaj
karena kata tersebut hanya ditemukan sekali dan dalam surah ini saja.”[1]
Dalam tafsir ‘Taisir al-Tafsir’ Syaih Ibrahim al-Qathan menulis:” Surat al-Insan dinamakan al-Dahr, al-Abrar, al-Amsyaj, surat ini menurut jumhur ulama adalah
surat Madaniyah yang diturunkan setelah surat ar-Rahman dan jumlah ayatnya 31.”[2]
Menurut Al-Alamah Syaih Ahmad Ash-Shawi
Al-Maliki dalam,’Hasyiyah al-Alamah
al-Shawi ala Tafsir al-Jalalaini’:”Surat al-Insan dinamakan surat Hal ata, al-Amsyaj, al-Dahr.”[3]
Rasulullah
saw senang membaca surat tersebut di atas di waktu shalat subuh, sebagaimana
keterangan hadis yang ada dalam shahih Muslim
yang artinya:”Sesungguhnya Rasulullah saw
membaca surat as-Sajadah dan al-Insan di dalam shalat shubuh pada hari jum’at.”
(HR Muslim dari Ibnu Abbas)
Demikianlah para pakar mufassir menulis
nama-nama lain surat al-Insan, yaitu
surat Hal ata, al-Insan, al-Dahr, Amsyaj
dan al-Abrar. Tetapi yang paling populer adalah surat al-Insan.
Di samping penamaan surat tersebut di atas,
tentu punya maksud dan tujuan Allah swt. menurunkannya. Dinamakan surat Hal Ata sesuai dengan permulaan ayat
pertama; Surat al-Insan yang berarti
manusia dan memang surat ini diawali dengan pengkhabaran tentang proses
penciptaan manusia; Ad-Dahr yang
artinya suatu masa dimana manusia telah disebut namanya meskipun belum
berbentuk; Al-Amsyaj yang berarti
bercampur dimana kejadian anak cucu Adam terjadi karena percampuran antara
sperma bapak dengan ovum ibu atas kuasa Allah swt.; Juga dinamakan surat al-Abrar yang artinya orang-orang yang
baik, manusia memilih petunjuk Allah swt dengan mensyukuri nikmak-nikmat yang
diterimanya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya sesuai
petunjuk-Nya.
Masa Turun
Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa surah
ini Madaniyah (diturunkan di Madinah), akan tetapi sebenarnya ia diturunkan di
Mekah; dan ke-Makkiyyahannya ini sangat jelas terlihat dalam temanya, susunan
kalimatnya, dan cirri-cirinya. Oleh karena itu, kami menguatkan riwayat-riwayat
lain yang mengatakan bahwa ia makkiyyah. Bahkan, dari konteksnya kami melihat
bahwa ia termasuk surah-surah Makkiyah yang turun pada masa-masa permulaan…[4]
Kumpulan ayat-ayat surah ini diperselisihkan
oleh ulama mengenai masa turunnya, antara yang berpendapat bahwa surah ini
seluruhnya Makkiyah dan yang mengatakan Madaniyyah seluruhnya, disamping
pendapat lain yang mengatakan bahwa sebagian surah ini Makiyyah dan sebagian
lainnya Madaniyyah. Mayoritas ulama berpendapat bahwa surah ini Makiyyah.
Kandungan uraiannya sangat sejalan dengan ayat-ayat Makkiyah.[5]
Surat ini (al-Insan) adalah surat Makkiyyah dan ada yang mengatakan bukan Makkiyyah.
Dan hubungannya dengan surat sebelumnya(al-Qiyamah)
adalah jelas ia diturunkan di Mekkah.[6]
Dari pendapat tersebut di atas, surat al-Insan tergolong surat Makkiyyah, sebab dilihat dari susunan
kalimat, cirri-cirinya dan kandunganannya sejalan dengan ayat-ayat Makkiyah.
Tema Utama
Surah ini secara keseluruhan berisi seruan
yang berkumandang untuk melakukan ketaatan, untuk kembali kepada Allah, mencari
ridha-Nya, mengingat nikmat-Nya, merasakan karunia-Nya, menjaga diri dari
azab-Nya, menyadari ujian-ujian-Nya, dan memahami hikmah-Nya di dalam
menciptakan, memberi nikmat, memberi ujian, dan memberi kesempatan….[7]
Al-Baqa’i berpendapat bahwa tujuan utama
surah ini adalah peringatan kepada manusia menyangkut apa apa yang diuraikan
pada surah sebelum ini yakni surah al-Qiyamah
yaitu adanya kehadiran kepada Allah swt. untuk menerima balasan dan ganjaran.
Tujuan ini dibuktikan melalui nama surah ini –al-Insan- dengan jalan memperhatikan awal dan tujuan penciptaannya,
sebagaimana ditunjuk juga oleh namanya yang lain yaitu ad-Dahr dan al-Amsyaj[8]
Surat al-Insan
ini mencakup tiga topik utama, pertama yakni bagaimana Allah menciptakan proses
perkembangan manusia sebagaimana disebutkan di akhir surat al-Qiyamah, sedangkan surat al-Insan
dari awal sampai pada firman-Nya (dia mendengar dan melihat), kedua yakni
balasan Allah kepada orang-orang yang bersyukur dan ancaman kepada orang-orang
kafir dan Dia mensifati surga dan neraka sebagaimana firman-Nya (Sesungguhnya
Kami memberi petunjuk kepadanya suatu jalan yang lurus) sampai pada firman-Nya
(dan usahamu adalah disyukuri/diberi balasan), ketiga yakni perintah untuk Nabi
agar bersabar, berdzikir kepada Allah, shalat tahajjud di waktu malam yang demikian itu dari firman-Nya
(Sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan
berangsur-angsur)
Sampai akhir surat.[9]
Dari penjelasan para mufassir di atas, surat al-Insan menerangkan tentang penciptaan
manusia, hidayah Allah kepada manusia ada yang bersyukur dan ada pula yang
kufur, menerima balasan dan ganjaran bagi orang-orang yang taat maupun yang
kufur, perintah bersabar, berdzikir kepada Allah, shalat tahajjud di waktu malam dan
bertasbih, serta diakhiri dengan balasan bagi orang-orang yang beriman dan
bersyukur, dengan masuk surga dan siksa yang pedih bagi orang-orang yang
berbuat zhalim.
Pokok-Pokok
Isi Surat Al-Insan
1.
Penciptaan Manusia
Allah swt berfirman:
$¯RÎ) $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB >pxÿôÜœR 8l$t±øBr& Ïm‹Î=tGö6¯R çm»oYù=yèyfsù $Jè‹ÏJy™ #·ŽÅÁt/ ÇËÈ
Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari
setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan
larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat.(QS Al-Insan: 2)
Sentuhan ini
diikuti oleh sentuhan lain tentang hakekat asal-usul manusia dan kejadiannya,
hikmah Allah di dalam menciptakannya, dan diberinya mereka bekal dengan
bermacam-macam potensi dan pengetahuan.[10]
2. Petunjuk
Mengikuti Jalan Allah
Allah swt
berfirman:
$¯RÎ) çm»uZ÷ƒy‰yd Ÿ@‹Î6¡¡9$# $¨BÎ) #[Ï.$x© $¨BÎ)ur #·‘qàÿx. ÇÌÈ
Sesungguhnya kami Telah menunjukinya jalan
yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.(QS Al-Insan: 3)
Sentuhan
ketiga adalah tentang pemberian petunjuk-Nya ke jalan yang lurus,
pertolongan-Nya kepada manusia untuk mengikuti petunjuk itu, dan dibebaskannya
manusia setelah itu untuk memilih kembalinya nanti.[11]
3. Balasan Bagi Orang Yang Bersyukur
Allah swt
berfirman:
¨bÎ) #x‹»yd tb%x. ö/ä3s9 [ä!#t“y_ tb%x.ur Oä3ã‹÷èy™ #·‘qä3ô±¨B ÇËËÈ
Sesungguhnya Ini adalah balasan untukmu, dan
usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).(QS Al-Insan: 22)
Demikianlah
paparan terperinci dan bisikan yang mengesankan di dalam hati, bisikan terhadap
kenikmatan yang bagus itu dan keterbebaskan dari rantai, belenggu, dan api
neraka yang menyala-nyala….Memang terdapat dua jalan kehidupan, jalan yang satu
membawa manusia ke surga dan yang satunya lagi membawa ke neraka.[12]
4. Perintah
Allah Kepada Nabi saw
Allah swt
berfirman:
÷ŽÉ9ô¹$$sù È/õ3ßÛÏ9 y7În/u‘ Ÿwur ôìÏÜè? öNåk÷]ÏB $¸JÏO#uä ÷rr& #Y‘qàÿx. ÇËÍÈ Ìä.øŒ$#ur zNó™$# y7În/u‘ Zotõ3ç/ Wx‹Ï¹r&ur ÇËÎÈ šÆÏBur È@ø‹©9$# ô‰ßÚó™$$sù ¼çms9 çmósÎm7y™ur Wxø‹s9 ¸xƒÈqsÛ ÇËÏÈ
Maka Bersabarlah kamu untuk (melaksanakan)
ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang
kafir di antar mereka. Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan
petang.Dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah
kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.(QS Al-Insan:24-26)
Tugas
penyampian risalah kenabian dinamai oleh ayat di atas hukum/ ketetapan Tuhan karena risalah kenabian tidak dapat
diusahakan. Ia adalah penunjuk Allah secara langsung tanpa keterlibatan siapa
pun selain-Nya. Konsekuensi penyampian risalah bahkan dakwah kebenaran juga
merupakan ketetapan Tuhan. Yakni telah merupakan keniscayaan bagi penganjur
kebaikan bahwa ia pasti menghadapi tantangan dan rintangan.[13]
5. Janji Dan Ancaman Allah Bagi Manusia
Allah swt
berfirman:
ã@Åzô‰ãƒ `tB âä!$t±o„ ’Îû ¾ÏmÏFuH÷qu‘ 4 tûüÏJÎ=»©à9$#ur £‰tãr& öNçlm; $¹/#x‹tã $JK‹Ï9r& ÇÌÊÈ
Dan memasukkan siapa yang dikehendakinya ke
dalam rahmat-Nya (surga). dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang
pedih.(QS Al-Insan:31)
Penutup ini
serasi benar dengan bagian permulaan dan menggambarkan akhir ujian, yang untuk
diuji inilah Allah menciptakan dari nuthfah yang bercampur, dan diberi-Nya
pendengaran dan penglihatan, serta ditunjukkannya jalan ke surga atau ke
neraka.[14]
By Abi Umar Fauzi Kasmudik (1/13/11/2014) bersambung...
[1] M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Mishbah, vol. 14, h. 649.
[2] Ibrahim Al-Qathan, Taisir
Al-Tafsir, jilid 4, h. 488
[3] Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki, Hasyiyaj
al-Alamaj Ash-Shawi ala Tafsir Al-Jalalaini,jilid 4, h. 271.
[4]Sayyid Quthb,Tafsir Fi
Zhilalil-Qur’an, jilid 23, h. 175.
[5]M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Mishbah, vol. 14, h. 649.
[6] Abi Hayyan al-Andulisi, al-Nahr
al-Maad min al-Bahr al-Muhid, jilid 5, h. 477-478.
[7]Saiyyid Quthb, Tafsir Fi
Zhilalil-Qur’an, jilid 23, h. 176.
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Mishbah, vol. 14, h. 650.
[9] Ibrahim Al-Qathan, Taisir
al-Tafsir, jilid 4, h. 488.
[10] Saiyyid Quthb, Tafsir Fi
Zhilalil Qur’an, jilid 23, hal. 176.
[11] Ibid, hal. 176.
[12] Ibid, hal. 188.
[13] M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Mishbah, vol. 14, hal. 668.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar