Khauf ?
Allah SWT berfirman:
Artinya: Sesungguhnya kam takut akan (azab)
Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka penuh
kesulitan. (QS. Al-Insan: 10)
Khauf
(takut) merupakan tempat persinggahan yang amat penting dan paling bermanfaat
bagi hati. Ini merupakan keharusan bagi setiap orang yang benar-benar beriman
kepada Allah swt dan hari pembalasan.
Abul Qasim
menyatakan:”Orang yang takut (khauf) kepada sesuatu akan lari darinya, tapi
orang yang takut kepada Allah swt akan lari kepada-Nya.”[1]
Islam
mengajarkan kepada pemeluknya agar supaya memiliki rasa takut kepada Allah swt
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan Dia juga Maha Keras siksanya,
lebih-lebih takut tidak diterima amal ibadahnya. Sebab amal sholeh dalam Islam,
belum cukup dikatakan baik sehingga betulbetul pelakunya tidak menyekutukan
Allah dalam beribadah dengan sesuatu, baik dengan suatu benda maupun seseorang
yang dianggap punya kemampuan untuk dimintak tolong.
Orang-orang
yang beriman dan beramal sholeh hanya takut kepada Allah swt dengan tidak
mengingkari nikmat-nikmat yang berikan kepadanya. Rasa takut kepada Allah swt
merupakan pertanda keimanan yang kuat dan ketulusan dalam berbuat kebajikan.
Allah SWT
berfirman:
$¨Br&ur ô`tB t$%s{ tP$s)tB ¾ÏmÎn/u‘ ‘ygtRur }§øÿ¨Z9$# Ç`tã 3“uqolù;$# ÇÍÉÈ ¨bÎ*sù sp¨Ypgø:$# }‘Ïd 3“urù'yJø9$# ÇÍÊÈ
Artinya:
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan
diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka
Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).(QS.An-Nazi’at:40-41)
Al-Faqih
menjelaskan bahwa barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka ia mempunyai rasa
takut terhadap empat hal. Keempat hal tersebut adalah: 1. Takut tidak diterima,
karena Allah swt berfirman,”Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang yang
bertakwa.” (QS.Al-Maidah:27).2. Takut riya’, karena Allah swt berfirman,”Dan
mereka tidak disuruh kecualisupaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam menjalankan agama.” (QS.Al-Bayyinah:5). 3.Takut akan
keselamatan pemeliharaan, karena Allah swt berfirman,”Barangsiapa membawa amal
yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS.Al-An’am:160).4.
Takut kehinaan dalam ta’at, karena ia tidak apakah akan tetap mendapatkan
taufik dari Allah atau tidak. Allah swt berfirman,”Dan tidak ada taufik bagiku
melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan
hanya kepada-Nyalah aku kembali.” (QS. Hud:88)[2]
Allah SWT
berfirman:
$yJ¯RÎ) ãNä3Ï9ºsŒ ß`»sÜø‹¤±9$# ß$Èhqsƒä† ¼çnuä!$uŠÏ9÷rr& Ÿxsù öNèdqèù$y‚s? Èbqèù%s{ur bÎ) LäêZä. tûüÏZÏB÷s•B
Artinya: Karena itu janganlah kalian takut
kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang
beriman. (QS. Ali Imran: 175)
Ahmad dan
Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah ra. Dia berkata,”Aku pernah bertanyak,”Wahai
Rasulullah, tentang firman Allah,’Dan
orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang
takut’, apakah dia itu orang yang berzina, minum khamer dan mencuri?”
Beliau menjawab,”Bukan wahai putri Ash-Shiddiq, tetapi dia orang yang puasa,
shalat dan mengeluarkan shadaqah, sedang dia takut amalnya tidak diterima.”[3]
Namun
kebanyakan manusia lebih takut kehilangan jabatan, harta, keluarga yang
dicintainya daripada takut tidak melaksanakan shalat sunnah atau puasa sunnah
Rasulullah saw. Mengapa demikian ? Mungkin karena tipis imannya, atau sedikit
ilmu pengetahuan agamanya dan lain sebagainya.
Abu Hafs
berkata,”Khauf merupakan cemeti Allah untuk menggiring orang-orang yang
meninggalkan pintu-Nya. Khauf juga merupakan pelita dalam hati, yang dengannya
dia bisa melihat kebaikan dan keburukan. Setiap orang yang engkau takuti, tentu
engkau hindari, kecuali Allah swt. Orang yang takut, lari dari Rabb-nya namun
juga menuju Rabb-nya.”[4]
Dengan
demikian, rasa takut bagi orang-orang yang beriman hanya pantas ditujukan
kepada Allah swt semata, sebab Dia adalah sumber kehidupan dan rahmat bagi
makhluk semesta alam,dan paham bahwa ujian menyenangkan atau cobaan yang
menyakitkan kedua-duanya datang dari-Nya. Dia yang pantas diagungkan dan
ditakuti, siap diperintah dan dilarang-Nya denga hati yang tulus.
Allah SWT berfirman:
tbqèùqム͑õ‹¨Z9$$Î/ tbqèù$sƒs†ur $YBöqtƒ tb%x. ¼çn•ŽŸ° #ZŽÏÜtGó¡ãB ÇÐÈ
Artinya:
Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di
mana-mana.(QS. Al-Insan: 7)
Pemenuhan
nadzar mengisyaratkan kecenderungan mereka melakukn kewajiban, sedang rasa
takut akan siksa menggambarkan upaya mereka menghindari keburukan.[5]
Dipaparkanlah
balasan bagi orang-orang yang senantiasa takut kepada Allah, suka memberi makan
kepada orang-orang miskin dan suka berbuat baik kepada orang lain itu. Mereka
mendapatkan balasan yang berupa keamanan, kemakmuran, dan kenikmatan yang
lembut dan nyaman.[6]
Allah swt
akan membalas kepada hamba-hamba-Nya yang menunaikan nadzar dengan sempurna
dengan balasan yang lebih baik, surga dan menolong mereka dari siksa-Nya,
selamat dari api neraka.
Allah SWT
berfirman:
Nä3¯Ruqè=ö7oYs9ur &äóÓy´Î/ z`ÏiB Å$öqsƒø:$# Æíqàfø9$#ur <Èø)tRur z`ÏiB ÉAºuqøBF{$# ħàÿRF{$#ur ÏNºtyJ¨W9$#ur 3 ÌÏe±o0ur šúïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÎÎÈ
Artinya:
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar.(QS.QS. Al-Baqarah: 155)
Amirul
Mukminin Imam Ali as berkata,”Walaupun Allah Yang Mahaagung mengetahui lebih
daripada mereka mengetahui diri mereka sendiri, tetapi Dia melakukan demikian
untuk membiarkan mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang dengan itu mereka
layak mendapatkan pahala atau hukuman.”[7]
Allah swt
menguji semua umat manusia dengan ujian yang berbeda-beda. Seluruh tempat di
dunia yang berbeda-beda merupakan tempat cobaan dan seluruh anggota bangsa
manusia, bahkan para Nabi, semua diuji, dan seluruh perkara baik yang
menyenangkan maupun tidak menyenangkan merupakan sarana ujian. Maka
beruntunglan hamba-hamba-Nya yang lulus dari cobaan dan ujian dari-Nya dengan
penuh kesabaran dan tetap beriman kepada-Nya, sehingga mereka pantas
mendapatkan pahala dari-Nya, shalawat dan rahmat dari Tuhan mereka.
Penderitaan,
yang umat manusia hadapi, biasanya berkaitan dengan harta, kehidupan,
anak-anak, atau ketakutan akan kehilangan salah satu di antara mereka. Memang
demikian adanya, tetapi bagi orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram
dengan berdzikir kepada Allah swt lebih takut bila tidak diterima amal ibadah
dan amal sholehnya di kemudian hari oleh Allah swt.
Juga ayat
diatas,”Dan sampaikanlah kabar gembira
kepada orang-orang yang sabar.” Memberitahu kepada Nabi Muhammad saw
agar beliau memberi kabar kepada
orang-orang yang sabar dalam menghadapi bencana dan kesulitan, yaitu dengan
pahala surga dan ampunan Allah swt atas mereka.
Allah SWT
berfirman:
šúïÏ%©!$# šcqà)ÏÿYムOßgs9ºuqøBr& È@øŠ©9$$Î/ Í‘$yg¨Z9$#ur #vÅ™ ZpuŠÏRŸxtãur óOßgn=sù öNèdãô_r& y‰YÏã öNÎgÎn/u‘ Ÿwur ê’öqyz óOÎgø‹n=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“óstƒ ÇËÐÍÈ
Artinya:
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara
tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS.
Al-Baqarah: 274)
Dari
beberapa kitab tafsir seperti Tafsirush Shafi, Majma’ul Bayan, Tafsirul
Qurtubi, Tafsirul Kabir oleh Fakhr Razi, dikutip bahwa ayat ini telah diwahyukan
mengenai Sayyidina Ali as. Suatu ketika ia hanya memiliki empat keping uang
perak. Dia menyedekahkan satu keeping di siang hari, satu keeping di malam hari,
keping yang ketiga ia sedekahkan secara terang-terangan, dan keeping yang
keempat secara sembunyi-sembunyi di jalan Allah.[8]
Sungguh
beruntung mereka yang berharta dari pekerjaan yang halal, lalu berbagi rezeki
yang diamanatkan kepadanya kepada orang-orang yang membutuhkannya misalnya
fakir-miskin, anak yatim dengan sandang-pangan dan keperluan lainnya.Dengan
harta yang halal, seseorang akan diberi kemudahan oleh Allah swt untuk membantu
orang lain. Sebaliknya, orang yang bakhil akan dimudahkan untuk berbuat dosa
dan dosa seperti pelit membantu orang lain, bahkan terhadap dirinya sendiri ia
kikir, tidak menunaikan zakat, enggan bersedekah dan beramal shalih.
Mereka takut
hartanya berkurang jika menunaikan zakat dan infak. Rasa takut inilah yang
mengantarkan dia menjadi orang yang merugi dunia-akhirat. Tetapi lain dengan
orang-orang yang benar-benar beriman, mereka takut azab Tuhan di dunia dan
akhirat, sehingga mereka tidak berani melanggar agama. Oleh karena itu, dengan
menolong khajat orang lain akan menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri
kepada Tuhan, keras bekerja, rajin ibadah dan takut meninggal dalam kadaan syu’ul
khatimah, maksiat dan tidak ingat kepada Allah swt.
Akan tetapi,
selain sebab turunnya ayat yang disebutkan di atas, janji yang terdapat dalam
ayat ini mencakup semua orang yang melakukan tindakan yang sama. Orang-orang
seperti itu tidak pernah takut miskin di dunia karena percaya kepada janji
Allah dan percaya kepada-Nya, tidak pula mereka menjadi menderita lantaran
harus bersedekah karena berhasrat memperoleh keridhaan Allah, dan apa yang akan
dihasilkan oleh sedekah itu bagi mereka di Akhirat.[9]
Iman yang
benar bagi hamba-hamba Allah swt akan dapat mendorong untuk berbuat kebaikan,
baik pada dirinya sendiri maupun kepada orang lain seperti berinfak atau
beramal sholeh. Mereka yakin bahwa apa yang dibelanjakan di jalan Allah swt akan
diganti dengan lebih baik di dunia maupun di akhirat – dan ini bukan tujuan –
sehingga ada semangat dan harapan dari-Nya. Bahkan mereka tidak takut kehabisan
harta yang sebagian diinfakkan atau disedekahkannya di jalan yang diridhai-Nya
itu akan bertambah keberkahannya. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda,”Harta yang disedekahkan itu tidak
sedikitpun berkurang.” (HR. Muslim)
Allah SWT
berfirman:
$yJ¯RÎ) ãNä3Ï9ºsŒ ß`»sÜø‹¤±9$# ß$Èhqsƒä† ¼çnuä!$uŠÏ9÷rr& Ÿxsù öNèdqèù$y‚s? Èbqèù%s{ur bÎ) LäêZä. tûüÏZÏB÷s•B
Artinya:
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti
(kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), Karena itu
janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu
benar-benar orang yang beriman.(QS. Ali Imran: 175)
Seorang
mukmin sejati tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah. Jadi, keimanan tidak
terpisahkan dari keberanian. Karenanya, para pejuang hanya boleh takut kepada
Allah dan tetap menjaga ketakwaan.
Sayyid Quthb
dalam tafsirnya mengatakan,”Syetan sangat licik, penipu dan pengkhianat,
bersembunyi di belakang para walinya dan menyebar luaskan rasa takut kepada
mereka di dalam dada orang-orang yang tidak mewaspadai godaannya..Oleh sebab
itu, Allah mengungkapkannya, menelanjangi segala makar dan tipu dayanya, dan
mengenalkan hakikat yang sebenarnyanya kepada kaum mu’minin: Hakikat makar dan
godaannya, agar mereka waspada
terhadapnya. Sehingga tidak takut kepada para wali syetan dan tidak
gentar menghadapi mereka. Karena mereka dan syetan terlalu lemah untuk ditakuti
oleh seorang mu’min yang bergantung kepada Tuhannya dan bersandar kepada
kekuatan-Nya.[10]
Larangan
firman Allah swt tersebut di atas jelas bahwa kaum muslimin haram hukumnya
takut kepada setan dan wali-walinya, mereka orang kafir dan ingkar atas
nikmat-nikmat Tuhan, sebab mereka sesat jalan, memilih jalan menuju neraka dan
tidak memilih jalan yang diridhai-Nya yaitu surga. Untuk itu, hanya kepada
Allah-lah kita menyandarkan segala urusan dan memohon kemudahan untuk beribadah
dan kekuatan untuk menjauhi larangan-Nya serta rasa takut akan amal baik yang
tertolak.
Allah SWT
berfirman:
Iwr& žcÎ) uä!$uŠÏ9÷rr& «!$# Ÿw ê’öqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“øts† ÇÏËÈ
Artinya:.
Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS. Yunus: 62)
Para wali
Allah adalah mereka yang kedudukannya tidak memerlukan batas antara mereka
dengan Tuhan mereka, dan mereka tidak jauh dari-Nya. Hati mereka terbuka dan
tak tertabiri dan mereka melihat-Nya dengan seluruh hati mereka melalui cahaya
pengetahuan, iman dan amal kebaikan yang membuat mereka menjadi orang yang
sempurna ketulusannya. Disebabkan oleh pengenalan terhadap Allah yang seperti
itulah yang membuat siapapun yang lain menjadi tak berarti, kecil nilainya dan
fana Ayat di atas mengatakan, (yaitu)
orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.[11]
Wali-wali
Allah yang dimaksud ayat di atas adalah orang-orang yang membenarkan Allah dan
Rasul-Nya, mereka sangat takut dan bertakwa kepada Tuhan dengan melaksanakan
perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka sebenarnya wali
adalah seseorang yang beriman lagi bertakwa. Mereka adalah orang-orang pilihan
seperti para Nabi, Rasul dan hamba-hamba Allah swt yang setiap saat diperintah
dan dilarang oleh-Nya atas dasar iman dan ikhlas beribadah dan berjihad di
jalan-Nya dengan harta dan jiwa-raganya.
By Abi Umar Fauzi
Kasmudik (14/11/2014) bersambung...
[1] Abd al-Karim ibnu Hawazin al-Qusyairy, Risalah al-Qusyairiyah, hal.126
[2] Abul Laits As.Samarqandi, Tanbihul
Ghafilin, jilid 2.hal. 116-117
[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Madarijus
Salikin,. hal.174
[4] Ibid. hal. 176
[5] M.Quraish Shihab, Tafsir
Al-Mishbah,. volume 14. hal. 658
[6] Sayyid Quthb, Tafsir Fi
Zhilalil Qur’an,.hal. 177
[7] Kamal Faqih Imani, Tafsir
Nurul Qur’an, jilid 2.hal. 13
[8] Ibid. jilid 3. hal. 54
[9] Ibid, hal. 55
[10] Sayyid Quthb, Tafsir Fi
Zhilalil Qur’an,. jilid 2. hal. 526
[11] Kamal Faqih Imani, Tafsir
Nurul Qur’an, jilid 7. hal. 112
Tidak ada komentar:
Posting Komentar