Tujuan
Diciptakan Manusia?
Allah SWT
berfirman dalam Al-Qur’an :
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ
Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
DR.Yusuf Qardhawi dalam kitabnya ‘Haqiqat al-Tauhid’
memberikan makna ibadah sebagai berikut:
Kata ibadah
mengandung dua makna, dan kedua makna itu mengkristal menjadi makna yang satu,
yaitu; puncak kepatuhan yang dibarengi dengan puncak kecintaan. Kepatuhan yang
menyeluruh yang dipadukan dengan kecintaan yang menyeluruh itulah yang
dinamakan ibadat. [1]
Sedangkan
makna ibadah menurut syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :
Ibadah adalah nama yang mencakup segala
sesuatu yang disukai dan diridhai oleh Allah dalam bentuk ucapan dan perbuatan
batin dan lahir seperti shalat, puasa, dan haji. Kebenaran dalam pembicaraan,
penunaian amanah, kebaktian kepada kedua orang tua, hubungan kekeluargaan dan
sebagainya.[2]
Manusia bisa
memilih pekerjaannya sesuai dengan bakat dan profesi masing-masing misalnya
sebagai pengajar, pengusaha, kariyawan, pelayan, pegawai dan lain sebagainya.
Pekerjaan diatas baik-baik saja yang penting dilakukan dengan benar dan halal
serta tidak mengabaikan perintah agama yang dianutnya.
Dengan
bekerja, seorang pemimpin rumah tangga atau pemimpin lainnya dapat mempunyai
nilai lebih bagi yang menjadi tanggung jawabnya, tidak hanya berupa financial
saja namun juga ada harapan masa depan guna memperoleh pahala dari Tuhan Yang
Maha Bijaksana sesuai iman dan amal ibadahnya. Jangan sampai kita hanya bekerja
keras saja – pagi dan malam – tanpa disertai niat yang tulus ikhlas dan etos
kerja yang islami.
Islam tidak
melarang mengejar dunia, harta dan jabatan yang penting didapat dengan cara
yang hahal serta untuk bekal kembali kepada Allah swt. Bukankah kita diciptakan
di muka bumi ini untuk beribadah, baik hablum minallah dan hablum minannas sesuai
petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.
Maksud
firman diatas:”…melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Kata Ibnu
Abbas,”melainkan supaya mereka tetap beribadah kepada-Ku baik secara sadar
ataupun terpaksa.” Kata ibnu Jarij,”melainkan supaya mereka
mengenal(makrifat)-Ku.”[3]
Sebagaimana
cakupan pengertian ibadah diatas bahwa sesuatu pekerjaan atau profesi seseorang
yang dilandasi kepatuhan dan kecintaan serta diridhai Allah swt maka dia
memperoleh nilai ibadah. Oleh karena itu, kita harus rajin beribadah dalam arti
yang luas.
Ali bin Abi
Thalib berkata:”Sesungguhnya ada segolongan orang yang menyembah Allah karena
mengharapkan (surga-Nya), maka itulah ibadah para pedagang. Ada pula segolongan
orang yang menyembah Allah karena takut (akan siksa-Nya), maka itulah ibadah
para budak. Dan ada pula segolongan orang yang menyembah Allah karena syukur
(kepada-Nya), maka itulah ibadah orang-orang merdeka.”[4]
Allah SWT
berfirman:.
øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès?
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(QS.
Al-Baqarah: 30)
Maksud
firman diatas,’seorang khalifah di muka
bumi’ adalah sebagai ganti kalian (malaikat) dan petinggi kamu di sisi
Allah lalu mereka enggan, karena mereka lemah dalam beribadah dan yang dimaksud
(khalifah) adalah Adam as.[5]
Menurut
al-Zamakhsyari dan lainnya,’seseorang di muka bumi.’ Adalah suatu kaum yang
memimpin atas sebagian mereka di suatu masa dan seterusnya.Demikian juga
menurut al-Qurthubi bahwa yang dimaksud bukan hanya Adam as (sebagai khalifah)
saja tetapi generasi lain sebagaimana pendapat sebagian para mufassir.
Manusia
diciptakan di dunia ini adalah untuk menyembah atau mengabdi kepada Allah swt.
Menyembah kepada Allah pada intinya adalah berhubungan dengan Allah, memuja
kebesaran Allah, dan berdo’a kepada Allah agar manusia dekat kepada-Nya. Upaya
untuk mendekatkan diri yang utama adalah melalui komitmen melaksanakan rukun
Islam sesuai dengan tuntunan syariat Islam.
Dengan
demikian, tugas manusia untuk menyembah Allah merupakan ibadah khusus yaitu
hubungan komunikasi langsung terhadap Allah tanpa suatu perantara menuju
keridhaan-Nya.
Selain
ibadah khusus, manusia juga bertugas untuk menyembah Allah melalui ibadah umum
yaitu hubungan komunikasi antara manusia dengan manusia sekitarnya dengan
berbuat baik kepada sesama manusia dan mengutuk serta mengharamkan segala
bentuk permusuhan, perusakan, kebemcian dan kedengkian dalam kehidupan manusia.
Islam juga mengharamkan berbuat kerusakan lahir seperti didaratan maupun di
lautan dan batin yaitu menyekutukan Allah swt.
Allah SWT
berfirman dalam Al-Qur’an:
Ÿwur (#r߉šøÿè? †Îû ÇÚö‘F{$# y‰÷èt/ $ygÅs»n=ô¹Î) çnqãã÷Š$#ur $]ùöqyz $·èyJsÛur 4 ¨bÎ) |MuH÷qu‘ «!$# Ò=ƒÌs% šÆÏiB tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÎÏÈ
Artinya:
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima)
dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada
orang-orang yang berbuat baik.(QS. Al-A’raf: 56)
Firman
diatas,”membuat kerusakan di muka bumi’
menurut Muhammad An-Nawawi adalah kerusakan jiwa dengan pembunuhan yang sadis,
kerusakan harta dengan cara yang haram(ghashab),
menodai ajaran agama dengan kekufuran dan bid’ah, merusak keturunan (ansab) dengan perzinaan, merusak akal
dengan mengkomsumsi minuman yang memabukkan.[6]
Ahli tafsir
Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab ‘Shafwat at-Tafasir’ mengtakan: “janganlah
kamu membuat kerusakan di muka bumi dengan menyekutukan Allah dan berbuat
maksiat sesudah Allah swt memperbaikinya dengan mengutus para rasul”[7]
Menyekutukan
Allah swt adalah perbuatan yang sangat zhalim bagi manusia sehingga dapat
merusak akidah dan dapat merusak alam sekitarnya juga dosanya tidak terampuni
sebelum ia benar-benar bertaubat. Akidah yang salah menyebabkab manusia rugi
dunia-akhirat. Oleh karena itu, kerusakan di daratan dan lautan factor utama
adalah tangan-tangan jahil manusia yang tipis iman dan hawa nafsu yang buruk
seperti sifat serakah.
Firman
diatas,”sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat
baik.” Menurut ibnu Katsir:”Sesungguhnya rahmat Allah diberikan kepada
orang-orang yang berbuat baik, yaitu mereka yang mengikuti
perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.”[8]
Dunia adalah
tempat ujian bagi manusia yang beriman dan orang-orang yang tidak percaya
kepada Allah swt. Dengan ilmu, harta dan jabatan manusia bisa mulia ketika
mereka dapat memanfaatkan apa-apa yang diamanatkan dengan taat beragama dan
bisa tercela bila manusia tidak dapat
melaksaksanakan amanat yang diembannya misalnya sombong dengan ilmunya, pamer
dengan hartanya dan dhalim dengan jabatannya. Untuk itu, laksanakan amanat apapun dengan penuh tanggung jawab baik pada
diri sendiri maupun kepada orang lain. Karena semua perbuatan manusia yang baik
ataupun yang jelek akan mendapat balasannya.
Allah SWT
berfirman dalam Al-Qur’an:
`yJsù ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB >o§‘sŒ #\ø‹yz ¼çnttƒ ÇÐÈ `tBur ö@yJ÷ètƒ tA$s)÷WÏB ;o§‘sŒ #vx© ¼çnttƒ ÇÑÈ
Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan
kebaikan seberat dzarrapun, niscaya dia akan melihat(balasan)nya. Dan
Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan
melihat (balasan)nya. (Q.S. Az-Zalzalah: 7-8)
Firman Allah
swt ini dijelaskan oleh pakar tafsir al-Qurthubi: “Allah swt membuat
perumpamaan ini bahwa sesungguhnya Dia
tidak pernah melupakan amal purbatan anak cucu Adam baik kecil maupun besar,” [9]
Berkata
Ahmad bin Ka’ab al-Qarzhi:”Maka barangsiapa berbuat kebaikan seberat biji sawi
sedangkan ia orang kafir, dia melihat balasannya(tsawab) di dunia sehingga ia
di akhirat dan tidak mendapatkan apa-apa (syai’un) dan barangsiapa berbuat
kejahatan dari seorang mukmin, dia melihat balasannya(‘uqubah) di dunia seperti
jiwanya, harta, keluarga, anak keturunan sehingga dia keluar dari dunia (mati)
dan dia bebas dari kejahatannya di sisi Allah swt.[10]
Oleh karena
itu, manusia diperintahkan untuk berlomba berbuat kebajikan kepada dirinya dan
orang lain, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan serta tidak
saling membantu dalam dosa dan
permusuhan. Maka beruntunglah orang-orang yang dalam kehidupannya berguna bagi
sesamanya, sebagaimana Rasulullah saw bersabda :
@änfe ktRZmã @äneã R5
Artinya: Sebaik-baik manusia adalah mereka
yang kehidupannya berguna bagi sesamanya. (HR.Al-Qadha’I dari Jabir)
Bersambung... (3/5/11/2014)
[1] Yusuf al-Qardhawi, Haqeqat
al-Tauhid, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1992), hal. 31
[2] Moh.Quraish Shihab, Falsafah
Ibadah Dalam Islam,(Jakarta: Bumi Aksara, 1992),hal.173
[3] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an
Al-Azhim, juz 4.hal.238
[4] Fadhlullah al-Ha’iri, Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku,
Kata-kata Mutira ‘Ali bin Abi Thalib,(Bandung:Pustaka
Hidayah,2003),hal.76-77.
[5] Muhammad An-Nawawi, Murah
Labib Tafsir An-Nawawi,jilid awal. hal.9
[6] Ibid, jilid awal.hal.283
[7]Muhammad Ali Ash-Shabuny, Shafwat
at-Tafasir, jilid 3 hal. 451
[8] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an
Al-Azhim, juz 2 hal.222
[9]Muhammad Ali Ash-Shabuni. Shafwat
at-Tafasir, jilid 3. hal. 591
[10] Muhammad An-Nawawi, Murah
Labib Tafsir An-Nawawi, jilid 2.hal.460
Tidak ada komentar:
Posting Komentar