Karakter Manusia ?
Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
Allah swt
menciptakan manusia berpasang-pasangan, laki dan perempuan. Di antara mereka
ada yang bersuami-istri dan punya keturunan, ada pula yang tidak dikaruniai
anak; ada juga yang tidak menikah sepanjang hidupnya. Semuanya ini berjalan
sesuai dengan takdir Tuhan Yang Maha Adil.
Karakter
atau watak manusia pada dasarnya ada yang baik dan ada pula yang buruk sesuai
dengan kodrat ilahi pada dirinya. Dalam diri manusia ada potensi fujur (jahat) dan ketaqwaan (kebaikan) tergantung potensi yang mana yang akan
dikembangkan.
Beranjak dari
kenyataan yang ada, maka sikap keagamaan terbentuk oleh dua factor yaitu faktor
intern dan faktor ekstern. Memang dalam kajian psikologi agama, beberapa
pendapat menyetujui akan adanya potensi beragama pada diri manusia. Manusia
adalah homoreligius (makhluk beragama). Namun untuk menjadikan manusia memiliki
sikap keagamaan, maka potensi tersebut memerlukan bimbingan dan pengembangan
dari lingkungannya.
Sebaliknya
teori kedua menyatakan bahwa jiwa keagamaan manusia bersumber dari faktor
ekstern. Manusia terdorong untuk beragama karena pengaruh faktor luar dirinya,
seperti rasa takut, rasa ketergantungan ataupun rasa bersalah (sense of guilt).[1]
Dari
penjelasan tersebut, bahwa kepribadian seseorang sangat tergantung dengan
factor dalam dirinya dan juga dari luar, bisa baik dan bisa buruk. Sementara
menurut agama juga mendukung pendapat tersebut dengan diturunkannya para nabi
dan rasul untuk mengajak menjadi orang-orang yang sholeh dengan taat beragama
dan menjauhi larangan-larangannya.
Agar manusia
hidup bahagia dunia-akhirat maka Allah swt perintahkan hanya beribadah
kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan benda seperti memakai jimat, benda
pusaka yang diyakininya mendatang kekuatan ghaib atau dengan makhluk misalnya
meminta kepada para nabi dan rasul atau orang yang dikeramatkan dalam kubur.
Selamat tidaknya manusia tergantung pada iman dan amal sholehnya di masa
hidupnya, Oleh karena itu, wajib bagi kaum muslimin untuk mengembangkan potensi
kebaikan yang ada dalam dirinya dengan rajin beribadah atas dasar iman kepada
Allah serta sesuai petunjuk rasulullah saw.
Meskipun
iblis dan kawan-kawanya selalu menghadang dan mengajak bermaksiat kepada Allah
swt. Hanya berlindung kepada-Nya dan memohon petunjuk ummat Islam dapat dipastikan
bahagia dunia-akhirat
Allah
berfirman dalam Al-Qur’an:
$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgø‹n=tã ÎŽöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgø‹n=tæ Ÿwur tûüÏj9!$žÒ9$# ÇÐÈ
Artinya: Tunjukkan kami jalan yang lurus.
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pada jalan) mereka yang sesat.
(Q.S. Al-Fatihah: 6-7)
Firman
Allah:”Tunjukkan kami jalan yang lurus.” Menurut ibnu Katsir adalah sebaik-baik
ungkapan orang yang memuji permohonannya, lalu meminta apa yang dibutuhkan dan kebutuhan
saudara-saudaranya yang beriman, yaitu petunjuk (hidayah) berupa bimbingan
(irsyad) dan taufik[2]
Dalam tafsir
al-Munir Muhammad An-Nawawi menerangkan ayat diatas,’Tunjukkan kami jalan yang lurus” Ya Allah tambahkan petunjuk
(hidayah) kepada kami jalan yang menyelamatkan (din al-Islam) yakni kekalkan kami sebagai orang-orang yang
memperoleh petunjuk kepadanya. Dan ayat selanjutnya,”(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada
mereka…,” yakni agama yang Engkau anugerahkan kepada mereka, agamanya para
Nabi, al-shiddiqin, al-syuhada’ dan orang-orang sholeh.[3]
Meskipun
manusia memiliki karakter yang baik dan buruk, manusia tetap memerlukan
petunjuk dan bimbingan dari Dzat Yang Maha Benar lagi Maha Mengetahui seperti
mereka para nabi, orang-orang yang benar, syuhada’ dan orang-orang yang sholeh
sebagaimana firman diatas. Muhammad Ali Ashabuni dalam tafsirnya menjelaskan
do’a tersebut, maksudnya ayat diatas : “wahai Tuhan tunjukkan dan bimbinglah
kami ke jalan-Mu yang benar dan agama-Mu yang lurus, dan tetapkan kami dalam
Islam yang Engkau utus dengannya para nabi dan para rasul-Mu, dan Emgkau
mengutus dengannya penutup (nabi Muhammad saw) para rasul dan jadikanlah kami
orang-orang yang berada di jalan para al-muqarrabin.”[4]
Perbuatan
yang buruk dan tercela jika dilakukan, menurut Sigmund Frued akan menimbulkan
rasa bersalah (sense of guilt) dalam diri pelakunya. Bila pelanggaran yang
dilakukan terhadap larangan agama, maka pada diri pelakunya akan timbul rasa
berdosa.[5]
Dengan
demikian, karakter manusia akan timbul rasa bersalah atau berdosa ketika
melakukan perbuatan yang tercela dan sebaliknya akan merasa senang atau merasa
mendapat pahala bila berbuat baik bagi yang beragama. Ada beberapa karakter
manusia dalam perspektif al-Qur’an, yaitu watak yang menghambat untuk
mensyukuri nikmat-nikmat Allah swt. sebagaimana penjelasan di bawah ini:
1.Suka
Membantah
Diantara
manusia ada yang penurut dan ada yang penentang, maka berbahagialah orang-orang
mematuhi perintah agama dan merugi orang-orang yang suka menentang atau
membantah tanpa lasan yang jelas. Allah swt senantiasa akan memberikan cobaan
dan ujian kepada manusia sesuai dengan janjinya yang pernah diikrarkan sebelum
terlahir di dunia untuk memenuhi janjinya yaitu bertauhid kepada-Nya dalam
pengabdiannya di alam dunia.
Firman Allah
SWT dalam Al-Qur’an:
øŒÎ)ur x‹s{r& y7•/u‘ .`ÏB ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä `ÏB óOÏdÍ‘qßgàß öNåktJƒÍh‘èŒ öNèdy‰pkôr&ur #’n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4’n?t/ ¡ !$tRô‰Îgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x‹»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”
Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan
yang demikiam itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami
(bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (Q.S.
Al-A’raf: 172)
At-Thabari
berkata mengenai ayat tersebut:” Ingatlah wahai Muhammad ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak cucu Adam dari sulbi bapak-bapak mereka lalu Allah menetapkan
kepada mereka agar mentauhidkan kepada-Nya dan sebagian mereka bersaksi atas yang demikian itu.”[6]
Ibnu Abbas
berkata tentang ayat tersebut:”Allah mengusap tulang punggung Adam lalu
keluarlah dari Adam setiap nyawa Dialah penciptanya sampai hari kiamat dan
menetapkan kepada mereka atas ketuhanan dan keesaan-Nya lalu mereka menetapkan
yang demikian itu .”[7]
Tidak ada
alasan bagi manusia untuk tidak patuh kepada Tuhan di muka bumi ini, sebab
mereka sudah bersaksi bahwasanya Allah swt adalah Tuhan Yang Maha Pencipta alam
beserta isinya dan tidak ada sekutu bagi-Nya serta siap menerima amanat yang
diberikan yaitu hanya beribadah kepada-Nya nanti di hari perhitungan nanti.
Allah SWT
berfirman:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ
Artinya: Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
(Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini
jelas bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah dalam arti
khas ialah segala tata-cara, acara dan upacara pengabdian lansung manusia
kepada Allah, yang segala sesuatunya secara terperinci sudah digariskan oleh
Allah dan Rasul-Nya; sepertinya: Shalat, Zakat, Shaum, Haj dan kain sebagainya
yang bertalian erat dengan hal-hal termaksud.[8]
Tapi
kenyataannya sebagian manusia membantah tidak mengabaikan tujuan hidup
sebagaimana firman diatas, demikian juga sebagian orang-orang yang beriman tidak melaksanakan ibadah khas
sebagaimana mestinya.
Ibadah dalam
arti luas (meliputi antara lain ‘Ibadah dalam arti khas) ialah pengabdian ,
yaitu segala perbuatan, perkataan dan sikap yang bertandakan:
(1). Ikhlas
sebagai titik tolak;
(2).
Mardhati “I-Lah sebagai titik tuju;
(3). Amal
Shaleh sebagai garis-amal. (termasuk ke dalamnya antara lain mencari nafkah,
mencari ilmu, mendidik, bekerja buruh, memimpin Negara dan masyarakat dan lain
sebagainya) [9]
Firman di atas,’melainkan supaya mereka menyembah-Ku’
menurut Mujahid adalah supaya mereka mengenal-Ku (liya’rifuni) maksudnya seandainya Allah swt tidak menciptakan
manusia niscaya Dia tidak mengenal keberadaan-Nya (wujud) dan keesaan-Nya
(tauhid) sebagaimana riwayat Nabi saw:”Ia bersabda dari Tuhannya, Aku adalah
khazanah (kanzan) yang tersembunyi lalu Aku ingin dikenal maka Aku ciptakan
makhluk agar Aku mengenal.[10]
Demikianlah
cakupan ibadah dalam Islam, sehingga akan ketahuan orang-orang yang dikatagorikan
orang yang membantah kepadah Allah swt karena mereka tidak melaksanakan seruan
ibadah sebagaimana mestinya, patuh dan mengenal-Nya, nama-nama-Nya (asma’
al-husna) yang indah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya (af’al).
Bersambung... by Abi
Umar (4/7/11/2o14)
[1] Jalaluddin, Psikologi Agama,
( Jakarta: Raja Grafindo, 1996),hal. 212
[2] Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’an
Al-Azhim, juz 1.hal. 26-27
[3] Muahammad An-Nawawi, Murah
Labib Tafsir A-Nawawi, jilid awal.hal. 3
[4] Muhammad Ali Ash-Shabuny, Shafwat
at-Tafasir, hal. 25
[5] Jalaluddin, Psikologi Agama, hal. 215
[6] Muhammad Ali Ash-Shabuni, Shafwat
at-Tafasir, juz 1 hal. 481
[7] Ibid. hal. 481
[8] Endang Saifuddin Anshari,
Wawasan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo, 1993), hal. 199
[9] Ibid, hal. 199
[10] Muhammad An-Nawawi, Murah
Labib Tafsir An-Nawawi, jilid 2.hal.326
Tidak ada komentar:
Posting Komentar