MANUSIA Ingkar ?
Artinya: Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. (Q.S. Al-‘Adiyat: 6)
Artinya: Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. (Q.S. Al-‘Adiyat: 6)
Sudah
menjadi watak manusia kebanyakan jika memperoleh kesenangan, harta atau tahta
menjadi lupa diri mungkin karena sedikit pengetahuan agamanya atau dalam
agamanya namun kotor hatinya atau tipis keimanannya. Dengan iman yang benar dan
kuat seseorang kaya maupun miskin dapat dipastikan selamat mengarungi kehidupan
dunia ini. Tetapi bilamana tiada iman seseorang akan sangat mudah terjerumus
dalam kehinaan, menuruti bisikan syaitan dan menjadi ingkar terhadap
nikmat-nikmat Allah swt, nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat sehat dll.
Allah SWT
berfirman:
¨bÎ) z`»|¡SM}$# ¾ÏmÎn/tÏ9 ׊qãZs3s9 ÇÏÈ
Artinya: Sesungguhnya manusia itu sangat
ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. (Q.S. Al-‘Adiyat: 6)
Diriwayatkan
ibnu Hatim bahwa Rasulullah saw bersabda:”Sesungguhnya
manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya” Ia berkata
bahwa manusia yang ingkar itu ialah seseorang yang makan untuk diri sendiri (enggan
memberi makan orang lain),memukul budaknya(bisa pembantunya) dan menghalangi
(membantu dalam bentuk) memboncengkan seseorang di kendaraannya.[1]
Sungguh
tabiat manusia itu sangat kufur atas nikmat-nikmat Tuhannya sebagaimana kata
ibnu Abbas dan lainnya, keji terhadap Tuhannya tatkala tertimpa musibah dan
ujian, melupakan nikmat-nikmat-Nya
dengan bersenang-senang sebagaimana dikatakan al-Hasan; dan dikatakan manusia
yang melakukan maksiat kepada Tuhannya; dikatakan orang yang bakhil.[2]
Di sini
Allah swt menjelaskan dengan jelas bahwa siapa yang merugi dan celaka dengan
ungkapan sesungguhnya secara umum, khususnya terhadap Tuhan, Pemelihara yang
selalu berbuat baik kepadanya, sangat ingkar kepada-Nya.
Dalam
konteks ini Rasul bersabda:”Tahukah kalian, apa yang dimaksud dengan al-kanud?”
Para sahabat menjawab:”Allah dan Rusul-Nya lebih mengetahui.” Nabi
bersabda:”Al-Kanud adalah orang yang tidak mensyukuri nikmat, yang memukul
hamba sahaya (termasuk pembantunya), yang menghalangi (bantuan dalam bentuk)
memboncengkan seseorang di kendaraannya, serta yang makan sendirian” (HR.
ath-Thabarani melalaui Abu al-Bahili)[3]
Hadis diatas
menjelaskan bahwa banyak manusia yang ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah swt,
dengan tidak sholeh terhadap dirinya dan tidak berbagi sebagian rezki kepada
orang yang sangat membutuhkannya, bahkan berbuat aniaya kepada keluarga,
tetangga misalnya. Oleh karena itu, seseorang yang beriman akan pandai
mensyukuri nikmat-nikman Allah dengan memperbanyak amal soleh, baik kepada dirinya
maupun kepada orang lain.
Allah SWT berfiman:
$tBur Nä3Î/ `ÏiB 7pyJ÷èÏoR z`ÏJsù «!$# ( ¢OèO #sŒÎ) ãNä3¡¡tB •Ž‘Ø9$# Ïmø‹s9Î*sù tbrãt«øgrB ÇÎÌÈ ¢OèO #sŒÎ) y#t±x. §Ž‘Ø9$# óOä3Ztã #sŒÎ) ×,ƒÌsù /ä3ZÏiB öNÍkÍh5tÎ/ tbqä.ÎŽô³ç„ ÇÎÍÈ
Artinya: Dan apa saja nikmat yang ada pada
kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan,
maka hanya kepada-Nyalah kamu memintak pertolongan. Kemudian apabila Dia telah
menghilangkan kemudharatan itu daripada kamu, tiba-tiba sebagian daripada kamu
mempersekutukan Allah dengan (yang lain). (Q.S. An-Nahl: 53-54)
Al-Qurthubi
berkata makna firman ini sangat mempersona (ta’jib) sebab sesudah Allah swt
menyelamatkan mereka dari kebinasaan dibalas dengan kemusyrikan.[4]
Jika manusia
ditimpa kemudharatan,maka kepada Tuhan kamu minta tolo9ng kepada-Nya dengan
mengeraskan suaramu dalam memohon pertolongan untuk menghilangkan kemudharatan
tersebut bukan kepada selain-Nya; Ketika sudah hilang kamu menjadi orang kufur
dan bahkan kepada Tuhannya menyekutukan dengan yang lain-Nya dan ini adalah
kesesatan yang sempurna.[5]
Nikmat-nikmat
Allah swt sangat banyak sekali yang sudah diberikan kepada manusia, sebagian
mereka bersegera mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan semakin rajin
beribadah dan giat bekerja dan sebagian mereka mengkufuri karunia Allah swt
dengan selalu berbuat dosa. Bagi orang yang beriman akan selalu bersyukur
ketika mendapatkan kesenangan seperti harta atau jabatan dengan menggunakannya
untuk bekal kembali kepada-Nya dan bilamana ditimpa musibah misalnya sedikit
rezkinya atau ada keluarga yang meninggal dia bersabar dan memohon kepada-Nya.
Apapun bentuk yang didatangkan oleh Allah baik menyenangkan atau menyusahkan
sama saja bagi orang-orang yang beriman kepada-nya, menyenangkan disikapi
dengan rasa syukur dan kesulitan dengan kesabaran.
Secara
pasti, Allah swt mendengar permohonan manusia dan Dia akan segera menyambutnya
dan menghilangkan kesulitan manusia. Kemudian setelah Allah swt menghilangkan
kesulitannya dan menyelamatkannya dari kerugian, sebagian dari mereka malah
menetapkansekutu-sekutu dan bandingan-bandingan bagi Allah dan kembali kepada
berhala-berhala.Terutama mereka mendahulukan hawa nafsunya untuk dipertuhankan
dengan melanggar norma-norma agama.
Menyekutukan
kepada Allah swt baik dengan benda seperti patung-patung atau jimat-jimat atau
pusaka yang dikeramatkan atau dengan manusia yang dikultuskan seperti makam
para wali adalah perbuatan yang sangat ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang. Sebagian manusia suka menolong kebutuhan orang lain, namun
salah niat maka dia tergolong orang yang baik dimata manusia tapi tidak bagus
di sisi Allah.alias ingkar kepada-Nya.
Termasuk
ingkar kepada Allah swt adalah orang Islam mendatangi dukun atau peramal untuk
memintak pertolongan dan meramalkan
nasibnya. Sehingga keimanannya goncang dan bertambah jauh dari petunjuk agama
yang dianutnya.
Nabi
Muhammad saw bersabda yang artinya:”Barangsiapa
mendatangi seorang peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang ia katakan maka
sungguh ia kufur terhadapa apa-apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.”
(HR. Ahmad dan Hakim)
Bahkan
seorang muslim yang memintak tolong atau mintak diramal oleh dukun atau peramal
dengan membenarkan ucapannya maka sholatnya 40 hari tidak diterima. Sebagaimana
sabda Rasulullah saw yang artinya:
Barangsiapa mendatangi seorang peramal lalu bertanyak kepadanya tentang sesuatu
maka 40 hari sholatnya tidak diterima. (HR. Ahmad dan Muslim)
Kebanyakan
manusia lupa diri ketika permohonan dan kebutuhannya sudah diperkenankan oleh
Allah swt dengan sombong dan angkuh. Lupa dari mana nikmat-nikmat yang diterima
manusia baik yang beriman maupun yang kufur ? Harta dan jabatan adalah datang
dari Tuhan, kapan saja Dia berhak memberi dan mengambilnya dari manusia. Semua
yang ada di langit dan bumi serta isinya adalah milik Allah Yang Maha Kuasa
atas segala sesuatu. Manusia hanya menerima apa-apa yang telah diamanatkan
kepadanya, ilmu, harta, tahta dan lain sebagainya dan pada akhirnya semuanya
itu akan kembali kepada_Nya.
Allah SWT
berfirman dalam Al-Qur’an:
#sŒÎ*sù ¡§tB z`»|¡SM}$# @ŽàÑ $tR%tæyŠ §NèO #sŒÎ) çm»uZø9§qyz ZpyJ÷èÏR $¨YÏiB tA$s% !$yJ¯RÎ) ¼çmçFÏ?ré& 4’n?tã ¥Où=Ïæ 4 ö@t/ }‘Ïd ×puZ÷GÏù £`Å3»s9ur ÷LèeuŽsYø.r& Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÍÒÈ
Artinya: Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia
menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia
berkata:”Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”,
Sebenarnya itu adalah ujian , tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.
(Q.S. Az-Zumar: 49)
Allah swt
mengkhabarkan bahwa manusia itu merendah diri kepada-Nya dan kembali kepada
jalan-Nya serta berdoa kepada-Nya jika mereka ditimpa bahaya, tetapi tatkala
Allah swt merubah dengan kenikmatan maka manusia menjadi durhaka dan melampaui
batas, berbuat aniaya.[6]
Dengan
firman diatas, Muhammad An-Nawawi menerangkan bahwa Allah swt menghabarkan
manusia jika mendapat kefakiran dan sakit, dia memohon kepada-Nya, tetapi bila
ia diberikan harta dan kesehatan yang sebenarnya datang dari Kami, manusia
merasa kesuksesannya karena kepintaran ilmunya, maka jika mendapat kenikmatan
dengan lapang rezeki, dia berkata ini hasil usahaku, jika ia sehat dia bilang
ini karena dokter si fulan. Sebenarnya ini semua adalah ujian, apakah manusia
bersyukur atau kufur, namun mereka kebanyakan tidak mengetahuinya.[7]
Ayat diatas
menerangkan bahwa watak manusia jika mendapat kesulitan atau musibah ia
cepat-cepat memohon kepada Tuhan. Namun setelah kebutuhannya tercapai atau
kesulitannya diangkat oleh Tuhan ia lupa diri bahkan sombong dan angkuh
terhadap perintah-perintah-Nya dan larangan-laranga-Nya diabaikan begitu saja.
Manusia semacam ini sungguh tak tahu diri dan benar-benar sangat ingkar kepada
Tuhan.
Sebelum
menjadi orang yang terkenal, atau tidak punya jabatan dulunya peranginya baik dan
santun namun sesudah menjadi orang yang masyhur namanya dengan ilmu, harta atau
jabatan yang tinggi berubah sombong dan zhalim kepada orang lain. Ia lupa bahwa
nikmat tersebut adalah bahan ujian Allah kepadanya, ia tergolong manusia
bersyukur atau kufur.
Jangan
seperti Raja Fir’aun dengan kedudukann bertambah zhalim kepada orang lain
bahkan mengaku sebagai Tuhan; jangan seperti Qarun dengan hartanya ia sombong
dan angkuh kepada nabi Musa ketikan diingatkan untuk menjadi orang yang baik;
jangan seperti Bal ‘Am dengan ilmunya bertambah sombong dan menolak ajakan nabi
Musa untuk kembali kepada jalan yang benar. Mereka ini salah satu contoh
manusia-manusia yang ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah swt sehingga mereka
mati dalam kaadaan su’ul khatimah.
By Abi Umar (6/11/11/2014). Bersambung...
[1] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an
Al-Azhim, juz.4 hal.542
[2] Muhammad An-Nawawi, Murah
Labib Tafsir An-Nawawi. jilid 2.hal. 461
[3]M.Quraish Shihab.Tafsir Al-
Mishbah, hal. 466
[4] Muhammad Ali Ash-Shabuni, Shafwat
at-Tafasir. juz 2.hal. 130
[5] Muhammad An-Nawawi, Murah
Labib Tafsir An-Nawawi, jilis awal.hal. 456
[6] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an
Al-Azhim, juz 4, hal.57
[7] Muhammad An-Nawawi, Murah
Labib Tafsir An-Nawawi, jilid 2.hal. 242
Tidak ada komentar:
Posting Komentar