Rabu, 27 Maret 2013

KRISIS IMAN DAN MORAL




                     MEMBENTENGI  Krisis Moral
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi (QS. an-Nisa` [4] : 79).

Muqaddimah

SEHATKAN HATI
JAKARTA- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, kasus korupsi yang terjadi di Indonesia menandakan merosotnya rasa malu dalam kehidupan di masyarakat. Kata SBY, rasa malu sering terasa memudar, tergerus oleh nilai-nilai materialistik, kepentingan sesaat dan praktek jalan pintas.

Pernyataan SBY itu diamini oleh Psikolog Dadang Hawari. Menurutnya, pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para pejabat dan kader partai politik semakin merajalela.

Dikatakan Dadang, dalam dunia korupsi sudah biasa melakukan upaya saling mengelak, saling tuding dan saling melempar tanggung jawab. Hal ini terjadi karena masing-masing individu merasa tidak salah atas tuduhan yang dituduhkan.

“Bahkan yang sudah tahu salah pun tetap mencari pembenaran. Pada dasarnya manusia tak mau disalahkan. Yang terjadi pada pejabat kita ini adalah krisis iman yang berakibat pada krisis moral. Jika dikaitkan dengan agama, pengamalan rukun iman yang ada pada para pejabat kita sangat rendah. Mereka lupa dengan Tuhan,” kata Dadang saat berbincang dengan okezone, Rabu (20/2/2013).


“Setidaknya salah satu faktor yang paling mempengaruhi terjadinya berbagai bencana di tanah air kita ini, yakni krisis iman.  Karena itu, saya mengajak masyarakat muslim khususnya di Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muaraenim agar meningkatkan keimanan dan selalu bertasbih agar selalu ingat kepada Allah,” ucapnya.


Jika umat islam di Indonesia ini, lanjut Ustadz Ahmad, selalu meningkatkan keimanan kepada Allah SWT, mengingat Allah SWT serta bertasbih kepada Allah SWT. Maka, secara otomatis rahmat Allah akan selalu tercurahkan kepada bangsa Indonesia ini.


“Oleh karena itu, agar bencana tidak lagi datang sebagai azab, maka keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Serta menjalankan semua sunnah rosulullah SWT,” ungkapnya.



Pengertian Iman



Keimanan sering disalahpahami dengan 'percaya', keimanan dalam Islam diawali dengan usaha-usaha memahami kejadian dan kondisi alam sehingga timbul dari sana pengetahuan akan adanya Yang Mengatur alam semesta ini, dari pengetahuan tersebut kemudian akal akan berusaha memahami esensi dari pengetahuan yang didapatkan. Keimanan dalam ajaran Islam tidak sama dengan dogma atau persangkaan tapi harus melalui ilmu dan pemahaman.



Implementasi dari sebuah keimanan seseorang adalah ia mampu berakhlak terpuji. Allah sangat menyukai hambanya yang mempunyai akhlak terpuji. Akhlak terpuji dalam islam disebut sebagai akhlak mahmudah.Beberapa contoh akhlak terpuji antara lain adalah bersikap jujur, bertanggung jawab, amanah, baik hati, tawadhu, istiqomah dll. Sebagai umat islam kita mempunyai suri tauladan yang perlu untuk dicontoh atau diikuti yaitu nabi Muhammad SAW. Ia adalah sebaik-baik manusia yang berakhlak sempurna. Ketika Aisyah ditanya bagaimana akhlak rosul, maka ia menjawab bahwa akhlak rosul adalah Al-quran. Artinya rosul merupakan manusia yang menggambarkan akhlak seperti yang tertera di dalam Al-quran



[10:36] Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.



Adapun sikap 'percaya' didapatkan setelah memahami apa yang disampaikan oleh mu'min mubaligh serta visi konsep kehidupan yang dibawakan. Percaya dalam Qur'an selalu dalam konteks sesuatu yang ghaib, atau yang belum terrealisasi, ini artinya sifat orang yang beriman dalam tingkat paling rendah adalah mempercayai perjuangan para pembawa risalah dalam merealisasikan kondisi ideal bagi umat manusia yang dalam Qur'an disebut dengan 'surga', serta meninggalkan kondisi buruk yang diamsalkan dengan 'neraka'. Dalam tingkat selanjutnya orang yang beriman ikut serta dalam misi penegakkan Din Islam.



Adapun sebutan orang yang beriman adalah Mu'min



Tahap dan Tingkatan Iman serta Keyakinan

Tahap-tahap keimanan dalam Islam adalah:



Dibenarkan di dalam qalbu (keyakinan mendalam akan Kebenaran yang disampaikan)

Diikrarkan dengan lisan (menyebarkan Kebenaran)

Diamalkan (merealisasikan iman dengan mengikuti contoh Rasul)



Tingkatan Keyakinan akan Kebenaran (Yaqin) adalah:



Ilmul Yaqin (yaqin setelah menyelidikinya berdasarkan ilmu) contoh ---- seperti keyakinan orang amerika yang masuk islam setelah membuktikan AL QUR'AN dengan ILMU PENGETAHUAN



 'Ainul Yaqin (yaqin setelah melihat kebenarannya hasilnya baik berupa mu'zizat , karomah dll ) contoh ----- keyakinan Bani israil yaqin setelah melihat mu'zizat dari nabinya



Haqqul Yaqin (yaqin yang sebenar-benarnya meskipun belum dibuktikan dengan ilmu dan belum melihat kebenarannya) contoh ----- yakinnya para sahabat RA kepada nabi MUHAMMAD.SAW pada peristiwa ISRA' MIRAJ meskipun tidak masuk akal(berdasarkan ilmu) dan tidak seorang sahabat pun melihat kejadian itu , namun mereka tetap meyakini peristiwa itu .



Terjadi Krisis Keimanan Dan Moral
Di samping menyadari sepenuhnya kedudukan Allah swt sebagai musabbib (sumberr segala sebab), sebagai hamba-Nya setiap manusia dituntut juga untuk mampu menganalisa sabab (sebab) dari krisis yang terjadi untuk kemudian memperbaikinya. Dalam kelanjutan firman Allah swt pada surat an-Nisa` di atas, Allah swt menegaskan juga:
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi (QS. an-Nisa` [4] : 79).
Dlamir ka (kamu) dalam ayat ini, sebagaimana dijelaskan Imam Ibn Katsir, tidak ditujukan kepada Nabi Muhammad saw secara pribadi, melainkan Nabi saw sebagai jenis manusia. Artinya, musibah kejelekan apa saja yang terjadi maka itu disebabkan kesalahan manusia, bukan salah Allah swt, bukan pula salah Rasulullah saw. Jadi, meskipun Allah swt mengajarkan bahwa semua kebaikan atau kejelekan sumbernya dari Allah swt, tetapi tetap penyebab dari kejelekan itu sendiri pasti berasal dari kesalahan manusia. Secara lebih jelas Allah swt mengemukakannya dalam ayat lain:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. ar-Rum [30] : 41)
Dari aspek akhlaq kepada Allah swt, ini memang sepatutnya menjadi sikap seorang manusia. Sebab sebagaimana terungkap dalam do’a iftitah wajjahtu wajhiya: wal-khairu kulluhu fi yadaika was-syarru laisa ilaika; kebaikan semuanya ada pada kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak akan ada yang tertuju kepada-Mu. Jadi jika kebaikan menimpa kita, wajib kita sadar bahwa itu hakikatnya dari Allah swt. Jika kejelekan yang menimpa kita, wajib juga selain sadar bahwa itu hakikatnya dari Allah swt—sebab jika Allah menghendaki untuk menghalanginya pasti Dia bisa menghalanginya—kita juga menyadari bahwa penyebabnya pasti dari diri kita sendiri.
Penyebab krisis yang pasti dari manusia itu sendiri bisa dua bentuknya: Pertama, penyebab yang rasional, misalkan kezhaliman para penguasa sehingga menyebabkan rakyat sengsara. Kedua, penyebab suprarasional yang berada di luar jangkauan akal manusia, yakni dosa-dosa manusia yang dengan adanya krisis kehidupan akan menjadi siksa atau penghapus dosa.
Mencegah Dan Membentengi Krisis Moral

Adapun sarana-sarana yang dapat mendukung para pemuda dalam menjaga kesucian dan kehormatannya adalah:

  1. Menundukkan pandangan

Allah berfirman, "Katakanlah kepada kaum lelaki yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.' Katakanlah kepada para wanita mukminat, 'Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya'," (An-Nuur: 30-31).

  1. Rutin berpuasa sunnah

Rasulullah saw. bersabda, "Wahai para pemuda! Siapa diantara kalian yang telah mampu menikah, maka hendaklah ia menikah, yang demikian itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu jadi peredamnya syahwat."

Dibalik puasa tersebut terdapat hikmah yang sangat agung, diantaranya adalah:

    1. Meningkatkan muraqabah (merasa diawasi) seseorang kepada Allah baik saat sepi maupun ramai.
    2. Meringankan pemuda dari gejolak syahwat dan nafsu birahi.
  1. Menjauhkan diri dari hal-hal yang membangkitkan gejolak syahwat

Rasulullah saw. bersabda, "...barangsiapa terjerumus dalam syubhat, akan terjerumus ke dalam haram. Ingatlah bagi setiap gembala itu ada larangan, dan sesungguhnya larangan Allah itu adalah hal-hal yang diharamkan," (HR Bukhari).

  1. Mengisi waktu-waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat

Rasulullah saw. bersabda, "...rakuslah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah," (HR Bukhari).

Terapi untuk melepaskan diri dari semua ini, hendaknya tahu bagaimana harus melewatkan waktu-waktu senggangnya, baik dengan berolahraga, atau pun berefektifitas lain yang bermanfaat.

  1. Berteman dengan orang shaleh

Rasulullah saw. bersabda, "Jangan kamu berteman kecuali dengan orang beriman dan jangan makan makananmu kecuali orang bertakwa," (HR At-Tirmidzi).

"Seseorang itu mengikuti agama teman karibnya, maka hendaknya seseorang diantara kalian melihat dengan siapa dia berteman karib," (HR Tirmidzi).

  1. Mengambil ajaran ilmu kesehatan

Rasulullah saw. bersabda, "Hikmah itu adalah milik orang beriman yang hilang, maka dimana pun ia mendapatkannya, ia lebih berhak atasnya," (HR Tirmidzi dan Al- Askari).

Diantara kiat-kiat yang diberikan oleh para ahli kedoteran dan kesehatan untuk mengurangi gejolak syahwat dan dorongan nafsu yang mengeram dalam diri adalah :

    1. Banyak berendam di air dingin pada musim panas
    2. Banyak berolah raga dan senam badan
    3. Menghindari makanan dan masakan yang mengandung rempah-rempah dan bumbu-bumbu karena kedua bahan itu dapat membangkitkan syahwat
    4. Mengurangi sedapat mungkin minuman yang merangsang syaraf seperti kopi dan teh
    5. Jangan banyak makan daging dan telur
    6. Jangan tidur terlentang atau tengkurap tapi mengikuti sunnah, yakni miring di atas lambung kanan dan wajah menghadap kiblat
  1. Memperdalam muraqabah kepada Allah, baik di waktu sepi maupun ramai

Rasulullah saw. bersabda, "...ihsan ialah engkau menyembah Allah seolah-seolah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu," (HR Bukhari dan Muslim).

Peranan Kaum Muslimin dalam Menghadapi Krisis Moral

  1. Bergabung sepenuh hati ke dalam barisan jama'ah yang komitmen terhadap Islam
  2. Ikut terjun di medan dakwah dengan semangat yang tinggi dan tekad yang membara
  3. Menopang materi dakwah yang diserukan dengan hujah-hujah yang terbantahkan, dengan bukti-bukti yang pasti dan dengan logika yang rasional, memuaskan dan akurat
  4. Memperlihatkan akhlaq luhur dan sikap santun dalam berdakwah

JAKARTA  27/3/2013


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar