Oleh: Pengamat Dakwah
Pendahuluan
Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukan tujuan akhir, melainkan ladang untuk menanam amal yang akan dipanen di akhirat. Harta, pekerjaan, waktu, ilmu, dan kedudukan merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dimanfaatkan sebagai modal menuju kebahagiaan abadi. Karena itu, seorang Muslim diperintahkan mencari rezeki yang halal, gemar berwakaf dan bersedekah, serta menghiasi diri dengan akhlak mulia.
Allah SWT berfirman:
«وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash [28]: 77).»
Ayat ini menjadi pedoman bahwa dunia harus dijadikan sarana untuk memperoleh ridha Allah, bukan tujuan utama (Shihab, 2002).
Kerja Halal sebagai Ibadah
Islam memerintahkan setiap Muslim bekerja dengan cara yang halal dan menjauhi segala bentuk penghasilan haram.
Allah SWT berfirman:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
"Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik." (QS. Al-Baqarah [2]: 168).»
Rasulullah SAW bersabda:
«مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
"Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri." (HR. al-Bukhari).»
Menurut Syaikh Nawawi al-Bantani, mencari nafkah halal merupakan bagian dari ibadah apabila diniatkan untuk memenuhi kewajiban kepada Allah, keluarga, dan kemaslahatan umat (Nawawi al-Bantani, Marah Labid).
Kerja yang halal mendatangkan keberkahan, sedangkan harta haram menghalangi doa dan merusak kehidupan spiritual.
Wakaf sebagai Amal Jariyah
Salah satu modal terbesar menuju akhirat adalah wakaf. Wakaf menjadikan harta terus memberikan manfaat meskipun pemiliknya telah wafat.
Rasulullah SAW bersabda:
«إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim).»
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa wakaf termasuk bentuk sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan masyarakat (Az-Zuhaili, 1991).
Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa menginfakkan harta di jalan Allah merupakan bukti keimanan dan kecintaan kepada Allah melebihi kecintaan terhadap dunia (Nawawi al-Bantani, Marah Labid).
Akhlak Mulia sebagai Bekal Akhirat
Selain ibadah dan harta, akhlak merupakan modal penting menuju surga.
Allah SWT berfirman:
«وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung." (QS. Al-Qalam [68]: 4).»
Rasulullah SAW bersabda:
«إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
"Orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. at-Tirmidzi).»
Akhlak mulia meliputi kejujuran, amanah, rendah hati, kasih sayang, sabar, dermawan, serta menjaga lisan dan perbuatan. Akhlak inilah yang menjadi cermin kesempurnaan iman seorang Muslim.
Pandangan Syaikh Nawawi al-Bantani
Dalam tafsir Marah Labid, Syaikh Nawawi al-Bantani menegaskan bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat merupakan negeri yang kekal. Oleh sebab itu, manusia diperintahkan memanfaatkan nikmat dunia untuk memperbanyak amal saleh, bukan tenggelam dalam kemewahan dan kelalaian (Nawawi al-Bantani, t.t.).
Beliau juga menjelaskan bahwa harta yang paling bernilai bukan yang disimpan, tetapi yang dibelanjakan di jalan Allah, membantu fakir miskin, membangun masjid, pesantren, sekolah, rumah sakit, dan berbagai kemaslahatan umat.
Hikmah dan Ibrah
Beberapa pelajaran yang dapat diambil ialah:
1. Dunia merupakan sarana, bukan tujuan akhir kehidupan.
2. Rezeki halal membawa keberkahan dunia dan akhirat.
3. Wakaf menjadi investasi pahala yang terus mengalir.
4. Akhlak mulia merupakan tanda kesempurnaan iman.
5. Harta terbaik adalah harta yang memberi manfaat bagi sesama.
6. Seorang Muslim hendaknya menyeimbangkan ikhtiar dunia dengan persiapan akhirat.
Penutup
Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dunia tidak ditinggalkan, tetapi dimanfaatkan sebagai modal untuk memperoleh ridha Allah SWT. Dengan bekerja secara halal, gemar berwakaf, memperbanyak sedekah, dan menjaga akhlak mulia, seorang Muslim akan memperoleh keberkahan hidup di dunia sekaligus kebahagiaan yang kekal di akhirat. Inilah jalan hidup yang dicontohkan Rasulullah SAW dan dijelaskan oleh para ulama, termasuk Syaikh Nawawi al-Bantani.
Daftar Pustaka
Al-Bukhari. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
Muslim. Ṣaḥīḥ Muslim.
Al-Qur'an al-Karim.
Al-Bantani, Nawawi. Marah Labid li Kasyfi Ma'na al-Qur'an al-Majid.
Az-Zuhaili, Wahbah. 1991. Tafsir al-Munir.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar