Senin, 06 Juli 2026

BOLA DAN TAKDIR


Menang dan Kalah dalam Permainan Bola, Pemilihan Umum, dan Berbagai Kompetisi adalah Takdir Allah, namun Manusia Bertanggung Jawab atas Ikhtiarnya

Oleh: Pengamat Dakwah


Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari kompetisi. Di lapangan sepak bola ada tim yang mengangkat piala dan ada yang harus menerima kekalahan. Dalam pemilihan umum ada pihak yang memperoleh amanah memimpin, sementara pihak lain harus menerima hasil dengan lapangan dada.

Demikian pula dalam dunia pendidikan, perdagangan, pekerjaan, bahkan kehidupan sehari-hari. Semua itu merupakan bagian dari sunnatullah yang berlaku sepanjang zaman.

Islam mengajarkan keseimbangan antara iman dengan takdir, kewajiban dan berikhtiar. Seorang muslim tidak diperbolehkan berpandangan bahwa kemenangan hanya hasil kecerdasan manusia, sebagaimana tidak diperbolehkan pula menyerahkan semuanya kepada takdir tanpa usaha.

Al-Qur'an mengajarkan bahwa Allah SWT adalah Pemilik seluruh kekuasaan, sedangkan manusia diperintahkan berusaha dengan cara yang benar dan kelak dimintai pertanggungjawaban atas seluruh amalnya (Az-Zuhaili 2009).

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: Wahai Allah, Pemilik segala kerajaan. Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki.” (QS. Ali 'Imran [3]: 26).

Menurut Ath-Tabari, ayat tersebut menegaskan bahwa jabatan, kemenangan, dan kekuasaan sepenuhnya berada dalam genggaman Allah SWT. Tidak ada seorang pun mampu memperoleh kedudukan tanpa izin-Nya, sekaligus tidak ada kekuasaan yang kekal selama-lamanya (Ath-Tabari 2001).

Al-Qur'an juga:

"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia." (QS. Ali 'Imran [3]: 140).

Ayat ini turun setelah Perang Uhud, ketika kaum muslim mengalami kekalahan setelah sebelumnya memperoleh kemenangan besar pada Perang Badar. Al-Wahidi menjelaskan bahwa kekalahan tersebut menjadi pelajaran agar kaum beriman tidak lengah, tetap disiplin, dan menaati perintah Rasulullah SAW (Al-Wahidi 1991).

Keimanan kepada takdir semakin ditegaskan dalam firman Allah:

"Tiada suatu musik pun yang menimpa bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya." (QS. Al-Hadid [57]: 22).

Namun Al-Qur'an tidak berhenti pada konsep takdir semata. Allah juga menegaskan:

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39).

Dua ayat tersebut Fondasi menjadi ajaran Islam bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah, sedangkan usaha merupakan kewajiban manusia. Karena itulah seorang muslim diperintahkan bekerja keras, berdoa, bertawakal, lalu menerima hasil dengan penuh keridaan.


Para ulama tafsir menjelaskan keseimbangan tersebut dengan sangat indah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kekalahan kaum muslim pada Perang Uhud bukan karena Allah meninggalkan hamba-Nya, tetapi karena sebagian pasukan tidak menaati perintah Rasulullah SAW. Hal itu menunjukkan bahwa Allah menetapkan hukum sebab-akibat dalam kehidupan.

Pelanggaran terhadap aturan akan membawa konsekuensi, meskipun dilakukan oleh orang-orang beriman (Ibn Katsir 1999).

Al-Qurthubi menambahkan bahwa seorang mukmin tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan ketika kalah, sebagaimana tidak boleh berbangga secara berlebihan ketika menang. Semua kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari pendidikan Allah agar manusia tetap rendah hati (Al-Qurthubi 2006).

Sementara itu Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa ilmu Allah terhadap seluruh peristiwa tidak menghilangkan kebebasan manusia dalam memilih. Karena manusia tetap memiliki kehendak dan pilihan, maka ia layak memperoleh pahala ataupun hukuman sesuai amalnya (Ar-Razi 2000).


Penjelasan para mufasir tersebut diperkaya oleh ulama kontemporer. 

M. Quraish Shihab mengingatkan bahwa kemenangan bukan sekedar prestasi, melainkan amanah. Siapapun yang memperoleh jabatan melalui pemilihan umum wajib menggunakan kekuasaan untuk menegakkan keadilan, bukan memperkaya diri sendiri atau kelompoknya. Bila amanah itu disalahgunakan, kemenangan justru berubah menjadi beban pertanggungjawaban di hadapan Allah (Shihab 2002).

Hal senada disampaikan Wahbah az-Zuhaili. Menurutnya, iman kepada qadha dan qadar tidak boleh melahirkan sikap pasif. Islam mengajarkan ikhtiar maksimal, kemudian bertawakal kepada Allah setelah seluruh usaha dilakukan (Az-Zuhaili 2009).

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka memberikan renungan menarik bahwa kemenangan sering kali menjadi ujian yang lebih berat daripada kekalahan. Banyak orang yang mampu bersabar ketika kalah, tetapi berubah menjadi sombong ketika menang. Karena itu kemenangan harus disertai rasa syukur, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa semua berasal dari Allah (Hamka 1982).

Hasbi Ash-Shiddieqy juga menegaskan bahwa pergiliran kemenangan merupakan bentuk keadilan Allah agar manusia tidak merasa paling kuat dan tidak meremehkan orang lain (Hasbi Ash-Shiddieqy 2000).

Prinsip-prinsip tersebut sangat relevan dalam berbagai kompetisi masa kini. Dalam pertandingan sepak bola, misalnya, menang ataupun kalah merupakan ketetapan Allah. Akan tetapi, jika kemenangan diraih melalui pengaturan skor, penyuapan wasit, penggunaan doping, atau bentuk kondisi lainnya, maka seluruh pelakunya tetap memikul dosa.

Sebaliknya, tim yang kalah setelah bermain secara sportif tetap memperoleh nilai kejayaan karena menjunjung kejujuran.

Hal yang sama berlaku dalam pemilihan umum. Terpilih atau tidaknya seseorang berada dalam kehendak Allah SWT. Namun politik uang, penyebaran fitnah, manipulasi suara, intimidasi, perlindungan kekuasaan, dan berbagai bentuk keadaan tetap merupakan perbuatan yang diharamkan. Jabatan yang diperoleh melalui cara-cara tersebut tidak menghapus tanggung jawab moral dan agama pelakunya.

Allah SWT berfirman:

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." (QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga niat, proses, dan cara yang dicapai manusia. Oleh karena itu, kemenangan yang diperoleh melalui jalan haram tidak akan membawa keberkahan, sedangkan kekalahan yang dicapai melalui kebenaran dapat menjadi sebab datangnya pahala dan kemuliaan di sisi Allah.

Dalam perspektif syariat, setiap kemenangan harus diraih melalui cara yang halal. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menipu maka ia bukan termasuk golongan kami” (HR. Muslim).

Hadis ini menjadi prinsip universal bahwa tujuan yang baik tidak pernah membenarkan cara yang batil.


Dalam perspektif tarekat, kemenangan dan kekalahan merupakan ujian hati. Seorang salik dididik agar tidak menggantungkan kebahagiaan pada pujian manusia. Ia bersyukur ketika memperoleh kemenangan dan tetap sabar ketika menerima kekalahan.

Pada tingkat hakikat, seorang hamba menyadari bahwa seluruh peristiwa terjadi dalam ilmu dan kehendak Allah SWT. Kesadaran tersebut melahirkan tawakal, ketenangan, dan kerendahan hati sehingga ia tidak mudah menyalahkan orang lain ataupun mengecewakan dirinya sendiri.

Sedangkan pada maqam makrifat, kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan lawan, melainkan mengalahkan hawa nafsu. Sebaliknya, kekalahan terbesar adalah ketika seseorang memenangkan dunia, tetapi kehilangan kejujuran, amanah, dan keridaan Allah SWT.

Dari keseluruhan uraian tersebut, terdapat sejumlah pelajaran penting. 

Pertama, kemenangan adalah kenikmatan yang wajib disyukuri, bukan disombongkan.

Kedua, kekalahan dapat menjadi sarana evaluasi dan perbaikan diri. 

Ketiga, iman kepada takdir harus berjalan beriringan dengan ikhtiar yang maksimal.

Keempat, kejujuran jauh lebih bernilai daripada kemenangan yang dibangun di atas dan kezaliman. 

Kelima, setiap jabatan dan kekuasaan merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Pada akhirnya, seorang muslim dituntut memiliki kedewasaan iman. Ia tidak larut dalam euforia ketika menang dan tidak tenggelam dalam keputusasaan ketika kalah. Ia yakin bahwa seluruh hasil berada dalam ketentuan Allah, sementara disebutkan adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh, menjaga kejujuran, menjunjung akhlak mulia, dan bertawakal kepada-Nya. 

Itulah kemenangan sejati yang bukan hanya diukur oleh tepuk tangan manusia, tetapi oleh keridaan Allah SWT.

Manfaat. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman