Jumat, 03 Juli 2026

BUTA MATA DI AKHIRAT


Buta Hati di Dunia dan Buta Mata di Akhirat

Mengapa terjadi?

Karena Melalaikan Zikrullah dan Tidak Bertaubat. Apa Solusinya?

Oleh: Pengamat Keislaman


Pendahuluan

Allah menciptakan mata untuk melihat alam semesta dan hati untuk melihat kebenaran. Mata dapat melihat benda, sedangkan hati melihat petunjuk Allah.

Ketika hati mati, seseorang tetap mampu melihat dunia, namun tidak mampu melihat kebenaran. Sebaliknya, ketika hati hidup, seseorang dapat menemukan hidayah meskipun berada dalam gelapnya kehidupan.

Allah berfirman:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Sebenarnya yang buta bukanlah mata itu, tetapi yang buta adalah hati yang berada di dalam dada.” (QS. Al-Hajj [22]: 46)

Ayat ini menjadi landasan utama bahwa penyakit terbesar manusia adalah kebutaan hati.


Pengertian Buta Hati

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa yang dimaksud hati yang buta adalah hati yang tidak mampu memahami hujjah Allah meskipun telah melihat berbagai tanda kebesaran-Nya.

(Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 18 (Beirut: Muassasah ar-Risalah), hlm. 673.

Imam Ibnu Katsir menyatakan:

“Mata mereka sehat, tetapi hati mereka tertutup sehingga tidak dapat mengambil pelajaran.”

( Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 5, hlm. 434)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kebutaan hati merupakan akibat dosa yang terus-menerus dilakukan tanpa taubat.

(Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Juz 12, hlm. 81)


Mengapa Hati Menjadi Buta?

1. Karena Melalaikan Zikrullah

Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

"Barang siapa yang diperbaiki dari peringatan-Ku maka kehidupannya yang sempit dan Kami bangkitkan dia pada hari berakhir dalam keadaan buta." (QS. Thaha [20]: 124)

Menurut Ath-Thabari, “dzikri” mencakup Al-Qur’an, iman, dan seluruh petunjuk Allah.

(Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 16, hlm. 214)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kesempitan hidup bukan hanya kemiskinan, tetapi hati yang gelisah walaupun bergelimang harta.

(Ibnu Katsir, Juz 5, hlm. 294)

2. Tidak Mau Bertaubat

Allah berfirman:

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا

“Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap bertaubat.” (QS. At-Taubah [9]: 118)

Orang yang tidak mau bertaubat akan semakin keras hatinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ...

“Sesungguhnya apabila seorang hamba berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di hatinya…”

(HR. Tirmidzi no. 3334; Ibnu Majah no. 4244; dinilai hasan sahih).

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa dosa yang diulang tanpa taubat akan membentuk hijab antara hati dan Allah.

(Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, Juz 3, Kitab Syarh 'Aja'ib al-Qalb, hlm. 17)

3. Mengikuti Hawa Nafsu

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 23)

Menurut Fakhruddin Ar-Razi, hawa nafsu adalah hijab terbesar yang menghalangi cahaya hidayah.

(Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Juz 28, hlm.97)


Mengapa Dibangkitkan Dalam Keadaan Buta?

Allah berfirman:

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا

"Ya Tuhanku, mengapa Engkau membangkitkan aku dalam keadaan tapi padahal dahulu aku dapat melihat?" (QS. Thaha [20]: 125)

Allah menjawab:

كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

"Demikianlah. Dahulu telah datang ayat-ayat Kami kepadamu, tetapi kamu melupakannya, maka pada hari ini kamu pun dilupakan." (QS. Thaha [20]: 126)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kebutaan di akhirat merupakan balasan yang setimpal karena ketika di dunia mereka menutup mata hati dari petunjuk Allah.

! Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 5, hlm. 296)


Tafsir Ulama Sufi

1. Imam Al-Ghazali (wafat 505 H)

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati (qalb) ibarat cermin. Dosa dan maksiat adalah karat yang menutupi cermin tersebut. Semakin banyak dosa tanpa taubat, semakin gelap hati hingga tidak lagi mampu menerima cahaya hidayah.

Firman Allah:

كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin [83]: 14)

Menurut Al-Ghazali, “raan” adalah lapisan dosa yang menghalangi hati mengenal Allah. Penyembuhannya ialah taubat yang tulus, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur'an, dan mujahadah melawan hawa nafsu.

(Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Juz III, Kitab Syarh 'Aja'ib al-Qalb (Beirut: Dar al-Ma'rifah), hlm. 18–24.

2. Imam Al-Qusyairi

Dalam Latha'if al-Isyarat, Al-Qusyairi menjelaskan bahwa orang yang melalaikan zikir akan kehilangan cahaya (nur) di dalam hati. Ketika cahaya padam, hati tidak lagi mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

(Abdul Karim al-Qusyairi, Latha'if al-Isyarat, Juz III, hlm. 282)

3. Ibnu 'Athaillah as-Sakandari

Beliau bersabda dalam Al-Hikam:

Bagaimana cara menggunakan kartu kredit?

"Bagaimana hati akan bersinar jika gambar-gambar dunia masih memenuhi cerminnya?"

Menurut beliau, kecintaannya yang berlebihan terhadap dunia menyebabkan utama hati menjadi buta.

( Ibnu 'Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam al-'Atha'iyyah, Hikmah ke-14)


Tafsir Kontemporer

1. Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Dalam Tafsir Al-Misbah, kebutaan yang dimaksud Al-Qur'an adalah hilangnya kemampuan menangkap petunjuk Ilahi. Mata fisik berfungsi, tetapi hati tidak lagi mengenali kebenaran.

Beliau menjelaskan bahwa QS. Thaha: 124-126 menunjukkan hubungan langsung antara menyesali Allah dan malapetaka hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

!M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jilid VIII (Jakarta: Lentera Hati), hlm. 384–389.

2. Wahbah az-Zuhaili

Dalam Tafsir al-Munir, orang yang diubah dari Al-Qur'an kehilangan ketenangan hidup. Kekayaan, jabatan, dan popularitas tidak mampu menggantikan ketenteraman hati yang lahir dari zikir kepada Allah.

(Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, Juz XVI, hlm. 256.

3. Sayyid Quthb

Dalam Fi Zhilal al-Qur'an, beliau menyatakan bahwa hati yang tidak hidup bersama Al-Qur'an pada hakikatnya telah mati sebelum kematian jasad.

(Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, Juz IV, hlm. 2345.


Tafsir Nusantara

1. Buya Hamka

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan bahwa banyak manusia mempunyai mata yang sehat, tetapi tidak mampu melihat tanda-tanda kebesaran Allah karena sibuk mengejar dunia.

Menurut beliau, penyakit hati modern adalah materialisme, kesombongan, dan lupa kepada Allah.

(Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz XVII (Jakarta: Pustaka Panjimas), hlm. 142–147.

2. Hasbi Ash-Shiddieqy

Menurut Hasbi, hati yang tidak dibimbing wahyu akan menguasai hawa nafsu sehingga kehilangan kemampuan menilai benar dan salah.

(TM Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir An-Nur, Jilid IV, hlm. 301.


Mengapa Melalaikan Zikrullah

Menyebabkan Kebutaan Hati?

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd [13]: 28)

Sebaliknya, ketika zikir ditinggalkan, hati kehilangan ketenangan, dipenuhi kegelisahan, mudah dikuasai syahwat, iri, dengki, dan akhirnya menolak kebenaran.

Solusi Menyembuhkan Buta Hati

Taubat nasuha sebelum terlambat (QS. At-Tahrim : 8).

- Memperbanyak zikir pagi, petang, dan setelah salat.

- Membaca dan mentadabburi Al-Qur'an setiap hari (QS. Muhammad : 24).

- Muhasabah (introspeksi) secara rutin sebagaimana anjuran Umar bin Khattab:

"Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab."

- Bergaul dengan orang-orang saleh dan menghadiri majelis ilmu.

- Memperbanyak istighfar, sebagaimana Rasulullah ﷺ beristighfar lebih dari tujuh puluh kali sehari (HR. al-Bukhari).

- Berdoa memohon keteguhan hati, sebagaimana doa Nabi ﷺ:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR.at-Tirmidzi).


Kesimpulan

Buta hati adalah penyakit ruhani yang lebih berbahaya daripada buta mata. Penyebab utamanya ialah beralih dari zikir kepada Allah, menumpuk dosa tanpa taubat, mengikuti hawa nafsu, dan mengabaikan petunjuk Al-Qur'an. Oleh karena itu, Allah membalas sebagian manusia dengan keadaan buta pada hari itu sebagai balasan yang sepadan dengan sikap mereka ketika di dunia (QS. Thaha: 124–126).

Para mufasir klasik, ulama sufi, mufasir kontemporer, dan ulama Nusantara sepakat bahwa hati dapat dihidupkan kembali melalui taubat, zikir, tilawah dan tadabbur Al-Qur'an, muhasabah, serta istiqamah dalam amal saleh. Hati yang hidup akan mudah menerima hidayah, sedangkan hati yang mati akan cahaya hingga akhirnya merugi di dunia dan akhirat.

Wallah a'lam bish-shawab

Manfaat. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman