Selasa, 01 November 2016

JAGA LISAN


156.Renungan Pagi !!!
*AWAS BAHAYA LIDAH !*

ﻣَﺎ ﻳَﻠْﻔِﻆُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻟَﺪَﻳْﻪِ ﺭَﻗِﻴﺐٌ ﻋَﺘِﻴﺪٌ
“Tiada suatu ucapan yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18).
ﻣِﻦْ ﺣُﺴْﻦِ ﺇِﺳْﻼَﻡِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺗَﺮْﻛُﻪُ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﻌْﻨِﻴْﻪِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia
meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.”(alhadits)
*Menjaga Lisan*
Allah Ta’ala berfirman:
ﻭَﻻ ﺗَﻘْﻒُ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ
ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺌُﻮﻻ
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)
Qotadah menjelaskan ayat di atas, “Janganlah kamu
katakan ‘Aku melihat’ padahal kamu tidak melihat, jangan pula katakan ‘Aku mendengar’ sedang kamu
tidak mendengar, dan jangan katakan ‘Aku tahu’
sedang kamu tidak mengetahui, karena sesungguhnya
Allah akan meminta pertanggung-jawaban atas semua hal tersebut.”
Ibnu katsir menjelaskan makna ayat di atas adalah
sebagai larangan untuk berkata-kata tanpa ilmu.
( Tafsir Ibnu Katsir )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:
ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍْﻵﺧِﺮِ ﻓَﻠﻴَﻘُﻞْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﻟِﻴَﺼْﻤُﺖْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah .” (Muttafaqun ‘alaihi)
*Buah menjaga lisan*
Buah menjaga lisan adalah surga. Sebagaimana
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻣﻦ ﻳﻀﻤﻦ ﻟﻲ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﻟﺤﻴﻴﻪ ﻭﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺭﺟﻠﻴﻪ ﺃﺿﻤﻦ ﻟﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ
“Barangsiapa yang mampu menjamin untukku apa
yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa
yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari)
*BENCANA LIDAH*
Secara umum, bencana yang ditimbulkan oleh
lidah ada dua. Yaitu berbicara batil (kerusakan,
sia-sia), dan diam dari al-haq yang wajib
diucapkan.
Abu ‘Ali ad-Daqqâq rahimahullah (wafat 412 H)
berkata:
ﺍﻟْﻤُﺘَﻜَﻠِّﻢُ ﺑِﺎﻟْﺒَﺎﻃِﻞِ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﻧَﺎﻃِﻖٌ ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﻛِﺖُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ
ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﺃَﺧْﺮَﺱُ
“Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah
setan yang berbicara, sedangkan orang yang
diam dari kebenaran adalah setan yang bisu.
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪَ ﻟَﻴَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﺎﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﻣِﻦْ ﺭِﺿْﻮَﺍﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﺎ ﻳُﻠْﻘِﻲ ﻟَﻬَﺎ ﺑَﺎﻟًﺎ
ﻳَﺮْﻓَﻌُﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻬَﺎ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪَ ﻟَﻴَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﺎﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﻣِﻦْ
ﺳَﺨَﻂِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﺎ ﻳُﻠْﻘِﻲ ﻟَﻬَﺎ ﺑَﺎﻟًﺎ ﻳَﻬْﻮِﻱ ﺑِﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ
“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk
keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya
penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah
menaikkannya beberapa derajat. Dan
sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk
kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya
penting; dengan sebab satu kalimat itu dia
terjungkal di dalam neraka Jahannam”.
[HR al- Bukhâri, no. 6478].
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah
menjelaskan makna “dia tidak menganggapnya
penting”, yaitu dia tidak memperhatikan dengan
fikirannya dan tidak memikirkan akibat
perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat
itu akan mempengaruhi sesuatu.
[Lihat Fat-hul- Bâri, penjelasan hadits no. 6478]
*Semoga bermanfaat... Aamiin.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman