Jumat, 11 Januari 2013

TAWAKAL

MAQAM TAWAKAL

Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.(Ali Imran:122)


Makna Tawakal

Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memilikiarti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. (Munawir, 1984 :1687). Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan,mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT.

Secara harfiah, tawakal berarti pengakuan ketak-mampuan seseorang dan penyandaran pada seseorang lain dirinya. Dalam kajian tasawuf, tawakal memiliki beberapa derajat sesuai degan maqam hamba Allah Swt. Kwaja 'Abdullah Al-Anshari dalam Manazil al-Sairin mendefinisikan tawakal sebagai mempercaykan atau menyerahkan seluruhnya kepada sang penguasa dan bersandar kepada kemampuannya dalam masalah-masalah itu.Beberapa cendekiawan berkata, "Tawakal berarti menundukkan badan (sperti dalam sujud) dalam ibadah dan mengikatkan hati kepada rububiyyah-Nya (Allah sebagai Rabb, Penguasa). Ini artinya hanya menggunakan kekuatan tubuh sesorang untuk mengabdi kepada Allah tanpa tercampur dengan urusan hati.

Tawakkal adalah salah satu amal batin yang menghubungkan hamba dengan cinta Allah serta mengantarkannya sampai kepada puncak keikhlasan. Dan maqam ini merupakan maqam yang menjadi kewajiban kalangan awam dan khas secara umum. Tidak sebagaimana yang dipandang oleh sebagian sufi bahwa maqam tawakkal ini terlalu tinggi sehingga terlalu sulit untuk memahami dan mengamalkannya.
Dalam menegaskan konsepnya bahwa maqamat itu merupakan kewajiban semua kalangan tanpa ada perbedaan antara awam dan khas, Ibnu Taimiyah menyatakan ,
"Dan barangsiapa yang mengatakan bahwa 'maqamat' ini hanya untuk kalangan awam dan bukan untuk kalangan khas, maka ia telah keliru jika yang ia maksud bahwa kalangan khas telah keluar( dari kewajiban itu). Sebab tidak ada seorang mukmin pun yang keluar (dari kewajiban menjalani 'maqama' itu –pen). Yang keluar (dari kewajiban 'maqama' itu) hanyalah orang kafir atau munafik."

Tawakal Dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an sangat menaruh perhatian terhadap permasalahan tawakal ini.Sehingga kita jumpai cukup banyak ayat-ayat yang secara langsungmenggunakan kata yang berasal dari kata tawakal. Berdasarkan pencarianyang dilakukan dari CD ROM Al-Qur’an, kita mendapatkan bahwa setidaknyaterdapat 70 kali, kata tawakal disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an. Jikadisimpulkan ayat-ayat tersebut mencakup tema berikut:

1. Tawakal merupakan perintah Allah SWT.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 8 : 61)

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Lihat juga QS.11:123, 25:58, 26:217, 27:79, 33:3, 33:48,

2. Larangan bertawakal selain kepada Allah (menjadikan selain Allah sebagai penolong)

Allah berfirman (QS. 17:2)

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلاَّ تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي ‎وَكِيلاً

Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitabTaurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamumengambil penolong selain Aku,

 3. Orang yang beriman; hanya kepada Allah lah ia bertawakal.

Allah berfirman (QS. 3 : 122) :

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Dan hanya kepada Allahlah, hendaknya orang-orang mu’min bertawakal.

Lihat juga QS.3:160, 5:11, 5:23, 7:89, 8:2, 9:51, 58:10, 64:13.

4. Tawakal harus senantiasa mengiringi suatu azam (baca; keingingan/ ambisi positif yang kuat)

Allah berfirman (QS. 3 : 159)

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallahkepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkalkepada-Nya.

5. Allah sebaik-baik tempat untuk menggantungkan tawakal (pelindung)

Allah berfirman (QS. 3: 173)

وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."

Lihat juga QS.4:81, 4:109, 4:132, 4:171.

6. Akan mendapatkan perlindungan, pertolongan dan anugrah dari Allah.

Allah berfirman (QS. 8 : 49):

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".

Lihat juga QS.17:65.

7. Mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat (surga)

Allah berfirman (QS. 16: 41-42):

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوالَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُلَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ*


الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya,pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia.Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau merekamengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan sajamereka bertawakkal.

Lihat juga QS.29:58-59.

8. Allah akan mencukupkan orang yang bertawakal kepada-Nya.

Allah berfirman (QS. 65:3):

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَىاللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَاللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Danbarangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akanmencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan(yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuanbagi tiap-tiap sesuatu.

Tawakal Dalam Hadits

Selain dalam Al-Qur’an, dalam haditspun, tawakal memiliki porsi yangsangat banyak. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan11 hadits. Sedangkan pelacakan melalui CD ROM, kita mendapatkanterdapat sekitar 900 an hadits yang terdapat kata yang berasal darikata tawakal. (Dari 9 kitab hadits induk, yaitu Shahih Bukhari, Muslim,Sunan Abu Daud, Timidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Addarimi, Muwatha’ Malikdan Musnad Imam Ahmad bin Hambal.) Sebelas hadits yang dicantumkan ImamNawawi dalam Riyadus Shalihin, telah mencakup sebagaian besarhadits-hadits tentang tawakal. Dari hadits-hadits tentang tawakal ini,kita dapat menyimpulkan beberpa poin :

1. Orang yang bertawakal hanya kepada Allah, akan masuk ke dalam surga tanpa hisab.

Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَقَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُالرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُأَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَاسَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الأُفُقِ الآخَرِ فَإِذَاسَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَأَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ ثُمَّنَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ فَقَالَبَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّىاللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَوُلِدُوا فِي الإِسْلاَمِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُواأَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَهُمْ الَّذِينَ لاَ يَرْقُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَوَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍفَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِيمِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ (رواه مسلم)

Dari Abdullah bin Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda: Telah ditunjukkankepadaku keadaan umat yang dahulu, hingga saya melihat seorang nabidengan rombongan yang kecil, dan ada nabi yang mempunyai penigkut satudua orang, bahkan ada nabi yang tiada pengikutnya. Mendadak telihatpadaku rombongan yang besar (yang banyak sekali), saya kira itu adalahumatku, namun diberitahukan kepadaku bahwa itu adalah nabi Musa asbeserta kaumnya. Kemudian dikatakan kepadaku, lihatlah ke ufuk kanandan kirimu, tiba-tiba di sana saya melihat rombongan yang besar sekali.Lalu dikatakan kepadaku, Itulah umatmu, dan di samping mereka ada tujuhpuluh ribu yang masuk surga tanpa perhingungan (hisab). Setelah itunabi bangun dan masuk ke rumahnya, sehingga orang-orang banyak yangmembicarakan mengenai orang-orang yang masuk surga tanpa hisab itu. Adayang berpendapat; mungkin mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah SAW.Ada pula yang berpendapat, mungkin mereka yang lahir dalam Islam dantidak pernah mempersekutukan Allah, dan ada juga pendapt-pendapat lainyang mereka sebut. Kemudian Rasulullah SAW keluar menemui mereka danbertanya, ‘apakah yang sedang kalian bicarakan?’. Merekamemberiktahukan segala pembicaraan mereka. Beliau bersabda, ‘ Merekatidak pernah menjampi atau dijampikan dan tidak suka menebak nasibdengan perantaraan burung, dan hanya kepada Rab nya lah, merekabertawakal.” Lalu bangunlah Ukasyah bin Mihshan dan berkata, ‘YaRasulullah SAW doakanlah aku supaya masuk dalam golongan mereka.’Rasulullah SAW menjawab, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudianberdiri pula orang lain, dan berkata, ‘doakan saja juga supaya Allahmenjadikan saya salah satu dari mereka.’ Rasulullah SAW menjawab,‘Engkau telah didahului oleh Ukasyah.” (HR. Bukhari & Muslim).

2. Tawakal merupakan sunnah Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW sendiri senantiasa menggantungkan tawakalnya kepadaAllah SWT. Salah satu contohnya adalah bahwa beliau selalu mengucapkandoa-doa mengenai ketawakalan dirinya kepada Allah SWT:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُوَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّإِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِيأَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ(رواه مسلم)

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah SAW senantiasa berdoa, ‘Ya Allahhanya kepada-Mulah aku menyerahkan diri, hanya kepada-Mulah akuberiman, hanya kepada-Mulah aku bertawakal, hanya kepada-Mulah akubertaubat, hanya karena-Mulah aku (melawan musuh-musuh-Mu). Ya Allahaku berlindung dengan kemulyaan-Mu di mana tiada tuhan selain Engkaujanganlah Engkau menyesatkanku. Engkau Maha Hidup dan tidak pernahmati, sendangkan jin dan manusia mati. (HR. Muslim)

3. Allah merupakan sebaik-baik tempat untuk bertawakal.

Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَهَاإِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَامُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا إِنَّالنَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًاوَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Abbas ra, “Hasbunallah wani’mal Wakil’ kalimat yang dibacaoleh Nabi Ibrahim as ketika dilempar ke dalam ap, dan juga telah dibacaoleh Nabi Muhammad SAW ketika diprovokasi oleh orang kafir, supayatakut kepada mereka ; ‘sesungguhnya manusia telah mengumpulkan segalakekuatannya untuk menghancurkan kalian, maka takutlah kamu danjanganlah melawan, tapi orang-orang beriman bertambah imannya danmembaca, Hasbunallah wa ni’mal Wakil (cukuplah Allah yang mencukupikami dan cukuplah Allah sebagai tempat kami bertawakal.” (HR. Bukhari)

4. Tawakal akan mendatangkan nasrullah.

Sebagaimana yang terdapat dalam hadits no 5, dalam kitab RiyadhusShalihin. Dimana dikisahkan pada saat perang Dzatur riqa’, ketikaRasulullah SAW sedang beristirahat di bawah sebuah pohon, sedangkanpedang beliau tergantung di pohon. Ketika tiba-tiba datang seorangmusyrikin yang mengambil pedang beliau sambil berkata, siapa yang dapatmelindungimu dariku?. Namun dengan sangat tenang Rasulullah SAWmenjawab Allah. Setelah tiga kali bertanya, tiba-tiba pedang yangdipegangnya jatuh. Lalu Rasulullah SAW mengambil pedang tersebut serayabertanya, sekarang siapakah yang dapat melindungimu dari ku?

Tawakal Menurut Sufi

1.Sari al-Saqati

Tawakkal adalah pelepasan daripada kekuasaan dan kekuatan, tidak adakekuasaan dan kekuatan apa pun melainkan daripada Allah semesta alam

2. Menurut Imam Ahmad bin Hambal.

Tawakal merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakanperbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan olehlisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dantawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan.(Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)

3. Ibnu Qoyim al-Jauzi

 “Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati denganmenyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya,berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpadirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’(baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya)serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalamala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)

Sebagian ulama salafuna shaleh lainnya memberikan komentar beragammengenai pernak pernik takawal, diantaranya adalah ungkapan : Jikadikatakan bahwa Dinul Islam secara umum meliputi dua aspek; yaitual-isti’anah (meminta pertolongan Allah) dan al-inabah (taubat kepadaAllah), maka tawakal merupakan setengah dari komponen Dinul Islam.Karena tawakal merupakan repleksi dari al-isti’anah (memintapertolongan hanya kepada Allah SWT) : Seseorang yang hanya memintapertolongan dan perlindungan kepada Allah, menyandarkan dirinya hanyakepada-Nya, maka pada hakekatnya ia bertawakal kepada Allah.

Salafus saleh lainnya, Sahl bin Abdillah al-Tasattiri juga mengemukakanbahwa ‘ilmu merupakan jalan menuju penghambaan kepada Allah.Penghambaan merupakan jalan menuju kewara’an (sifat menjauhkan diridari segala kemaksiatan). Kewaraan merupakan jalan mmenuju padakezuhudan. Dan kezuhudan merupakan jalan menuju pada ketawakalan.(Al-Jauzi, tt : 336)

Tawakal merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam Islam. Olehkarena itulah, kita dapat melihat, banyak sekali ayat-ayat ataupunhadits-hadits yang memiliki muatan mengenai tawakal kepada Allah SWT.Demikian juga para salafus shaleh, juga sangat memperhatikan masalahini. Sehingga mereka memiliki ungkapan-ungkapan khusus mengenai tawakal.

Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam tatkalamenjelaskan hadits no. 49 mengatakan, “Tawakal adalah benarnyapenyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagaikemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupunakhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengansebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi,mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.”

 Sahl At Tusturi mengatakan, “Barang siapa mencela usaha (meninggalkansebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allahtetapkan -pen). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau bersandar padaAllah, pen) maka dia telah meninggalkan keimanan. (Lihat Jami’ul Ulumwal Hikam)

Dimensi Tawakkal

Untuk meluruskan pemahaman terhadap dimensi tawakkal ini para sufi

mengemukakan beberapa ciri penting iaitu:

1. Tawakkal kepada Allah kerana untuk memperoleh keredhaan hamba dan bahagian dunia, atau untuk menghilangkan hal ehwal yang tidak disukai dan musibah dunia

2. Tawakkal kepada Allah untuk menghasilkan apa yang dicintai dandiredai Allah berupa keimanan, keyakinan, jihad dan dakwah kepadaNya

3. Menyerahkan diri kepada Allah seperti seorang yang menyerahkan kekuasaannya kepada wakilnya dalam sesuatu perkara setelah dia meyakini kebenaran, kejujuran dan kesungguhan orang itu dalam membelanya.

4. Menyerahkan diri kepadaNya seperti anak kecil menyerahkan segala persoalan kepada ibunya.

5. Menyerahkan diri kepada Allah seperti mayat di tangan orang yang memandikannya

Derajat Tawakal

Tawakal merupakan gabungan berbagai unsur yang menjadi satu, dimanatawakal tidak dapat terealisasikan tanpa adanya unsur-unsur tersebut.Unsur-unsur ini juga merupakan derajat dari tawakal itu sendiri:

1. Derajat pertama dari tawakal adalah : Ma’rifat kepada Allah SWTdengan segala sifat-sifat-Nya minimal meliputi tentang kekuasaan-Nyakeagungan-Nya, keluasan ilmu-Nya, keluasan kekayaan-Nya, bahwa segalaurusan akan kembali pada-Nya, dan segala sesuatu terjadi karenakehendak-Nya, dsb.

2. Derajat tawakal yang kedua adalah : Memiliki keyakinan akankeharusan melakukan usaha. Karena siapa yang menafikan keharusan adanyausaha, maka tawakalnya tidak benar sama sekali. Seperti seseorang yangingin pergi haji, kemudian dia hanya duduk di rumahnya, maka sampaikapanpun ia tidak akan pernah sampai ke Mekah. Namun hendaknya iamemulai dengan menabung, kemudian pergi kesana denan kendaraan yangdapat menyampaikannya ke tujuannya tersebut.

3. Derajat Tawakal yang ketiga adalah : Adanya ketetapan hati dalammentauhidkan (mengesakan) Dzat yang ditawakali, yaitu Allah SWT. Karenatawakal memang harus disertai dengan keyakinan akan ketauhidan Allah.Jika hati memiliki ikatan kesyirikan-kesyirikan dengan sesuatu selainAllah, maka batallah ketawakalannya.

4. Derajat tawakal yang keempat adalah : Menyandarkan hati sepenuhnyahanya kepada Allah SWT, dan menjadikan situasi bahwa hati yang tenanghanyalah ketika mengingatkan diri kepada-Nya. Hal ini seperti kondisiseorang bayi, yang hanya bisa tenang dan tentram bila berada di susuanibunya. Demikian juga seorang hamba yang bertawakal, dia hanya akanbisa tenang dan tentram jika berada di ‘susuan’ Allah SWT.

5. Derajat tawakal yang kelimana adalah : Husnudzan (baca ; berbaiksangka) terhadap Allah SWT. Karena tidak mungkin seseorang bertawakalterhadap sesuatu yang dia bersu’udzan kepadanya. Tawakal hanya dapatdilakukan terhadap sesuatu yang dihusndzani dan yang diharapkannya.

6. Derajat Tawakal yang keeman adalah : Memasrahkan jiwa sepenuhyahanya kepada Allah SWT. Karena orang yang bertawakal harus sepenuhhatinya menyerahkan segala sesuatu terhadap yang ditawakali. Tawakaltidak akan mungkin terjadi, jika tidak dengan sepenuh hati memasrahkanhatinya kepada Allah.

7. Derajat tawakal yang ketujuh yaitu : Menyerahkan, mewakilkan,mengharapkan, dan memasrahkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT.Dan hal inilah yang merupakan hakekat dari tawakal. Allah SWTberfirman: (QS. 40 : 44)

وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya".

Seorang hamba yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, maka iatidak akan berbuat melainkan dengan perbuatan yang sesuai dengankehendak Allah. Karena dia yakin, bahwa Allah tidak akan menetapkansesuatu kecuali yang terbaik bagi dirinya baik di dunia maupun diakhirat.

Dengan demikian, tawakkal adalah realiti psikologi yangdiaplikasikan setelah menjalani masa yang panjang menuju Tuhan. Orangbertawakkal akan merasa tenteram dengan janjiNya, merasa cukup denganpemberian dan pengetahuan yang diberikan kepadanya dan dia juga akanmerasa puas dengan kebijaksanaanNya.

Abi Naufal (16-2-2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman