Rahasia Puasa Sunnah dan Shalawat: Jalan Membersihkan Jiwa dan Mendekatkan Diri kepada Allah
Oleh: Pengamat Dakwah
Pendahuluan
Puasa dan shalawat merupakan dua amalan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Puasa mengajarkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, menahan keinginan, membangun kesabaran, serta meningkatkan ketakwaan.
Sementara itu, shalawat merupakan ungkapan cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw., sekaligus bentuk ibadah yang diperintahkan Allah Swt.
Jika puasa sunnah membentuk ketahanan spiritual dari dalam diri, maka shalawat menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Keduanya dapat menjadi sarana penting dalam perjalanan tazkiyatun nafs, yaitu proses penyucian jiwa.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh hormat kepadanya." (QS. al-Ahzab [33]: 56).
Ayat tersebut menunjukkan kemuliaan shalawat. Allah memulai dengan menyebut diri-Nya, kemudian para malaikat, lalu memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan tingginya kedudukan Rasulullah Saw. di sisi Allah dan anjuran bagi kaum Muslim untuk memperbanyak shalawat kepada beliau.[1]
Adapun puasa memiliki tujuan utama sebagaimana ditegaskan Allah:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 183).
Dengan demikian, rahasia puasa terbesar bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, namun membangun ketakwaan. Demikian pula rahasia shalawat bukan hanya mengulang-ulang lafaz tertentu, tetapi membangun mahabbah kepada Rasulullah Saw.
Puasa Sunnah: Latihan Menundukkan Hawa Nafsu
Puasa sunnah merupakan puasa yang tidak diwajibkan, tetapi sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Di antara puasa sunnah yang dikenal dalam syariat adalah puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, puasa Arafah bagi yang tidak sedang melaksanakan haji, puasa Asyura, puasa enam hari pada bulan Syawal, dan puasa Daud.
Rasulullah SAW. bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).[2]
Kata junnah berarti pelindung atau perisai. Para ulama menjelaskan bahwa puasa dapat menjadi perisai bagi seseorang dari dorongan syahwat, kemaksiatan, dan perilaku yang merusak dirinya.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa memiliki tingkatan. Ada puasa orang awam yang hanya menahan makan dan minum; ada puasa orang khusus yang juga menjaga pendengaran, penglihatan, lisan, tangan dan kaki dari dosa; dan ada puasa khusus dari orang-orang yang dekat kepada Allah, yaitu menjaga hati dari segala sesuatu selain Allah.[3]
Penjelasan tersebut memberikan pesan bahwa hakikat puasa tidak berhenti di perut. Puasa yang sempurna harus memberikan pengaruh kepada seluruh anggota tubuh dan hati.
Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa tetapi masih gemar berkata kasar, melakukan fitnah, menyebarkan kebencian, menipu, atau menyakiti orang lain perlu melakukan evaluasi terhadap kualitas puasanya.
Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkannya ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. al-Bukhari).[4]
Hadis ini sangat penting. Puasa bukan sekadar aktivitas biologi, melainkan pendidikan akhlak.
Rahasia Puasa Sunnah
Ada beberapa rahasia spiritual yang dapat ditemukan dalam puasa sunnah.
Pertama, puasa melatih keikhlasan
Puasa merupakan ibadah yang sangat pribadi. Orang lain tidak selalu mengetahui apakah seseorang benar-benar sedang berpuasa atau tidak. Oleh karena itu, puasa memiliki hubungan yang kuat dengan keikhlasan.
Dalam hadis qudsi Allah berfirman:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).[5]
Menurut Imam al-Nawawi, hadis ini menunjukkan keistimewaan puasa karena di dalamnya terdapat unsur keikhlasan yang sangat kuat.[6]
Kedua, puasa melatih pengendalian diri
Manusia mempunyai keinginan makan, minum, seksual, marah, dan berbagai keinginan lainnya. Puasa mengajarkan bahwa tidak semua keinginan harus diikuti.
Inilah salah satu rahasia pendidikan puasa: manusia belajar mengatakan “tidak” kepada dirinya sendiri demi mengatakan “iya” kepada perintah Allah.
Ketiga, puasa menumbuhkan empati sosial
Ketika seseorang merasakan lapar dan haus, ia akan lebih mudah memahami penderitaan orang miskin dan mereka yang kekurangan.
Oleh karena itu, seharusnya seharusnya melahirkan kepedulian sosial. Puasa yang benar tidak menjadikan seseorang semakin individualistis, tetapi semakin peduli terhadap sesamanya.
Keempat, puasa membangun kesabaran
Puasa mengharuskan seseorang menunggu waktu berbuka. Ia tidak boleh makan dan minum meskipun makanan tersedia di hadapannya.
Kesabaran semacam ini kemudian diharapkan terbawa dalam kehidupan: sabar menghadapi ujian, sabar dalam bekerja, sabar dalam mendidik keluarga, dan sabar dalam menjalankan ketaatan.
Shalawat: Jalan Cinta kepada Rasulullah Saw.
Jika puasa merupakan latihan menahan diri, maka shalawat merupakan latihan mencintai Rasulullah Saw.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sejujurnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh hormat kepadanya." (QS. al-Ahzab [33]: 56).
Menurut al-Qurtubi, shalawat Allah kepada Nabi menyampaikan pujian dan pemuliaan Allah kepada beliau, sedangkan shalawat orang-orang beriman merupakan doa agar Allah memberikan rahmat, kemuliaan dan penghormatan kepada Rasulullah Saw.[7]
Rasulullah SAW. juga bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR.Muslim).[8]
Hadis tersebut menunjukkan besarnya rahmat Allah kepada orang yang bershalawat.
Rahasia Shalawat
Pertama, shalawat menumbuhkan cinta kepada Nabi
Seseorang yang sering menyebut nama orang yang dicintainya akan semakin dekat secara emosional dengan orang tersebut. Demikian pula shalawatnya.
Semakin seseorang memperbanyak shalawat, seharusnya semakin besar pula kecintaannya kepada Nabi Muhammad Saw. Namun cinta tersebut harus diwujudkan dengan mengikuti sunnah dan akhlak beliau.
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai.” (QS. Ali 'Imran [3]: 31).
Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Rasulullah bukan sekedar perasaan, tetapi juga diwujudkan dalam keteladanan.
Kedua, shalawat menjadi sebab turunnya rahmat Allah
Hadis tentang sepuluh shalawat Allah bagi orang yang bershalawat sekali menunjukkan bahwa shalawat merupakan salah satu amalan yang mendatangkan rahmat Allah.
Dalam tradisi ulama Nusantara, shalawat juga menjadi bagian penting dari pendidikan keagamaan masyarakat. Shalawat dibaca dalam majelis ilmu, pengajian, peringatan Maulid Nabi, setelah azan, dan berbagai kesempatan lainnya.
Ketiga, shalawat yang menghidupkan teladan Nabi
Shalawat yang benar seharusnya dibawa seseorang untuk mengenal kehidupan Rasulullah Saw. Setelah mengenal beliau, seseorang terdorong untuk meniru sifat shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Dengan demikian, shalawat bukan sekedar ucapan lisan, tetapi juga merupakan transformasi akhlak.
Puasa dan Shalawat: Dua Jalan yang Saling Melengkapi
Puasa dan shalawat memiliki karakter yang berbeda, tetapi keduanya dapat berjalan bersama.
Puasa mendidik pengendalian diri, sedangkan shalawat mendidik kecintaan.
Dapat membersihkan manusia dari dominasi hawa nafsu. Shalawat mengisi hati dengan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Puasa mengajarkan mujahadah, sedangkan shalawat mengajarkan mahabbah.
Syaikh Nawawi al-Bantani dalam karya-karyanya banyak tekanan pentingnya ibadah yang disertai penghayatan hati. Ibadah lahiriah harus mengantarkan seseorang pada pembentukan batin dan akhlak.[9]
Hal ini sejalan dengan pemikiran Hamka bahwa agama tidak boleh berhenti pada ritual formal. Ibadah harus memberikan pengaruh pada pembentukan pribadi yang baik dan kehidupan sosial yang dibiarkan.[10]
M. Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa ibadah dalam Al-Qur'an mempunyai dimensi pembinaan manusia. Puasa, misalnya, diarahkan kepada pembentukan takwa, sedangkan kecintaan kepada Rasul harus diwujudkan dalam sikap mengikuti petunjuk dan keteladanan beliau.[11]
Dengan demikian, seseorang yang rajin berpuasa sunnah tetapi mudah marah, gemar menghina, tidak peduli kepada fakir miskin, dan menyakiti sesama perlu memperbaiki kualitas puasanya. Begitu pula orang yang rajin bershalawat tetapi tidak berusaha meneladani akhlak Nabi perlu memperdalam makna shalawatnya.
Menggabungkan Puasa Sunnah dan Shalawat dalam Kehidupan
Amalan kedua ini dapat dijadikan sebuah program spiritual sederhana.
Misalnya, pada hari Senin dan Kamis, seseorang melaksanakan puasa sunah sekaligus memperbanyak shalawat. Ketika sahur, ia memperbanyak istighfar dan doa. Pada siang hari ia menjaga lisan, pandangan dan pikiran. Setelah shalat fardhu, ia membaca shalawat. Menjelang berbuka, ia berdoa dengan penuh pengharapan.
Pada malam harinya, ia membaca sirah Nabi agar shalawat yang diucapkan semakin memiliki makna.
Dengan demikian, puasa tidak hanya menghasilkan lapar dan haus, sementara shalawat tidak hanya menjadi pengulangan lisan. Keduanya menjadi jalan terbentuknya manusia yang bertakwa, berakhlak, sabar, rendah hati dan penuh kasih sayang.
Penutup
Puasa sunnah dan shalawat memiliki rahasia spiritual yang sangat dalam. Puasa melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, menjaga keikhlasan, membangun kesabaran dan menumbuhkan kepedulian sosial.
Sementara itu, shalawat yang menumbuhkan cinta kepada Rasulullah Saw, menghadirkan harapan terhadap rahmat Allah, serta menghubungkan hati seorang muslim dengan keteladanan Nabi.
Puasa yang benar-benar melahirkan takwa. Shalawat yang benar melahirkan mahabbah dan ittiba'. Ketika keduanya bersatu, lahirlah pribadi yang bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga akhlaknya baik.
Oleh karena itu, rahasia terbesar puasa sunnah dan shalawat bukanlah sekedar banyaknya amalan yang dilakukan, melainkan perubahan yang terjadi dalam diri setelah mengamalkannya.
Puasa menjadikan kita mampu menundukkan diri.
Shalawat menjadikan hati kita dekat dengan Rasulullah Saw. Dan keduanya, jika dilakukan dengan ikhlas, dapat menjadi jalan menuju keridhaan Allah Swt.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan وَالِاقْتِدَاءِ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ.
Catatan Kaki
[1] Ismail bin Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, tafsir QS. al-Ahzab [33]: 56.
[2] Muhammad ibn Isma'il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Sawm; Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Siyam.
[3] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Kitab Asrar al-Sawm.
[4] Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Sawm.
[5] Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Sawm; Muslim, Sahih Muslim, Kitab al-Siyam.
[6] Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, Kitab al-Siyam.
[7] Muhammad bin Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. al-Ahzab [33]: 56.
[8] Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Salah, bab al-Shalah 'ala al-Nabi ﷺ.
[9] Muhammad Nawawi al-Bantani, Nashaih al-'Ibad dan Marah Labid li Kasyf Ma'na al-Qur'an al-Majid.
[10] Hamka, Tafsir Al-Azhar, pembahasan ayat-ayat tentang puasa dan akhlak.
[11] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an, Jakarta: Lentera Hati, pembahasan QS. al-Baqarah [2]: 183 dan QS. al-Ahzab [33]: 56.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar