Sabtu, 30 Mei 2026

SIKAP ULAMA


Mendoakan Kebaikan atau Keburukan kepada Pemerintah Zalim


Oleh: Pengamat Studi Al-Qur'an 

           dan Dakwah

31 Mei 2026

Di berbagai negeri dan zaman, umat Islam kerap menghadapi kenyataan adanya pemimpin yang adil maupun yang zalim. Ketika kezaliman terjadi, muncul pertanyaan yang terus berulang: apakah seorang Muslim boleh mendoakan keburukan bagi penguasa yang zalim, ataukah lebih baik mendoakan kebaikan dan hidayah bagi mereka?

Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan emosi, melainkan menyangkut akhlak, fikih, politik Islam, dan kemaslahatan umat. Oleh karena itu, para ulama sejak generasi salaf hingga masa kontemporer memberikan hikmah yang bijaksana dalam menyikapinya.


Keadilan sebagai Amanah Kepemimpinan

Al-Qur'an menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan adil.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang bersedia dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa : 58)

Menurut Imam At-Thabari, ayat ini merupakan dasar utama kewajiban para pemimpin untuk berlaku adil kepada rakyat. Kekuasaan bukan hak mutlak yang boleh digunakan sesuka hati, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ketika amanah itu dilaksanakan dan kezaliman terjadi, Islam tidak menutup mata terhadap penderitaan masyarakat. Namun Islam juga mengajarkan agar respon terhadap kezaliman tetap berada dalam koridor syariat.

Islam Mengakui Hak Orang yang Dizalimi

Allah berfirman:

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal." (QS. Asy-Syura : 40)

Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan diperbolehkannya seseorang membalas perlakuan zalim secara proporsional, termasuk melalui doa.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa orang yang terzalimi memiliki hak untuk mengadukan kezalimannya kepada Allah dan berdoa agar kezaliman itu dihentikan. Dalam kondisi tertentu, doa terhadap pelaku kezaliman termasuk penguasa yang menindas tidaklah terlarang.

Hal ini sejalan dengan berbagai kisah para nabi yang memohon pertolongan Allah ketika menghadapi penguasa atau kaum yang menolak kebenaran.

Nabi Syu'aib berdoa:

“Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan benar.” (QS. Al-A'raf : 89)

Doa tersebut bukan lahir dari kebencian pribadi, melainkan demi tegaknya keadilan dan hilangnya kezaliman.


Doa yang Lebih Utama

Meskipun doa terhadap orang zalim dibolehkan, sebagian besar ulama memandang bahwa mendoakan kebaikan dan hidayah tetap lebih utama selama masih ada harapan perbaikan.

Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan ciri-ciri pemimpin terbaik, yaitu pemimpin yang mencintai rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya.

Oleh karena itu, para ulama salaf sangat memperhatikan kondisi pemimpin. Mereka menyadari bahwa buruknya pemimpin akan berdampak luas kepada masyarakat.

Salah satu kata yang terkenal berasal dari Imam Fudhail bin 'Iyadh:

"Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya aku akan menjadikannya untuk penguasa."

Ketika ditanyai, beliau menjelaskan bahwa apabila penguasa menjadi baik, maka rakyat pun akan ikut merasakan kebaikannya.

Perkataan ini menunjukkan keluasan pandangan para ulama. Mereka tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga kemaslahatan umat secara keseluruhan.


Pandangan Para Ulama

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menjelaskan bahwa membalas kezaliman memang dibolehkan, namun tingkatan spiritual yang lebih tinggi adalah mendoakan agar pelaku kezaliman memperoleh hidayah dan berubah menjadi lebih baik.

Menurut beliau, hati seorang mukmin idealnya dipenuhi kasih sayang, bukan dendam yang berkepanjangan.

Senada dengan itu, Ibnu 'Athaillah As-Sakandari mengingatkan bahwa kebencian terhadap seseorang jangan sampai membuat seorang hamba lupa bahwa semua manusia berada di bawah kekuasaan Allah.


Pandangan serupa juga ditemukan pada ulama Nusantara.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam berbagai nasihatnya mendorong umat agar bersabar terhadap berbagai ujian sosial dan memperbanyak doa bagi pemimpin agar diberikan petunjuk dan keadilan.

KH. Hasyim Asy'ari menekankan pentingnya menjaga persatuan umat dan menghindari tindakan yang dapat menimbulkan kekacauan yang lebih besar.

Sementara Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa kritik terhadap penguasa merupakan bagian dari amar makruf nahi mungkar. Namun kritik harus dilakukan dengan adab dan tujuan perbaikan, bukan sekadar melampiasan kemarahan.


Antara Keadilan dan Kemaslahatan

Islam merupakan agama yang menyeimbangkan antara hak individu dan kemaslahatan umum.

Seseorang yang terzalimi memiliki hak untuk berdoa agar Allah menolongnya dan menghentikan kezaliman yang menimpanya. Akan tetapi, jika doa yang dipanjatkan berubah menjadi dorongan kebencian yang menimbulkan fitnah, perpecahan, atau kerusakan yang lebih besar, maka maslahat harus lebih diutamakan.

Karena itu para ulama membedakan antara doa yang lahir karena mencari keadilan dengan doa yang lahir semata-mata karena balas dendam.

Tujuan utama seorang Muslim bukanlah menghancurkan orang lain, melainkan menghilangkan kezaliman dan menghadirkan kebaikan.

Dalam perspektif fiqh siyasah, stabilitas masyarakat termasuk tujuan penting syariat. Oleh karena itu, para ulama lebih memilih pendekatan perbaikan (ishlah) daripada pendekatan yang berpotensi memperluas konflik.


Tingkatan Sikap Seorang Mukmin

Dari berbagai dalil dan pendapat ulama, dapat dipahami bahwa terdapat beberapa tingkatan sikap ketika menghadapi penguasa yang zalim.

Pertama, mendoakan keburukan atau kehancuran bagi pelaku kezaliman. Sikap ini dibolehkan dalam kondisi terzalimi dan memiliki dasar syariat.

Kedua, bersabar dan menyerahkan urusan kepada Allah tanpa mendoakan keburukan. Tingkatan ini dinilai lebih baik karena menunjukkan pengendalian diri.

Ketiga, mendoakan hidayah, keadilan, dan perbaikan bagi pemimpin. Inilah tingkatan yang dipandang paling utama oleh banyak ulama salaf dan tokoh tasawuf karena membawa manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Semakin tinggi kualitas spiritual seseorang, semakin besar kecenderungannya untuk mengedepankan doa yang membawa rahmat daripada doa yang lahir dari kemarahan.


Hikmah yang Dapat Dipetik

Ada beberapa pelajaran penting dari tema ini.

Pertama, doa mencerminkan keadaan hati. Hati yang memenuhi kasih sayang cenderung berharap hadirnya perbaikan, bukan sekadar penyelesaian.

Kedua, keberadaan pemimpin yang baik maupun yang zalim merupakan bagian dari ujian Allah bagi suatu masyarakat. Oleh karena itu, umat dituntut tidak hanya memperbaiki pemimpinnya, tetapi juga memperbaiki dirinya sendiri.

Ketiga, Islam selalu mengutamakan perbaikan. Bahkan ketika menghadapi kezaliman, tujuan akhirnya tetaplah terciptanya keadilan dan kemaslahatan.

Keempat, kritik dan amar makruf nahi mungkar tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab.


Penutup

Islam tidak melarang orang yang terzalimi untuk berdoa kepada Allah agar kezaliman dihentikan. Dalam batas tertentu, mendoakan keburukan bagi penguasa yang zalim diperbolehkan oleh syariat.

Namun mayoritas ulama menilai bahwa mendoakan hidayah, keadilan, dan perbaikan bagi pemimpin merupakan pilihan yang lebih utama. Sikap inilah yang banyak diwariskan oleh para ulama salaf, ulama Nusantara, dan para tokoh tasawuf.

Pada akhirnya, tujuan seorang muslim bukan sekedar melihat jatuhnya seorang penguasa, melainkan hadirnya keadilan, terjaganya kemaslahatan umat, dan terwujudnya kehidupan yang lebih baik di bawah ridha Allah SWT.


Referensi

At-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an.

Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an.

Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin.

Ibnu 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam.

Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir.

Sayyid Qutb, Fi Zhilal al-Qur'an.

Syaikh Nawawi Al-Bantani, Nashaih al-'Ibad.

Hamka, Tafsir Al-Azhar.

Shahih Muslim.

Sunan Abu Dawud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman