Kamis, 28 Mei 2026

PEMIMPIN ZALIM


 PENGUASA, PENGUSAHA DAN NASIB RAKYAT


Ketika Kekuasaan Tidak Lagi Membela Bangsa

Di banyak negeri, sejarah sering menampilkan satu pola yang berulang: ketika penguasa terlalu dekat dengan pengusaha, sementara rakyat dijauhkan dari keadilan, maka perlahan bangsa memasuki jalan krisis. Kekayaan hanya berputar di kalangan elite, hukum kehilangan keberanian, dan rakyat kecil menjadi korban pembangunan yang tidak berpihak.

Al-Qur'an sejak awal telah mengingatkan bahwa kekuasaan dan harta bukan sekedar fasilitas duniawi, melainkan amanah besar yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Allah berfirman:

 إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang menerimanya.” (QS. An-Nisa': 58)

Menurut Ath-Thabari, amanah dalam ayat ini mencakup kekuasaan, hukum, dan hak-hak rakyat yang wajib dijaga dengan adil (Ath-Thabari, 2001). Oleh karena itu, jabatan bukanlah alat untuk menyejahterakan diri sendiri, dan kekayaan bukan sarana untuk mengendalikan negara demi kepentingan kelompok tertentu.

Dalam konteks bangsa modern, hubungan penguasa dan pengusaha memang tidak bisa dipisahkan. Negara membutuhkan investasi, lapangan pekerjaan, dan pertumbuhan ekonomi. Namun masalah muncul ketika kedekatan itu melahirkan kolusi, monopoli, dan penghinaan terhadap rakyat kecil.


Ketika Kekuasaan Bersandar pada Modal

Islam tidak pernah memusuhi orang kaya. Bahkan banyak sahabat Nabi yang merupakan pedagang sukses. Namun Islam mengecam keras kekayaan yang digunakan untuk menindas dan menguasai rakyat.

Allah SWT berfirman:

 كَىۡ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡ

“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr : 7)

Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini merupakan prinsip distribusi keadilan sosial dalam Islam, agar ekonomi tidak hanya dikuasai kelompok elit tertentu (Shihab, 2002).

Realitas hari ini sering menampilkan ironi. Di satu sisi rakyat diminta sabar menghadapi kenaikan harga dan kesulitan hidup. Namun di sisi lain, sebagian justru elit menikmati fasilitas mewah, proyek besar, dan kekuasaan ekonomi tanpa batas.

Kolaborasi penguasa dan pengusaha seharusnya menjadi jalan kesejahteraan rakyat. Tetapi ketika kekuasaan mengabdi pada modal dan menyayangi masyarakat kecil, maka yang lahir bukanlah pembangunan, melainkan ketimpangan.


Fir'aun dan Qarun: Simbol Kekuasaan dan Kekayaan yang Zalim

Al-Qur'an menghadirkan kisah Fir'aun dan Qarun bukan sekadar cerita masa lalu. Keduanya adalah simbol abadi tentang persekutuan kekuasaan dan kekayaan yang menindas rakyat.

Fir'aun melambangkan kekuasaan yang angkuh, sementara Qarun melambangkan pemilik modal yang rakus dan sombong.

Allah SWT berfirman:

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan

“Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi…” (QS. Al-Qashash: 4)

Tentang Qarun, Allah berfirman:

 Layanan Pelanggan yang Aman

“Maka Kami benamkan dia beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash : 81)

Sayyid Qutb menyebut kisah ini sebagai gambaran tentang kekuatan politik dan ekonomi yang bersatu untuk mengendalikan demi kepentingan masyarakat sendiri (Qutb, 2003).

Ketika penguasa dan pemilik modal sama-sama kehilangan hati nurani, maka rakyat kecil menjadi pihak pertama yang merasakan penderitaan.


Pengkhianatan kepada Rakyat

Pengkhianatan bangsa tidak selalu berbentuk penjajahan fisik. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk kebijakan yang memiskinkan rakyat, hukum yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke elit, atau eksploitasi alam yang merusak masa depan generasi.

Rasulullah SAW memberi peringatan keras:

 مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin yang diberi amanah rakyat lalu ia menipu rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari-Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa menipu rakyat termasuk membuat kebijakan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu sementara masyarakat luas dirugikan (An-Nawawi, 1929).

Oleh karena itu, korupsi, suap, permainan proyek, dan monopoli ekonomi bukan sekedar pelanggaran hukum negara, tetapi juga menghina moral dan spiritual.


Ketika Rakyat Menjadi Korban

Dampak dari pengecualian elite sangat luas. Ketimpangan sosial semakin tajam. Pendidikan menjadi mahal. Lapangan kerja sulit. Sumber daya alam dikuasai segelintir pihak. Bahkan tidak sedikit rakyat yang kehilangan tanah dan ruang hidup demi proyek besar.

Allah SWT berfirman:

 Layanan Pelanggan yang Dapat Diperpanjang ٱلنَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia.” (QS. Ar-Rum : 41)

Menurut Al-Maraghi, kerusakan sosial dan ekonomi lahir dari kerakusan manusia yang tidak lagi memikirkan kemaslahatan umum (Al-Maraghi, 1946).

Di titik inilah rakyat sering kehilangan kepercayaan kepada negara. Ketika hukum tidak menghadirkan keadilan, masyarakat mulai merasa bahwa negara hanya melayani orang kaya dan berkuasa.


Islam Membela Kaum Lemah

Salah satu misi utama Islam adalah membela mustadh'afin, yakni kelompok lemah dan tertindas. Nabi Muhammad SAW hadir bukan untuk melindungi oligarki, tetapi untuk menghadirkan keadilan sosial.

Buya Hamka menegaskan bahwa kehancuran suatu bangsa dimulai ketika penguasa hidup bermewah-mewahan sementara rakyatnya lapar dan menderita (Hamka, 1984).

KH. Hasyim Asy'ari juga mengingatkan bahwa pemimpin wajib menjaga rakyat dari kezaliman dan kesewenang-wenangan (Asy'ari, 1995).

Oleh karena itu, keberpihakan kepada rakyat bukan sekadar agenda politik, melainkan bagian dari amanah agama.

Penguasa dan Pengusaha yang Dirindukan Rakyat

Bangsa ini sebenarnya tidak membutuhkan penguasa yang hanya pandai berbicara, misalnya pengusaha yang hanya mengejar keuntungan tanpa peduli penderitaan masyarakat. Yang dibutuhkan adalah pemimpin dan pemilik modal yang memiliki hati nurani.

Islam memberikan beberapa prinsip penting:

Pertama, amanah.

Kekuasaan dan kekayaan adalah titipan Allah, bukan milik mutlak manusia.

Kedua, keadilan.

Allah SWT berfirman:

 إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat baik.” (QS. An-Nahl : 90)

Ketiga, keberpihakan kepada rakyat kecil.

Negara harus hadir melindungi petani, nelayan, buruh, guru, pedagang kecil, dan seluruh masyarakat yang lemah secara ekonomi.

Keempat, menolak korupsi dan monopoli.

Sebab kezaliman ekonomi pada akhirnya akan menghancurkan bangsa itu sendiri.


Penutup

Hubungan penguasa dan pengusaha sejati dapat menjadi kekuatan besar untuk membangun bangsa. Namun ketika keduanya hanya bersekutu demi kepentingan pribadi dan melupakan rakyat, maka yang lahir adalah pengabdian terhadap amanah Allah dan penderitaan sosial yang panjang.

Al-Qur'an telah memberi pelajaran melalui kisah Fir'aun dan Qarun bahwa kekuasaan dan kekayaan yang tidak memihak kepada rakyat pada akhirnya akan menuju kehancuran.

Oleh karena itu, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang hanya kaya secara materi, tetapi bangsa yang pemimpinnya adil, pengusahanya peduli, dan rakyatnya merasakan kehadiran negara dalam kehidupan mereka.

Jika penguasa dan pengusaha berjalan bersama membela rakyat, maka negara akan menjadi kuat. Tetapi jika keduanya bersatu menindas rakyat, maka sejarah hanya tinggal menunggu waktu untuk mencatat kehancurannya.


Tanggal 12/5/2026

@pengamat studi al-qur'an dan dakwah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman