Minggu, 28 Juni 2026

MENGENAL NABI MUHAMMAD SAW


 KETURUNAN NABI MUHAMMAD ﷺ


Silsilah, Bangsa Arab, Jurhum (Yaman), Hikmah Nasab, dan Ibrah bagi Kaum Beriman

Oleh: Pengamat Dakwah


Pendahuluan

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling memaafkan keturunan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, penutup para nabi, yang memiliki nasab paling mulia sekaligus mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan.

Mengenal nasab Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari mengenal sejarah Islam dan menumbuhkan kecintaan kepada beliau. Para ulama tafsir, ahli hadis, dan sejarawan Islam memberikan perhatian besar terhadap silsilah Nabi karena berkaitan dengan sejarah dakwah, pemahaman Al-Qur'an, serta penghormatan kepada Ahlul Bait. Namun, Islam juga menolak fanatisme keturunan ('ashabiyyah) yang menganggap suatu suku atau keluarga lebih mulia hanya karena nasabnya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13).

Imam Ath-Ṭabari menjelaskan bahwa perbedaan nasab dan suku merupakan sarana untuk saling mengenal (ta'āruf), menjaga silaturahim, dan menunaikan hak-hak keluarga, bukan untuk saling menyombongkan diri.¹ 

Ibnu Katsir menambahkan bahwa ayat ini membatalkan tradisi jahiliah yang mengukur kemuliaan seseorang dari keturunannya semata.²

Nasab Rasulullah ﷺ yang disepakati para ulama sampai kepada Adnan adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abd Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Dari Adnan hingga Nabi Ismail beberapa riwayat, sehingga mayoritas ahli hadis memilih berhenti pada Adnan terdapat sebagai jalur yang paling kuat.³

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan Layanan Pelanggan yang Aman

“Allah Sesungguhnya memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR.Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan nasab Rasulullah ﷺ merupakan pilihan Allah, namun tidak menghapus kewajiban setiap manusia untuk beriman dan beramal saleh.⁴

Para perbincangan membagi bangsa Arab menjadi tiga kelompok, yaitu Arab Bā'idah (bangsa Arab purba yang telah punah), Arab 'Āribah atau Qaḥṭāniyyah (Arab asli dari Yaman), dan Arab Musta'ribah, yaitu keturunan Nabi Ismail yang memperoleh bahasa Arab melalui interaksi dengan kabilah Jurhum.⁵

Kabilah Jurhum berasal dari Yaman dan menetap di sekitar Makkah setelah munculnya mata air Zamzam. Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah Makkah atas perintah Allah, beliau berdoa sebagaimana termaktub dalam QS. Ibrahim ayat 37. Doa itu menjadi awal berkembangnya Makkah sebagai pusat tauhid. Setelah Zamzam memancar, Jurhum meminta izin kepada Hajar untuk tinggal di sekitar sumur tersebut, lalu Nabi Ismail tumbuh bersama mereka dan belajar bahasa Arab hingga menjadi orang yang paling fasih di antara mereka. Riwayat ini diriwayatkan secara sahih oleh Imam al-Bukhari.⁶

Setelah dewasa, Nabi Ismail menikah dengan perempuan dari Jurhum. Dari keturunan inilah lahirnya Arab Musta'ribah yang kemudian berkembang menjadi Kinanah, Quraisy, Bani Hasyim, hingga akhirnya lahir Nabi Muhammad ﷺ. Ibnu Hisyam dan Ibnu Katsir menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ merupakan keturunan Nabi Ibrahim melalui jalur Nabi Ismail.⁷

Di antara keturunan Ismail lahirlah Fihr bin Malik yang dikenal sebagai Quraisy. Dari Quraisy kemudian muncul Bani Hasyim, keluarga Rasulullah ﷺ. Allah mengingatkan mereka melalui Surah Quraisy agar tidak menjanjikan perdagangan dan kedudukan, tetapi menyembah Rabb pemilik Ka'bah yang telah memberi keamanan dan rezeki.⁸

Al-Qur'an juga memerintahkan kaum Muslimin untuk memuliakan Ahlul Bait. Firman Allah dalam QS. Al-Aḥzāb ayat 33 dipahami oleh para mufasir klasik seperti Ath-Ṭabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurṭubi mencakup istri-istri Nabi ﷺ sesuai konteks ayat, serta Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain berdasarkan hadis al-Kisā'. Memuliakan Ahlul Bait merupakan bagian dari ajaran Islam, namun tidak boleh melahirkan sikap berlebihan maupun pengkultusan.⁹

Dalam perspektif maqāṣid al-syarī'ah, Imam Al-Ghazali dan Imam Asy-Syathibi menjadikan ḥifẓ al-nasl (menjaga keturunan) sebagai salah satu tujuan utama syariat. Menjaga nasab berarti menjaga kehormatan keluarga, hak waris, pendidikan generasi, dan silaturahim. Oleh karena itu, Islam mengharamkan zina, fitnah terhadap nasab, dan pemutusan hubungan keluarga.¹⁰

Ulama kontemporer seperti Prof. M. Quraish Shihab menegaskan bahwa mengenal silsilah Rasulullah ﷺ bertujuan memperkuat kecintaan kepada beliau dan memahami sejarah Islam, bukan membangun superioritas keturunan.

Senada dengan itu, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tetap diukur dari ketakwaannya. KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Maimoen Zubair juga mengajarkan pentingnya menghormati dzurriyah Rasulullah ﷺ dengan tetap berpegang pada prinsip keadilan dan akhlak Islam.¹¹


Kesimpulan

Mengenal nasab Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar mempelajari silsilah keluarga, melainkan memahami perjalanan dakwah tauhid sejak Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail hingga lahirnya Rasulullah ﷺ. Kabilah Jurhum dari Yaman memiliki peran penting dalam sejarah tersebut karena menjadi masyarakat tempat Nabi Ismail tumbuh dan belajar bahasa Arab.

Islam memelihara nasab sebagai nikmat Allah dan salah satu tujuan syariat yang harus dijaga. Namun Al-Qur'an dan Sunnah menegaskan bahwa kemuliaan sejati berada pada iman, takwa, dan amal saleh. Oleh karena itu, mencintai Rasulullah ﷺ dan Ahlul Bait harus diwujudkan dengan mengikuti ajaran beliau, memperbaiki akhlak, menjaga silaturahim, serta menjadikan ketakwaan sebagai ukuran utama dalam kehidupan.

Wallah a'lam bish-shawab

Manfaat. Aamiin


Catatan Kaki

1. Abu Ja'far ath-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 22, hlm. 308–310.

2. Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Juz 7, hlm. 383–385.

3. Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Juz 2, hlm. 223–229; Ibnu Hisyam, As-Sīrah an-Nabawiyyah, Juz 1, hlm. 1–10.

4. Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2276.

5. Ibnu Hisyam, As-Sīrah an-Nabawiyyah, Juz 1, hlm. 108–115; Al-Azraqi, Akhbār Makkah, Juz 1.

6. Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhari, no. 3364; Ath-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 16, tafsir QS. Ibrahim: 37.

7. Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, Juz 1–2; Ibnu Hisyam, As-Sīrah an-Nabawiyyah, Juz 1.

8. Ath-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 24, tafsir QS. Quraisy.

9. Ath-Ṭabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 20; Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Juz 6; Al-Qurṭubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, Juz 14.

10. Abu Hamid al-Ghazali, Al-Mustaṣfā, Juz 1; Asy-Syathibi, Al-Muwāfaqāt, Juz 2.

11. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 12; Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9; KH. Hasyim Asy'ari, Adab al-'Ālim wa al-Muta'allim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman