Selasa, 23 Juni 2026

ZAMAN EDAN


Antara Kecurangan dan Dendam: Tetap Mendoakan yang Terbaik di Tengah "Zaman Edan"

Oleh: Ustadz Umar Fauzi


Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, banyak orang merasa hidup pada masa yang oleh pujangga Jawa Ranggawarsita disebut sebagai zaman edan. Sebuah masa ketika kejujuran sering dianggap buruk, amanah dianggap sebagai beban, dan keadaan seolah-olah menjadi jalan tercepat menuju keuntungan. Dalam suasana seperti ini, tidak sedikit orang baik yang menjadi korban fitnah, pengkhianatan, atau perlakuan tidak adil. Akibatnya, lahirlah rasa kecewa yang berkembang menjadi balas dendam.

Islam mengajarkan bahwa kebencian dan balas dendam sama-sama berbahaya. Kecurangan merusak kehidupan sosial, sedangkan balas dendam merusak kehidupan spiritual. Oleh karena itu, seorang mukmin dituntut untuk tetap menjaga hati, memegang prinsip kebenaran, dan terus mendoakan yang terbaik meskipun menghadapi perlakuan yang menyakitkan.

Allah SWT berfirman:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ۝ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain permintaannya terpenuhi, tetapi bila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, maka mereka mengurangi. (QS. Al-Muṭaffifin : 1-3).

Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini tidak hanya berbicara tentang timbangan dalam perdagangan, tetapi mencakup seluruh bentuk pengurangan hak orang lain. Kecurangan dapat terjadi dalam jabatan, pekerjaan, pendidikan, bahkan dalam hubungan sosial sehari-hari.¹

Pada era modern, bentuk kondisi semakin beragam. Ada manipulasi data, propaganda, korupsi, penyebaran hoaks, hingga pengkhianatan terhadap amanah publik. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa pesan Al-Qur'an mengenai kondisi memiliki cakupan yang sangat luas karena pada hakikatnya semua bentuk pengurangan hak orang lain merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai keadilan.²

Namun persoalan sering kali tidak berhenti pada kondisi. Keadaan korban sering menyimpan luka yang mendalam. Dari luka tersebut tumbuh kebencian dan dendam. Jika tidak dikelola dengan baik, balas dendam dapat berubah menjadi tindakan yang sama buruknya dengan imbalan yang pernah diterima.

Oleh karena itu Allah SWT mengingatkan:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum yang mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Mā'idah : 8).

Ayat ini mengajarkan bahwa kebencian tidak dapat menghilangkan keadilan. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa seorang muslim tetap wajib berlaku adil meskipun kepada orang yang pernah menyakitinya.³ Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh emosi.

Dalam perspektif tasawuf, dendam dipandang sebagai penyakit hati yang sangat berbahaya. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa dendam merupakan bara api yang tersimpan di dalam jiwa. Bara itu tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi terlebih dahulu membakar ketenangan batin pemiliknya.⁴ Oleh karena itu, semakin lama seseorang memelihara balas dendam, semakin berat pula beban hidup yang dipikulnya.

Di akhir Islam menawarkan jalan yang lebih mulia, yaitu mendoakan kebaikan. Mungkin terasa sulit, tetapi inilah karakter orang-orang beriman yang dijelaskan Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا

Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al-Hasyr : 10).

Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah membersihkan hati dari kebencian terhadap sesama mukmin. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa doa tersebut menjadi tanda kemuliaan hati dan kesempurnaan iman.⁵

Mendoakan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan juga bukan berarti menghapus keadilan. Islam tetap memberikan ruang untuk menuntut hak secara benar dan proporsional. Namun hati tidak boleh menahan dendam yang berkepanjangan. Orang menyerahkan urusan akhir kepada Allah Yang Maha Adil.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai orang-orang yang tetap berbuat baik meskipun dicaci, tetap membantu meskipun pernah disakiti, dan tetap mendoakan meskipun pernah dikhianati. Sikap seperti ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan spiritual yang lahir dari keyakinan bahwa Allah melihat segala sesuatu.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari kemampuannya membalas kejahatan, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri ketika memiliki kesempatan untuk membalas.⁶

Sikap inilah yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang. Ketika fitnah mudah menyebar melalui media sosial, ketika kebencian sering dipelihara demi kepentingan kelompok, dan ketika keadaan terkadang dianggap lumrah, seorang muslim harus tampil sebagai pembawa kesejukan.

Allah SWT berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَأَحْسَنُ

"Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik." (QS. Fuṣṣilat : 34).

Menurut para mufasir, membalas keburukan dengan kebaikan bukan hanya memperbaiki hubungan antar manusia, tetapi juga membuka pintu pertolongan Allah. Ketika manusia memilih jalan kesabaran, Allah akan menghadirkan jalan keluar yang tidak pernah disangka-sangka.

Rasulullah SAW bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ

"Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran." (HR Ahmad).

Hadis ini mengandung pesan yang sangat dalam. Banyak orang mengira kemenangan harus diraih melalui kemarahan, balas dendam, atau tindakan yang keras. Padahal sering kali kemenangan sejati justru hadir melalui kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan menjaga prinsip.

Di tengah "zaman edan", orang beriman memang menghadapi ujian yang tidak ringan. Namun sejarah menunjukkan bahwa kejujuran selalu memiliki cahaya, kesabaran selalu memiliki jalan keluar, dan doa selalu memiliki kekuatan yang tidak terlihat oleh mata manusia.

Oleh karena itu, ketika menghadapi keadaan, jangan ikut curang. Ketika menghadapi kebencian, jangan menanam dendam. Ketika menghadapi fitnah, jangan membalas dengan fitnah. Tetaplah menjadi pribadi yang menjaga iman, akhlak, dan doa.

Sebab boleh jadi pertolongan Allah tidak datang melalui kekuatan yang kita miliki, tetapi melalui ketulusan hati yang tetap mendoakan kebaikan bagi sesama. Di situlah letak kemenangan orang-orang yang beriman.

Manfaat. Aamiin


Referensi

1. Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān, Jil. 24, hlm. 197.

2. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jil. 15, hlm. 120.

3. Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, Jil. 6, hlm. 110.

4. Al-Ghazali, Ihyā' 'Ulum ad-Dīn, Jil. 3, hlm. 185.

5. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Jil. 8, hlm. 95.

6. Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jil. 3, hlm. 220.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman