Kesombongan: Penyakit Hati yang Menutup Pintu Kebenaran
Syarah Hadis Nabi ﷺ tentang Al-Kibr
Oleh: Ustadz Umar Fauzi
Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengira bahwa kesombongan hanya berkaitan dengan kemewahan, pakaian mahal, kendaraan mewah, atau jabatan tinggi. Padahal, menurut ajaran Islam, hakikat kesombongan tidak terletak pada apa yang dimiliki seseorang, melainkan pada sikap hati terhadap kebenaran dan terhadap sesama manusia.
Seseorang bisa hidup sederhana tetapi memiliki hati yang sombong. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki kekayaan dan kedudukan yang tinggi, namun tetap rendah hati di hadapan Allah dan manusia. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan penjelasan yang sangat mendasar mengenai makna kesombongan agar umat Islam tidak salah memahaminya.
Penyakit sombong merupakan salah satu penyakit hati yang paling tua dalam sejarah manusia. Dosa pertama yang terjadi di alam semesta bukanlah zina, pencurian, atau pembunuhan, melainkan kesombongan Iblis ketika menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Oleh karena itu, para ulama tasawuf menempatkan kesombongan sebagai salah satu penyakit hati yang paling berbahaya karena dapat merusak amal dan menghalangi seseorang dari hidayah Allah.
Dari Abdullah bin Mas'ud ra., Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat ketenangan sebesar biji zarrah.”
Lalu ada seseorang bertanya:
“Sesungguhnya seseorang senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Allah sejatinya Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR Muslim)
Memahami Hakikat Kesombongan
Hadis ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekedar penampilan lahiriah. Para sahabat sempat khawatir bahwa memakai pakaian yang bagus termasuk perilaku sombong. Rasulullah ﷺ kemudian memperluas pemahaman tersebut.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesombongan dalam hadis ini adalah menolak kebenaran setelah mengetahui dan memandang rendahnya orang lain (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz 2, hlm. 90).
Penjelasan Nabi ﷺ hal tersebut sangat penting karena sering kali seseorang merasa dirinya tidak sombong hanya karena hidup sederhana. Padahal, ketika dinasihati ia marah, ketika dikritik ia berjongkok, dan ketika melihat orang lain ia merasa lebih mulia dari mereka. Sikap seperti inilah yang termasuk dalam kategori sombong.
Dalam perspektif Islam, menerima kebenaran merupakan tanda kerendahan hati. Sebaliknya, menolak kebenaran karena merasa lebih pintar, lebih alim, atau lebih berpengalaman merupakan tanda adanya kesombongan di dalam hati.
Kesombongan dan Kisah Iblis
Al-Qur'an mengabadikan kisah kesombongan Iblis sebagai pelajaran bagi seluruh manusia.
Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam.' Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri serta termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah : 34)
Iblis sebenarnya mengetahui bahwa perintah tersebut datang dari Allah. Akan tetapi, ia menolak karena merasa dirinya lebih mulia dari Adam. Dalam ayat lain ia berkata:
“Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau menciptakan dari tanah.” (QS Al-A'raf : 12)
Menurut Imam al-Ghazali, kesombongan muncul ketika seseorang memandang dirinya lebih tinggi dibandingkan orang lain. Perasaan inilah yang kemudian melahirkan berbagai perilaku buruk seperti membenci sesama, enggan menerima nasihat, dan merasa dirinya selalu benar (Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, Juz 3, hlm. 343).
Bentuk-Bentuk Kesombongan di Zaman Sekarang
Kesombongan memiliki banyak bentuk. Tidak selalu tampak dalam kemewahan dan kekuasaan.
Pertama, sombong karena ilmu. Penyakit ini sering kali menimpa orang-orang berpendidikan atau mereka yang mendalami ilmu agama. Ia merasa pendapatnya paling benar dan sulit menerima pandangan orang lain. Bahkan, terkadang ia meremehkan orang yang dianggap kurang berilmu.
Kedua, sombong karena ibadah. Seseorang merasa dirinya lebih saleh dibandingkan orang lain karena banyak berzikir, rajin shalat malam, atau sering berpuasa sunnah. Akibatnya, ia mudah menghakimi dan mencela orang lain.
Ketiga, sombong karena harta dan jabatan. Bentuk ini paling mudah dikenal. Orang yang memiliki kekayaan atau kedudukan merasa dirinya lebih terhormat dibandingkan orang lain.
Keempat, sombong karena nasab dan keturunan. Seseorang mengesankan keluarga, suku, atau keturunannya lalu memandang rendah orang lain.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa kesombongan sering kali tumbuh secara halus sehingga tidak disadari oleh pelakunya. Oleh karena itu, seorang mukmin harus selalu melakukan muhasabah atau introspeksi diri (Jami'ul Ulum wal Hikam, hlm. 270).
Bahaya Kesombongan
Kesombongan merupakan penyakit hati yang memiliki dampak sangat besar bagi kehidupan seseorang.
Pertama, kesombongan dapat menghalangi seseorang menerima petunjuk Allah. Ketika hati dipenuhi rasa paling benar, seseorang akan sulit menerima nasihat dan kebenaran.
Kedua, kemarahan merusak hubungan sosial. Orang yang sombong biasanya sulit menghargai orang lain dan cenderung meremehkan sesamanya.
Ketiga, kesombongan menjadi sebab murka Allah. Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan puas diri.” (QS An-Nisa': 36)
Keempat, kesombongan dapat menghapus keberkahan ilmu dan amal. Banyak ulama yang mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan tawadhu justru dapat menjadi sebab kebinasaan pemiliknya.
Tawadhu' sebagai Obat Kesombongan
Lawan dari kesombongan adalah tawadhu' atau rendah hati. Tawadhu' bukan berarti menampilkan diri secara berlebihan, melainkan menempatkan diri secara proporsional di hadapan Allah dan sesama manusia.
Rasulullah ﷺ merupakan teladan tertinggi dalam sikap tawadhu'. Meskipun beliau adalah manusia paling mulia, beliau tetap duduk bersama fakir miskin, memenuhi undangan budak, dan membantu pekerjaan rumah tangga.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang menegaskan dirinya karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa tawadhu' dapat dibor dengan beberapa cara. Diantaranya adalah mengingat asal-usul penciptaan manusia, menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, menerima nasehat dari siapa pun, serta membiasakan diri menghargai orang lain.
Selain itu, seseorang hendaknya menyadari bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada harta, jabatan, atau popularitas, melainkan pada ketakwaan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat : 13)
Pelajaran Penting dari Hadis
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kecerahan seseorang tidak ditentukan oleh penampilan lahiriah. Islam tidak melarang umatnya berpakaian rapi, memiliki rumah yang baik, atau menikmati rezeki yang halal. Bahkan Allah mencintai keindahan.
Namun, semua itu harus disertai dengan kerendahan hati. Ketika seseorang mulai meremehkan orang lain atau menolak kebenaran karena ego dan gengsi, saat itulah benih kesombongan mulai tumbuh dalam hatinya.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya selalu berdoa agar terlindungi dari penyakit hati ini. Sebab kesombongan sering kali masuk secara perlahan dan tanpa disadari. Semakin tinggi ilmu, jabatan, dan kedudukan seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga hati agar tetap tawadhu'.
Penutup
Kesombongan adalah penyakit hati yang menjadi penghalang datangnya hidayah dan rahmat Allah. Rasulullah ﷺ mengartikan kesombongan sebagai sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Definisi ini menunjukkan bahwa kesombongan bukanlah masalah penampilan, melainkan persoalan hati.
Di tengah kehidupan modern yang sering mendorong manusia untuk kecewa pada diri sendiri, hadis ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati terletak pada ketakwaan dan kerendahan hati. Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin rendah hati pula sikapnya terhadap sesama manusia.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Manfaat. Aamiin
Referensi
Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, no. 91.
An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, Juz 2.
Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, Beirut: Dar al-Ma'rifah, Juz 3.
Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami'ul Ulum wal Hikam, Beirut: Muassasah ar-Risalah.
Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, Damaskus: Dar al-Fikr.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar