Jumat, 26 Juni 2026

KEMUNAFIKAN


Kemunafikan Zaman Now: Ketika Kata-kata Tidak Lagi Sejalan dengan Perbuatan

Oleh: Pengamat Dakwah


Ketika Ucapan Kehilangan Makna

Salah satu penyakit moral yang paling keras dikecam Al-Qur'an adalah ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan. Islam mengajarkan bahwa integritas merupakan ciri utama seorang mukmin. Sebaliknya, ketika seseorang gemar berbicara tentang kebaikan namun enggan mengamalkannya, ia telah membuka pintu menuju sifat kemunafikan.

Allah SWT berfirman:

«يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٢ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٣»

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff [61]: 2–3).¹

Ayat ini bukan hanya teguran kepada para pendakwah, pemimpin, atau tokoh masyarakat. Ia merupakan peringatan bagi setiap Muslim agar menjadikan amal sebagai bukti dari ucapan. Sebab, kejujuran tidak hanya diukur dari lisan, tetapi juga dari konsistensi tindakan.


Nabi Mengingatkan Datangnya Zaman Penuh Kepalsuan

Rasulullah SAW telah menggambarkan akan datang suatu masa ketika ukuran kebenaran menjadi kabur.

Beliau bersabda:

«سيأتي على الناس سنوات خداعات، يصدق فيها الكاذب، ويكذب فيها الصادق، ويؤتمن فيها الخائن، ويخوّن فيها الأمين، وينطق فيها الرويبضة...»

"Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya; pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang amanah dianggap pengkhianat, dan berbicaralah orang-orang bodoh mengenai urusan publik." (HR. Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Al-Albani).²

Hadis tersebut terasa sangat relevan dengan kehidupan modern. Arus informasi yang begitu cepat sering kali membuat kebohongan lebih mudah dipercaya daripada kebenaran. Popularitas kerap mengalahkan integritas, sementara pencitraan lebih dihargai daripada keteladanan.


Kemunafikan Dulu dan Sekarang

Pada masa Rasulullah SAW, kaum munafik memiliki motif politik dan kekuasaan. Tokoh seperti Abdullah bin Ubay bin Salul menampakkan keislaman demi mempertahankan pengaruh di tengah masyarakat Madinah. Mereka menyusup ke dalam barisan kaum Muslimin untuk melemahkan persatuan dari dalam.³

Kini bentuknya jauh lebih kompleks. Kemunafikan tidak selalu tampil dalam penolakan terhadap Islam secara terang-terangan, tetapi justru bersembunyi di balik simbol-simbol agama. Ada yang rajin menampilkan citra religius, namun tidak segan melakukan korupsi, manipulasi, menyebarkan fitnah, mengingkari janji, bahkan mengkhianati amanah.

Dalam dunia politik, agama terkadang dijadikan alat meraih suara. Dalam dunia bisnis, simbol kesalehan dipakai untuk membangun kepercayaan konsumen tanpa diiringi etika yang benar. Bahkan di media sosial, sebagian orang berlomba menampilkan kesalehan digital, tetapi kehidupan nyata justru bertolak belakang.


Mengapa Kemunafikan Modern Lebih Sulit Dikenali?

Jika pada masa Rasulullah SAW kemunafikan dapat diketahui melalui bimbingan wahyu, maka pada zaman sekarang manusia tidak memiliki kemampuan tersebut. Karena itu, Islam mengajarkan agar tidak mudah menghakimi hati seseorang, tetapi tetap waspada terhadap tanda-tanda lahiriah yang telah dijelaskan syariat.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penyakit hati sering kali tumbuh perlahan melalui kecintaan yang berlebihan kepada dunia, sehingga seseorang terbiasa menampilkan sesuatu yang berbeda dengan isi hatinya.⁴

Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS. Ash-Shaff ayat 2–3 juga menegaskan bahwa ayat ini merupakan celaan keras terhadap siapa saja yang menjanjikan kebaikan tetapi tidak melaksanakannya.⁵


Membangun Integritas

Al-Qur'an tidak hanya mengecam kemunafikan, tetapi juga menawarkan jalan keluarnya, yaitu kejujuran (ṣidq), amanah, dan kesesuaian antara ucapan dengan amal.

Masyarakat akan kembali sehat apabila para pemimpin menepati janji, para ulama mengamalkan ilmunya, para pedagang berlaku jujur, para pendidik menjadi teladan, dan setiap individu menjadikan Allah sebagai pengawas utama dalam seluruh aktivitasnya.

Pada akhirnya, kemunafikan bukan sekadar persoalan identitas agama, melainkan krisis integritas. Sebab, siapa pun dapat terjerumus ke dalamnya apabila lebih mencintai pujian manusia daripada penilaian Allah SWT.

Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari sifat-sifat munafik, menjadikan lisan kita sejalan dengan perbuatan, serta mengaruniakan keikhlasan dalam setiap amal. Aamiin.


Catatan Kaki

1. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Ash-Shaff [61]: 2–3.

2. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, No. 4036; Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Ibnu Majah, No. 3277.

3. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jilid 2; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Jilid 4.

4. Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Kitab Riyadhah an-Nafs.

5. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Ash-Shaff ayat 2–3.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman