Tasu'a, 'Asyura, Sedekah dan Pelajaran Besarnya bagi Kehidupan
Oleh: Pengamat Dakwah
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, bulan ini bukan sekadar penanda pergantian tahun, tetapi juga momentum memperbarui keimanan, memperkuat kepedulian sosial, dan memperbanyak amal saleh. Di antara amalan yang sangat dianjurkan Rasulullah ﷺ pada bulan ini adalah puasa Tasu'a (9 Muharram), puasa 'Asyura (10 Muharram), dan memperbanyak sedekah.
Amalan ketiga tersebut mengandung pelajaran besar yang relevan sepanjang zaman. Tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga melambangkan rasa syukur, kepedulian, perjuangan melawan kezaliman, dan optimisme terhadap pertolongan Allah SWT.
Muharram, Bulan yang Dimuliakan
Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah : 36)
Para mufasir seperti Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebajikan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan (Ath-Thabari, Jami' al-Bayan, Juz 14, hlm. 238).
Keutamaan Muharram juga ditegaskan Rasulullah ﷺ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram merupakan waktu yang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal saleh.
Jejak Nabi Musa dalam Puasa 'Asyura
Salah satu keistimewaan Muharram adalah adanya puasa 'Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut.
Mereka menjelaskan bahwa hari itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ
"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." (HR Bukhari)
Kemudian Rasulullah ﷺ berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menghormati seluruh nabi dan rasul. Nabi Musa bukan hanya milik Bani Israil, tetapi juga bagian dari mata rantai kenabian yang wajib diimani oleh umat Islam.
Lebih dari itu, kisah Musa dan Fir'aun adalah simbol abadi tentang kemenangan kebenaran atas kebatilan. Betapapun kuatnya kekuasaan yang zalim, pada akhirnya akan hancur di hadapan kehendak Allah SWT.
Mengapa Ada Puasa Tasu'a?
Pada akhir hayatnya, Rasulullah ﷺ berkeinginan menambah puasa tanggal 9 Muharram.
Beliau bersabda:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa puasa Tasu'a dilakukan untuk membedakan amalan umat Islam dari tradisi Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa sunnah yang paling utama adalah berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram secara bersamaan. Sebagian ulama bahkan meramalkan tanggal 11 Muharram sebagai penyempurna.
Di dalam Islam mengajarkan identitas dan karakter umat. Meneladani para nabi terdahulu tidak berarti kehilangan jati diri, namun tetap menjaga ciri khas syariat yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
Penghapus Dosa Setahun
Keutamaan puasa terbesar 'Asyura adalah sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)
Menurut Imam Al-Qurthubi, yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil yang terhapus karena amal saleh, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.
Oleh karena itu, puasa Asyura bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, namun juga momentum memperbaiki diri. Muharram menjadi kesempatan untuk menutup lembaran kesalahan masa lalu dan membuka lembaran baru yang lebih baik.
Sedekah, Pasangan Indah bagi Puasa
Jika puasa menguatkan hubungan seorang hamba dengan Allah, maka sedekah memperkuat hubungan dengan sesama manusia.
Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir.” (QS. Al-Baqarah : 261)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
"Sedekah janji dosa memenuhi air janji api." (HR Tirmidzi)
Para ulama salaf menjadikan Muharram sebagai momentum memperbanyak sedekah. Mereka memahami bahwa kecerahan waktu seharusnya diisi dengan amal yang lebih banyak dan lebih berkualitas.
Sedekah pada bulan Muharram bukanlah tradisi tanpa dasar, melainkan bagian dari semangat memperbanyak kebaikan pada bulan yang dimuliakan Allah SWT.
Pelajaran Besar dari Tasu'a, 'Asyura dan Sedekah
Pertama, bersyukur atas nikmat Allah. Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang diberikan Allah. Rasulullah ﷺ kemudian meneladaninya dan mengajarkan umatnya untuk melakukan hal yang sama.
Kedua, keyakinan bahwa kebenaran akan menang. Fir'aun memiliki kekuasaan, tentara, dan kekayaan, tetapi semua itu tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah. Sebaliknya, Nabi Musa yang tertindas justru memperoleh pertolongan dan kemenangan.
Ketiga, pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian. Kisah Musa mengajarkan bahwa pertolongan Allah sering datang setelah perjuangan panjang dan kesabaran yang mendalam.
Keempat, kepedulian sosial. Puasa yang benar akan melahirkan empati terhadap kaum lemah. Oleh karena itu, puasa dan sedekah adalah doa amalan yang saling melengkapi.
Kelima, muhasabah diri. Awal tahun Hijriah adalah waktu yang tepat untuk memulai perjalanan hidup, memperbaiki kesalahan, dan menyusun langkah-langkah yang lebih baik di masa depan.
Relevansi bagi Indonesia
Dalam konteks kehidupan bangsa, semangat Tasu'a dan 'Asyura sangat relevan. Indonesia membutuhkan masyarakat yang memiliki integritas seperti Nabi Musa, keberanian melawan kezaliman, kesabaran dalam menghadapi tantangan, dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Di tengah berbagai permasalahan ekonomi, sosial, dan moral, budaya sedekah menjadi salah satu solusi untuk memperkuat solidaritas masyarakat. Ketika orang-orang mampu membantu yang lemah, maka keselarasan sosial dapat diperkecil dan persatuan bangsa semakin kokoh.
Muharram mengajarkan bahwa kemajuan tidak hanya dibangun oleh kecerdasan dan kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Penutup
Puasa Tasu'a, puasa 'Asyura, dan sedekah merupakan amalan yang sarat makna. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang syukur, perjuangan, kesabaran, kepedulian sosial, dan optimisme terhadap pertolongan Allah SWT.
Momentum Muharram hendaknya tidak berlalu begitu saja. Ia harus menjadi titik awal hijrah pribadi menuju yang lebih bertakwa, keluarga yang lebih harmonis, masyarakat yang lebih peduli, dan bangsa yang lebih berkeadaban.
Sebab pada akhirnya, keberkahan hidup tidak hanya lahir dari banyaknya harta dan kekuasaan, tetapi dari kedekatan kepada Allah serta manfaat yang diberikan kepada sesama manusia. Wallāhu a'lam bi al-shawāb.
Manfaat. Aamiin



Tidak ada komentar:
Posting Komentar