Rabu, 26 November 2014

PERJALANAN ORANG SHALIH




PERJALANAN ORANG2 SHALIH ?


Nabi Ibrahim sa. juga pernah berdoa "ya Tuhanku berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang shaleh."(QS.as-Syu'ara:83).

Muqaddimah

Kata shaleh didapati dalam al-Qur'an sebanyak 117 kali. Sebagian menyatakan balasan bagi orang yang beriman dan beramal shaleh, dan sebagian lainnya berupa doa agar dimasukkan ke dalam orang-orang shaleh. Dalam QS. al-Hajj: 23 Allah menjanjikan surga bagi orang-orang shaleh. "Sungguh Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai."

Setiap muslim menginginkan menjadi hamba yang shaleh. Setelah berwudhuk kita juga dianjurkan berdoa "......waj'alnii min 'ibaadika al-shalihin." (dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hambaMu yang shaleh). Nabi Ibrahim sa. juga pernah berdoa "ya Tuhanku berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang shaleh."(QS.as-Syu'ara:83).

Pengertian orang shaleh disini, adalah orang yang memiliki ahklaq yang baik, berilmu, tawadhu, zuhud, wara’ dan santun kepada sesama.  Berteman dengan mereka akan jauh dari mencelakai diri dibanding berteman dengan orang yang bukan shaleh.

Namun demikian dalam pandangan Allah, orang shaleh tidak saja baik, namun mereka itu dicintai Allah karena kedekatan mereka kepadaNya. Dalam al Quran disebutkan :

Dan barang siapa yang mentaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shaleh dan mereka itu teman yang sebaik-baiknya (Annisa : 69)

Kriteria Orang Shalih

Allah menjelaskan kriteria orang shaleh sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran: 113-114, yaitu:

1.Orang yang berlaku lurus (memiliki karakter istiqamah) yaitu orang yang teguh pendirian, konsisten dan komitmen dalam meyakini dan melakukan kebenaran.

2.Senantiasa membaca ayat-ayat Allah baik qauliyah (al-Qur'an dan Hadits) maupun ayat-ayat kauniyah (alam semesta).

3.Mereka yang senantiasa sujud di keheningan malam.

4.Beriman kepada Allah dengan sebenarnya. Sehingga perbuatan dan tingkah lakunya dilandasi dengan taqwa. Taqwa menjadi alat kontrol dan stabilator dari berbagai kemaksiatan dan dosa.

5.Beriman kepada hari akhir.

6.Mengajak berbuat baik dan meninggalkan kejahatan.

7.Bersegera melakukan kegiatan positif.

Orang2 Shalih dalam Al-Qur’an

1.     Suami saleh: Ibrahim merupakan sososk suami saleh yang dikisahkan Al Qur’an. Selain sibuk berdakwah dengan segala kiatnya, ia juga sangat mencintaimkeluarganya. Karenanya, ketika ia harus meninggalkan Hajar, istrinya, ia pasrahkan istrinya kepada Allah. “Ya Tuhan kami, sesunggunya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak punya tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihor,ati.” (QS Ibrahim : 37).

2.     Wanita saleh: Maryam adalah sosok wanita saleh yang dikisahkan Al Qur’an. Wanita anak Imron itu selalu menjaga dirinya. Bahkan ia lantas menyepi ke daerah timur menjauhi keluarganya. Ia begitu kuat menjaga kesuciannya dan kehomatannya.

3.     Pemuda saleh: Ashabul kahfi, mereka pemuda yang lari dari kekejaman penguasa dizamannya, lantaran mempertahankan agama mereka, hidup dizaman yang penuh dengan kekafiran. Akhirnya mereka lari ke gua. Dan Allah menidurkan mereka.

4.     Anak saleh: Ismail putra Ibrahim, prestasi kesalehannya yang paling menonjol adalah sikapnya saat akan disembelih ayahnya. Sebuah ketegaran yang luar biasa. Kepasrahan kepada perintah Allah yang tiada terkira serta bakti kepada orang tua tercinta.

5.     Istri saleh: Istri Fir’aun, ia bagian dari keluarga Fir’aun tetapi bias menjadi wanita saleh. Ia juga berperan menyelamatkan Musa. Semua telah diaturoleh Allah SWT. Ia sangat berharap bias masuk surga , “ Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah disisi Mu dalam surga dan selamatkan aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.’ (QS At Tahrim: 11).

6.     Penguasa saleh: Sulaiman. Tak orang yan punya kekuasaan seperti Sulaiman, bahkan sampai kapanpun. Tetapi kekuasaannya itu justru tambah membuatnya semakin saleh.  Bukan sebaliknya. Ia berkata,”Ini adalah karunia Rabbku, untuk menguji apakah aku bersyukur atau ingkar”. (QS An Naml: 40).

7.     Pejabat saleh: Yusuf, ia memimpin jabatan yang ‘basah’, tapi tidak terfitnah. Dua hal yang menonjol dari sikap Yusuf, pertama ia berdiri atas nama dirinya sendiri. Tidak dipengaruhi kepentingan orang lain, apalagi yang kotor. Kedua, ia bekerja professional, tidak karena kepentingan dan ambisis politiknya.

8.     Militer saleh: Thalut, ia diangkat jadi panglima perang padahal sebelumnya tidak terlalu dikenal, apalagi dikenal kaya. Bani Israil protes. Tapi karena kesalehannya, ilmu dan kekuatan fisiknya, Allah memilihnya. (QS Al Baqorah: 247).

9.     Ilmuwan saleh: Dzul-Qarnain, terkenal pandai dizamannya. Ia membawa ilmu baru yang belum dikenal oleh penduduk yang tingga diantara dua buah gunung. Saat itu ada dua bangsa, Ya’juj dan Ma’juj, yang suka membuat kerusakan dimuka bumi. Denagn izin Allah Dzul-Qarnaian mampu menumpas mereka dengan ilmu dan keahliannya membuat benteng besi dan tembaga.

Keistimewaan Orang Shalih

Dari Abu Said Al Khudri, bahwa Rasulullah saw, bersabda: Takutlah terhadap firasah seorang mukmin, sebab ia melihat dengan cahaya Allah, kemudian membaca ayat Inna fi dzalika li ayatin lilmutawassimin (HR Tirmidzi).

Keistimewaan seorang mukmin yang shaleh adalah  mengacu pada ayat Allah :

Firman Allah: Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman (Al Anam : 125)

Diantara orang shaleh dapat terjalin komunikasi dan berinteraksi secara batin sesuai doa yang dipanjatkan umat Islam kepada mereka. Dalam shalat doa ini dilakukan saat Tahiyat dengan mengucapkan salam kepada Nabi Saw, kepada diri kita, kepada hamba-hamba Allah yang shaleh.

Dari Abdullah, ia mengatakan : Kami dulu mengatakan dalam shalat di belakang Nabi Saw. “Salam kepada Allah, salam kepada fulan, maka bersabda Rasulullah Saw suatu hari : Sesungguhnya Allah itu Assalam, maka jika seseorang diantara kamu duduk dalam shalat hendaklah mengatakan: Segala penghormatan milik Allah, juga shalawat dan kebaikan, salam atasmu wahai Nabi serta rahmat Allah dan barakahNya, salam atas kami semua dan atas hamba-hamba Allah yang shaleh (HR Muslim)

Balasan Orang Shalih

Al-Quran menggambarkan  bermacam pahala bagi orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh. Bermacam  pahala tersebut digambarkan dengan peristilahan  seperti : pahala yang besar, pahala yang mulia, pahala yang tidak pernah putus, dan pahala yang baik.

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (surat : Al-Maidah Ayat : 9)

“kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (surat : Huud Ayat : 11)

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (Al-Hadiid Ayat : 11)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.” (Fushshilat Ayat : 8)

…… Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik….. (surat : Al-Fat-h Ayat : 16)

JAKARTA 26/11/2014
READ MORE - PERJALANAN ORANG SHALIH

Kamis, 20 November 2014

TOMBO ATI KE 3




BERTEMAN DENGAN ORANG2 SHALIH ?


”Dan sungguh Kami telah (putuskan untuk) memuliakan Bani Adam, dan telah Kami kerahkan untuk mereka apa yang ada di darat dan di laut, serta telah Kami berikan kepada mereka rezeki yang halal lagi baik (thayyibat), dan telah Kami unggulkan mereka di atas makhluk-makhluk Kami lainnya yang banyak” (QS. Al Isra: 70)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abdullah bin Amr al-Ash radhiyallahu’anhuma, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu itu secara tiba-tiba -dari dada manusia- akan tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan cara mewafatkan para ulama. Sampai-sampai apabila tidak tersisa lagi orang alim maka orang-orang pun mengangkat pemimpin-pemimpin dari kalangan orang yang bodoh. Mereka pun ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka itu sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-’Ilm [100] dan Muslim dalam Kitab al-’Ilm [2673])

Muqaddimah

Allah berfirman: “hai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu” (QS. At-Tahrim: 6)

Bercermin pada Rasul SAW, agar bisa menjadi pemimpin keluarga yang berhasil, orang tua harus mampu menjadi teladan. Keteladanan orang tua memiliki pengaruh sangat besar bagi perkembangan kepribadian anak-anaknya. Seorang anak yang lahir, tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang temperamental, pada umumnya ketika dewasa ia pun akan menjadi sosok yang mudah meledak-meledak, gampang marah dan sulit mengendalikan emosi. Berbeda dengan, anak-anak yang lahir, tumbuh dan di besarkan dalam lingkungan keluarga yang dipenuhi kelemahlembutan, saat dewasa ia pun akan menjadi pribadi yang penyabar, penuh cinta kasih dan mudah memaafkan. Karena, anak-anak belajar (terutama) dari apa yang ia lihat.

Di samping keteladanan, seorang pemimpin yang baik harus memiliki kesabaran. Sabar, bukan berarti, sebagai pemimpin, orang tua diam saja melihat penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan anak-anaknya. Tetapi, sabar berarti, memilih sikap yang paling bijak dan metode yang paling tepat dalam melakukan perbaikan. Rasul SAW mengajari kita bagaimana memberi nasihat yang baik, antara lain, memilih waktu yang tepat, seperti pada waktu makan, ketika di atas kendaraan, dan saat sedang sakit. Dan juga, agar tidak terlalu sering dalam memberi nasihat.

Di samping keteladanan, seorang pemimpin yang baik harus memiliki kesabaran. Sabar berarti, memilih sikap yang paling bijak dan metode yang paling tepat dalam melakukan perbaikan. Rasulullah saw adalah seorang pemimpin yang banyak memberikan teladan dan sangat sabar dalam memimpin keluarga dan dekat dengan fakir-miskin serta banyak sahabat yang menimba ilmu darinya.

Para sahabat hidupnya mulia disisi Allah swt dengan banyak belajar dari Rasulullah saw dan mengamalkan ilmunya dengan penuh keikhlasan. Mereka tawadhu’ dengan ilmunya, mereka dermawan dengan hartanya, mereka sungguh2 berjihad di jalan Allah swt sepanjang hidupnya. Oleh karenanya, bertemanlah dengan orang2 yang shalih, dalam ilmunya, mengamalkan ilmunya dan sangat takut kepada Allah swt.

Belajar dengan orang2 yang berilmu

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Abud Darda’radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh keutamaan seorang ahli ilmu di atas ahli ibadah adalah laksana keutamaan bulan purnama di atas seluruh bintang-gemintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris nabi-nabi. Sedangkan para nabi tidak mewariskan uang dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu itu niscaya dia memperoleh jatah warisan yang sangat banyak.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 22)

Ibnu Wahb meriwayatkan dari Imam Malik. Imam Malik berkata: Aku mendengar Zaid bin Aslam -gurunya- menafsirkan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Kami akan mengangkat kedudukan orang-orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf: 76). Beliau berkata, “Yaitu dengan ilmu.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/133], Umdat al-Qari [2/5], dan Fath al-Bari [1/172])

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Mujahid mengenai makna firman Allah (yang artinya), “Allah berikan hikmah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.”Mujahid menafsirkan, “Yaitu ilmu dan fikih/pemahaman.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 19)

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Mujahid tentang maksud firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan ulil amri di antara kalian.” Beliau menjelaskan,“Yaitu para fuqoha’ dan ulama.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 21)

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Hasan, bahwa Abud Darda’radhiyallahu’anhu berkata, “Perumpamaan para ulama di tengah-tengah umat manusia bagaikan bintang-bintang di langit yang menjadi penunjuk arah bagi manusia.” (lihatAkhlaq al-’Ulama, hal. 29)

Imam al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbasradhiyallahu’anhuma, beliau mengatakan, “Seorang pengajar kebaikan dan orang yang mempelajarinya dimintakan ampunan oleh segala sesuatu, sampai ikan di dalam lautan sekalipun.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 43-44)

Faktor Kemuliaan Manusia

1.Pada aspek jalan kemuliaan, manusia telah diberi seperangkat petunjuk (hidayah), yang membimbingnya untuk maju tetapi menghindarkannya dari kesalahan dan penyimpangan. Dia menganugerahkan petunjuk instink agar anak manusia sejak dini dapat memilih yang baik, didukung dengan petunjuk indera sehingga dapat mengamati mana yang berguna dan yang berbahaya, lalu diperkuat dengan petunjuk akal agar dapat mempertimbangkan pilihan yang benar, kemudian dikaruniakannya petunjuk Dinul Islam untuk mengoreksi kelemahan instink, indera dan akal, dan memastikan jalan kemuliaan yang harus ditempuh. Sehingga manusia makin taqarrub kepada Allah dan terhindar dari kemerosotan (deklinasi) kepada “asfala safilin” (QS. Attin: 5), dan iman – amal shalihnyapun terus ditingkatkan.

2.Sisi lain dari faktor kemuliaan manusia, seperti ditulis Sayid Quthub, adalah ri’ayatullah subhanahu wa ta’ala setelah manusia menerima tugas khilafah di muka bumi. Allah memberi waktu yang cukup bagi manusia untuk mengumpulkan prestasi amal shalihnya, dan untuk mengoreksi kekeliruannya dari waktu ke waktu. Dengan kekuatan wa’yu (kesadaran) yang ada dalam dhamir (hati kecil)nya, keikhlasan saling menasehati antar sesama Muslim dan muhlah (kesempatan) yang selalu disediakan Allah, mereka bukan saja mampu kembali ke jalan yang benar (the right track), tetapi dapat meningkatkan prestasi kebajikan.

Orang2 yang dimuliakan

Kemuliaan adalah nikmat. Maka Allah juga akan memilih orang yang pantas untuk mendapat kemuliaan itu. Ada beberapa karateristik orang-orang yang Allah pilih untuk mendapat kemuliaan itu, diantaranya:

1. Rendah Hati (Tidak Sombong)

Ciri-cirinya adalah tidak merendahkan orang lain, tidak menghina orang lain dan berkata baik. Ini hanya bisa dimiliki oleh orang-orang shalih dan beriman. Maka ketika kita ingin mendapat kemuliaan harus bersifat rendah hati.

2. Membiasakan Tahajud

Menjadikan Tahajud sebagai ibadah khusus. Karena ada perbedaan orang yang selalu tahajud dengan yang tidak biasa menjalankannya.

3. Berdoa agar Allah menjauhkan azab dan memohon ampun.

4. Tidak membelanjakan hartanya secara berlebihan. Dalam hal ini, kita harus sederhana, tidak boleh kikir, dan mampu memenuhi kebutuhan diri. Serta rajin bersedekah.

Harus diketahui bahwa harta kita yang sebenarnya adalah harta yang diberikan di jalan Allah. Maka, mari kita biasakan untuk bersedekah.

6. Tidak menyembah Tuhan selain Allah. Dalam hal ini, kita harus menjauhkan diri dari perbuatan syirik, zina dan tidak membunuh. Orang yang melakukan syirik,berzina akan diberi azab oleh Allah kecuali orang yang bertobat.

7. Mengerjakan amal sholeh

8. Tidak memberikan persaksian palsu

9. Tidak bersikap seperti orang yang tuli dan buta ketika diberi peringatan atau teguran dengan ayat-ayat-Nya

10. Bersabar untuk mendapatkan surga, diiringi dengan doa.

Jakarta 20/11/2014
READ MORE - TOMBO ATI KE 3

Rabu, 19 November 2014

TOMBO ATI KE 2




MEMBIASAKAN SHALAT MALAM ?



يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ.

"Wahai 'Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, sekarang dia meninggal-kan shalat malam." (HR.Mutafaqun alaih)


إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَـا -أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا- كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ.

“Jika seorang laki-laki membangunkan isterinya di malam hari, lalu keduanya shalat -atau shalat dua raka’at secara berjama’ah-, niscaya Allah mencatat keduanya sebagai para hamba laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah." (HR Ibnu Majah; Abu Dawud)

Muqaddimah

Setiap Muslim seharusnya memiliki keinginan kuat untuk melaksanakan shalat Tahajud setiap malam hingga menjadi terbiasa. Orang-orang saleh zaman dahulu tekun menjalankannya, baik pada musin panas maupun dingin. Mereka memandang seolah-olah shalat Tahajud itu adalah sesuatu yang wajib (HR Tirmidzi).

Jika terlewatkan sekali saja, mereka menganggap itu sebagai musibah yang besar. Pastinya, selain sebagai ‘mesin keimanan’, Tahajud memberikan banyak manfaat besar dalam kehidupan mereka yang istiqamah menjalankannya.

Di antaranya, pertama, untuk menjaga kesehatan. Tidak diragukan lagi, shalat Tahajud menjadi terapi pengobatan terbaik dari berbagai macam penyakit. Karena itu, orang-orang yang membiasakan diri untuk Tahajud akan memiliki daya tahan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit.

Rasulullah SAW bersabda, "Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala macam penyakit dari tubuh." (HR Tirmidzi).

Keajaiban Shalat Tahajud

1. Shalat Tahajud sebagai tiket masuk surga …

Abdullah Ibn Muslin berkata “kalimat yang pertama kali ku dengar dari Rasulullah Saw saat itu adalah, “Hai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, bagikanlah makanan, sambunglah silaturahmi, tegakkan lah shalat malam saat manusia lainnya sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah).

2. Amal yang menolong di akhirat …

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, seraya mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka. Sebelumnya mereka adalah telah berbuat baik sebelumnya (di dunia), mereka adalah orang-orang yang sedikit tidurnya di waktu malam dan di akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah).” (QS. Az Zariyat: 15-18)

3. Pembersih penyakit hati dan jasmani …

Salman Al Farisi berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Dirikanlah shalat malam, karena sesungguhnya shalat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, (shalat malam dapat) mendekatkan kamu kepada tuhanmu, (shalat malam adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa, dan menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh.” (HR. Ahmad)

4. Sarana meraih kemuliaan …

Rasulullah Saw bersabda, “Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati, cintailah orang yang engkau suka, karena engkau akan berpisah dengannya, lakukanlah apa keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya, ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang muslim adalah shalat waktu malam dan ketidakbutuhannya di muliakan orang lain.” (HR. Al Baihaqi)

5. Jalan mendapatkan rahmat Allah …

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam, lalu melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya. Jika sang istri menolak, ia memercikkan air di wajahnya. Juga, merahmati perempuan yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya. Jika sang suami menolak, ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Abu Daud)

6. Sarana Pengabulan permohonan

“Dari Jabir berkata, bahwa nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya di malam hari , ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, Itu berlangsung setiap malam.” (HR. Muslim)

7. Penghapus dosa dan kesalahan …

Dari Abu Umamah al-Bahili berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Lakukanlah Qiyamul Lail, karena itu kebiasaan orang saleh sebelum kalian, bentuk taqarub, penghapus dosa, dan penghalang berbuat salah.” (HR. At-Tirmidzi)

8. Jalan mendapat tempat yang terpuji …

Allah berfirman,

“Dan pada sebagian malam bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’:79)

9. Pelepas ikatan setan …

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setan akan mengikat kepala seseorang yang sedang tidur dengan ikatan, menyebabkan kamu tidur dengan cukup lama. Apabila seseorang itu bangkit seraya menyebut nama Allah, maka terlepaslah ikatan pertama, apabila ia berwudhu maka akan terbukalah ikatan kedua, apabila di shalat akan terbukalah ikatan semuanya. Dia juga akan merasa bersemangat dan ketenangan jiwa, jika tidak maka dia akan malas dan kekusutan jiwa.”

10. Waktu utama untuk berdoa …

Amru Ibn ‘Abasah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah! Malam apakah yang paling di dengar?”, Rasulullah Saw menjawab, “Tengah malam terakhir, maka shalat lah sebanyak yang engkau inginkan, sesungguhnya shalat waktu tersebut adalah maktubah masyudah (waktu yang apabila bermunajat maka Allah menyaksikannya dan apabila berdoa maka didengar doanya)” (HR. Abu Daud)

11. Meraih kesehatan jasmani …

“Hendaklah kalian bangun malam. Sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Wahana pendekatan diri pada Allah Swt, penghapus dosa, dan pengusir penyakit dari dalam tubuh.” (HR. At-Tarmidzi)

12. Penjaga kesehatan rohani

Allah Berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melewati malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64)

Manfaat Shalat Tahajud

Di antaranya, pertama, untuk menjaga kesehatan. Tidak diragukan lagi, shalat Tahajud menjadi terapi pengobatan terbaik dari berbagai macam penyakit. Karena itu, orang-orang yang membiasakan diri untuk Tahajud akan memiliki daya tahan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit.

Rasulullah SAW bersabda, "Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala macam penyakit dari tubuh." (HR Tirmidzi).

Kedua, menjaga ketampanan atau kecantikan.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang banyak menunaikan shalat malam, maka wajahnya akan terlihat tampan atau cantik di siang harinya.” (HR Ibnu Majah).

Ketiga, shalat Tahajud juga diyakini dapat meningkatkan produktivitas kerja yang berbasis spiritualitas.

Rasulullah SAW bersabda, "Setan membuat ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan tiga ikatan dan setiap kali memasang ikatan dia berkata: ‘Malam masih panjang, maka tidurlah.’ Jika orang tadi bangun lalu berzikir kepada Allah SWT, terlepas satu ikatan. Jika dia berwudhu, terlepas satu ikatan yang lainnya. Dan jika dia melaksanakan shalat, terlepas semua ikatannya. Pada akhirnya, dia akan menjadi segar (produktif) dengan jiwa yang bersih. Jika tidak, dia akan bangun dengan jiwa yang kotor yang diliputi rasa malas.” (HR Bukhari).

Keempat, mempercepat tercapainya cita-cita dan rasa aman.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu dan melakukan shalat. Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, 'Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?' Mereka menjawab, 'Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu.'” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan (cita-citakan) dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR Ahmad).

Perjuangan Para Ulama dalam Shalat Tahajud

Tsabit Al Banani berkata, “Saya merasakan kesulitan untuk shalat malam selama 20 tahun dan saya akhirnya menikmatinya 20 tahun setelah itu. Jadi total beliau membiasakan shalat malam selama 40 tahun. Ini berarti shalat malam itu butuh usaha, kerja keras dan kesabaran agar seseorang terbiasa mengerjakannya.

‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Satu raka’at shalat malam itu lebih baik dari sepuluh rakaat shalat di siang hari.”

Al-Hasan berkata: Bersungguh-sunnguhlah (untuk beribadah) pada waktu malam dan perpanjanglah shalat kalian sehingga waktu menjelang pagi, kemudian duduklah untuk berdo’a, merendahkan diri (di hadapan Allah) dan beristigfar

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Barangsiapa yang shalat malam sebanyak dua raka’at maka ia dianggap telah bermalam karena Allah Ta’ala dengan sujud dan berdiri.” (Disebutkan oleh An Nawawi dalam At Tibyan 95)

Ada yang berkata pada Al Hasan Al Bashri , “Begitu menakjubkan orang yang shalat malam sehingga wajahnya nampak begitu indah dari lainnya.” Al Hasan berkata, “Karena mereka selalu bersendirian dengan Ar Rahman -Allah Ta’ala-. Jadinya Allah menghadiahkan sebagian dari cahaya-Nya pada mereka.”

Abu Sulaiman AD Darani berkata: “ahli ibadah melewati malamnya lebih lezat dari para pencari kenikmatan duniawi, kalau tidak karena Shalat malam maka aku bosan tinggal di dunia”

Ada yang berkata pada Ibnu Mas’ud, “Kami tidaklah sanggup mengerjakan shalat malam.” Beliau lantas menjawab, “Yang membuat kalian sulit karena dosa yang kalian perbuat.”

Lukman berkata pada anaknya, “Wahai anakku, jangan sampai suara ayam berkokok mengalahkan kalian. Suara ayam tersebut sebenarnya ingin menyeru kalian untuk bangun di waktu sahur, namun sayangnya kalian lebih senang terlelap tidur.” (Al Jaami’ li Ahkamil quran)”

Ibnu Abbas berkata: “barangsiapa yang ingin dimudahkan oleh Allah dari lamanya berdiri pada hari kiamat maka hendaklah dia terlihat oleh Allah dalam keadaan sujud dan berdiri di kegelapan malam takut akan akhirat dan berharap rahmat Allah”

Saat kematian mendatangi Ibnu Umar, beliau berkata: “saya tidak sedih meninggalkan urusan  dunia ini kecuali rasa haus dalam hijrah dan nikmatnya Shalat malam”

Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “Hanya karena satu dosa, aku kehilangan sholat malam selama lima bulan.” Ia ditanya,”apa dosa tersebut?” Ia menjawab,”Ketika aku melihat orang yang menangis, aku berkata dalam hatiku, ‘orang ini menangis karena ingin dipuji oleh orang lain.”

Atha’ ibn Abi Rabah berkata “Sesungguhnya qiyamul lail itu menghidupkan badan, menerangi hati, membuat air muka bercahaya serta menguatkan penglihatan dan anggota badan, seseorang apabila melaksanakan qiyamul lail akan merasakan kegembiraan dan apabila terlewat qiyamul lailnya maka ia akan merasa sangat sedih seakan-akan ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga “ (Al-bidayah wa Nihayah 9/294).

Inilah yang dianjurkan oleh Imam Muhammad bin Sirrin “Hendaklah kalian laksanakan qiyamul lail walaupun hanya sesusuan sapi.” (Azzuhud : 306).

Kecintaan mereka kepada qiyamul lail sampai menjadikan mereka merasa sangat sedih apabila malam pergi dan siang datang. Imam Sufyan Atsauri berkata “apabila datang waktu malam aku sangat bahagia dan apabila datang waktu siang aku sangat sedih” (Al-Jarh Wa Ta’dil 1/85).

Abu Yazid memberitakan tentang keadaan Imam Sufyan Atsauri “bahwa apabila datang waktu pagi beliau meluruskan kakinya ke atas tembok dan meletakan kepalanya ke tanah agar darah kembali ke posisinya semula karena qiyamul lailnya yang begitu panjang” (Al-Jarh Wa Ta’dil 1/95).

Karena semangatnya dalam melaksanakan ibadah ini, mereka jadikan ini sebagai pesan utama dari generasi ke generasi. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin Qurrah bahwa apabila selesai melaksanakan shalat isya’ ayahnya berpesan kepada anak-anaknya “Wahai anak-anakku segeralah kalian tidur mudah-mudahan Allah SWT mengaruniakan kalian kebaikan (Qiyamul Lail)” (Az zuhud imam Ahmad 187).

Dari Utsman bin Hukaim, dia bekata, “aku pernah mendengar Sa’id bin Musayyib berkata, ‘selama 30 tahun, setiap kali para muadzin mengumandangkan adzan, pasti aku sudah berada di masjid.” JAKARTA 19/11/2014


READ MORE - TOMBO ATI KE 2
 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman