Thariqah Para Habaib Perspektif Ulama Tasawuf
Oleh: Pengamat Dakwah
Pendahuluan
Dalam sejarah Islam, para Habaib (jamak dari Habib), yaitu keturunan Rasulullah ﷺ melalui Sayyidina Hasan dan Husain ra, memiliki peran penting dalam penyebaran Islam, khususnya di Yaman, Hadramaut, Afrika Timur, India, hingga Nusantara. Selain dikenal sebagai ahli dakwah, banyak di antara mereka yang merupakan ulama tasawuf yang mengembangkan pendidikan ruhani melalui thariqah.
Thariqah bukanlah agama baru, melainkan metode pembinaan akhlak dan penyucian jiwa agar seorang muslim semakin dekat kepada Allah SWT.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan tasawuf adalah membersihkan hati dari penyakit batin sehingga tercapai maqam ihsan (Al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din).
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya." (QS. Al-Ma'idah [5]: 35).
Ayat ini menjadi salah satu dasar penting dalam pendidikan ruhani melalui pembimbing yang saleh (Ibnu Katsir, 2004).
Pengertian Thariqah
Dalam bahasa Indonesia, thariqah berarti jalan atau metode.
Menurut Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya'rani, thariqah adalah jalan yang ditempuh seorang hamba untuk mencapai ma'rifat kepada Allah melalui bimbingan seorang guru yang memiliki sanad ruhani yang bersambung kepada Rasulullah ﷺ (Asy-Sya'rani, 1998).
Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa tasawuf dan thariqah bertujuan menumbuhkan keikhlasan serta akhlak mulia, bukan meninggalkan syariat (Shihab, 2002).
Para Habaib dan Tradisi Tasawuf
Mayoritas Habaib Hadramaut berasal dari keluarga Ba'Alawi, keturunan Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir.
Beliau hijrah dari Irak menuju Hadramaut pada abad ke-10 M demi menjaga akidah keluarganya.
Dari keturunan beliau lahirlah banyak wali dan ulama besar seperti:
- Imam Abdullah al-Haddad
- Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad
- Imam Ali al-Habsyi
- Habib Abdullah bin Husain bin Thahir
- Habib Umar bin Hafidz
- Habib Ali al-Jufri
- Habib Zein bin Smith
- Habib Luthfi bin Yahya
- Mereka dikenal sebagai ulama yang menggabungkan ilmu fikih, hadis, akhlak, dan tasawuf (Azyumardi Azra, 2004).
Nama-Nama Thariqah yang Banyak Dianut Para Habaib
1. Thariqah Ba'Alawiyah
Merupakan thariqah paling terkenal di kalangan Habaib Hadramaut.
Pendiri sistem pendidikannya adalah Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba'Alawi.
Ciri-cirinya:
- tekan akhlak;
- memperbanyak dzikir;
- mengikuti mazhab Syafi'i;
- Mencintai Rasulullah;
- berdakwah dengan halus;
- Tidak berlebihan dalam khalwat.
Menurut Habib Abdullah al-Haddad, jalan menuju Allah dibangun di atas ilmu, amal, ikhlas, sabar, dan kasih sayang (Al-Haddad, Risalah al-Mu'awanah).
2. Thariqah Alawiyyah
Sering disebut juga thariqah Sadah Alawiyyin.
Amalan pokoknya:
- Ratib al-Haddad
- Ratib al-Attas
- Wird al-Latif
- Maulid Simtud Durar
- Maulid ad-Diba'i
- membaca Al-Qur'an
- shalawat.
3. Thariqah Qadiriyah
Sebagian Habaib juga memperoleh ijazah Thariqah Qadiriyah yang bersambung kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
Ajarannya menekankan:
tawakal;
zuhud;
istiqamah;
memperbanyak dzikir.
4. Thariqah Syadziliyah
Sebagian besar ulama Ba’Alawi memiliki sanad Syadziliyah.
Pokok ajarannya adalah:
dzikir;
syukur;
tidak meninggalkan pekerjaan dunia;
tetap aktif berdakwah.
(Imam Abu Hasan asy-Syadzili).
5. Thariqah Naqsyabandiyah
Di Indonesia beberapa Habaib memperoleh sanad Naqsyabandiyah melalui para masyayikh Nusantara.
Cirinya:
dzikir khafi (diam);
muraqabah;
rabitah;
muhasabah.
Ajaran Pokok Thariqah Para Habaib
Hampir seluruh Habaib mengajarkan lima dasar utama.
Pertama: Berpegang Teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah
Imam Abdullah al-Haddad berkata:
“Tidak ada jalan menuju Allah kecuali mengikuti Nabi Muhammad.”
(Al-Haddad, 2003).
Kedua: Memperbaiki Akhlak
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
(HR. Ahmad).
Akhlak merupakan inti perjalanan seorang salik.
Ketiga: Memperbanyak Dzikir
Allah berfirman:
“Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kamu.”
(QS. Al-Baqarah: 152).
Dzikir menjadi amalan utama dalam seluruh thariqah.
Keempat: Mahabbah kepada Rasulullah ﷺ
Seluruh Habaib menjadikan Cinta Rasul sebagai pusat pendidikan ruhani.
Hal ini tampak dalam tradisi:
maulid;
shalawat;
ziarah;
Pengumusan sirah Nabi.
Kelima: Dakwah Bil Hikmah
Habib-habib Hadramaut terkenal menyebarkan Islam tanpa peperangan.
Mereka berdagang, mendidik, menikah dengan masyarakat setempat, serta memberi teladan akhlak.
(Azyumardi Azra, 2004).
Fadhilah mengikuti Pembinaan Thariqah
Menurut Imam Nawawi, dzikir yang dilakukan secara istiqamah dapat membersihkan hati dari kelalaian (An-Nawawi, Al-Adzkar).
Beberapa keutamaannya:
hati menjadi tenang;
semakin ikhlas;
memperbanyak taubat;
Mencintai Al-Qur'an;
memperbaiki akhlak;
istiqamah dalam ibadah;
mempererat ukhuwah.
Namun para ulama menegaskan bahwa keutamaan tersebut diperoleh apabila thariqah tetap berada dalam koridor syariat.
Pandangan Ulama Nusantara
Syekh Nawawi al-Bantani
Beliau menegaskan bahwa tasawuf harus selalu berjalan bersama fikih sehingga ibadah lahir dan batin menjadi sempurna (Nawawi al-Bantani, Nashaih al-'Ibad).
Hamka
Hamka menjelaskan bahwa tasawuf yang benar adalah tasawuf yang melahirkan semangat bekerja, bukan meninggalkan kehidupan dunia (Tasawuf Modern, 1983).
Profesor Quraish Shihab
Beliau menyatakan bahwa tasawuf merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui penyucian hati, selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah (Shihab, 2002).
Habib Luthfi bin Yahya
Beliau mengajarkan pentingnya sanad keilmuan, cinta tanah air, menjaga persatuan umat, dan memperbanyak shalawat sebagai bagian dari pendidikan ruhani.
Hikmah Thariqah Para Habaib
Beberapa hikmah yang dapat dipetik antara lain:
- Membentuk pribadi yang berakhlak mulia.
- Menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
- Menjadikan dzikir sebagai kebutuhan ruhani.
- Menjaga kesinambungan sanad ilmu.
- Menyatukan dakwah, ilmu, dan pelayanan kepada masyarakat.
- Menanamkan sikap tawadhu' dan kasih sayang.
- Menghindarkan umat dari sikap ekstrem dan fanatisme berlebihan.
Penutup
Thariqah yang diamalkan oleh banyak Habaib, terutama Thariqah Ba'Alawiyah, merupakan jalan pembinaan ruhani yang dihilangkan pada Al-Qur'an, Sunnah, dan akhlak Rasulullah ﷺ. Inti ajarannya bukan sekedar wirid dan dzikir, melainkan penyucian hati, penguatan ilmu, pengamalan syariat, serta pengabdian kepada masyarakat. Para ulama tasawuf, baik klasik maupun nusantara, menegaskan bahwa thariqah yang benar adalah yang memperkuat keimanan, memperindah akhlak, dan tetap berada dalam bingkai syariat Islam.
Daftar Pustaka
Al-Ghazali. Ihya' Ulum al-Din.
Abdullah al-Haddad. Risalah al-Mu'awanah.
Abdullah al-Haddad. An-Nasha'ih ad-Diniyyah.
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim.
An-Nawawi. Al-Adzkar.
Asy-Sya'rani. Al-Anwar al-Qudsiyyah.
Hamka. Tasawuf Modern.
M.Quraish Shihab. Membumikan Al-Qur'an.
M.Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an.
Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara.
Nawawi al-Bantani. Nashaih al-'Ibad.
.jpeg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar