Perintah Sujud dan Mendekat kepada Allah
Oleh: Ustadz Umar Fauzi
Pendahuluan
Sujud merupakan puncak ketundukan seorang hamba kepada Allah Swt. Dalam sujud, manusia meletakkan bagian tubuh yang paling mulia—wajah—ke tanah sebagai simbol kerendahan diri di hadapan Sang Pencipta. Karena itu, Al-Qur'an menjadikan sujud bukan sekadar gerakan fisik, tetapi jalan untuk meraih kedekatan spiritual dengan Allah.
Allah Swt. berfirman:
«كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ»
"Sekali-kali janganlah engkau patuh kepadanya, tetapi sujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah." (QS. Al-'Alaq [96]: 19).
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ»
"Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa ketika sujud." (HR. Muslim).
Ayat dan hadis tersebut menunjukkan bahwa sujud adalah sarana paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memperoleh rahmat dan ampunan-Nya.
Tafsir dan Pandangan Ulama Nusantara
Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa perintah "wasjud waqtarib" mengandung makna bahwa semakin tulus seorang hamba bersujud, semakin dekat ia kepada Allah dalam arti memperoleh kasih sayang, pertolongan, dan bimbingan-Nya. Kedekatan ini bukan kedekatan tempat, melainkan kedekatan rahmat dan spiritual (Shihab, 2002).
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menerangkan bahwa sujud adalah bentuk pembebasan manusia dari kesombongan. Orang yang membiasakan sujud akan memiliki hati yang lembut, rendah hati, serta tidak mudah diperbudak oleh hawa nafsu maupun kekuasaan manusia (Hamka, 1982).
Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa sujud merupakan manifestasi ubudiyah yang sempurna. Ketika seorang mukmin merendahkan dirinya di hadapan Allah, pada saat itu Allah meninggikan derajatnya di sisi-Nya (Nawawi al-Bantani, Marah Labid).
Abdurrauf as-Singkili juga menegaskan bahwa kedekatan kepada Allah dicapai melalui ibadah yang ikhlas, khususnya shalat yang khusyuk. Sujud menjadi pintu bagi hadirnya ketenangan hati (thuma'ninah) dan penyucian jiwa (as-Singkili, Tarjuman al-Mustafid).
Hikmah Perintah Sujud
Perintah sujud mengandung banyak hikmah. Pertama, menguatkan tauhid karena hanya Allah yang berhak disembah. Kedua, membersihkan hati dari kesombongan. Ketiga, menghadirkan ketenangan batin di tengah berbagai ujian kehidupan. Keempat, menjadi sarana terkabulnya doa karena sujud merupakan waktu yang paling dekat antara hamba dan Tuhannya. Kelima, membentuk akhlak yang rendah hati, sabar, dan bersyukur.
Balasan bagi Orang yang Gemar Bersujud
Al-Qur'an dan hadis menjelaskan berbagai balasan bagi orang yang memperbanyak sujud, di antaranya memperoleh kedekatan dengan Allah, diampuni dosa-dosanya, diangkat derajatnya, dimudahkan urusannya, serta mendapatkan cahaya pada hari kiamat. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa setiap sujud yang dilakukan dengan ikhlas akan menghapus kesalahan dan meninggikan satu derajat seorang mukmin (HR. Muslim).
Penutup
Perintah "wasjud waqtarib" merupakan ajakan agar manusia senantiasa mendekat kepada Allah melalui ibadah yang tulus. Menurut para ulama Nusantara, sujud bukan hanya simbol ketundukan, tetapi juga jalan menuju kemuliaan hidup, ketenangan jiwa, dan keselamatan di dunia maupun akhirat. Semakin sering seorang hamba bersujud dengan penuh keikhlasan, semakin besar pula rahmat, pertolongan, dan balasan yang Allah anugerahkan kepadanya.
Daftar Pustaka
- Hamka. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
- M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
- Syekh Nawawi al-Bantani. Marah Labid (Tafsir al-Munir).
- Abdurrauf as-Singkili. Tarjuman al-Mustafid.
- Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim, Kitab al-Shalah.Jika diinginkan,



Tidak ada komentar:
Posting Komentar