Minggu, 12 Juli 2026

WASPADA KEZALIMAN


Larangan Pemimpin Berbuat Zalim kepada Rakyat

Oleh: Pengamat Dakwah


Pendahuluan

Kepemimpinan dalam Islam merupakan amanah yang sangat agung. Seorang pemimpin bukan hanya bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT pada hari kiamat. Oleh sebab itu, Al-Qur'an dan hadis memberikan peringatan keras agar setiap pemimpin menjauhi kezaliman, karena kezaliman merupakan sebab kehancuran bangsa, hilangnya keberkahan, serta datangnya azab Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

«وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ»

"Jangan sekali-kali engkau mengira Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata-mata terbelalak."

(QS. Ibrahim [14]: 42).

Ayat ini menegaskan bahwa kezaliman tidak pernah luput dari pengawasan Allah. Hukuman boleh jadi tertunda di dunia, tetapi pasti akan dipertanggungjawabkan di akhirat (Al-Bantani, Marah Labid).


Kepemimpinan Adalah Amanah

Allah SWT berfirman:

«إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ»

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil."

(QS. An-Nisa' [4]: 58).

Menurut Syaikh Nawawi al-Bantani, ayat ini mencakup seluruh bentuk kepemimpinan, mulai dari pemimpin keluarga hingga kepala negara. Keadilan adalah syarat utama yang harus ditegakkan oleh seorang pemimpin agar memperoleh pertolongan Allah (Al-Bantani, Marah Labid).


Ancaman bagi Pemimpin yang Zalim

Rasulullah SAW bersabda:

«مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ»

"Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah memimpin rakyat kemudian ia tidak menjaganya dengan baik, melainkan ia tidak akan mencium bau surga."

(HR. al-Bukhari).

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

«اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ»

"Ya Allah, siapa saja yang memimpin urusan umatku lalu mempersulit mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang memudahkan mereka, maka mudahkanlah urusannya."

(HR. Muslim).

Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan, menindas rakyat, korup, atau mengabaikan hak-hak masyarakat berada dalam ancaman yang sangat berat di sisi Allah SWT.


Penjelasan Syaikh Nawawi al-Bantani

Dalam Marah Labid, Syaikh Nawawi menjelaskan bahwa kezaliman bukan hanya mengambil hak orang lain, tetapi juga mencakup setiap bentuk penyalahgunaan amanah, ketidakadilan dalam hukum, serta mengutamakan kepentingan pribadi daripada kemaslahatan rakyat (Al-Bantani, Marah Labid).

Beliau menegaskan bahwa seorang pemimpin wajib:

1. Menegakkan keadilan.

2. Melindungi hak masyarakat.

3. Menolak korupsi dan pengkhianatan.

4. Bermusyawarah dalam urusan publik.

5. Mengutamakan kemaslahatan umum.

Sebaliknya, apabila seorang pemimpin menzalimi rakyatnya, maka ia telah mengkhianati amanah Allah dan Rasul-Nya.


Dampak Kezaliman terhadap Bangsa

Allah SWT berfirman:

«وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا»

"Dan negeri-negeri itu Kami binasakan ketika penduduknya berbuat zalim."

(QS. Al-Kahfi [18]: 59).

Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa banyak kerajaan dan pemerintahan runtuh bukan semata-mata karena lemahnya ekonomi atau militer, tetapi karena merajalelanya kezaliman, korupsi, dan hilangnya keadilan. Dalam pandangan Islam, keadilan menjadi sebab tegaknya negara, sedangkan kezaliman menjadi sebab kehancurannya.


Ibrah bagi Para Pemimpin

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil.

Pertama, jabatan bukanlah kemuliaan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Kedua, kesejahteraan rakyat merupakan indikator keberhasilan kepemimpinan, bukan sekadar pembangunan fisik atau pencitraan.

Ketiga, doa orang yang dizalimi tidak memiliki penghalang di hadapan Allah. Rasulullah SAW bersabda:

«اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

"Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah."

(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Keempat, pemimpin yang adil termasuk golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat, sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah (HR. al-Bukhari dan Muslim).


Penutup

Islam menempatkan kepemimpinan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh keadilan, kejujuran, dan kasih sayang kepada rakyat. Al-Qur'an, hadis Nabi SAW, dan penjelasan Syaikh Nawawi al-Bantani sama-sama menegaskan bahwa kezaliman pemimpin merupakan dosa besar yang mengundang murka Allah, sedangkan keadilan menjadi sebab datangnya keberkahan dan keselamatan dunia serta akhirat.

Karena itu, setiap pemimpin hendaknya selalu bertakwa kepada Allah, menjadikan keadilan sebagai dasar kebijakan, menghindari penyalahgunaan kekuasaan, serta mengutamakan kemaslahatan rakyat. Dengan demikian, kepemimpinannya akan menjadi jalan menuju ridha Allah SWT, bukan sebab datangnya azab dan penyesalan pada hari kemudian.


Daftar Pustaka

Al-Bantani, Muhammad Nawawi. Marah Labid li Kashf Ma'na al-Qur'an al-Majid. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.

Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman