Agama dan Kemanusiaan serta Urgensinya di Zaman Modern
Oleh: Pengamat Dakwah
Agama dan Kemanusiaan: Dua Pilar Peradaban
Islam hadir bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT (ḥabl min Allāh), tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (ḥabl min al-nās). Kedua dimensi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kesalehan ritual yang tidak melahirkan kepedulian sosial belum mencerminkan kesempurnaan ajaran Islam, sebagaimana kepedulian sosial yang kehilangan fondasi spiritual juga mudah kehilangan arah.
Allah SWT menegaskan tujuan penciptaan manusia:
«وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ»
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat [51]: 56).
Para mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada shalat, puasa, dan ibadah ritual lainnya, tetapi mencakup seluruh aktivitas yang dilakukan dengan niat mencari ridha Allah, termasuk berbuat adil, menolong sesama, menjaga amanah, dan memuliakan manusia (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz VII).
Dengan demikian, kemanusiaan merupakan bagian integral dari ibadah.
Agama Mengajarkan Keadilan bagi Semua
Salah satu misi utama Islam ialah menegakkan keadilan.
Allah SWT berfirman:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ...»
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah..." (QS. An-Nisa' [4]: 135).
Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan tidak boleh dipengaruhi oleh hubungan keluarga, kedudukan, kekayaan, maupun kepentingan pribadi.
Menurut Imam al-Qurthubi, ayat tersebut merupakan dasar universal dalam penegakan hukum dan keadilan sosial tanpa diskriminasi (Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Juz V).
Dalam konteks Indonesia, nilai keadilan ini menjadi fondasi penting bagi terciptanya masyarakat yang damai, rukun, dan saling menghormati.
Misi Rasulullah: Menyempurnakan Akhlak
Nabi Muhammad SAW bersabda:
«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ»
"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Al-Baihaqi).
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan dakwah bukan hanya bertambahnya pengetahuan agama, tetapi lahirnya akhlak mulia dalam kehidupan masyarakat.
Akhlak tersebut meliputi kejujuran, amanah, kasih sayang, kepedulian kepada fakir miskin, menghormati orang tua, menjaga lingkungan, serta menjauhi segala bentuk kezaliman. Buya Hamka menegaskan bahwa inti ajaran Islam ialah membentuk manusia yang bertakwa sekaligus membawa manfaat bagi sesama (Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz XXX).
Pandangan Ulama tentang Agama dan Kemanusiaan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa syariat bertujuan menjaga lima kebutuhan pokok manusia (maqashid al-syari'ah), yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Seluruh tujuan tersebut pada hakikatnya merupakan bentuk perlindungan terhadap martabat manusia (Al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Jilid I).
Syekh Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar menegaskan bahwa agama hadir untuk membimbing akal, memperbaiki moral, dan membangun masyarakat yang adil. Menurutnya, kemajuan umat tidak cukup hanya dengan ilmu pengetahuan, tetapi harus disertai nilai-nilai agama yang hidup dalam masyarakat (Abduh dan Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Juz I).
Sementara itu, Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa Islam adalah agama rahmat. Seluruh ajaran Islam harus melahirkan kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap manusia. Agama yang dipahami tanpa nilai kemanusiaan berpotensi melahirkan sikap keras dan ekstrem, sedangkan kemanusiaan tanpa agama kehilangan kompas moral (Al-Qaradawi, Al-Din wa al-Siyasah, hlm. 51–53).
Ukuran Keberagamaan Menurut Al-Qur'an
Al-Qur'an memberikan ukuran yang sangat jelas mengenai kualitas keberagamaan seseorang.
Allah SWT berfirman:
«أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ»
"Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Dialah yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin." (QS. Al-Ma'un [107]: 1–3).
Menurut M. Quraish Shihab, ayat ini menunjukkan bahwa ibadah ritual kehilangan maknanya apabila tidak melahirkan kepedulian sosial terhadap kaum lemah (Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur'an, 2000).
Demikian pula firman Allah SWT:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى...»
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan agar kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia bukan diukur dari suku, ras, jabatan, maupun warna kulit, melainkan dari ketakwaannya.
Hadis tentang Kemanfaatan Sosial
Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad).
Dalam hadis lain beliau bersabda:
"Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dua hadis tersebut memperlihatkan bahwa ukuran keimanan bukan hanya banyaknya ibadah pribadi, melainkan sejauh mana seseorang menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Urgensi Agama dan Kemanusiaan di Era Modern
Di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, media sosial, dan globalisasi, manusia menghadapi tantangan baru berupa krisis moral, meningkatnya individualisme, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, korupsi, kekerasan, hingga konflik kemanusiaan.
Dalam kondisi demikian, agama berfungsi sebagai sumber nilai yang membimbing manusia agar tetap menjunjung tinggi kejujuran, kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
NU sejak awal mengembangkan prinsip Islam rahmatan lil 'alamin, yaitu Islam yang menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh makhluk. Spirit inilah yang menjadikan agama tidak hanya hadir di masjid dan majelis taklim, tetapi juga dalam pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi umat, serta menjaga persatuan bangsa.
Karena itu, keberagamaan yang matang akan melahirkan sikap moderat (tawassuth), seimbang (tawazun), adil (i'tidal), dan toleran (tasamuh). Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting dalam menjaga harmoni masyarakat Indonesia yang majemuk.
Penutup
Agama dan kemanusiaan bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan saling menguatkan. Agama memberikan fondasi spiritual dan moral, sedangkan kemanusiaan menjadi ruang aktualisasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang Muslim yang baik bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga menjadi pribadi yang jujur, adil, amanah, santun, serta membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Inilah wajah Islam yang diajarkan Rasulullah SAW dan diwariskan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu menjaga hubungan dengan Allah sekaligus memuliakan sesama manusia, sehingga agama benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Aamiin
Wallāhu a'lam bi al-shawāb.
Manfaat. Aamiin
Daftar Pustaka
Al-Ghazali. Ihya' Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Fikr.
Al-Qaradawi, Yusuf. Al-Din wa al-Siyasah. Kairo: Dar al-Shuruq.
Al-Qurthubi. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an.
Hamka. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim.
Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Tafsir al-Manar.
M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur'an. Bandung: Mizan, 2000.
Al-Qur'an al-Karim.
HR. Ahmad; HR. Al-Bukhari; HR. Muslim; HR. Al-Baihaqi.
.jpeg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar