Kaya atau Miskin, Sama-Sama Diuji Allah
Oleh: Pengamat Dakwah
Di tengah kehidupan modern, banyak orang menganggap bahwa kekayaan adalah tanda keberhasilan sekaligus bukti kecintaan Allah SWT. Sebaliknya, kemiskinan sering dipandang sebagai kegagalan hidup atau bahkan hukuman dari Tuhan. Cara pandang seperti ini ternyata telah diluruskan oleh Al-Qur'an sejak lebih dari empat belas abad yang lalu. Islam tidak pernah menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan seseorang. Kaya maupun miskin hanyalah dua keadaan yang sama-sama menjadi ujian kehidupan.
Allah SWT berfirman:
«فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ»
"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku.' Tetapi apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah menghinakanku.'” (QS. Al-Fajr [89]: 15–16).
Ayat tersebut membantah anggapan bahwa kekayaan merupakan bukti kemuliaan, sedangkan kemiskinan adalah kehinaan. Imam al-Ṭabari menjelaskan bahwa kata ibtalāhu (mengujinya) menunjukkan bahwa kelapangan maupun kesempitan rezeki sama-sama merupakan ujian dari Allah, bukan ukuran cinta atau benci-Nya kepada seorang hamba (Al-Ṭabari 2001).
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia akan diuji dengan cara yang berbeda. Ada yang diuji dengan limpahan harta, jabatan, dan kekuasaan. Ada pula yang diuji dengan keterbatasan ekonomi, kesempitan hidup, atau kehilangan harta benda. Semua itu bertujuan untuk mengukur kualitas iman, kesabaran, rasa syukur, dan ketakwaan seseorang.
Allah SWT juga berfirman:
«وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ»
"Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155).
Menurut Ibnu Katsir, ujian berupa kehilangan harta bukanlah tanda kemurkaan Allah. Justru melalui ujian itulah Allah meninggikan derajat orang-orang yang tetap sabar dan bertawakal (Ibnu Katsir 1999). Karena itu, seorang mukmin tidak boleh putus asa ketika miskin, sebagaimana orang kaya tidak boleh merasa aman dari fitnah harta.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah banyaknya harta, melainkan kebersihan hati dan amal salehnya. Beliau bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim).
Hadis ini memberikan pelajaran bahwa kekayaan hanyalah titipan, sedangkan yang menentukan kedudukan seseorang di sisi Allah adalah ketakwaannya. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh membanggakan kekayaan ataupun merendahkan orang yang hidup dalam kesederhanaan.
Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa perbedaan rezeki merupakan bagian dari sunnatullah agar kehidupan manusia berjalan seimbang. Orang kaya diberi kesempatan memperbanyak syukur melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Sebaliknya, orang yang kekurangan memperoleh kesempatan memperkuat kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah (Shihab 2002).
Pandangan serupa disampaikan Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir. Menurutnya, kekayaan bukanlah tujuan hidup, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban pada Hari Kiamat. Demikian pula kemiskinan bukan alasan untuk bermalas-malasan, melainkan dorongan untuk bekerja keras dengan cara yang halal dan menjaga kehormatan diri (Az-Zuhaili 2009).
Ulama Nusantara pun memberikan penjelasan yang sejalan.
Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengingatkan bahwa ujian kekayaan sering kali lebih berat daripada ujian kemiskinan. Banyak orang mampu bersabar ketika miskin, tetapi sedikit yang tetap rendah hati setelah menjadi kaya (Hamka 1982). Beliau menegaskan bahwa pada setiap harta terdapat hak kaum fakir dan miskin yang wajib ditunaikan.
Syekh Nawawi al-Bantani dalam Marah Labid juga menjelaskan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan. Kekayaan akan menjadi nikmat apabila melahirkan rasa syukur dan kepedulian sosial, tetapi berubah menjadi petaka apabila menumbuhkan kesombongan dan cinta dunia (Nawawi al-Bantani, t.t.).
Senada dengan itu, Syekh Abdurrauf as-Singkili dalam Tarjuman al-Mustafid mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia, sebab semua nikmat dan kesulitan pada hakikatnya merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Dari seluruh penjelasan tersebut tampak bahwa Islam mengajarkan keseimbangan. Orang kaya tidak boleh sombong karena hartanya dapat menjadi sebab beratnya hisab di akhirat. Sebaliknya, orang miskin tidak boleh berputus asa karena kesabaran dan usaha yang halal dapat mengangkat derajatnya di sisi Allah. Yang paling mulia bukanlah yang paling banyak hartanya, melainkan yang paling bertakwa, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13.
Karena itu, apabila Allah melapangkan rezeki, hendaklah kita memperbanyak syukur, zakat, sedekah, dan membantu sesama. Sebaliknya, apabila Allah menyempitkan rezeki, hendaklah kita bersabar, terus berikhtiar, menjaga kehormatan diri, dan tidak kehilangan harapan kepada rahmat-Nya.
Pada akhirnya, kaya ataupun miskin bukanlah tujuan hidup. Keduanya hanyalah jalan ujian menuju akhirat. Yang akan menyelamatkan manusia bukan jumlah hartanya, melainkan iman, ketakwaan, kejujuran, kesabaran, rasa syukur, dan amal salehnya. Itulah hikmah besar yang diajarkan Al-Qur'an dan hadis, sebagaimana dipahami para mufasir klasik, ulama kontemporer, dan ulama Nusantara.
Manfaat. Aamiin



Tidak ada komentar:
Posting Komentar