Muharram: Bulan Kemuliaan, Sejarah Para Nabi, dan Pelajaran Hijrah bagi Umat Islam
Oleh: Ustadz Umar Fauzi
Pendahuluan
Muharram merupakan salah satu bulan yang paling dimuliakan dalam Islam. Kehadirannya menandai awal tahun Hijriah, kalender yang menjadi simbol perjuangan dan peradaban umat Islam. Namun, Muharram bukan sekadar pergantian angka tahun. Di balik bulan ini tersimpan sejarah panjang para nabi, keutamaan ibadah, dan pelajaran spiritual yang relevan bagi kehidupan modern.
Allah SWT memasukkan Muharram ke dalam empat bulan haram (al-asyhur al-hurum), yaitu bulan-bulan yang memiliki kehormatan khusus dalam syariat Islam. Pada bulan ini umat Islam diajak untuk memperbanyak amal saleh, menjauhi perbuatan dosa, dan melakukan refleksi atas perjalanan hidup yang telah dilalui.
Muharram dalam Al-Qur'an
Landasan utama kemuliaan Muharram terkandung dalam firman Allah SWT:
«إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sebenarnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS At-Taubah [9]: 36)»
Menurut Imam Ath-Thabari, empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan itu umat Islam diperintahkan lebih menjaga diri dari segala bentuk kezaliman dan kemaksiatan.^1
Senada dengan itu, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa pengkhususan bulan haram bertujuan mendidik manusia agar lebih menghormati nilai-nilai ketakwaan dan kedamaian.^2
Bulan Allah yang Istimewa
Keistimewaan Muharram semakin tampak dalam hadis Nabi Muhammad SAW:
«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR Muslim)»
Menariknya, Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai Syahrullah (bulan Allah). Imam An-Nawawi menilai penyandaran nama bulan kepada Allah merupakan bentuk pemuliaan yang sangat tinggi dan menunjukkan kedudukan istimewanya dibandingkan bulan-bulan lainnya.^3
Oleh karena itu para ulama menganjurkan memperbanyak puasa sunah selama Muharram, terutama pada tanggal 9 dan 10 Muharram atau yang dikenal sebagai puasa Tasu'a dan Asyura.
Jejak Sejarah Para Nabi
Muharram juga identik dengan berbagai peristiwa besar dalam sejarah kenabian. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa hari Asyura menjadi saksi sejumlah peristiwa penting yang menunjukkan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Peristiwa paling terkenal adalah penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas kemenangan Nabi Musa. Rasulullah kemudian mengajarkan umat Islam berpuasa pada hari tersebut.
Dalam perspektif tafsir kontemporer, Wahbah Az-Zuhaili menegaskan bahwa kisah Nabi Musa mengandung pesan universal bahwa kebenaran mungkin tampak lemah pada awalnya, tetapi pada akhirnya akan memperoleh kemenangan dengan pertolongan Allah.^4
Selain itu, sebagian riwayat menyebutkan hari Asyura berkaitan dengan diterimanya taubat Nabi Adam AS dan berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS setelah banjir besar. Meskipun kualitas sebagian riwayat tersebut diperselisihkan ulama, pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap relevan: Allah membuka pintu pengampunan dan keselamatan bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya.
Perspektif Tasawuf: Muharram sebagai Bulan Hijrah Hati
Para ulama tasawuf memandang Muharram bukan hanya sebagai momentum sejarah, tetapi juga perjalanan spiritual. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa pergantian tahun merupakan waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri.^5
Dalam pandangan sufi, hakikat hijrah tidak hanya melampaui tempat sebagaimana hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah. Hijrah yang lebih penting adalah perpindahan hati dari maksiat menuju ketaatan, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari kecintaan kepada dunia menuju kecintaan kepada Allah.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bahkan menyebut bahwa awal tahun adalah kesempatan membersihkan penyakit hati seperti riya, hasad, takabbur, dan cinta dunia yang berlebihan.^6
Oleh karena itu Muharram sering dipahami sebagai bulan pembaruan jiwa. Setiap umat Islam diajak memulai lembaran baru dengan memperbaiki ibadah, memperbanyak istighfar, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Pandangan Mufasir Nusantara
Ulama Nusantara juga memberikan perhatian besar terhadap kemuliaan Muharram. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Marah Labid menekankan pentingnya menjaga diri dari dosa pada bulan-bulan haram karena kemuliaannya yang telah ditetapkan Allah sejak penciptaan alam semesta.^7
Sementara itu, Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengingatkan bahwa tahun baru Hijriah tidak boleh sekedar menjadi seremoni tahunan. Menurutnya, makna hijrah harus diwujudkan dalam perubahan karakter dan peningkatan kualitas hidup.^8
Pandangan yang sama disampaikan M. Quraish Shihab. Dalam Tafsir Al-Mishbah, beliau menjelaskan bahwa setiap pergantian tahun seharusnya menjadi momentum memperbaiki diri, merencanakan masa depan yang lebih baik, dan memperkuat optimisme dalam menjalani kehidupan.^9
Ibrahim Muharram bagi Kehidupan Modern
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Muharram mengajarkan beberapa nilai penting.
Pertama, pentingnya evaluasi diri. Sama seperti perusahaan yang melakukan audit tahunan, seorang Muslim juga perlu melakukan audit spiritual terhadap amal dan perilakunya.
Kedua, pentingnya perubahan. Hijrah mengajarkan bahwa manusia tidak boleh terjebak dalam kebiasaan buruk. Setiap tahun harus menjadi kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Ketiga, pentingnya kesabaran dan optimisme. Kisah Nabi Musa dan Nabi Nuh menunjukkan bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi mereka yang istiqamah dalam kebenaran.
Keempat, pentingnya rasa syukur. Puasa Asyura merupakan bentuk syukur atas nikmat keselamatan dan pertolongan Allah yang diberikan kepada para nabi dan pengikutnya.
Penutup
Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Hijriah. Ia adalah bulan kemuliaan yang menyimpan jejak sejarah para nabi, keutamaan ibadah, dan pesan-pesan spiritual yang mendalam. Perspektif tafsir klasik menegaskan kedudukannya sebagai bulan haram yang dimuliakan Allah. Tafsir kontemporer melihatnya sebagai momentum perubahan dan kebangkitan. Para sufi memaknainya sebagai hijrah hati menuju Allah, sedangkan mufasir Nusantara menekankan pentingnya muhasabah dan pembaruan diri.
Dengan memahami makna Muharram secara utuh, umat Islam dapat menjadikan awal tahun Hijriah sebagai titik awal untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan diri sendiri. Sebab hakikat tahun baru dalam Islam bukanlah pergantian waktu semata, melainkan perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna dan penuh keberkahan.
Catatan Kaki
1. Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān, Juz 14, hlm. 238.
2. Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'an, Juz 8, hlm. 134.
3. An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz 8, hlm. 55.
4. Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, Juz 10, hlm. 428.
5. Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, Juz 4, hlm. 425.
6. Abdul Qadir Al-Jailani, Futuh al-Ghaib, hlm. 76.
7. Nawawi Al-Bantani, Marah Labid, Juz 1, hlm. 362.
8. Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 10, hlm. 151.
9. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 5, hlm. 612.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar