Sabtu, 20 Juni 2026

AWAL KEHANCURAN


Bahaya Kezaliman dan Kesombongan: Jalan Kehancuran yang Sering Tak Disadari

Oleh: Pengamat Studi Al-Qur'an 

           dan Dakwah


Pendahuluan

Di antara penyakit hati yang paling banyak diperingatkan dalam Al-Qur'an adalah kezaliman dan kesombongan. Keduanya bukan sekadar perilaku buruk, tetapi juga akar dari berbagai kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Banyak konflik keluarga, kesenjangan sosial, ketimpangan ekonomi, hingga runtuhnya sebuah kekuasaan berawal dari dua sifat ini.

Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang zalim dan orang-orang yang menyombongkan diri. Sejarah para nabi juga menunjukkan bahwa hampir semua penentang risalah kenabian memiliki dua karakter yang sama: zalim dan sombong. Fir'aun, Qarun, Namrud, hingga para pembesar kaum terdahulu menjadi contoh nyata bagaimana kezaliman dan kesombongan membawa manusia menuju kehancuran.

Oleh karena itu, memahami bahaya kedua sifat tersebut menjadi bagian penting dari muhasabah agar seorang mukmin mampu menjaga hati dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.


Kezaliman: Meletakkan Sesuatu Bukan pada Tempatnya

Dalam pandangan para mufasir, kezaliman berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempat yang seharusnya. Kezaliman tidak hanya berupa tindakan fisik atau perampasan hak, tetapi juga mencakup segala bentuk pelanggaran terhadap ketentuan Allah.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.” (QS. Ibrahim [14] : 42).¹

Imam At-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kepastian balasan bagi setiap bentuk kezaliman, meskipun tampak tidak segera dihukum di dunia.²

Al-Qur'an membagi kezaliman ke dalam beberapa bentuk. Pertama, zalim kepada Allah melalui syirik dan kemaksiatan. Kedua, zalim kepada sesama manusia melalui berpikir, fitnah, korupsi, pengkhianatan, dan perampasan hak. Ketiga, zalim kepada diri sendiri dengan melakukan perbuatan yang merusak kehidupan dunia dan akhirat.

Banyak orang mengira bahwa kezaliman hanya dilakukan oleh penguasa besar atau penjahat. Padahal, mengabaikan hak keluarga, menyebarkan fitnah, menipu dalam perdagangan, bahkan meremehkan amanah juga termasuk bentuk kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.


Kesombongan: Penyakit Pertama di Langit

Jika kezaliman menjadi penyakit sosial, maka kesombongan adalah penyakit spiritual yang sangat berbahaya. Kesombongan pertama kali muncul pada diri Iblis ketika menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam AS.

Allah berfirman:

“Ia (Iblis) berkata: Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A'raf [7]: 12).³

Para ulama menjelaskan bahwa inti bukanlah pakaian mewah atau kedudukan tinggi, melainkan bukan kebenaran dan keberlangsungan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR.Muslim).⁴

Oleh karena itu, seseorang bisa saja hidup sederhana tetapi tetap sombong ketika merasa paling benar, sulit menerima nasihat, atau memandang rendah orang lain.

Imam Al-Ghazali menyebut kesombongan sebagai hijab terbesar antara manusia dan Allah karena membuat seseorang merasa tidak membutuhkan petunjuk dan pertolongan-Nya.⁵


Balasan bagi Orang Zalim dan Sombong

Al-Qur'an menjelaskan bahwa kezaliman dan kesombongan tidak pernah berakhir dengan kemenangan sejati. Mungkin pelakunya memperoleh kekuasaan, kekayaan, atau popularitas suatu saat, tetapi pada akhirnya akan menghadapi kehinaan.

Fir'aun adalah contoh penguasa yang sombong. Ia menganggap dirinya sebagai penguasa tertinggi dan menindas rakyatnya. Namun sejarah mencatat bahwa kekuasaannya berakhir di dasar Laut Merah.

Qarun adalah simbol kebanggaan karena harta. Ia merasa kekayaannya diperoleh semata-mata karena kecerdasannya sendiri. Akibatnya, Allah menenggelamkan dirinya bersama seluruh hartanya ke dalam bumi.⁶

Rasulullah SAW:

“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dan Allah.” (HR.Bukhari).⁷

Hadis ini menunjukkan bahwa kezaliman memiliki konsekuensi yang sangat serius. Ketika hak seseorang dirampas, Allah sendiri yang akan membela orang yang terzalimi.

Adapun bagi orang sombong, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kepuasan walaupun sebesar biji sawi.” (HR.Muslim).⁸

Ancaman ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekadar masalah etika, tetapi juga masalah akidah dan keselamatan akhirat.

Ibrah dari Kehancuran Orang-Orang Terdahulu

Al-Qur'an tidak sekadar menceritakan sejarah umat manusia terdahulu sebagai kisah masa lalu. Semua itu merupakan pelajaran bagi generasi berikutnya.

Fir'aun mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa kerendahan hati akan membawa kehancuran.

Qarun mengajarkan bahwa kekayaan tanpa rasa syukur dapat menimbulkan kesombongan yang membinasakan.

Kaum 'Ad dan Tsamud mengajarkan bahwa kemajuan peradaban tidak akan mampu menyelamatkan suatu bangsa ketika kezaliman telah menjadi budaya.

Pelajaran terbesarnya adalah bahwa Allah mungkin menunda hukuman, tetapi tidak pernah mengabaikan kezaliman dan kesombongan.

Oleh karena itu, ukuran keberhasilan dalam Islam bukanlah seberapa tinggi jabatan, seberapa besar kekayaan, atau seberapa luas pengaruh seseorang. Ukuran keberhasilan adalah ketakwaan, keadilan, dan kerendahan hati di hadapan Allah.


Jalan Taubat dan Kembali kepada Allah

Kabar gembiranya, pintu taubat selalu terbuka selama manusia masih hidup.

Allah SWT berfirman:

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura [42]: 25).

Taubat dari kezaliman harus disertai dengan pengembalian hak kepada pemiliknya atau permohonan maaf kepada pihak yang dizalimi. Sementara taubat dari kesombongan dilakukan dengan melatih sikap tawadhu', menerima nasehat, dan menyadari bahwa semua kelebihan berasal dari Allah.

Para ulama tasawuf menegaskan bahwa semakin seseorang mengenal dirinya, semakin kecil peluang dirinya untuk sombong. Sebab diciptakan manusia dari tanah, hidup dengan kelemahan, dan pada akhirnya kembali menjadi tanah.

Kesadaran inilah yang melahirkan kerendahan hati dan menjauhkan manusia dari sifat yang menjadi sebab terusirnya Iblis dari rahmat Allah.


Penutup

Kezaliman dan kesombongan adalah dua penyakit yang dapat menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat. Kezaliman merusak hubungan dengan sesama, sedangkan sombong merusak hubungan dengan Allah. Keduanya menjadi penyebab utama kehancuran banyak umat dalam sejarah.

Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya selalu bermuhasabah, menjaga keadilan dalam setiap urusan, menghormati sesama manusia, serta melatih kerendahan hati. Sebab pada akhirnya, bukan kekuasaan, harta, atau keturunan yang akan menyelamatkan manusia, melainkan hati yang bersih dan amal yang diridhai Allah SWT.

Wa Allah a'lam bish-shawab

Manfaat. Aamiin


Catatan Kaki 

¹ QS. Ibrahim [14]: 42.

² Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Jilid 16 (Kairo: Dar Hajar, 2001), hlm. 528.

³ QS. Al-A'raf [7]: 12.

⁴ Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, No.91.

⁵ Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Jilid III (Beirut: Dar al-Ma'rifah, tt), hlm. 343.

⁶ QS. Al-Qashash [28]: 81.

⁷ Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Mazhalim, No.2448.

⁸ Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, No.91.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman