Kamis, 25 Juni 2026

BERHIJRAH


Mengakhiri Hijrah Adalah Peningkatan Taqwa

Oleh: Pengamat Dakwah


Hijrah merupakan salah satu kata yang paling sering terdengar dalam kehidupan umat Islam. Sebagian orang memaknainya sebagai perubahan penampilan, sebagian lagi memahaminya sebagai perpindahan dari lingkungan yang buruk menuju lingkungan yang lebih baik. Ada pula yang menganggap hijrah sebagai titik balik kehidupan setelah sekian lama terjebak dalam dosa dan kelalaian.

Namun hakikatnya, Islam mengajarkan bahwa hijrah bukanlah tujuan akhir. Hijrah adalah jalan, sedangkan tujuan akhirnya adalah takwa kepada Allah SWT.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa sepanjang perjalanan spiritual manusia bermuara pada ketakwaan. Allah berfirman:

«"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali 'Imran : 102).¹»

Ayat ini menunjukkan bahwa orientasi hidup seorang mukmin bukan sekedar perubahan lahiriah, tetapi peningkatan kualitas hubungan dengan Allah SWT.

Dalam sejarah Islam, hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah tidak hanya berpindah secara geografis. Hijrah tersebut merupakan langkah besar untuk membangun masyarakat yang beriman, berakhlak, dan bertakwa. Oleh karena itu, keberhasilan hijrah tidak diukur dari sejauh mana seseorang berpindah tempat, melainkan sejauh mana ia mendekati Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah."²»

Hadis ini memperluas makna hijrah. Seorang yang meninggalkan rahasia menuju kejujuran telah berhijrah. Orang yang meninggalkan korupsi menuju amanah juga sedang berhijrah. Begitu pula seseorang yang meninggalkan kesombongan menuju rendahan hati.


Hijrah Bukan Sekadar Simbol

Di era modern, fenomena hijrah sering kali identik dengan perubahan simbol-simbol keagamaan. Padahal para ulama mengingatkan bahwa simbol hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang menuju Allah.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa hijrah adalah proses meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi seseorang mendekat kepada Allah.³ Oleh karena itu, perubahan pakaian tanpa perubahan akhlak belum dapat disebut sebagai kesempurnaan hijrah.

Seseorang mungkin rajin menghadiri kajian, tetapi masih gemar memfitnah orang lain. Ada pula yang aktif mengutip ayat dan hadis di media sosial, namun masih menyimpan kebencian dan dendam di dalam hati. Kondisi semacam ini menunjukkan bahwa perjalanan hijrahnya belum selesai.

Hijrah yang sejati harus terlihat dalam perilaku sehari-hari. Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin lembut tutur katanya, semakin jujur ​​sikapnya, dan semakin besar manfaatnya bagi sesama.


Taqwa Sebagai Buah Hijrah

Allah SWT berfirman:

«"Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah : 21).⁴»

Menurut Imam Al-Qurthubi, tujuan seluruh bentuk ibadah adalah melahirkan ketakwaan dalam diri manusia.⁵

Oleh karena itu, setiap bentuk hijrah seharusnya menghasilkan peningkatan ketakwaan. Jika seseorang berhijrah tetapi masih ringan melakukan dosa, masih gemar menyakiti orang lain, dan masih jauh dari kebenaran, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam proses hijrahnya.

Taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah. Taqwa adalah kesadaran yang terus-menerus bahwa Allah melihat, mendengar, dan mengetahui segala perbuatan manusia. Kesadaran inilah yang mendorong seseorang untuk selalu berbuat baik, meskipun tidak ada manusia yang menyaksikan.


Pandangan Ulama Klasik

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kaum Muhajirin memperoleh kedudukan mulia karena mereka rela meninggalkan segala yang dicintai demi meraih ridha Allah.⁶ Mereka tidak berhijrah demi kekuasaan atau keuntungan dunia, tetapi demi mempertahankan iman dan ketakwaan.

Sementara itu, Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa hakikat hijrah adalah perpindahan hati dari kecintaan ke dunia menuju kecintaan kepada Allah SWT.⁷

Pandangan para ulama ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan hijrah bukanlah jumlah pengikut, luasnya pengaruh, atau tinggi popularitas seseorang. Ukuran utamanya adalah kualitas ketakwaan yang tumbuh dalam dirinya.


Hijrah Menurut Kaum Sufi

Para ulama tasawuf memberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang makna hijrah.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hijrah terbesar adalah meninggalkan hawa nafsu yang menghalangi seseorang menuju Allah.⁸ Menurut beliau, musuh yang paling berat bukanlah orang lain, melainkan nafsu yang ada di dalam diri sendiri.

Oleh karena itu, seseorang yang mampu meninggalkan kesombongan sebenarnya sedang melakukan hijrah yang besar. Demikian pula orang yang mampu meninggalkan riya, hasad, dan cinta dunia yang berlebihan.

Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari mengingatkan bahwa perpindahan dari satu keadaan ke keadaan lain belum tentu disebut hijrah apabila tidak mendekatkan diri kepada Allah.⁹

Pesan ini sangat relevan pada zaman sekarang. Banyak orang yang berubah secara lahiriah, namun belum mengalami perubahan hati. Padahal hati adalah pusat ketakwaan.


Tanda-Tanda Hijrah yang Berhasil

Bagaimana mengetahui bahwa hijrah kita berada di jalan yang benar?

Al-Qur'an memberikan definisinya:

«"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat : 13).¹⁰»

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kemuliaan seorang Muslim ditentukan oleh ketakwaannya.


Ada beberapa tanda hijrah yang berhasil.

Pertama, semakin rajin beribadah dan semakin mencintai kebaikan.

Kedua, semakin jujur ​​dan dapat dipercaya.

Ketiga, semakin rendah hati serta tidak mudah menyalahkan orang lain.

Keempat, semakin peduli kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat.

Kelima, semakin takut melakukan dosa meskipun tidak ada yang melihatnya.

Jika tanda-tanda ini mulai tumbuh, maka hijrah sedang bergerak menuju tujuan yang benar.


Hijrah yang Membawa Keberkahan

Sejarah para nabi menunjukkan bahwa setiap hijrah yang dilakukan karena Allah akan menghasilkan keberkahan.

Hijrah Nabi Ibrahim AS melahirkan generasi para nabi. Hijrah Nabi Muhammad ﷺ melahirkan peradaban Islam yang mewakili dunia. Demikian pula hijrah setiap mukmin akan melahirkan keberkahan bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungannya apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas.

Oleh karena itu, jangan pernah berhenti berhijrah. Jangan merasa cukup hanya karena sudah berubah penampilan atau lingkungan pergaulan. Hijrah adalah perjalanan sepanjang hayat.

Setiap hari seorang mukmin harus berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari dosa menuju taubat.

Pada akhirnya, keberhasilan hijrah tidak diukur oleh manusia, tetapi oleh Allah SWT. Jika setelah hijrah hati semakin lembut, ibadah semakin baik, akhlak semakin mulia, dan rasa takut kepada Allah semakin kuat, maka itulah tanda bahwa hijrah telah mencapai tujuan utamanya.

Sebab sejatinya, mengakhiri hijrah bukanlah popularitas, bukan pujian manusia, bukan pula kemegahan dunia. Mengakhiri hijrah adalah meningkatnya ketakwaan kepada Allah SWT.


Catatan Kaki:

1. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Ali 'Imran [3]:102.

2. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, No.6484.

3. M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, Jilid 2, hlm. 68.

4. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Al-Baqarah [2]:21.

5. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Juz 1, hlm. 225.

6. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Beirut: Dar Thayyibah, Juz 1, hlm. 311.

7. Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-'Arabi, Juz 4, hlm. 87.

8. Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, Beirut: Dar al-Ma'rifah, Juz 3, hlm. 67.

9. Ibnu 'Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam al-'Athaiyyah, Hikmah ke-28.

10. Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Al-Hujurat [49]:13.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman