Selasa, 02 Juni 2026

KETELADANAN PEMIMPIN


Ormas Islam dan Tanggung Jawab Menjadi Teladan Bangsa


Oleh: Pengamat Studi Al-Qur'an dan Dakwah


Di tengah dinamika kehidupan demokrasi Indonesia, organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam mempunyai posisi yang sangat penting. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern, organisasi-organisasi Islam tidak hanya berperan dalam bidang dakwah, pendidikan, dan sosial, tetapi juga menjadi pilar moral yang ikut menjaga arah perjalanan bangsa. Kehadiran ormas Islam di tengah masyarakat sesungguhnya bukan sekadar wadah berkumpulnya umat, melainkan sarana untuk menghadirkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Al-Qur'an memberikan pedoman bahwa umat Islam harus menjadi teladan bagi masyarakat. Allah SWT berfirman:

 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab : 21).

Ayat ini tidak hanya ditujukan kepada individu, tetapi juga dapat menjadi prinsip bagi lembaga dan organisasi Islam. Ketika Rasulullah SAW menjadi teladan dalam kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan, maka ormas Islam pun dituntut menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

Di tengah perbedaan pilihan politik yang sering muncul menjelang pemilihan umum, masyarakat membutuhkan contoh nyata tentang bagaimana menyampaikan aspirasi secara santun dan sopan. Dalam konteks ini, ormas Islam mempunyai tanggung jawab moral untuk mengedepankan persaudaraan, memperkuat persatuan, serta menghindari umat dari sikap saling mencaci dan memusuhi hanya karena perbedaan pilihan.

Para ulama sejak dahulu menegaskan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui lisan, tetapi juga melalui keteladanan. Imam Malik pernah menyatakan bahwa keadaan umat akan menjadi baik dengan cara yang sama seperti generasi awal Islam memperbaiki, masyarakat yaitu melalui ilmu, akhlak, dan keteladanan. Oleh karena itu, kekuatan terbesar ormas Islam bukan terletak pada jumlah massa, melainkan pada kemampuan menghadirkan akhlak Islam dalam kehidupan masyarakat.


Kepemimpinan Sebagai Amanah

Salah satu persoalan penting dalam kehidupan bernegara adalah masalah kepemimpinan. Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah sekedar jabatan atau kekuasaan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Allah berfirman:

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berkenan.” (QS. An-Nisa : 58).

Menurut Imam Ath-Thabari dalam Jami' al-Bayan, ayat ini merupakan dasar utama dalam urusan pemerintahan dan kepemimpinan. Jabatan harus diberikan kepada orang yang layak dimiliki, bukan kepada mereka yang hanya memiliki popularitas atau kekuatan finansial.

Oleh karena itu, ketika umat Islam menggunakan hak politiknya, mereka sejatinya sedang menjalankan amanah. Pilihan yang diberikan dalam pemilihan umum bukan sekedar urusan duniawi, melainkan juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

Diangkatnya peran ormas Islam menjadi sangat penting. Mereka berkewajiban memberikan pendidikan politik yang sehat kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda, fitnah, politik uang, atau janji-janji yang menipu.


Memilih Pemimpin yang Amanah dan Adil

Al-Qur'an memberikan kriteria yang sangat jelas mengenai sosok pemimpin yang layak diberi amanah. Dalam kisah Nabi Musa AS, Allah mengabadikan ucapan putri Nabi Syuaib:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

"Sejujurnya orang terbaik yang Anda ambil untuk bekerja adalah yang kuat lagi terpercaya." (QS. Al-Qashash : 26).

Ayat ini melahirkan dua kriteria utama kepemimpinan, yaitu kemampuan (al-quwwah) dan amanah (al-amanah). Seorang pemimpin harus memiliki kapasitas untuk menjalankannya sekaligus memiliki integritas moral yang tinggi.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kekuatan tanpa amanah akan melahirkan kezaliman, sedangkan amanah tanpa kemampuan akan menimbulkan kelemahan dan ketidakmampuan dalam mengurus masyarakat. Oleh karena itu, keduanya harus berjalan beriringan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, umat Islam perlu memperhatikan rekam jejak, integritas, komitmen terhadap keadilan, serta kemampuan seorang calon pemimpin dalam melayani masyarakat. Pilihan politik tidak boleh semata-mata didasarkan pada sentimen emosional, tetapi harus dibangun berdasarkan pertimbangan yang objektif dan bertanggung jawab.

Ormas Islam dapat berkontribusi dengan memberikan edukasi yang mencerahkan sehingga masyarakat mampu menggunakan hak pilihnya secara cerdas dan jujur.


Membimbing Umat dengan Hikmah

Salah satu ciri dakwah Islam adalah mengedepankan hikmah dan kebijaksanaan. Allah SWT berfirman:

 ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ

"Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah." (QS. An-Nahl : 125).

Ayat ini relevan dalam aktivitas pelatihan umat, termasuk ketika memberikan pandangan mengenai kepemimpinan dan kehidupan politik. Ormas Islam hendaknya menjadi sumber pencerahan, bukan sumber ketegangan sosial.

Masyarakat perlu dibimbing agar memahami bahwa perbedaan pilihan politik adalah bagian dari dinamika demokrasi yang harus disikapi secara dewasa. Persaudaraan sesama Muslim dan persatuan bangsa jauh lebih besar keuntungannya dibandingkan kemenangan politik pada saat itu.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Oleh karena itu, proses politik tidak dapat menghapuskan ukhuwah Islamiyah maupun ukhuwah wathaniyah yang telah dibangun bersama.

Dalam sejarah Indonesia, para ulama dan tokoh ormas Islam telah memberikan contoh bagaimana mengutamakan kepentingan bangsa di atas kelompok kepentingan. Mereka berdakwah, mendidik masyarakat, dan ikut menjaga stabilitas nasional tanpa kehilangan identitas keislamannya.


Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan

Salah satu tantangan terbesar bangsa saat ini adalah meningkatnya polarisasi akibat perbedaan pilihan politik. Media sosial sering menjadi ruang konflik yang memecah belah persaudaraan.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan:

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan

“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali Imran : 103).

Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, ayat ini mengandung perintah untuk menjaga persatuan umat dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam urusan sosial dan politik.

Oleh karena itu, ormas Islam harus tampil sebagai perekat bangsa. Mereka perlu mengedukasi umat agar tidak mudah menyebarkan hoaks, fitnah, ujaran kebencian, maupun informasi yang dapat memicu konflik sosial.

Keteladanan seperti inilah yang sangat dibutuhkan masyarakat. Ketika ormas Islam mampu menunjukkan sikap dewasa, santun, dan adil, maka mereka akan menjadi contoh bagi seluruh elemen bangsa.


Menjadi Cahaya bagi Umat dan Bangsa

Pada akhirnya, tujuan utama keberadaan ormas Islam bukanlah memperbesar pengaruh politik atau memperkuat kekuatan kelompok semata. Misi utamanya adalah menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Dalam perspektif Al-Qur'an, organisasi Islam harus menjadi sarana amar ma'ruf nahi munkar yang membangun, mendidik, dan mempersatukan. Mereka harus menjadi teladan dalam menjaga akhlak masyarakat, menguatkan persaudaraan, serta membimbing umat memilih pemimpin yang memiliki integritas, amanah, kemampuan, dan komitmen terhadap keadilan.

Jika peran ini dijalankan dengan baik, maka ormas Islam tidak hanya menjadi kekuatan sosial yang dihormati, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan cita-cita bangsa yang adil, makmur, dan sukses. Dengan demikian, nilai-nilai Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh rakyat dan menjadi fondasi bagi terwujudnya botakun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman