Senin, 29 Juni 2026

BILHIKMAH


 Dakwah Bil Hikmah, Tugas Siapa ?

Oleh: Pengamat Dakwah


Dakwah Adalah Tanggung Jawab Bersama

Islam hadir sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin). Oleh karena itu, dakwah bukanlah aktivitas yang identik dengan amarah, hujatan, atau pemaksaan kehendak, melainkan ajakan menuju kebaikan dengan cara yang santun, bijaksana, dan penuh kasih sayang.

Di tengah derasnya arus media sosial, perbedaan pandangan sering kali berubah menjadi permusuhan. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa berdakwah berarti harus keras, lantang, bahkan mencela pihak yang berbeda. Padahal, Al-Qur'an justru mengajarkan metode yang sebaliknya.

Allah SWT berfirman ysng artinya:

«"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik." (QS. An-Nahl [16]: 125).»

Ayat ini menjadi fondasi utama konsep dakwah bil hikmah. Menurut Imam ath-Thabari, kata hikmah berarti menyampaikan kebenaran berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan argumentasi yang kuat sesuai tingkat pemahaman orang yang diajak berdakwah (ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān, jil. 17).


Siapa yang Berkewajiban Berdakwah?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah dakwah hanya tugas ustaz, kiai, atau mubaligh?

Al-Qur'an memberikan jawaban yang lebih luas.

Allah SWT berfirman yang artinya:

«"Dan hendaknya ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar." (QS. Ali 'Imran [3]: 104).»

Dalam hadis yang sangat masyhur, Rasulullah SAW bersabda:

«"Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat." (HR. al-Bukhari)»

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap muslim mempunyai kewajiban berdakwah sesuai kemampuan ilmu, kedudukan, dan kesempatan yang dimiliki. Para ulama menjelaskan bahwa kewajiban dakwah secara umum bersifat fardhu kifayah, sedangkan menyampaikan kebenaran yang diketahui dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi fardhu 'ain sesuai kemampuan masing-masing (al-Qurthubi, al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'an, jil. 4).

Artinya, orang tua berdakwah kepada anaknya, guru kepada muridnya, pemimpin kepada rakyatnya, pedagang melalui kejujurannya, bahkan seorang tetangga melalui akhlaknya yang baik.


Hikmah Adalah Kunci Dakwah

Hikmah bukan sekadar kelembutan, tetapi kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Menurut Imam al-Qurthubi, hikmah adalah perkataan yang benar, tepat sasaran, dan jauh dari celaan yang tidak bermanfaat (al-Qurthubi, al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'an, jil. 10).

Sayyid Quthb menjelaskan bahwa seorang dai harus memahami kondisi psikologis, budaya, dan tingkat intelektual masyarakat sebelum berbicara. Dakwah yang baik tidak mengenai rata semua orang dengan pendekatan yang sama (Sayyid Quthb, Fī Ẓilāl al-Qur'ān, jil. 4).

Senada dengan itu, Wahbah az-Zuhaili menyebut hikmah sebagai perpaduan antara ilmu, etika, dialog rasional, dan akhlak mulia sehingga dakwah mampu menyentuh hati manusia (Wahbah az-Zuhaili, Tafsīr al-Munīr, jil. 14).

Rasulullah Mencontohkan Dakwah yang Lembut

Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW bukan semata-mata karena mukjizat, melainkan juga karena akhlaknya.

Allah SWT berfirman:

«"Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau berpikir keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekitarmu." (QS. Ali 'Imran [3]: 159).»

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

«"Permudahlah dan jangan berteman. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari." (HR. al-Bukhari dan Muslim).»

Beliau juga bersabda:

«"Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu melainkan akan memikatnya." (HR.Muslim).»

Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah lebih banyak ditentukan oleh akhlak daripada kerasnya suara.


Pelajaran dari Ulama Nusantara

Buya Hamka menjelaskan bahwa dakwah bil hikmah berarti memahami budaya masyarakat sehingga Islam hadir sebagai rahmat, bukan ancaman (Hamka, Tafsir al-Azhar, juz 14).

Prof. M. Quraish Shihab menambahkan bahwa hikmah adalah ketepatan memilih waktu, bahasa, dan cara menyampaikan. Tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang sama kepada setiap orang (Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, jil. 7).

KH. Bisri Mustofa melalui Tafsir al-Ibriz menampilkan bagaimana bahasa sederhana dan dekat dengan masyarakat lebih mudah menyentuh hati daripada istilah-istilah yang sulit dipahami.

Sementara KH. Hasyim Asy'ari menegaskan bahwa seorang dai harus menyempurnakan dirinya dengan adab, tawaduk, keikhlasan, dan kasih sayang sebelum mengajak orang lain kepada Allah (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim).


Dakwah di Era Digital

Media sosial memberi peluang besar untuk berdakwah, namun juga membuka pintu fitnah, kebencian, dan perpecahan.

Oleh karena itu, prinsip dakwah bil hikmah semakin relevan. Seorang Muslim hendaknya memastikan informasi yang disampaikan benar, memilih bahasa yang santun, menghindari hasutan, serta tidak mudah mengkafirkan atau melontarkan kata-kata kepada pihak lain.

Dakwah bukan perlombaan mencari pengikut, melainkan usaha menghadirkan rahmat Allah di tengah masyarakat.


Penutup

Dakwah bil hikmah adalah metode dakwah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tugas berdakwah bukan hanya milik para ulama, tetapi menjadi tanggung jawab setiap Muslim sesuai ilmu dan kemampuannya.

Hikmah berarti menyampaikan kebenaran dengan ilmu, kasih sayang, kelembutan, argumentasi yang benar, dan memahami kondisi orang yang diajak. Dengan cara itulah dakwah akan menghadirkan persatuan, kedamaian, dan hidayah, bukan permusuhan.

serupa sabda Rasulullah SAW:

«"Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu yang memikatnya." (HR.Muslim).»

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu berdakwah dengan hikmah, memberi teladan melalui akhlak, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Aamiin.


Daftar Pustaka

Al-Qur'an al-Karim.

Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhari.

Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim.

Ath-Thabari. Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān.

Al-Qurthubi. Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān.

Sayyid Quthb. Fī Ẓilāl al-Qur'ān.

Wahbah az-Zuhaili. Tafsir al-Munir.

Hamka. Tafsir al-Azhar.

M.Quraish Shihab. Tafsir al-Mishbah dan Wawasan Al-Qur'an.

Bisri Mustofa. Tafsir al-Ibriz.

KH. Hasyim Asy'ari. Adab al-'Alim wa al-Muta'allim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman