Menghormati Ulama dan Habaib: Jalan Meraih Berkah dan Menjaga Warisan Nabi
Oleh: Pengamat Studi Al-Qur'an dan Dakwah
Pendahuluan
Dalam kehidupan umat Islam, ulama dan habaib memiliki kedudukan yang istimewa. Ulama dihormati karena ilmu, ketakwaan, dan pengabdiannya dalam membimbing umat. Sementara habaib dimuliakan karena nasabnya yang terhubung kepada Rasulullah ﷺ sekaligus peran mereka dalam dakwah dan pembinaan masyarakat.
Menghormati ulama dan habaib bukan berarti mengkultuskan manusia, melainkan menghargai keagungan yang Allah berikan kepada mereka. Al-Qur'an dan Sunnah mengajarkan agar umat Islam menjaga adab terhadap orang-orang saleh, ahli ilmu, dan keluarga Nabi Muhammad ﷺ. Dari sikap hormat itulah lahir keberkahan ilmu, persatuan umat, dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Ulama Adalah Pewaris Para Nabi
Allah SWT berfirman:
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ
"Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar [39]: 9).
Menurut Imam At-Thabari, ayat ini menunjukkan kemuliaan ahli ilmu dibandingkan orang yang tidak memiliki ilmu agama karena ilmu menjadi jalan menuju ketaatan kepada Allah.¹
Sementara Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang memahami agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.²
Kemuliaan ulama juga ditegaskan dalam firman Allah:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Al-Qurthubi menerangkan bahwa Allah memberikan kedudukan yang tinggi kepada para ulama baik di dunia maupun di akhirat karena ilmu yang mereka miliki membawa manfaat bagi umat.³
Oleh karena itu, menghormati ulama pada hakikatnya adalah menghormati ilmu yang mereka bawa dan perjuangan mereka dalam menjaga agama.
Perintah Mencintai Keluarga Rasulullah ﷺ
Selain memuliakan ulama, Islam juga mengajarkan kecintaan kepada Ahlul Bait Rasulullah ﷺ.
Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33).
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan kemuliaan keluarga Rasulullah ﷺ dan menjadi dasar anjuran mencintai serta menghormati mereka.⁴
Allah juga berfirman:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى
"Katakanlah, aku tidak meminta kepadamu ketidakseimbangan apa pun kecuali kasih sayang kepada kerabatku." (QS. Asy-Syura [42]: 23).
Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa salah satu kandungan ayat ini adalah anjuran untuk mencintai keluarga Rasulullah ﷺ sebagai bentuk penghormatan kepada beliau.⁵
Dari sini para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa mencintai dan menghormati habaib merupakan bagian dari kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Hadis Tentang Kemuliaan Ulama
Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR.Abu Dawud).
Hadis ini sangat populer di kalangan ulama. Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa yang diwariskan para nabi bukanlah harta, melainkan ilmu, hikmah, dan petunjuk agama.⁶
Karena itulah ulama mempunyai tugas besar menjaga kemurnian ajaran Islam, mengajarkan ilmu kepada masyarakat, dan menjadi tempat bertanya ketika umat menghadapi persoalan agama.
Dalam tradisi pesantren, penghormatan terhadap ulama selalu ditempatkan sebagai bagian dari adab. Para santri mengajarkan bahwa keberkahan ilmu tidak hanya diperoleh melalui kecerdasan, tetapi juga melalui penghormatan kepada guru.
Pesan Rasulullah Tentang Ahlul Bait
Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
> أُذَكِّرُكُمُ اللّٰهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي
“Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku.”
(HR. Muslim).
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini berisi perintah agar umat Islam menjaga hak-hak Ahlul Bait, melindungi mereka, dan tidak menyakiti mereka.⁷
Namun para ulama juga mengingatkan bahwa keagungan nasab harus disertai dengan ketakwaan. Nasab yang mulia merupakan kehormatan besar, namun amal saleh tetap menjadi ukuran utama kemuliaan di sisi Allah.
Oleh karena itu penghormatan kepada habaib dilakukan dalam bingkai syariat, tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi penghormatan kepada ulama maupun kaum muslimin lainnya.
Pandangan Ulama Nusantara
KH. Hasyim Asy'ari dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim menjelaskan bahwa salah satu sebab datangnya keberkahan ilmu adalah memuliakan guru dan ulama.⁸
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa ulama dan keturunan Rasulullah yang istiqamah dalam dakwah merupakan aset umat yang harus dijaga kehormatannya.⁹
Tradisi Nahdlatul Ulama juga mengenal konsep takrim al-'ulama wa al-awliya', yaitu memuliakan ulama dan orang-orang saleh sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu dan ketakwaan mereka.
Di berbagai daerah Nusantara, penghormatan terhadap ulama dan habaib terlihat dalam tradisi pengajian, majelis ilmu, ziarah ulama, serta pembacaan manaqib yang mengambil teladan teladan dari kehidupan mereka.
Hikmah Menghormati Ulama dan Habaib
Pertama, mendapatkan keberkahan ilmu. Banyak ulama salaf yang berpendapat bahwa adab merupakan pintu masuk ilmu yang bermanfaat.
Kedua, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Menghormati Keluarga Nabi akan mengingatkan umat kepada perjuangan dan akhlak beliau.
Ketiga, menjaga persatuan umat. Ulama dan habaib sering menjadi perekat sosial yang menyatukan masyarakat di tengah berbagai perbedaan.
Keempat, mewarisi akhlak mulia. Bergaul dengan ulama dan orang saleh dapat membentuk karakter yang lebih baik.
Kelima, menjaga kesinambungan dakwah Islam. Ulama dan habaib merupakan bagian dari mata rantai transmisi ilmu yang bersambung dari generasi ke generasi.
Penutup
Menghormati ulama dan habaib merupakan bagian dari ajaran Islam yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Ulama dimuliakan karena ilmu dan ketakwaannya sebagai pewaris para nabi, sedangkan habaib dihormati karena hubungan nasab dengan Rasulullah ﷺ dan kontribusi mereka dalam menjaga dakwah Islam.
Sikap hormat tersebut hendaknya diwujudkan dalam bentuk mengambil manfaat dari ilmu mereka, menjaga adab ketika berinteraksi, mendoakan mereka, serta meneladani akhlak dan perjuangannya. Dengan demikian, penghormatan terhadap ulama dan habaib tidak berhenti pada penghormatan simbolik, namun menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Manfaat. Aamiin
Catatan Kaki
¹ At-Thabari, Jami' al-Bayan, Juz 21, hlm. 210.
² Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 7, hlm. 96.
³ Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Juz 17, hlm. 299.
⁴ Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 6, hlm. 410.
⁵ Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Juz 27, hlm. 166.
⁶ Al-Munawi, Faidh al-Qadir, Juz 4, hlm. 384.
⁷ An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz 15, hlm. 180.
⁸KH. Hasyim Asy'ari, Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, hlm. 72.
⁹ Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 25, hlm. 108.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar