PERKARA YANG MERUSAK AMAL IBADAH
Menjaga Keikhlasan di Tengah Godaan Pujian Manusia
Oleh: Ustadz Umar Fauzi
Pendahuluan
Ibadah adalah jalan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Shalat, puasa, sedekah, zikir, dan berbagai amal saleh lainnya menjadi sarana berkumpul bekal menuju kehidupan akhirat. Namun, tidak semua amal yang tampak baik di hadapan manusia bernilai baik di sisi Allah. Ada amal yang terlihat besar, namun tidak memiliki nilai karena rusak oleh penyakit hati yang tersembunyi.
Penyakit hati seperti riya', sum'ah, ujub, dan takabbur merupakan ancaman serius bagi setiap umat Islam. Bahayanya bukan hanya mengurangi pahala, namun dapat menghapus seluruh nilai ibadah yang telah dilakukan. Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras kepada umatnya agar berhati-hati terhadap penyakit hati yang sering kali tidak menyadari keberadaannya.
Dalam kehidupan modern, godaan riya' bahkan semakin besar. Media sosial memungkinkan seseorang menampilkan berbagai amal dan aktivitas keagamaan kepada banyak orang. Tidak sedikit yang awalnya bermaksud baik, namun perlahan berubah menjadi pengakuan dan pujian manusia. Pentingnya memahami hadis Nabi tentang syirik kecil yang bernama riya'.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ.
: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ»
“Sebenarnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya'.”
(HR. Ahmad, no. 23630)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat meremehkan penyakit riya' yang menimpa umatnya. Bahkan beliau menyebutnya sebagai syirik kecil, suatu istilah yang menunjukkan betapa berbahayanya penyakit tersebut.
Mengapa Riya' Disebut Syirik Kecil?
Dalam bahasa Inggris, riya' berarti menampilkan amal kepada orang lain agar mendapat pujian dan penghargaan. Dalam praktiknya, seseorang beribadah bukan semata-mata karena Allah, tetapi juga karena ingin mendapatkan penilaian baik dari manusia.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa riya' adalah melakukan amal untuk dilihat manusia dan berharap mendapatkan pujian mereka (an-Nawawi, 1996). Amal yang seharusnya dipersembahkan kepada Allah justru dicampuri tujuan lain, yaitu mencari perhatian manusia.
Oleh karena itu, riya' disebut syirik kecil. Bukan karena pelakunya menyembah selain Allah, melainkan karena di dalam niatnya terdapat unsur mempersekutukan Allah dengan makhluk. Hatinya tidak sepenuhnya tertuju kepada Allah, tetapi juga kepada manusia.
Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa riya' merupakan lawan dari ikhlas. Jika ikhlas menyampaikan tujuan hanya kepada Allah, maka riya' mencampurkan tujuan tersebut dengan kepentingan duniawi berupa pujian dan penghormatan terhadap manusia (Ibnu Rajab, 1999).
Al-Qur'an Mengingatkan Bahaya Riya'
Allah SWT berfirman:
«فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا»
“Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahfi [18]: 110)
Ayat ini menegaskan dua syarat diterimanya amal: amal harus benar dan niat harus ikhlas. Amal saleh tanpa keikhlasan tidak akan bernilai di sisi Allah.
Dalam ayat lain Allah berfirman:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ»
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerimanya, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 264)
Ayat ini menunjukkan bahwa riya' dapat membatalkan pahala sedekah. Amal yang secara lahir tampak mulia dapat kehilangan karena niat yang tidak benar.
Riya' yang Halus dan Sulit Disadari
Bahaya riya' terletak pada sifat yang sangat halus. Banyak orang yang mampu mengenali dosa-dosa lahiriah, tetapi sulit mengenali penyakit hati yang tersembunyi.
Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum ad-Din menjelaskan bahwa riya' sering menyusup secara perlahan. Seseorang mungkin memulai ibadah dengan niat yang tulus, tetapi ketika mendapat pujian, ia mulai menikmati perhatian manusia dan mencapai tujuan tambahan (al-Ghazali, 1998).
Misalnya seseorang memperpanjang bacaan shalat ketika menjadi imam karena mengetahui ada orang yang memperhatikannya. Atau seseorang rajin bersedekah ketika diketahui banyak orang, tetapi menjadi malas ketika tidak ada yang melihat.
Inilah bentuk-bentuk riya' yang sangat halus dan memerlukan kewaspadaan tinggi.
Sum'ah, Ujub, dan Takabbur
Selain riya', ada penyakit hati lain yang dapat merusak amal ibadah.
Sum'ah adalah keinginan agar amal yang didengar orang lain. Jika riya' berkaitan dengan apa yang dilihat, maka sum'ah berkaitan dengan apa yang didengar. Seseorang menceritakan ibadahnya agar mendapatkan pujian dari orang lain.
Ujub merasa kagum terhadap dirinya sendiri. Pelakunya menganggap amal yang dilakukan merupakan hasil kehebatan pribadinya, bukan karunia Allah. Hasilnya ia merasa lebih baik dibandingkan orang lain.
Sedangkan takabbur adalah kesombongan yang membuat seseorang memenuhi orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.
Penyakit ketiga ini sering berjalan beriringan. Riya' melahirkan pujian manusia, pujian melahirkan ujub, dan ujub dapat berkembang menjadi kebanggaan.
Pandangan Para Ulama
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa amal yang rusak karena niat tidak akan memberikan manfaat di akhirat. Bahkan amal tersebut dapat menjadi penyesalan bagi pelakunya karena dilakukan bukan demi mencari ridha Allah (Ibnu Qayyim, 2000).
Beliau menegaskan bahwa amal yang diterima harus memenuhi syarat doa: ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tutunan Rasulullah ﷺ. Jika salah satu syarat hilang, maka amal menjadi tertolak.
Sementara itu, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa riya' sering muncul karena kebutuhan manusia untuk memperoleh pengakuan sosial. Namun seorang mukmin harus menyadari bahwa menilai Allah jauh lebih penting daripada menilai manusia (Shihab, 2007).
Ketika seseorang memahami bahwa seluruh manusia tidak mampu memberikan manfaat maupun mudarat tanpa izin Allah, maka keinginan untuk mencari pujian manusia akan semakin berkurang.
Cara Menjaga Amal dari Riya'
Para ulama memberikan beberapa langkah praktis untuk menjaga keikhlasan.
Pertama, memperbanyak muraqabah, yaitu merasa selalu membayangkan Allah. Ketika hati menyadari bahwa Allah mengetahui segala isi hati, maka keinginan mencari pujian manusia akan melemah.
Kedua, melakukan muhasabah, yaitu niat sebelum, ketika, dan setelah beramal. Setiap amal perlu diperiksa: apakah benar dilakukan karena Allah atau ada kepentingan lain yang menyertainya.
Ketiga, bersembunyi amal saleh semampunya. Amal yang tersembunyi lebih dekat kepada keikhlasan dibandingkan amal yang dipublikasikan.
Keempat, memperbanyak doa agar dijauhkan dari syirik kecil. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ»
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui.”
Hikmah yang Dapat Diambil
Ada beberapa pelajaran penting dari hadis ini.
Pertama, keikhlasan adalah ruh seluruh amal ibadah. Tanpa keikhlasan, amal hanya menjadi aktivitas lahiriah yang kosong dari nilai spiritual.
Kedua, riya' merupakan penyakit hati yang dapat menimpa siapa saja, termasuk orang berilmu dan ahli ibadah.
Ketiga, pujian kepada manusia bersifat sementara, sedangkan ridha Allah bersifat abadi.
Keempat, seorang mukmin harus lebih sibuk memperbaiki niatnya daripada mencari penghargaan manusia.
Kelima, menjaga hati jauh lebih sulit daripada menjaga anggota badan, sehingga diperlukan mujahadah dan latihan spiritual yang berkelanjutan.
Penutup
Hadis tentang riya' ini merupakan peringatan yang sangat penting bagi setiap umat Islam. Rasulullah ﷺ tidak khawatir umatnya hanya terhadap kemiskinan atau kelemahan fisik, tetapi juga terhadap penyakit hati yang dapat merusak amal tanpa disadari.
Oleh karena itu, setiap ibadah perlu dibangun di atas fondasi keikhlasan. Shalat, puasa, sedekah, dakwah, bahkan aktivitas sosial dan pendidikan harus diarahkan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.
Pada akhirnya, yang menentukan nilai suatu amal bukanlah seberapa banyak manusia yang memuji, melainkan seberapa besar amal tersebut diterima oleh Allah. Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya', sum'ah, ujub, dan takabbur, serta menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan. Aamiin.
Referensi
Al-Ghazali. (1998). Ihya’ ‘Ulum ad-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
An-Nawawi. (1996). Riyadh asy-Shalihin. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. (2000). Madarij as-Salikin. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi.
Ibnu Rajab al-Hanbali. (1999). Jami' al-'Ulum wal-Hikam. Beirut: Muassasah ar-Risalah.
Shihab, M.Quraisy. (2007). Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar