Senin, 01 Juni 2026

BERKEADILAN


Alumni PTIQ dan Ikhtiar Mewujudkan Keadilan Menuju Baldatun Ṭayyibatun wa Rabbun Ghafūr

Oleh: Pengamat Studi Al-Qur'an 

           dan Dakwah


Di tengah arus perubahan sosial yang bergerak begitu cepat, kebutuhan akan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual semakin mendesak. Dalam konteks inilah lembaga pendidikan Islam memiliki peran strategis sebagai pusat pembentukan karakter, moralitas, dan kepemimpinan umat.

Salah satu institusi yang memiliki kontribusi besar dalam bidang tersebut adalah Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta. Sejak berdiri pada tahun 1971, PTIQ dikenal sebagai perguruan tinggi yang memadukan tradisi akademik dengan penguatan hafalan Al-Qur'an. Kehadirannya menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Islam Indonesia modern.

PTIQ lahir dari ikhtiar para ulama dan tokoh bangsa yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan ilmu Al-Qur'an. Nama-nama seperti KH. Muhammad Dahlan, KH. Zaini Miftah, Prof.KH. Ibrahim Hosen, serta Dr. H. Multi Ali tercatat sebagai bagian dari generasi perintis yang meletakkan fondasi keilmuan kampus tersebut. Dalam perkembangannya, sejumlah cendikiawan muslim, termasuk Prof. M. Quraish Shihab, turut memberikan kontribusi penting dalam penguatan tradisi tafsir dan kajian Al-Qur'an.

Di samping itu, dukungan berbagai pihak, termasuk Letjen TNI (Purn.) Dr. Ibnu Sutowo melalui Yayasan Pendidikan Al-Qur'an (YPA), menjadi bagian dari perjalanan sejarah PTIQ. Dukungan tersebut kemudian berlanjut hingga generasi berikutnya, sehingga PTIQ mampu bertahan dan berkembang sebagai salah satu pusat kajian Al-Qur'an yang diperhitungkan di Indonesia.


Dakwah yang Membumi

Sebagai lembaga kaderisasi ulama dan intelektual Muslim, PTIQ tidak hanya melahirkan para penghafal Al-Qur'an, tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh yang berkiprah di tengah masyarakat. Para alumninya tersebar di berbagai bidang, mulai dari dunia pendidikan, dakwah, penelitian, hingga pemberdayaan sosial.

Yang menarik, corak dakwah alumni PTIQ umumnya menampilkan wajah Islam yang ramah, moderat (wasathiyah), dan mampu berdialog dengan perkembangan zaman. Mereka tidak hanya sekedar menyampaikan ajaran agama melalui mimbar-mimbar dakwah, tetapi juga memanfaatkan berbagai media modern untuk menyebarkan pesan-pesan keislaman yang menyejukkan.

Dalam perspektif Islam Ahlussunnah wal Jamaah, dakwah memang tidak terbatas pada penyampaian ceramah. Dakwah adalah usaha menghadirkan nilai-nilai Qur'ani dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun keadilan sosial, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kemaslahatan bersama.


Keadilan sebagai Amanat Al-Qur'an

Salah satu nilai fundamental yang terus ditekankan Al-Qur'an adalah keadilan. Allah SWT berfirman:

«إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berkenan.” (QS. An-Nisa': 58)»


Dalam ayat lain Allah berfirman:

«اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma'idah : 8)»

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa keadilan bukan sekadar tuntutan sosial, melainkan perintah agama yang berdimensi spiritual. Keadilan harus ditegakkan tanpa mempertimbangkan latar belakang, kelompok, maupun kepentingan tertentu.

Rasulullah SAW bahkan memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada para penegak keadilan. Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa orang-orang yang berlaku adil kelak akan berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah SWT.

Oleh karena itu, dakwah yang berorientasi pada penegakan keadilan sejatinya merupakan bagian dari upaya menghidupkan nilai-nilai Al-Qur'an di tengah kehidupan masyarakat.


Mewujudkan Negeri yang Baik

Al-Qur'an memberikan gambaran ideal mengenai kehidupan masyarakat melalui firman Allah SWT:

«بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS.Saba': 15)»

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ungkapan tersebut menggambarkan masyarakat yang memperoleh keberkahan karena adanya keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial.

Imam Ath-Thabari dan Ibnu Katsir menerangkan bahwa keberkahan suatu negeri lahir dari ketaatan penduduknya kepada Allah SWT. Sementara itu, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa konsep Baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr juga mencakup terciptanya keadilan, kesejahteraan, keamanan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dengan demikian, cita-cita mewujudkan negeri yang baik bukanlah impian yang utopis. Ia merupakan agenda bersama yang harus diperjuangkan melalui pendidikan, dakwah, keteladanan, serta penguatan nilai-nilai moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Warisan Pemikiran Ulama Nusantara

Gagasan tentang keadilan dan kemaslahatan masyarakat telah lama menjadi perhatian para ulama Nusantara. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari menegaskan pentingnya keadilan sebagai salah satu pilar tegaknya kehidupan umat. Sementara KH. Ahmad Dahlan memberikan perhatian besar pada pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan dan pelayanan sosial.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas akhlak masyarakatnya. Adapun Syekh Nawawi al-Bantani menempatkan keadilan sebagai bagian penting dari tujuan syariat Islam (maqāṣid al-syarī'ah).

Warisan pemikiran para ulama tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.


Alumni PTIQ dan Tanggung Jawab Peradaban

Di tengah berbagai tantangan bangsa, alumni PTIQ memiliki tanggung jawab moral untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur'an di ruang publik. Bekal keilmuan dan kedekatan mereka dengan Al-Qur'an diharapkan mampu menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Dakwah yang dilakukan tidak semata-mata mengajak masyarakat memperbanyak ibadah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya kejujuran, amanah, keadilan, persaudaraan, dan kepedulian sosial.

Dengan pendekatan yang moderat, santun, dan berbasis ilmu pengetahuan, alumni PTIQ dapat menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan bangsa yang harmonis dan berkeadaban.


Penutup

Perjalanan panjang PTIQ Jakarta menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur'an memiliki kontribusi nyata dalam membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak. Dari kampus ini lahir para dai, pendidik, ulama, dan pemimpin masyarakat yang berusaha mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan nyata.

Ikhtiar mewujudkan keadilan sosial dan membangun baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr tentu bukanlah tugas yang ringan. Namun melalui pendidikan, dakwah, dan keteladanan, harapan tersebut akan terus hidup.

Dari rahim pendidikan Al-Qur'an, semoga lahir generasi yang mampu menjadi pelita bagi umat, penebar kemaslahatan bagi bangsa, dan penggerak terwujudnya kehidupan yang lebih adil, damai, dan penuh keberkahan.

Wallāhu a'lam bi al-shawāb.

Manfaat. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman