Senin, 01 Juni 2026

CINTA DUNIA


Memaknai Zuhud dalam Islam: Meletakkan Dunia di Tangan, Bukan di Hati


Oleh: Pengamat Studi Al-Qur'an dan Dakwah

2 Juni 2026


Pendahuluan

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering dihadapkan pada perlombaan mengumpulkan harta, jabatan, dan berbagai simbol kesuksesan duniawi. Tidak sedikit yang kemudian mengukur kebahagiaan dari banyaknya materi yang dimiliki. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Salah satu ajaran penting yang menjaga keseimbangan tersebut adalah zuhud.

Sebagian orang memahami zuhud sebagai meninggalkan dunia, hidup miskin, atau menjauhi segala bentuk kenikmatan. Padahal, pemahaman demikian tidak sepenuhnya tepat. Dalam pandangan para ulama, zuhud bukanlah menolak dunia, melainkan menempatkan dunia pada posisi yang seharusnya.

Allah SWT berfirman:

«وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَا»

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah engkau mencintai bagianmu dari dunia.” (QS. Al-Qashash : 77)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan sikap anti-dunia. Seorang muslim tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan menikmati nikmat Allah, namun semua itu diarahkan untuk meraih ridha-Nya.


Apa Itu Zuhud?

Secara bahasa, zuhud berarti meninggalkan sesuatu karena dianggap tidak terlalu bernilai atau sesuatu yang lebih mulia. Dalam konteks keagamaan, zuhud berarti melepaskan diri dari ketergantungan hati kepada dunia dan mengarahkannya kepada Allah Swt.

Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Al-Zuhd menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti tidak memiliki harta, melainkan tidak menjadikan harta sebagai pusat kehidupan. Harta boleh berada di tangan, tapi jangan sampai menguasai hati.

Senada dengan itu, Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menerangkan bahwa zuhud adalah sikap-sikap yang bergantung dari ketergantungan terhadap dunia karena menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sarana menuju kehidupan akhirat yang abadi.

Dengan demikian, seseorang bisa saja kaya raya namun tetap zuhud apabila hatinya tidak bergantung pada kekayaan tersebut. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana belum tentu zuhud apabila hatinya masih dipenuhi kecintaan berlebihan terhadap dunia.


Hukum Zuhud dalam Islam

Para ulama menjelaskan bahwa zuhud memiliki beberapa tingkatan hukum.

Pertama, zuhud yang wajib, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan kepada Allah. Menjauhi riba, korupsi, suap, penipuan, dan berbagai bentuk kemaksiatan merupakan bagian dari zuhud yang wajib dilakukan setiap umat Islam.

Kedua, zuhud yang sunnah, yaitu mengurangi perkara-perkara mubah yang berlebihan sehingga dapat melalaikan dari ibadah dan mengingat Allah.

Ketiga, zuhud yang tercela, yaitu apabila seseorang meninggalkan kewajiban hidup, mengabaikan keluarga, atau menolak nikmat Allah dengan alasan ingin menjadi zuhud. Sikap seperti ini tidak dapat dibenarkan dalam Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ»

“Berzuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah sayang. Dan berzuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia sayang.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan bahwa zuhud bukan sekedar menjalankan ibadah spiritual, tetapi juga jalan untuk memperoleh cinta Allah dan rasa hormat dari sesama manusia.


Buah Manis Sikap Zuhud

Zuhud menghadirkan banyak manfaat dalam kehidupan seorang muslim.

Pertama, ketenangan hati. Orang yang tidak menggantungkan kebahagiaannya di dunia akan lebih mudah menerima berbagai keadaan hidup. Ia tidak mudah merasa risih ketika kehilangan sesuatu dan tidak berlebihan ketika mendapat kenikmatan.

Kedua, melahirkan sifat qana'ah, yaitu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah. Qana'ah bukan berarti berhenti berusaha, tetapi mensyukuri atas hasil yang diperoleh setelah berikhtiar.

Ketiga, memperkuat keikhlasan. Orang yang zuhud beramal bukan karena pujian manusia atau keuntungan dunia, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah.

Keempat, menjaga kehormatan diri. Orang yang zuhud tidak mudah meminta-minta atau menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Ia menyandarkan harapannya hanya kepada Allah Swt.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

«لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, melainkan kekayaan hati.” (Muttafaq 'Alaih)

Hadis ini mengingatkan bahwa ukuran kebahagiaan dalam Islam bukanlah jumlah kepemilikan, melainkan kualitas jiwa.


Filosofi Zuhud: Menggunakan Dunia Tanpa Diperbudak Dunia

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa hakikat zuhud adalah kebebasan jiwa dari kekekalan dunia. Dunia dipandang sebagai kendaraan menuju Allah, bukan tujuan akhir perjalanan manusia.

Imam Al-Ghazali menggambarkan bahwa orang yang zuhud adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya sehingga tidak diperbudak oleh ambisi duniawi. Sementara Syekh Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa orang yang paling kaya sesungguhnya adalah mereka yang tidak bergantung kepada selain Allah.

Oleh karena itu, zuhud tidak identik dengan pakaian luluh atau kehidupan miskin. Zuhud adalah kondisi hati. Seorang pedagang, pejabat, sejarawan, petani, atau pengusaha dapat menjadi pribadi yang zuhud apabila menjadikan dunia sebagai alat beribadah dan sarana menebar kemaslahatan.

Dalam konteks kehidupan saat ini, zuhud dapat diwujudkan dengan bekerja secara halal, hidup sederhana, tidak berlebihan dalam mengonsumsi, memperbanyak sedekah, serta menjadikan kesuksesan dunia sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.


Penutup

Zuhud merupakan ajaran Islam yang mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan melepaskan hati dari ketergantungan terhadap dunia.

Sikap ini diwujudkan dengan meninggalkan yang haram, mengendalikan keinginan yang berlebihan, serta menjadikan segala kenikmatan dunia sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah. Dari sikap zuhud lahirlah ketenangan hati, rasa cukup, keikhlasan, dan kemuliaan akhlak.

Di tengah budaya materialisme yang semakin kuat, nilai zuhud menjadi relevan untuk dihidupkan kembali. Sebab, kebahagiaan sejati tidak terletak pada keberlimpahan yang dimiliki, namun pada kemampuan hati untuk tetap dekat dengan Allah dalam segala keadaan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman