Jumat, 29 Mei 2026

PERDAMAIAN


PERDAMAIAN DALAM ISLAM: JALAN MENUJU RAHMAT DAN PERADABAN

Oleh: Pengamat Studi Al-Qur'an dan Dakwah

30 Mei 2026


Islam dan Pesan Perdamaian

Ketika mendengar kata Islam, yang terlintas di benak banyak orang adalah agama yang mengajarkan ibadah, akhlak, dan hukum. Namun sesungguhnya, akar kata Islam berasal dari slm yang bermakna damai, selamat, dan tunduk kepada Allah SWT. Oleh karena itu, perdamaian bukan sekadar bagian dari ajaran Islam, melainkan ruh yang menghidupkan seluruh syariat.

Islam hadir untuk memerdekakan manusia dari kebencian, kebencian, dan memilih menuju kehidupan yang penuh ketenangan dan kasih sayang. Tidak masalah bila salam yang menjadi identitas umat Islam adalah doa keselamatan dan perdamaian: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia mendaki jalan damai. Allah SWT berfirman:

«"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan." (QS. Al-Baqarah : 208)»

Menurut sebagian mufasir, kata as-silm dalam ayat ini tidak hanya bermakna Islam sebagai agama, tetapi juga perdamaian yang lahir dari kepatuhan kepada Allah.


Perdamaian sebagai Tujuan Syariat

Syariat Islam bertujuan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Semua tujuan tersebut tidak mungkin terwujud tanpa adanya perdamaian.

Oleh karena itu, Islam tidak pernah memuliakan konflik. Sebaliknya, Islam memerintahkan rekonsiliasi dan penyelesaian secara adil.

Allah SWT berfirman:

«"Maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat : 10)»

Ayat ini menunjukkan bahwa persaudaraan iman harus menjadi dasar penyelesaian konflik. Ketika terjadi pertikaian, yang diperintahkan bukan memperbesar masalah, melainkan mencari jalan damai yang mendatangkan kemaslahatan.

Rasulullah SAW bahkan menyebut upaya mendamaikan manusia sebagai amalan yang sangat mulia.

«"Sedekah yang paling utama adalah mendamaikan hubungan yang rusak." (HR.Ahmad)»

Hadis ini menunjukkan bahwa nilai perdamaian tidak kalah penting dibandingkan ibadah sosial lainnya.


Pandangan Para Ulama

Imam Al-Tabari menjelaskan bahwa perdamaian yang diperintahkan Al-Qur'an adalah perdamaian yang dibangun atas ketaatan kepada Allah dan perdamaian sosial. Perdamaian tidak boleh menjadi alat untuk melanggengkan kezaliman.

Senada dengan itu, Imam Al-Qurthubi menegaskan bahwa mendamaikan pihak yang bertikai merupakan kewajiban sosial apabila perpecahan mengancam persatuan umat.

Mufasir kontemporer Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa tujuan utama syariat adalah menciptakan kemaslahatan. Oleh karena itu, setiap usaha yang mendekatkan manusia menuju kedamaian dan keadilan merupakan bagian dari nilai-nilai Islam.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menekankan pentingnya dialog, pengendalian emosi, dan penghormatan terhadap sesama sebagai fondasi perdamaian.

Di Indonesia, Buya Hamka memandang perdamaian sebagai kekuatan moral yang mampu menyatukan masyarakat dan membangun peradaban. Sementara Gus Dur memandang perdamaian sebagai implementasi nyata Islam rahmatan lil-'alamin, rahmat bagi seluruh alam.


Dimensi Perdamaian dalam Islam

Perdamaian dalam Islam memiliki cakupan yang sangat luas.

Pertama, perdamaian dengan Allah SWT melalui keimanan, ibadah, dan ketaatan. Hati yang jauh dari Allah akan mudah dipenuhi kegelisahan dan kebencian.

Kedua, perdamaian dengan diri sendiri. Islam mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani sehingga manusia dapat hidup tenang dan bahagia.

Ketiga, perdamaian dalam keluarga. Rumah tangga yang dibangun atas dasar kasih sayang akan melahirkan generasi yang sehat secara spiritual dan emosional.

Keempat, perdamaian sosial. Islam mengajarkan sikap saling menghormati, tolong-menolong, dan menjaga hak orang lain.

Kelima, perdamaian antaragama dan antarbangsa. Selama tidak mengganggu akidah dan kebebasan beragama, Islam mendorong kerja sama dalam kebaikan dan kesejahteraan.


Kapan Perdamaian Menjadi Wajib?

Dalam Islam, hukum perdamaian berbeda sesuai kondisi yang dihadapi.

Perdamaian menjadi wajib apabila konflik menjamin keselamatan jiwa, keamanan masyarakat, atau persatuan umat. Dalam kondisi seperti ini, upaya rekonsiliasi harus dilakukan terlebih dahulu.

Perdamaian juga sangat dianjurkan dalam berbagai gangguan keluarga, tetangga, dan masyarakat. Alasan konflik yang dibiarkan sering berkembang menjadi permusuhan berkepanjangan.

Namun Islam juga mengingatkan bahwa tidak semua bentuk perdamaian dapat dibenarkan. Perdamaian yang menghalalkan kezaliman, menghapus hak korban, atau membiarkan membiarkan tetap berlangsung tidak termasuk perdamaian yang diridhai Allah.

Oleh karena itu Al-Qur'an menegaskan:

«"Dan perdamaian itu lebih baik." (QS. An-Nisa': 128)»

Perdamaian yang dimaksud adalah perdamaian yang berdiri di atas keadilan dan kebenaran.

Keutamaan Orang yang Menebarkan Perdamaian

Orang yang berusaha menciptakan perdamaian mendapatkan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.

Di dunia, mereka menjadi sumber ketenangan, memperoleh kepercayaan masyarakat, dan menjadi perekat persatuan.

Di akhirat, Allah menjanjikan pahala besar bagi para muslihin atau para pendamai. Mereka termasuk golongan yang dicintai Allah karena berusaha menghilangkan permusuhan dan menghadirkan kemaslahatan.

Rasulullah SAW bersabda:

«"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangan." (HR. Bukhari dan Muslim)»

Hadis ini menunjukkan bahwa perdamaian dimulai dari kemampuan menjaga ucapan dan perilaku agar tidak merugikan orang lain.


Membangun Budaya Damai

Perdamaian tidak hadir dengan sendirinya. Ia harus dibangun melalui pendidikan, keteladanan, dan kesadaran bersama.

Ada beberapa langkah penting untuk mewujudkannya.

Pertama, membiasakan dialog dan musyawarah ketika terjadi perbedaan pendapat.

Kedua, menegakkan keadilan tanpa diskriminasi.

Ketiga, mengendalikan amarah dan membiasakan sikap memaafkan.

Keempat, menanamkan pendidikan akhlak sejak dini.

Kelima, menghadirkan pemimpin yang amanah, bijaksana, dan adil.

Ketika nilai-nilai tersebut hidup dalam masyarakat, perdamaian akan tumbuh menjadi budaya yang mengakar kuat.


Refleksi

Di tengah dunia yang sering diterjemahkan konflik, kebencian, dan polarisasi, pesan Islam tentang perdamaian menjadi semakin relevan. Perdamaian bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan moral yang lahir dari iman, kebijaksanaan, dan kematangan jiwa.

Seorang mukmin sejati tidak hanya beribadah kepada Allah, tetapi juga menghadirkan rasa aman bagi sesama. Ia menjadi jembatan ketika orang lain berselisih, menjadi penyejuk ketika suasana memanas, dan menjadi pembawa harapan ketika masyarakat terpecah.

Oleh karena itu, perdamaian bukan sekedar pilihan, melainkan bagian dari misi keislaman yang harus terus dihidupkan kembali dalam keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Daftar Pustaka

1. Al-Tabari. Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an.

2. Al-Qurthubi. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an.

3. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir al-Munir.

4. M.Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah.

5. Hamka. Tafsir Al-Azhar.

6. Hasbi Ash-Shiddieqy. Tafsir An-Nur.

7. Bisri Mustofa. Tafsir Al-Ibriz.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman