Mengisi Kemerdekaan ke-81 dalam Perspektif Islam
Dari Syukur Kemerdekaan Menuju Pengabdian, Keadilan, dan Kemajuan Bangsa
Oleh: Pengamat Dakwah
Pendahuluan
Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan. Pada tahun 2026 ini, Indonesia memasuki usia 81 tahun kemerdekaan. Momentum tersebut bukan sekedar seremonial perayaan dengan upacara, pengibaran bendera, kompetisi, dan berbagai kegiatan hiburan. Lebih dari itu, kebahagiaan merupakan kenikmatan besar yang patut disyukuri sekaligus amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Dalam perspektif Islam, kemerdekaan mempunyai makna yang sangat mendalam. Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan fisik, tetapi juga pembebasan manusia dari perpisahan kepada sesama manusia, kemiskinan, kemiskinan, kezaliman, keserakahan, dan segala bentuk penghambaan selain kepada Allah SWT.
Al-Qur'an:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'sebenarnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'” (QS. Ibrahim [14]: 7).
Oleh karena itu, mengisi kemerdekaan hakikatnya adalah bentuk syukur yang diwujudkan dalam amal nyata: menjaga persatuan, menegakkan keadilan, mencerdaskan bangsa, membangun ekonomi, merawat lingkungan, memperkuat moral, serta menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat.
Kemerdekaan sebagai Nikmat dan Amanah
Islam mengajarkan bahwa setiap kenikmatan mengandung tanggung jawab. Kemerdekaan yang diperoleh melalui perjuangan para pahlawan tidak dapat dinikmati secara pasif. Generasi setelah kemerdekaan mempunyai kewajiban untuk menjaga dan mengembangkannya.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat baik.” (QS. An-Nahl [16]: 90).
Ayat tersebut memberikan dasar penting bahwa kehidupan berbangsa harus dibangun demi keadilan dan kesejahteraan. Kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila rakyat masih mengalami ketidakadilan, korupsi, diskriminasi, kemiskinan yang ekstrem, atau kesewenang-wenangan.
sahuan.
Syekh Nawawi al-Bantani, melalui karya-karyanya yang sarat dengan ajaran akhlak, menekankan pentingnya keimanan yang diwujudkan melalui amal saleh dan akhlak mulia. Kehidupan seorang muslim tidak berhenti pada ibadah individu, namun harus menghasilkan kebaikan bagi kehidupan sosial. Nilai-nilai pendidikan akhlak dalam Nashaih al-'Ibad antara lain tekanan iman, akhlak, ilmu, dan pembentukan manusia yang berkualitas. (Nawawi al-Bantani, Nashaih al-'Ibad).
Kajian akademik terhadap karya tersebut juga menunjukkan kuatnya perhatian Nawawi terhadap pembentukan pribadi beriman, berakhlak, dan berpendidikan.
Dalam konteks kemerdekaan, pemikiran tersebut dapat diterjemahkan bahwa bangsa yang merdeka membutuhkan manusia merdeka yang beriman, berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.
Syekh Nawawi al-Bantani: Kemerdekaan dan Perlawanan terhadap Kezaliman
Syekh Nawawi al-Bantani hidup pada masa penjajahan. Meskipun sebagian besar perjalanan keilmuannya berlangsung di Makkah, perhatian terhadap tanah kelahirannya tidak pernah hilang. Sejumlah kajian mengenai pemikirannya mencatat bahwa Syekh Nawawi mempunyai perhatian terhadap persoalan ketidakadilan dan penjajahan serta ikut serta melalui pendidikan dalam menumbuhkan kesadaran keagamaan dan semangat kebangkitan masyarakat.
Hal ini memberikan pelajaran penting bagi generasi sekarang. Perjuangan mengisi kemerdekaan tidak selalu berbentuk perjuangan fisik. Pada masa kini, perjuangan dapat dilakukan melalui pendidikan, dakwah, ilmu pengetahuan, ekonomi, pelayanan publik, dan pembelaan terhadap masyarakat lemah.
Dengan demikian, seorang guru yang mendidik dengan ikhlas, seorang ulama yang membimbing umat, seorang dokter yang melayani masyarakat, seorang petani yang menjaga ketahanan pangan, seorang pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan, pegawai yang bekerja jujur, serta generasi muda yang belajar dengan sungguh-sungguh, semuanya dapat menjadi bagian dari perjuangan mengisi kemerdekaan.
Kemerdekaan akan kuat bila diisi oleh manusia yang mempunyai integritas.
Hamka: Merdeka dari Perbudakan Selain Allah
Buya Hamka memberikan pandangan yang sangat kuat mengenai makna kemerdekaan. Dalam Studi Islam, Hamka menjelaskan bahwa kemerdekaan dalam Islam tidak berhenti pada kebebasan politik, tetapi mencakup keterikatan manusia dari keterikatan hawa nafsu, nafsu, khurafat, dan ketundukan kepada manusia secara zalim.
Dengan demikian, kemerdekaan yang hakiki adalah ketika manusia hanya berserah diri kepada Allah SWT dan tidak diperbudak ataupun diperbudak oleh sesama manusia.
Pandangan Hamka tersebut sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Indonesia memang telah bebas dari penjajahan fisik, namun masih terdapat bentuk-bentuk “penjajahan baru”: penjajahan narkoba, perjudian, korupsi, materialisme, budaya konsumtif, hoaks, fanatisme yang sempit, duplikat, serta ketergantungan ekonomi dan teknologi yang tidak terkendali.
Oleh karena itu, peringatan kemerdekaan harus menjadi momentum untuk bertanya: sudahkah kita benar-benar merdeka?
Merdeka dari korupsi berarti tidak mengambil sesuatu yang bukan hak.
Merdeka dari hoaks berarti menggunakan kebebasan berbicara secara bertanggung jawab.
Merdeka dari kemiskinan berarti membangun perekonomian yang berkeadilan.
Merdeka dari pengapian berarti memberikan pendidikan yang berkualitas.
Merdeka dari perpecahan berarti mempersatukan persaudaraan, kebangsaan.
Hamka juga menunjukkan penerimaan terhadap Pancasila dengan perspektif keislaman. Dalam pembahasan tentang Pancasila, ia menegaskan bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa memiliki keseimbangan fundamental dengan prinsip tauhid seorang muslim. Ia bahkan menempatkan kualitas seorang muslim sebagai dasar penting dalam menjalankan kehidupan kebangsaan.
Pesannya jelas: menjadi Muslim yang baik seharusnya sekaligus menjadi warga negara yang baik.
Quraish Shihab: Mengisi Kemerdekaan dengan Keadilan dan Tanggung Jawab
M. Quraish Shihab memberikan perspektif yang sangat relevan mengenai kebebasan, tanggung jawab, keadilan, dan kehidupan masyarakat. Dalam Wawasan Al-Qur'an ia menjelaskan bahwa manusia memang diberi kebebasan untuk memilih, tetapi kebebasan tersebut bukan kebebasan tanpa batas. Kebebasan harus berjalan bersama tauhid, keseimbangan, dan tanggung jawab individu maupun kolektif. (Shihab, 2001).
Prinsip ini sangat penting dalam mengisi kemerdekaan. Demokrasi, kebebasan berpendapat, kebebasan berkarya, kebebasan berusaha, dan kebebasan berserikat harus disertai tanggung jawab.
Kita tidak boleh menggunakan kebebasan untuk menghina orang lain. Tidak boleh menggunakan demokrasi untuk melakukan korupsi. Tidak boleh menggunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri. Tidak boleh menggunakan media sosial untuk menyebarkan fitnah.
Quraish Shihab juga menempatkan kebahagiaan sebagai fondasi kesejahteraan. Dalam Wawasan Al-Qur'an, pembahasan mengenai keadilan ketegangan bahwa Al-Qur'an menghubungkan keadilan dengan ketakwaan dan kesejahteraan masyarakat. (Shihab, 2001: 111–116).
Oleh karena itu, kemerdekaan harus menghasilkan keadilan sosial. Pembangunan tidak cukup diukur dari gedung tinggi, jalan raya, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah pembangunan tersebut benar-benar meningkatkan kesejahteraan rakyat?
Mengisi Kemerdekaan dengan Pendidikan
Salah satu bentuk perjuangan paling penting pada masa sekarang adalah pendidikan.
Bangsa yang merdeka tetapi tidak berpendidikan akan mudah terpengaruh. Bangsa yang memiliki sumber daya alam tetapi lemah dalam ilmu pengetahuan akan mudah bergantung pada bangsa lain.
Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi prioritas. Islam sangat menghargai ilmu.
Wahyu pertama dimulai dengan perintah:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-'Alaq [96]: 1).
Pendidikan yang dibutuhkan Indonesia bukan hanya pendidikan yang menghasilkan manusia pintar, tetapi juga manusia jujur, berkarakter, toleran, kreatif, produktif, dan bertanggung jawab.
Inilah salah satu bentuk nyata meneruskan perjuangan para pahlawan: jika dahulu mereka berjuang mengusir penjajah, sekarang generasi muda harus berjuang mengalahkan pembunuhan.
Mengisi Kemerdekaan dengan Ekonomi yang Berkeadilan
Kemerdekaan juga harus dirasakan dalam bidang ekonomi.
Islam melarang praktik yang merusak keadilan ekonomi, seperti penipuan, riba dalam konteks yang dilarang syariat, kondisi dalam perdagangan, monopoli yang merugikan, dan mengambil harta orang lain secara batil.
Allah SWT berfirman:
تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah [2]: 188).
Maka mengisi kemerdekaan berarti membangun perekonomian yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk bekerja dan hidup layak.
Pengusaha hendaknya tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memperhatikan pekerja. Pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Masyarakat harus 17 mengembangkan budaya kerja, produktivitas, dan gotong royong.
Kemerdekaan ekonomi berarti rakyat mempunyai kesempatan untuk hidup tanpa kehilangan nilai-nilai moral.
Menjaga Persatuan: Amanah Kemerdekaan
Salah satu ancaman terbesar terhadap kemerdekaan adalah perpecahan.
Indonesia terdiri atas berbagai suku, bahasa, budaya, dan latar belakang. Islam tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.
Allah SWT berfirman:
Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali 'Imran [3]: 103).
Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan. Persatuan berarti mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan.
Quraish Shihab juga menekankan pentingnya Al-Qur'an sebagai pedoman membangun perdamaian dan persatuan dalam masyarakat yang beragam. Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai Al-Qur'an dapat menjadi landasan moral untuk membangun keharmonisan kebangsaan.
Oleh karena itu, jangan sampai kemerdekaan yang diperoleh dengan pengorbanan para pahlawan justru dirusak oleh kebencian antarsesama anak bangsa.
Mengisi Kemerdekaan dengan Akhlak
Bangsa yang maju membutuhkan akhlak.
Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan teknologi. Kekuasaan tanpa akhlak dapat melahirkan kezaliman. Kekayaan tanpa akhlak dapat melahirkan keserakahan. Kebebasan tanpa akhlak dapat melahirkan kekacauan.
Didalamnya relevansi pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani. Pendidikan iman dan akhlak harus menjadi landasan kehidupan manusia. Kemajuan bangsa tidak boleh hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi harus membangun karakter.
Generasi yang merdeka adalah generasi yang tidak mudah diperbudak hawa nafsu, uang, popularitas, dan kekuasaan.
Kemerdekaan dan Kepedulian kepada Kaum Lemah
Ukuran keberhasilan suatu bangsa tidak hanya terlihat dari keberhasilan kelompok yang kuat. Islam mengajarkan kepedulian kepada kaum lemah, fakir miskin, anak yatim, kaum dhuafa, dan mereka yang tertinggal.
Allah SWT berfirman:
أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” (QS.Adz-Dzariyat [51]: 19).
Oleh karena itu, mengisi kemerdekaan berarti menghadirkan negara dan masyarakat yang tidak membiarkan rakyatnya hidup tanpa perhatian.
Semangat gotong royong, zakat, infak, sedekah, wakaf, dan berbagai bentuk kepedulian sosial merupakan modal besar untuk membangun kesejahteraan bangsa.
Generasi Muda dan Masa Depan Indonesia
Kemerdekaan 81 tahun harus menjadi momentum bagi generasi muda untuk mengambil peran.
Pemuda tidak cukup menjadi penonton sejarah. Mereka harus menjadi pelaku sejarah.
Belajar dengan sungguh-sungguh adalah perjuangan.
Bekerja dengan jujur adalah perjuangan.
Menjaga persatuan adalah perjuangan.
Melawan korupsi adalah perjuangan.
Menolak narkoba adalah perjuangan.
Menggunakan media sosial secara bijak adalah perjuangan.
Menciptakan inovasi dan pekerjaan adalah perjuangan.
Membantu orang lain adalah perjuangan.
Inilah bentuk jihad kebangsaan pada zaman sekarang: mengerahkan seluruh kemampuan untuk menghadirkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan.
Penutup: Merdeka untuk Mengabdi
Peringatan kemerdekaan ke-81 hendaknya tidak berhenti pada slogan “Dirgahayu Republik Indonesia.” Lebih jauh lagi, kita harus bertanya: apa yang telah kita lakukan untuk Indonesia?
Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan pentingnya iman, ilmu, dan akhlak. Hamka mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati adalah pembebasan manusia dari berbagai bentuk abadi selain kepada Allah. Sementara Quraish Shihab menekankan bahwa kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab, keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan.
Ketiganya memberikan pesan yang relevan: kebebasan harus diisi dengan kualitas manusia.
Indonesia tidak hanya membutuhkan rakyat yang cinta tanah air ketika bulan Agustus. Indonesia membutuhkan warga negara yang jujur setiap hari.
Bukan hanya upacara yang khidmat, tetapi juga pelayanan publik yang amanah.
Bukan hanya bendera yang berkibar, tapi juga keadilan yang ditegakkan.
Bukan hanya pidato tentang persatuan, tetapi juga persaudaraan yang nyata.
Bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan akhlak.
Kemerdekaan adalah nikmat Allah dan amanah para pendahulunya. Maka cara terbaik mensyukurinya adalah mengubah kemerdekaan menjadi pengabdian.
sebagai firman Allah SWT:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Dan berkata, 'Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.'” (QS. At-Taubah [9]: 105).
Selamat memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Semoga Indonesia menjadi negeri yang semakin merdeka, berdaulat, adil, makmur, berakhlak, dan diridai Allah SWT.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka untuk mengabdi. Merdeka untuk berbuat baik. Merdeka untuk membangun negeri.
Daftar Pustaka
Hamka. Belajar Islam. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Hamka. Hati ke Hati: Tentang Agama, Sosial Budaya, Politik. Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002.
Nawawi al-Bantani, Muhammad bin Umar. Nashaih al-'Ibad. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Shihab, M.Quraisy. Wawasan Al-Qur'an : Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 2001.
Shihab, M.Quraisy. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati.
Kusmana, Kusmana, Fasjud Syukroni, dan Hirman Jayadi. “Tafsir Al-Qur'an dan Nilai Inti Kebangsaan di Indonesia Modern: Studi Pemikiran Hamka, Quraish Shihab dan Tafsir Kemenag.” Al-Bayan: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir 8, no. 2 (2024).
.jpeg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar